Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
pindah rumah saja


__ADS_3

"Baiklah, sepertinya kamu meremehkan ku.


Aku akan menghubungi atasan kamu sekarang juga. Siap siaplah!" tekan mbak Safitri penuh dengan ancaman. Terlihat mas Danang mulai menegang, mungkin dia juga merasa was was dengan ucapan kakak tiriku itu.


Mbak Safitri mengotak Atik ponsel mewahnya, dan mulai terdengar suara bunyi panggilan, tak lama terdengar suara bariton yang tidak asing di telinga ini. Ya ampun, ternyata mbak Safitri benar benar mengenal pak Dion atasan mas Danang. Mati kamu, mas! Rasain! Batinku tertawa jahat.


Terlihat mas Danang mulai pucat pasi, saat mbak Safitri mulai membuka obrolan dengan pak Dion, lalu mengatakan semuanya tentang laki laki itu.


Bahkan tanpa ba-bi-bu lagi, mbak Safitri meminta mas Danang untuk dikeluarkan karena sikapnya yang memang minim adab dan abai dengan anak istrinya.


"Gimana?


Kamu sudah percaya?" mbak Fitri menatap dengan sorot penuh ejekan, sedangkan mas Danang diam tanpa bisa menjawab. Mungkin saat ini dia sedang memikirkan bagaimana menghadapi atasannya besok. Karena setelah mbak Fitri berbicara dengan pak Dion tadi. Pak Dion langsung meminta mas Danang besok untuk menghadapnya di kantor.


Dan yang lebih membuatku terkejut adalah, saat pak Dion bilang kalau warung yang selama ini jadi tempat selingkuhannya mas Danang mencari nafkah sudah digusur. Mereka tidak boleh lagi berjualan disana, dengan alasan mau digunakan untuk parkir kendaraan karyawan.


"Pulanglah, mas! Kasihan istrimu, nanti dia kalang kabut mencari mu. Tenangkan dia, bukankah warungnya sudah di gusur?" aku menatap datar ke arah laki laki yang kini terlihat pucat, tenaganya entah hilang kemana, mas Danang terlihat benar benar kacau. Entahlah justru aku begitu menikmati penderitaannya, tak lagi ada rasa iba di hati ini untuknya.


"Aku akan membalas perbuatan kalian. Lihat saja, aku pasti kembali untuk membuatmu menyesal karena sudah menghancurkan hidupku!" berang mas Danang dengan mata memerah, langkahnya terayun lemah meninggalkan halaman rumahku.


"Dapat dari mana suami kayak begitu, Ning?" tanya mbak Fitri setelah mas Danang meninggalkan rumah ini.


"Tau lah, mbak. Aku juga gak nyangka kalau rumah tanggaku bisa seperti ini.


Tapi sekarang aku sedikit lega, karena sebentar lagi, kami akan berpisah. Aku tidak lagi mau berhubungan dengannya lagi sampai kapanpun." sahutku nanar, dengan menahan rasa sesak di dalam dada.

__ADS_1


"Sebaiknya Tante pindah saja, karena sepertinya laki laki itu akan terus mengusik Tante. Apalagi dia sudah tau, kalau Tante dapat warisan." Bayu menatapku serius, dan benar katanya, aku harus berhati hati, karena mas Danang tipe orang yang nekad. Dia bisa melakukan apapun demi memuaskan hasratnya, apalagi ditambah dengan gundiknya yang bar bar itu.


"Tapi, aku harus pindah kemana, dan uangku belum cukup kalau untuk beli rumah baru." sahutku jujur, karena aku juga gak bisa gegabah, uang yang ada tidak bisa aku gunakan begitu saja, ada masa depan Shanum yang masih harus aku pikirkan.


"Kalau Tante mau, aku akan bantu Tante.


Gak usah bingung soal uang. Uang Tante yang mau buat renovasi rumah lebih baik gunakan saja untuk membeli perumahan, cari yang aman. Perumahan yang ada satpamnya dua puluh empat jam. Kebetulan aku ada projek di kota. Tante bisa ambil salah satu unit disana." sahut Bayu serius.


"Untuk harga bagaimana?" aku khawatir uangku tidak cukup dan nantinya akan menyulitkan hari hari kedepannya bersama Shanum.


"Standard sih Tan, tiga ratus lima puluh jutaan.


Tapi Tante gak usah khawatir, aku pasti akan bantu. Itu projek milikku sendiri. Uang Tante buat dana renovasi kan tujuh puluh lima juta, terus uang dari mama kemarin delapan puluh juta, jadi sudah ada seratus lima puluh lima juta, sisanya aku bantu lima puluh juta, nanti kurangnya Tante bisa jual rumah ini, mungkin rumah ini masih laku dua ratus jutaan, masih ada sisa, nanti bisa Tante buat tambahan modal usaha. Gimana?" sahut Bayu memaparkan semuanya.


"Tante gak usah khawatir, Bayu gak akan nipu Tante kok. Nanti pas akad jual belinya langsung di hadapan notaris dan Tante akan langsung dibuatkan sertifikat kepemilikan. Karena Bayu anggap lunas, Tante bisa bayar kekurangannya sama Bayu langsung." kembali Bayu menjelaskan secara rinci apa yang menjadi pemikirannya.


Nanti, mbak akan bantu dua puluh lima juta saja ya, karena mbak kan juga harus membayar uang rumahnya nenek ke kamu. Rumah ini memang lebih baik dijual saja, biar hidupmu bebas dari gangguan para benalu itu. Kalau kamu yakin, biar diurus Bayu secepatnya. Demi Alloh kami tidak punya niat buruk sama kamu." mbak Fitri ikut menimpali, dan wajahnya terlihat tegas namun begitu teduh. Semoga ketulusannya membawa ikatan kekeluargaan kami semakin erat.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)

__ADS_1


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]


#Bidadari Salju [ On going ]


#Wanita Sebatang Kara { New karya }


#Ganti Istri { New karya }

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2