
"Mas, ayo!
Cak Budi sudah standby!" Muklis yang tadi disuruh Danang melakukan sesuatu sudah kembali dan mengajak Danang agar segera mengikutinya.
"Akan aku pastikan, hidupmu kembali miskin!" gumam Danang yang melangkah pergi meninggalkan kantor balai desa, untuk mengeksekusi barang barang yang ada di rumah barunya bersama Ambar yang dibangun di atas tanah milik orang tuanya Ambar.
"Nak Danang, Nak!
Tunggu!" teriak Bu Wati, ibunya Ambar.
Masih belum terima dengan keputusan Danang yang menceraikan anaknya.
Danang menghentikan langkahnya, dan kembali menoleh pada ibu mantan mertuanya.
"Ada apa lagi, Bu?" sahut Danang kesal.
"Kamu beneran mau menceraikan Ambar?
Bukannya kamu cinta mati sama anak ibu yang cantik itu?
Pikirkan baik baik, sebelum nanti kamu menyesal karena sudah memutuskan sesuatu yang salah." Bu Wati masih berusaha untuk membujuk Danang agar mau kembali pada anaknya.
'Aku sudah menceraikan Ambar, Bu!
Dan sangat yakin, kalau sedikitpun tidak ada penyesalan karena sudah menceraikan perempuan tukang selingkuh sepertinya. Jadi tolong, jangan ganggu aku lagi Bu. Permisi!" jawab Danang dengan wajah kesalnya.
"Tapi, Nang!
Danang!" teriak Bu Wati memanggil manggil Danang, namun sama sekali tidak dihiraukan, Danang harus segera bertindak menyelamatkan hartanya sebelum keduluan dengan Ambar.
"Apa alat beratnya juga sudah datang?" tanya Danang pada adiknya.
"Masih di jalan, sambil menunggu sebaiknya kita angkut dulu barang barang yang mas beli dari uang mas di rumah itu. Sebelum mereka kembali dan menyulitkan semuanya." sahut Muklis dengan wajah kesal, kakaknya dari dulu memang suka berbuat hal yang bodoh, makanya selalu dapat perempuan gak beres yang hanya ingin memanfaatkan dirinya saja.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
POV Diana
Saat aku datang diantara kerumunan warga, terlihat mas Danang tengah mengamuk di dalam sana, dan lelaki itu langsung menjatuhkan talak pada Ambar tanpa berpikir panjang lagi.
Dan bukan hanya itu saja, dia juga mengambil kunci motor dan ponsel milik Ambar yang katanya dibeli dari uangnya. Mas Danang memang lelaki pendendam dan perhitungan. Jadi gak heran dia melakukan itu jika dia sudah tak lagi suka dan bermasalah dengan seseorang. Tanpa enggan langsung mengambil apa yang pernah dia berikan.
Dengan langkah lebar, mas Danang buru buru keluar dari kantor balai desa, akupun mengikutinya dari jauh, ingin tau apa yang akan dia lakukan setelah ini, entah kenapa jiwa kepo ku begitu meronta ronta.
"Mbak Diana!
Tanpa mbak Diana balas, akhirnya pelakor itu menui karmanya." salah satu ibu ibu tetangga mencegat ku dan terdengar menjelekkan Ambar. Tapi aku tak perduli, aku hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Mengikuti mas Danang jauh lebih menarik saat ini.
Akupun kembali berjalan mengikuti kemana mas Danang pergi, di depan sana ternyata sudah ada ibu mertuanya, entah apa yang mereka bicarakan aku tidak bisa mendengar, karena memang jauh, hanya bisa melihat gerak gerik mereka, dari bahasa tubuh mas Danang, sepertinya dia tidak suka dan ingin menghindari ibu mertuanya itu.
__ADS_1
Sedangkan Bu Wati nampak terlihat kesal, karena mas Danang pergi begitu saja tanpa menghiraukannya.
Tak mau kehilangan jejaknya, akupun langsung mengikuti suamiku. Dan mau tak mau, berpapasan dengan Bu Wati.
"Pasti kamu senang kan, Ambar diceraikan sama Danang?
Paling ini terjadi juga karena perbuatan kamu, kamu yang menjebak Ambar, kan?
Ayo ngaku!" bentak Bu Wati dengan wajah marah.
"Maksudnya apa ya?
Bukannya memang Ambar suka tidur dengan banyak laki laki ya, mungkin hari ini apesnya dia saja hingga ketahuan warga. Atau, mungkin warga juga sudah mulai gerah dengan kelakuan mesumnya itu. Jadi jangan menyalahkan orang lain untuk menutupi kebusukan anakmu itu, Bu!" sahutku kesal, dan tanpa takut akupun menjawab semua tuduhan yang tak berdasarnya.
Dasar anak sama ibu kok punya karakter sama, suka mengkambing hitamkan orang lain demi menutupi kesalahannya.
"Bilang saja kamu itu iri sama anakku.
Makanya kamu menjebak dia, seolah dia tidur dengan laki laki lain. Dasar perempuan iblis!" bentaknya murka, akupun semakin mengerutkan wajah tak mengerti, bisa bisanya dia menuduhku tanpa bukti.
"Mana buktinya aku yang melakukan itu?
Tanyakan sama warga seperti apa kebenarannya.
Tidak usah menuduhku!
Aku tidak bakal iri sama anakmu itu. Kelakuan suka obral ************ saja kok di iri in segala, ogah. Jijik tau, Bu!" sahutku santai tapi mampu menampar harga dirinya.
Tapi aku memilih tak perduli, karena mengetahui apa yang akan dilakukan mas Danang lebih menarik minatku dari pada menanggapi orang gak waras seperti bu Wati dan Ambar.
Untung saja, mas Danang masih ada di depan gerbang bersama Muklis. Lalu mereka meluncur dengan menaiki motor masing masing mengikuti truk yang ada di depan mereka.
Astaga, ternyata Mas Danang berencana mengambil semua barang barang yang ada dirumah barunya bersama Ambar. Seluruh perabotan dia naikkan ke atas truk dan dibantu oleh beberapa warga.
Kalau Ambar dan Bu Wati tau, pasti mereka akan ngamuk dan histeris.
Dan itu, kenapa ada alat berat juga?
Mas danang terlihat tengah berbincang dengan seorang lelaki yang mengendarai alat berat itu.
"Apa sudah benar benar kosong rumahnya?
Barang barang milik Ambar sudah di taruh di rumahnya Bu Wati kan?" teriak Muklis pada beberapa tetangga yang ikut membantu.
"Sudah semua, beres pokoknya.
Langsung saja eksekusi, robohkan saja, dan ratakan seperti semula!" teriak bapak bapak yang kutahu namanya pak Rebo itu. Sepertinya dia memiliki dendam pribadi pada keluarga Ambar, terlihat sekali dia begitu bersemangat dan puas dengan apa yang dilakukan mas Danang.
"Lakukan sekarang, pak!
__ADS_1
Robohkan hingga rata!" perintah mas Danang dan langsung di iyakan oleh seseorang yang ada di balik kemudi.
"Hentikan!
Apa yang kalian lakukan, hah!
Hentikan!"
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️