Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
Apa kamu pikir aku takut? Sedikitpun tidak sama sekali!


__ADS_3

"Aku kan gak tau kalau kamu pulang?


Biasanya juga gak pernah ingat pulang, iya kan?


Dan lagian ya, mas!


Aku dan Shanum sudah biasa makan apa adanya, bahkan kami sering makan tanpa sayur, hanya sama kecap dan kerupuk seringnya.


Uang dari kamu, sudah aku masukin rekeningnya Shanum buat tabungan pendidikannya, dan juga aku buat bayar hutang hutangku. Jadi ya dimana salahku, hmm?" sahutku santai, dan membuat mas Dangan mengerang frustasi.


"Sekarang masih sisa berapa?


Berikan padaku!


Aku juga butuh uang itu buat nafkahi anak istriku disana. Jangan serakah kamu!" bentak mas Danang dengan wajah memerah. Meskipun aku berusaha tenang dan terkesan santai. Tak dipungkiri di hati terdalam rasanya begitu sakit, aku dan Shanum adalah istri dan anaknya juga, bahkan kami menikah sah didepan penghulu dan sanak saudara. Tapi justru mas Danang buta, menutup keberadaan kami. Hanya memikirkan perempuan perebut itu. Semakin lama aku semakin muak dan ingin membalas rasa sakit ini dengan sama kejamnya seperti perbuatan mereka padaku.


"Serakah, katamu?


Kamu sudah pikun, mas?


Apa kamu sudah gak punya otak lagi, sehingga kamu tidak bisa berpikir?


Aku ini istrimu, Shanum anak kandung kamu, darah dagingmu!


Bisa bisanya kamu hanya mementingkan pelacur itu dengan anaknya, hah!


Sudah berapa tahun kamu tidak memberikan nafkah pada kami? Berapa lama?


Memuakkan!" balasku tak kalah tinggi, tak lagi ada rasa hormatku padanya, laki laki yang hanya menciptakan penderitaan pada hidupku dan Shanum.


"Apa kamu lupa, kalau aku juga memberikan kamu uang setiap bulannya?


Dasar tidak tau caranya bersyukur. Cepat kembalikan gajiku yang kamu bawa itu!" sahut mas Danang dengan tatapan tajam dan terlihat begitu murka padaku. Ya Tuhan, maafkan aku jika aku menyesali pernikahan ini.


"Uang dua ratus ribu, kamu minta aku bersyukur, mas?


Sedangkan gaji kamu puluhan juta kamu berikan sama pelacur itu?


Gila kamu! Baru sekali saja aku mengambil haknya anakku, kamu dan pelacurmu sudah seperti cacing kepanasan.


Dikemanakan uang gajimu yang jutaan itu sama pelacur itu?

__ADS_1


Sampai sampai kamu kesini hanya mau mengemis apa yang sudah diberikan untuk anakmu?


Sampai kamu teriak kehabisan suara, aku gak bakalan kasihkan uang itu, Shanum berhak merasakan nafkah dari ayahnya.


Dan perlu kamu tau, Danang Baskara!


Aku sudah memasukan gugatan cerai ke pengadilan, tunggu saja panggilan sidangnya.


Awalnya aku tak ingin menuntut apapun dari kamu, asal aku bisa segera lepas dari manusia tak bernurani sepertimu. Namun setelah aku tau berapa gaji kamu tiap bulannya, aku menuntut uang nafkah untuk Shanum enam juta tiap bulannya. Bukti bukti perselingkuhan kamu sudah aku pegang, aku yakin prosesnya akan berjalan cepat. Apa lagi semua caci maki dan umpatan kotor dari mulut sampah gundikmu itu, semua sudah aku berikan pada pengacaraku untuk jadi bukti seperti apa sikap kalian padaku selama ini. Siap siap saja kalian akan hidup menderita setelah ini!" ucapku panjang lebar dan membuat mas Danang semakin terbakar amarah, kedua tangannya mengepal erat, matanya menyorot ku penuh kebencian.


Ada perasaan takut, namun segera aku tepis. Aku tak boleh lemah menghadapi pecundang sepertinya.


"Jangan mimpi kamu, Ningsih!


Dari mana kamu bisa membayar jasa pengacara? Makan saja kamu harus mengemis padaku. Sombong!" sahutnya dengan nada meremehkan.


"Terserah kamu mau bicara apa juga, aku juga gak perduli.


Dan pergilah sekarang juga dari rumahku.


Kamu gak punya hak dirumah ini." sahutku tak kalah pedas. Dulu aku akan diam dan memilih mengalah karena masih menghargainya sebagai suami. Tapi kini, tak lagi ada sisa perasaan itu, hanya ada rasa benci dan dendam yang harus aku tuntaskan.


Kamu lupa, aku ini masih suami kamu. Dan aku punya hak dirumah ini. Jangan lupa, rumah ini akan jadi harta Gono gini. Siap siap saja kamu jadi gembel setelah aku dapat memenangkan persidangan. Hahaa!" sahutnya jumawa, namun itu justru memperlihatkan betapa bodohnya laki laki ini di hadapanku.


"Silahkan saja, gugat dan berusahalah semampu kamu. Akan aku pastikan rumah ini tetap akan jadi milikku dan kamu sedikitpun tidak bisa mengambilnya. Apa kamu buta hukum?


Rumah ini masih atas nama ibuku sebagai pemilik sahnya, dan aku anak kandungnya. Jadi aku adalah pewaris sah rumah ini, aku yang berhak, bukan kamu. Jangan mimpi ketinggian, karena jatuh itu sakit!" sahutku dengan tatapan meremehkan, entahlah akhir akhir ini, aku selalu ingin membuat laki laki itu rendah di hadapanku, mungkin aku berdosa dengan sikapku ini, namun luka yang dia torehkan membuatku jadi tega dan harus membalas semua perbuatannya.


"Pergilah, mas!


Jangan permalukan dirimu lebih dalam lagi.


Karena bisa saja, aku kembali mengundang warga untuk mengusir kamu." sambung ku santai dengan senyum miring tercetak di bibir ini.


"Aku tidak akan pergi dari sini, sebelum kamu mengembalikan uang gajiku yang masuk kerekening kamu. Atau aku akan membuatmu menyesal, Ningsih!" tekan mas Danang menyeringai jahat, terlihat sorot matanya menatap diri ini penuh dengan kebencian.


Tapi entahlah, kenapa sedikitpun aku tidak merasa takut sama sekali.


"Aku akan kembalikan, tapi setelah ini, aku pastikan kamu akan dipecat secara tidak hormat.


Dan uang pesangon akan masuk ke rekeningku kembali, sesuai perjanjian dengan atasan kamu.

__ADS_1


Aku pastikan, pelacur itu pasti akan menendang mu dan mencari mangsa baru yang bisa memuaskan hasratnya foya foya itu." sahutku tenang, dan terlihat mas Danang bergeming dengan ucapan ku barusan.


Dasar laki laki munafik, pantes saja bersatu dengan wanita licik dan murahan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]


#Bidadari Salju [ On going ]


#Wanita Sebatang Kara { New karya }


#Ganti Istri { New karya }


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2