
"Makasih mbak, sudah mau mengingatkan dan menolongku!
Oh iya, Ayuk kita makan, tadi aku sudah masak soto daging banyak loh, aku kira mbak datang sama mas Riko dan anak anak juga!" sahutku dengan perasaan lega sekaligus bahagia, hidupku tak lagi hampa tanpa keluarga, semoga ini bukanlah hanya bahagia sementara. Aku bahagia Tuhan, bahagia punya keluarga meskipun kami lahir dari rahim berbeda.
"Kenapa gak nginep disini saja, mbak?" setelah kami selesai makan, aku dan mbak Safitri menghabiskan waktu berdua duduk di sofa ruang tamu, banyak hal yang kamu bicarakan. Bahkan mbak Fitri juga bertanya tentang hubunganku dengan mas Danang. Tanpa ada yang ditutup-tutupi, akupun menceritakan apa yang terjadi selama ini padaku. Mbak Safitri terlihat menatap ku iba.
"Lebih baik, kamu segera urus surat cerai, Ning!
Tidak perlu mempertahankan laki laki tak bermoral sepertinya. Dan aku yakin, dengan warisan dari bapak, kamu bisa hidup lebih baik tanpa laki laki itu. Mbak, janji. Akan berusaha membantumu apapun kesulitan kaku nanti. Bagaimanapun kita ini saudara satu bapak, kamu adikku." mbak safitri menatap dengan mata yang sudah berkaca kaca. Mungkin kasihan dengan nasib yang selama ini aku jalani.
"Iya, mbak!
Aku sudah mendaftarkan gugatan ke pengadilan. Ini masih nunggu panggilan sidang.
Aku berharap semua berjalan lancar, dan setelah sah bercerai dengan mas Danang, aku ingin menjalani hidup nyaman dan tenang bersama Shanum. Aku pingin buka toko baju, mbak.
Entahlah dari dulu aku pingin banget punya toko baju." sahutku serius, mengutarakan apa yang tengah dipikirkan.
"Ide bagus itu. Nanti biar aku coba bantu cari tempat yang cocok untuk membuka usaha kamu itu. Kebetulan aku punya banyak teman juga di sini.
Yasudah, aku mau kerumah nenek dulu, sekalian mau jemput ibu yang mau nginep dirumahnya nenek.
Dan untuk urusan jual beli rumah, sebaiknya Minggu depan saja, kita harus bicarakan pada kepala desa juga baiknya gimana.
Untuk uangnya kamu minta cash apa transfer?" mbak Safitri menatap ku lekat. Terlihat sorot tegas disana, aku merasa mbak Safitri memang benar benar tulus dengan niatnya itu.
"Gimana baiknya saja mbak.
Aku juga sudah buka rekening di dua Bank dan pakai M banking semua, jadi untuk lebih amannya sebaiknya di transfer saja." sahutku yakin, karena aku juga memang tidak membutuhkan rumah itu. Lebih baik diuangkan, bisa untuk tabungan dan keperluan lain.
"Baiklah, kasih rekening kamu ke mbak.
Mbak biar transfer separo dulu. Nanti kalau sudah akad jual beli dan surat suratnya sudah selesai, aku transfer yang separonya lagi." mbak Safitri mengeluarkan ponsel mahalnya dan mengotak atik dengan jari lentiknya. Kali aku membacakan no rekeningku padanya.
"Sudah ya, sukses. Delapan puluh juta, sisanya nanti kalau sudah beres." mbak Safitri tersenyum menunjukkan riwayat pengiriman di ponselnya.
"Iya, mbak!
Makasih ya." aku menatap dalam manik legam milik kakak beda ibu.
Mbak Safitri balik pulang dengan mengendarai mobilnya, mobil Rush warna putih itu meluncur meninggalkan halaman rumahku.
__ADS_1
Baru saja kaki ini melangkah memasuki rumah, terdengar suara salam dari arah luar. Terlihat wajah kusut mas Danang menatapku dengan tatapan yang aku tak bisa mengerti.
"Waalaikumsallm, kok tumben kamu pulang, mas?" sahutku dingin, dengan gestur tak suka saat melihatnya ada dirumahku.
"Suami pulang itu disambut baik, bukannya ditanyain kenapa dan tumben." sahutnya dengan wajah kesal. Lalu berjalan mendahuluiku memasuki rumah dan langsung menuju ke dalam kamar. Ada rasa tidak suka saat dia memasuki kamarku. Jijik dan benci kala membayangkan tubuhnya saat menyentuh selingkuhannya.
"Mas!
Jaga sikap kamu!
Jangan seenaknya masuk ke kamarku!
Kita sudah tidak lagi ada hubungan apapun." aku memperlihatkan ketidaksukaan ku atas sikapnya.
"Aku ini masih suami kamu, Ningsih!
Dan ini juga rumahku, dan kamu gak berhak melarangku.
Sudahlah gak usah banyak ngomong kamu. Aku lapar, buatkan makanan dan kopi untukku." sahut mas Danang dengan mata melotot. Tapi aku sama sekali tidak Sudi melakukan apa yang dia perintahkan.
"Kamu punya telinga gak sih?
Cepat buatkan aku makanan!" perintahnya dengan suara meninggi. Namun aku sama sekali tidak mau ambil pusing. Boro boro takut, mau dengerin saja aku sudah tak sudi.
Melihatku masih tetap bergeming, membuat mas Danang murka. Dengan kasar laki laki itu menyeret tanganku menuju dapur.
"Buatkan kopi, dan siapkan makanan untukku." perintahnya garang.
"Gak ada bahan makanan apapun dirumah ini, dan kopi aku juga gak punya. Kalau mau, makan saja sama sayur terong kemarin, sama kerupuk, tuh." sahutku santai, tak ada wajah takut sana sekali yang diperlihatkan.
Untung saja, tadi masakan yang aku buat untuk menyambut mbak Safitri sebagian aku bungkus untuk aku bawakan kakakku itu, dan masih ada sisa sedikit sudah aku simpan di lemari dapur yang sudah aku kunci.
"Bohong kamu!
Kemarin kamu baru saja menerima uang gajiku, banyak loh, sepuluh juta. Tapi kenapa kamu gak belanja dan masak yang enak, hah?" teriak mas Danang dengan wajah memerah, tapi aku tetap santai menghadapi kemarahan laki laki temperamental itu.
"Aku kan gak tau kalau kamu pulang?
Biasanya juga gak pernah ingat pulang, iya kan?
Dan lagian ya, mas!
__ADS_1
Aku dan Shanum sudah biasa makan apa adanya, bahkan kaku sering makan tanpa sayur, hanya sama kecap dan kerupuk seringnya.
Uang dari kamu, sudah aku masukin rekeningnya Shanum biar tabungan pendidikannya, dan juga aku buat bayar hutang hutangku. Jadi ya dimana salahku, hmm?" sahutku santai, dan membuat mas Dangan mengerang frustasi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1