
"Kenapa, Bu?
Apa ada yang sakit?" tanyaku yang mencoba untuk menggali perasaan ibu mertuaku ini.
"Apa kamu akan ninggalin ibu, Na?
Kamu akan cerai dengan Danang?" tanyanya dengan suara bergetar. Ternyata benar dugaanku, ibu mendengar pertengkaran kami. Ada perasaan bersalah, karena bisa jadi ini membebani pikirannya. Namun, apa boleh buat, aku juga tak mungkin bertahan dalam kisah rumah tangga yang membuatku semakin terluka.
Sebelum menjawab pertanyaan ibu, aku menarik nafasku panjang. Mengatur debar di dalam dada yang kembali sesak. Meskipun rasa di hati untuk mas Danang sudah hilang, namun perpisahan adalah luka yang tak bisa dihindari dalam sebuah pernikahan.
"Iya, Bu.
Demi kebaikan semuanya. Kami sudah tidak ada kecocokan, dan akupun tak lagi punya perasaan pada mas Danang. Tak mungkin bertahan dalam hubungan yang sudah tak sehat lagi, Bu." sahutku dengan seulas senyum tipis. Mencoba bersikap baik baik saja di hadapan ibu mertua.
"Apa tidak ada lagi kesempatan untuk kalian memperbaiki semuanya, Na?
Kamu tega ninggalin ibu yang seperti ini.
Ibu butuh kamu, kalau kamu tinggal ibu bagaimana?" sahut ibu mertua dengan wajah memelas. Aku kira dia akan mempertahankan aku karena ingin menjadi pendamping putranya, tapi ternyata hanya untuk merawatnya yang sudah tidak bisa apa apa. Aku memang bodoh, mau maunya di peralat dengan wajah dan sikapnya yang manis akhir akhir ini, sedangkan aku lupa, bagaimana dulu dia juga menghinaku.
"Ibuku juga sakit, Bu!
Aku juga harus merawat ibuku, dia membutuhkan aku juga." sahutku dengan menekan rasa perih di hati ini.
"Bukannya ibumu juga punya keluarga, kamu bisa meminta bantuan budhe atau saudaramu yang lain untuk menjaga ibumu.
Tetaplah disini, aku juga membutuhkan kamu untuk merawatku, Na!" sahut ibu ketus dengan wajah tak suka. Ya Tuhan, ternyata ibu belum berubah.
"Maaf, Bu.
Aku sudah memutuskan untuk berpisah dengan mas Danang. Setelah Joni terima raport aku akan segera mengurus kepindahannya dan pulang ke kampung.
Ibu bisa minta Santi untuk menjaga ibu." sahutku masih dengan nada setenang mungkin, padahal hati ini sudah kesal dengan ucapannya yang seenaknya itu. Menyuruh ibuku untuk di rawat orang lain, sedangkan aku akan dijadikan babu gratisannya, gila, ini memang gila.
"Santi kan tidak tinggal disini, Na!
Kalau ibu lagi buang air besar di malam hari bagaimana, kalau ibu haus bagaimana?
Tidak mungkin ibu nyuruh Danang, dia pasti tidak mau. Kamu jangan egois dong, Na!
__ADS_1
Apa kamu tidak kasihan dengan keadaan ibu yang begini?" sahutnya dengan bersungut sungut, seolah aku dipaksa harus menuruti keinginannya.
"Maaf Bu, aku gak bisa.
Ibu bisa bicarakan sama mas Danang soal itu, uang mas Danang banyak, minta untuk menyewa perawat kusus untuk ibu. Aku juga masih punya orang tua yang membutuhkan kehadiranku Bu, ibuku juga butuh aku." tekan ku dengan dada bergemuruh menahan emosi, lantaran ucapan ibu mertua yang menurutku keterlaluan itu.
"Ternyata kamu perempuan tidak punya hati ya, Na?
Kamu itu egois dan kejam. Tega meninggalkan mertua yang sudah tidak bisa apa apa demi menuruti hawa nafsumu itu. Pergilah, semoga hidupmu susah setelah berpisah dengan anakku." sungut ibu mertua tanpa perasaan. Dia menyumpahi ku, karena keinginannya tidak terpenuhi.
"Semoga, perkataan ibu tidak berbalik pada anak ibu Sendiri.
Aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya ingin menyelamatkan hatiku agar tidak semakin tersiksa oleh ulah anakmu, Bu!
Jadi berhentilah menyalahkan aku. Sekarang ibu makanlah, dan minum obatnya." sahutku yang tak ingin memperpanjang perdebatan ini lagi.
"Aku sudah tidak nafsu makan, kamu pergi saja. Kalau terjadi apa apa padaku, semua itu adalah salahmu." ketusnya sambil membuang muka marah padaku.
Astagfirullah, aku melafazkan kalimat istighfar berulang kali, mencoba memahami kemarahannya, namun entah kenapa hatiku tetap saja merasa sakit. Apakah dia tidak menyadari betapa kasarnya perlakuan anaknya padaku selama ini, namun seolah ibu menutup mata dan menganggap akulah yang berdosa.
Membuang nafas ini kasar, aku letakkan piring yang masih belum tersentuh isinya itu di atas meja dekat tempat tidur ibu.
"Kamu benar benar tak perduli lagi padaku, Na?" saat kaki ini melangkah, suara ibu kembali terdengar, masih sama, dia seolah menganggapku jahat dan tak punya hati, dari pertanyaan nya bisa ku pahami apa arti kalimat itu.
Apakah baktiku selama ini tidak ada artinya buat ibu?" aku balikkan badan, menatap penuh pada wajah tua yang kini menatapku dengan tatapan sinisnya, bibirnya mengukir senyum miring. Terlihat jelas, dia begitu membenci ku. Astagfirullah!
"Itu karena kamu masih butuh uang anakku, makanya kamu memilih bertahan disini, bukan?" sinisnya dengan senyum meremehkan.
Ku hirup udara sebanyak mungkin, dada ini kian terasa sesak, kurang apa aku padanya selama ini. Aku merawatnya dengan sepenuh hati, bahkan aku tidak merasa jijik saat membersihkan kotorannya. Ibu dan anak, memang punya sifat sama, sama sama tak punya perasaan.
"Apa ibu lupa, uang yang diberikan mas Danang hanya cukup untuk memenuhi keperluan ibu dan juga kebutuhan rumah ini?
Bukankah ibu tau sendiri, berapa uang yang dikasih anak ibu padaku selama ini, dua juta satu bulan, dan itu harus cukup untuk kebutuhan semua orang, belum untuk bayar listrik dan SPP nya Joni.
Lalu, kenapa ibu bisa berpikir dan menuduhku demikian?" sahutku tenang, dengan menahan gejolak amarah yang menggebu di dalam dada ini.
Sungguh hari ini emosiku benar benar di uji oleh ibu dan anak yang sama sama tak memiliki nurani. Kejam!
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️