
"Bawa saja, tapi kalian siap siap dipenjara. Karena aku akan melaporkan kalian sebagai pencuri. Barang barang ini aku beli pakai uangku, dan semua kwitansinya juga atas namaku, masih tersimpan rapi di dompetku juga." sahut mas Danang sinis, dengan senyum penuh kemenangan.
Membuat Bu Wati dan Ambar terdiam seketika.
"Mas!
Maafin aku, tolong jangan begini, aku mau kita rujuk. Aku janji gak akan pernah mengulangi perbuatan aku lagi. Kamu masih cinta sama aku, kan?" tiba tiba Ambar menghambur ke arah mas Danang, berlutut dihadapannya dan memohon ampun dengan air mata buayanya.
"Pergilah, aku jijik melihat wajahmu.
Jangan pernah berharap aku mau kembali sama perempuan murahan sepertimu, yang suka mengumbar ************ pada setiap laki laki." sahut mas Danang datar, dan menghempaskan Ambar dari kakinya.
"Mas!
Mas, Danang!
Maafin aku, mas!
Aku mau kita rujuk, bukannya kamu sangat mencintaiku? Lihatlah aku masih muda dan punya tubuh yang seksi, tidak kayak istrimu yang tua itu, bau dan jelek!" teriaknya, bisa bisanya dia masih membawa bawa namaku untuk dihinanya. Dasar perempuan gak waras.
"Terserah kamu mau bicara apa, aku sudah gak perduli. Pergilah, dan nikmati hidupmu sebagai pe****r. Hubungan kita sudah berakhir karena aku sudah menceraikan kamu, Ambar.
Jadi jangan pernah datang mengganggu hidupku lagi." Bentak mas Danang kesal.
Terlihat Muklis berjalan ke arah kakaknya, meninggalkan ibu dirumahnya Mak Pik.
"Mas!
Lebih baik barang barang kamu ini, ditaruh di garasi rumahku saja dulu, biar aman." Muklis menawarkan tempat untuk menaruh barang kakaknya.
"Tidak perlu, kamu bawa saja kursi yang ada dirumah ibu kerumah kamu.
Dan bawa juga kasur yang ada di kamar tengah.
Biar barang barang ku aku masukkan ke dalam." sahut mas Danang tegas. Dan Muklis langsung mengerjakan apa yang dikatakan kakaknya.
Lalu Muklis terlihat menelpon seseorang.
"Ada untungnya juga, mbak.
Gara gara Ambar ketahuan selingkuh aku dapat rejeki, dapat kursi sama kasur. Hihihiii
" kekeh Santi dengan riangnya.
"Anggap saja musibah pembawa rejeki, Sant!" sahutku ikut terkekeh geli. Sedangkan Ambar masih sibuk merayu mas Danang, namun diabaikan dan tidak di gubris sama sekali.
Mas Danang malah sibuk membantu Muklis mengeluarkan kursi di ruang tamu.
Dan juga ada beberapa bapak bapak uang ikut membantu mengangkat barang barang tersebut.
__ADS_1
Bu Wati tak lagi bisa berbuat apa apa, dia terlihat menangis di tepi jalan karena sangking sedihnya.
"Dek, aku pulang dulu ya, nganter kang Diman ngangkut ini." Muklis nampak berpamitan pada Santi.
"Iya, mas!
Hati hati, aku pulangnya nantinsaja ya, masih betah di sini soalnya." sahut Santi dengan senyum yang terus mengembang wajah manisnya.
"Ini di taruh dimana, mas Danang?" tanya pak Ipul pada mas Danang.
"Taruh saja di kamar saya pak, sebentar saya buka dulu pintunya." Sahut mas Danang yang langsung membuka pintu kamarnya dengan lebar, dan mendorong lemari miliknya agak kepinggir agar lemari yang tadi dia bawa dari rumahnya Ambar bisa masuk ke dalam.
"Kulkasnya gak sekalian dibawa masuk mas?" tanya pak Dulloh tetangga sebelah rumah.
"San, kamu sudah jadi beli kulkas belum?" bukannya menjawab pertanyaan pak Dulloh, mas Danang justru bertanya pada Santi.
"Belum mas, uangnya masih kurang!" jawab Santi sambil nyengir.
"Kamu bawa saja kulkas yang ada di dapur.
Biar yang disini pakai yang ini.
Tapi kamu harus bantuin Diana jagain ibu, gimana?" tanya mas Danang memastikan.
"Wah beneran, mas. Boleh lah kalau begitu. Aku sih oke oke saja, iya kan mbak?" sahut Tuti dengan wajah bahagia, aku hanya tersenyum menanggapi sikapnya yang kegirangan itu.
"Pak, tolong bantu saya, bawa masuk kulkasnya ke dapur ya?" mas Danang bicara sama pak Dulloh dan langsung diiyakan oleh lelaki paruh baya yang gemar sekali membantu tetangga yang sedang repot.
Ambar dan ibunya masih duduk lesu di luar.
"Mas!" Ambar memasang wajah melas agar mendapatkan simpati dari mas Danang lagi. Tapi lelaki itu justru pergi dan ikut berkumpul bapak bapak di rumahnya pak Dulloh.
"Mbak, aku jemput ibu dulu ya. Waktunya ibu mandi ini, sudah sore!" Santi mengagetkan aku dari lamunan.
"Iya, San!
Biar aku siapkan air nya kalau begitu." akupun langsung pergi ke dapur, untuk menyiapkan air hangat untuk mandi ibu. Namun tiba tiba Ambar sudah ada dibelakang ku dan menarik rambutku dengan kencang, sampai aku terjungkal.
"Aaaaargh!" teriakku kesakitan.
"Lepaskan!
Apa apaan kamu, Ambar?" teriakku murka, namun tarikan Ambar sangat kuat, sampai kulit kepala ini terasa panas, sakitnya jangan ditanya lagi, sampai sampai aku mengeluarkan air mata karena sangking sakitnya.
"Sudah gila kamu, Ambar. Lepaskan!" suara mas Danang terdengar menggelegar, dan tarikan tangan Ambar terlepas dari rambutku. Ya Tuhan, rasanya sakit sekali kepalaku.
Nampak mas Danang menyeret Ambar keluar dari rumah.
"Mbak gak papa?" Santi datang menghampiri ku dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
"Sakit kepalaku, San!
Ambar benar benar sudah tak waras, pusing rasanya, dia menarik rambutku sangat kuat." sahutku sambil meremas kepala dan menutup mata ini, merasakan denyut rasa sakit bekas tarikan tangan Ambar.
"Mbak istirahat saja, biar aku yang mandiin ibu.
Ayo aku bantu mbak Diana ke kamar." Santi memapah ku memasuki kamarku, kepalaku benar benar pusing. Dasar perempuan gila, makiku dalam hati buat Ambar.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
Novel baru :
#Ternyata Aku Yang Kedua
Novel on going :
#Wanita sebatang kara
#Ganti Istri
Novel Tamat :
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]
#Bidadari Salju [ tamat ]
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️