Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
pulang kampung


__ADS_3

"Yang sabar ya, mbak." Santi terlihat menatapku kasihan, dia melihat bagaimana sikap mertua tadi saat aku berpamitan. Sungguh tidak mengenakan sekali.


"Iya, San.


Biarlah, itu sudah maunya ibu, ya apa mau dikata.


Aku pamit ya, Asalamualaikum." akupun pergi ke becak motor milik pak Waris, sedangkan tas baju baju sudah di angkatin Muklis dinaikkan ke atas becak.


Bismillah, semoga setelah ini Alloh mudahkan langkahku untuk menempuh hidup lebih baik lagi, Aamiin.


"Pak, nanti tolong antar saya ke pasar sebentar ya.


Mau ada yang dibeli." saat di perjalanan, aku meminta pak Waris untuk berhenti di pasar lebih dulu, aku ingin menjual perhiasan Ambar.


Agar tidak ketahuan aku memakai masker dan menggunakan kacamata.


"Joni disini sebentar ya sama pak Waris, ibu masuk ke pasar dulu, mau beli oleh oleh buat nenek.


Pak tunggu sebentar ya, titip Joni." aku melangkah cepat memasuki pasar, toko perhiasan ada di sebelah Utara pasar artinya ada di belakang pasar ini, aku memang tak mau pak waris tau kalau aku pergi ke toko perhiasan, takutnya dia keceplosan jika di tanya sama mas Danang nanti.


Alhamdulillah, enam juta lebih yang hasil menjual gelang dan kalung bekas miliknya Ambar.


Bisa aku gunakan untuk modal buka warung nantinya.


Agar tidak ketahuan, aku memutuskan membeli satu daster untuk ibuku. Lalu kembali di mana becak pak Waris berada.


"Sudah, mbak?" pak Waris melihat ke arahku yang berjalan ke arahnya, nampak Joni masih duduk manis di atas jok becak.


"Sudah, pak.


Kita langsung ke stasiun ya.


Ini minuman dingin buat bapak, jus jambu.


Dan ini buat Joni." aku menyerahkan jus jambu pada pak Waris dan Joni, udara cukup terik padahal hari sudah menjelang sore.


"Makasih, mbak.


Tau saja kalau lagi haus. Hehehe." pak Waris terlihat senang aku kasih jus buah.


"Sami sami, pak." sahutku dengan tersenyum.


Tak butuh waktu lama, dua puluh menit perjalanan akhirnya sampai juga di stasiun, kalau gak salah, tiket menuju Gresik adanya jam empat sore. Alhamdulillah semoga masih kebagian tiket, ini hari biasa tidak banyak yang mudik juga.


Aku memberikan uang lembaran lima puluh ribuan pada pak Waris, dan mengucapkan terimakasih pada laki laki paruh baya itu.


Pergi ke dalam dan membeli tiket untukku dan Joni.


Alhamdulillah masih ada, dan akan berangkat sebentar lagi, rasanya sudah gak sabar sampai dirumah orang tua. Dan secepatnya aku juga akan mengurus surat cerai setelah sampai di kampung.

__ADS_1


"Ma, Joni lapar.


Kita makan dulu yuk." anakku meringis dengan wajah menggemaskan.


"Makan saja, nak.


Tadi nasinya mama taruh di tas paling atas.


Tapi mama lupa gak bawa sendok dari rumah." sahutku, yang membuka tas dan mengambil nasi bungkus yang tadi sempat dibeli Joni.


"Joni tadi sudah ambil kok, Joni taruh di dalam kresek nasinya." sahut anakku yakin, dan benar saja, ada tiga sendok di dalam kresek.


"Mama makan sekalian, gak usah sedih sedih mikirin ayah, Joni Janji akan jadi anak baik dan sukses, biar bisa bahagiain mama." ucap anakku dengan polosnya. Aku kira dia anak yang cuek, karena selama ini tidak pernah komentar apapun dengan apa yang dia lihat diantara aku dan ayahnya. Ternyata dia memendam dan begitu memahami.


"Iya, nak.


Mama beruntung punya anak sebaik kamu dan mas Didin. Mama janji akan memberikan yang terbaik untuk masa depan kalian, doain mama ya sayang, semoga diberikan kemudahan oleh Alloh." sahutku dengan menatap penuh sayang pada anak keduaku itu. Ternyata dia sudah dewasa.


Perjalanan yang cukup menyenangkan, untuk pertama kalinya aku merasakan rasa tenang tanpa ada beban yang menghimpit hati, meskipun aku belum tau bagaimana menjalani hari esok untuk menjadi penopang kedua anakku. Tapi aku yakin, pasti akan ada jalan.


"Kita sudah sampai, yuk bangun, nak!" Joni mengerjap kan matanya yang terlihat masih mengantuk.


"Sudah sampai ya, ma?" sahutnya sambil mengucek mata.


"Iya, yuk siap siap turun. Joni bantu mama bawain tas yang kecil itu ya." sahutku sambil memberikan tas ransel padanya.


"Ma kita kerumah nenek naik apa?" tanyanya berbinar.


"Naik ojek saja, tuh di depan banyak."


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga, Na.


Kaku ibu gak pura pura sakit gini, Nana mau kamu pulang.


Tetap mau saja di perbudak suami kamu itu." omel ibu dengan wajah kesalnya.


"Iya, Bu.


Maafin Diana ya, Diana menyesal." sahutku lirih, namun aku bersyukur ternyata ibuku baik baik saja. Sakit cuma rencananya saja agar aku pulang menemuinya.


"Jadi, kamu sudah berniat untuk pisah sama si Danang?


Itu lebih baik, kamu tidak terus makan hati.


Disini kamu juga bisa fokus membesarkan anak anakmu, kamu bisa bantuin ibu buka warung." sahut ibu dengan wajah yang masih terlihat masam. Sedangkan Joni sudah bersama Didin main di dalam kamar mereka.


Rumah ibu cuma punya tiga kamar, Didin akan tidur satu kamar dengan Joni.

__ADS_1


Aku masih menempati kamarku yang dulu, begitu juga dengan ibu.


Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Ternyata Aku Yang Kedua


Novel on going :


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2