Wanita Sebatang Kara

Wanita Sebatang Kara
ini milikku


__ADS_3

"Sudah, sudah. Tidak usah ladeni mereka, sebaiknya kita balik kerumah kamu saja, lapar aku!" lelaki itu menarik kasar tangannya Ambar dan menyeretnya ke dalam rumah orang tuanya Ambar.


"Keluar kalian, ini semua gara gara kamu!


Sekarang Ambar diceraikan suaminya, memang kamu bisa mencukupi kebutuhan kami semua, hah?


Keluaaar!" teriak Bu Wati dengan suara melengking, aku dan ibu ibu saling beradu tatap dengan menahan tawa oleh drama keluarganya Ambar yang mulai frustasi, karena ATM berjalannya memilih pergi. "Syukurin!"


Entah drama apa lagi yang ada dirumah itu, aku sudah tidak berminat ingin tau, akupun memutuskan untuk kembali kerumah.


Namun sebelum pulang aku akan mampir ke toko sebentar buat beli Pampers ibu mertua.


Biar nanti saat ditanya mas Danang aku tidak bingung mencari alasan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Dari mana saja, kamu?


Buatkan aku kopi dan siapkan makanan, aku lapar!" perintah mas Danang saat aku baru saja mau melangkah masuk ke dalam rumah. Di halaman depan, sudah banyak barang barang rumah tangga, ada lemari, sofa, kasur, meja rias dan semua terlihat masih baru, itu pasti barang barang yang ada di rumahnya Ambar dan mas Danang mengambilnya kembali.


Dan diruang tengah juga terlihat ada televisi ukuran besar. Ckckck, Ambar pasti shock melihat ini semua, aku yakin dia pasti tidak terima dan akan kembali mengambil barang barang itu.


"Mbak gimana?" tiba tiba Santi sudah ada di sampingku.


"Eh, San. Ngagetin saja.


Seru pastinya." jawabku terkikik.


"Sebentar, aku mau buatkan kopi buat mas Danang, takutnya dia ngamuk karena kelamaan." sahutku dan langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan apa yang diminta suamiku itu. Ah suami, iya dia memang masih berstatus suamiku, tapi rasa di hatiku sudah musnah seiring luka yang setiap saat ia torehkan.


"Ini, mas!" aku meletakkan secangkir kopi hitam dan sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya di meja yang ada di depan mas Danang.


Lelaki itu nampak kuyu, pasti hatinya tengah kacau, wanita yang selama ini dia puja ternyata cuma mempermainkan cintanya saja. Kasihan sekali kamu, mas. Tapi sukurin, biar kamu tau rasa. Hihihii celotehku di dalam hati ini.


Bukannya aku merasa kasihan, tapi entah kenapa justru aku merasa senang dan puas dengan apa yang menimpanya saat ini. Bodoh amat dibilang jahat, dia juga sudah lebih jahat padaku.


"Ma, Joni minta duit dong, mau beli mainan di toko pak memed, sepuluh ribu saja. Teman teman Joni sudah pada punya semua." anakku yang baru saja pulang dari bermain langsung merengek minta uang, padahal biasanya dia jarang melakukan itu, paling minta uang dua ribu buat beli jajan.


"Minta berapa kamu?" sahut mas Danang, yang langsung membuatku kaget, karena biasanya dia akan cuek dan bersikap masa bodoh.


"Sepuluh ribu, yah!


Buat beli mobil mobilan plastik kayak punya teman teman." sahut Joni bersemangat.


"Ini, sisanya buat beli jajan!" mas Danang memberikan uang dua puluh ribu pada anaknya, dan disambut suka cita oleh Joni, dia teriak kegirangan. Sungguh sesuatu yang langka.


"Kenapa kamu bengong?


Aku ini ayahnya, wajar kasih ke anak biar dia senang!" sungutnya tak suka.

__ADS_1


Dan akupun juga masa bodoh, lebih baik kembali ke dapur melanjutkan acara beres beres.


"Kesambet apa itu suami kamu, mbak?


Joni seneng banget tuh." Santi terkekeh saat membicarakan kakak iparnya.


"Jinnya Ambar sudah hilang kali, makanya inget kalau Joni itu anaknya, Sant!" jawabku santai, lalu mulai meracik bumbu buat masak besok pagi. Dan merebus air hangat untuk mandi ibu mertua.


"Ibu kemana, San?


Kok di kamar gak ada."


"Diajak keluar sama mas Muklis tadi, paling ya ngobrol di depan sama Mak Pik, kayak biasanya.


Kasihan, ibu kayak bosan di kamar terus." sahut Santi yang ikut membantu mengupas bawang merah.


"Habisnya gimana to, San!


Aku juga gak kuat kalau gendong ibu naik ke kursi roda tuh, berat. Kamu juga tau, aku sekarang kuruusan gini." sahutku dengan mengherdikan bahu.


Aku dan Santi asik berceloteh kesana kemari, namun obrolan kami terhenti, karena mendengar suara gaduh di luar sana.


"Ada apa, mbak?


Kok kayak ada orang yang marah marah?


Lihat yuk." ajak Santi yang sudah lari duluan keluar, untuk melihat apa yang terjadi.


"Angkat lemari dan kasurnya dulu, pak.


Baru Sofanya." teriak Ambar yang membawa motor Tosa entah punya siapa, mungkin dia menyewa.


"Hentikan!


Jangan berani kamu menyentuh milikku.


Atau aku akan melaporkan kamu dengan tuduhan pencurian!" teriak mas Danang dengan wajah mengeras.


"Apa kamu lupa, mas?


Kamu sudah memberikan semua ini padaku, jadi ini mi Lik ku. Paham kamu?" sahut Ambar dengan percaya dirinya.


"Tidak ada perjanjian apapun, aku membelinya karena kamu istriku. Sekarang aku sudah menceraikan kamu, jadi apa yang aku beli dengan uangku itu tetap milikku.


Jangan kepedean kamu, Ambar. Ngaku ngaku milikmu, emang kamu punya uang buat beli barang barang mahal kayak gini, hah?" sahut mas Danang sinis. Ambar terlihat tidak terima, tangannya mengepal dengan wajah yang sudah merah padam. Mungkin dia malu karena mas Danang sudah menghinanya di hadapan para tetangga yang ikut menyaksikan pertengkaran mereka.


"Halah, dasar laki laki pelit kamu, Danang!


Barang sudah diberikan kok bisa bisanya kamu ambil lagi. Sakit hati ya sakit hati, tapi tidak begini caranya.

__ADS_1


Sudah pak, angkut saja. Wong ini punya anakku kok!" tiba tiba Bu Wati datang bersama anak laki lakinya.


"Bawa saja, tapi kalian siap siap dipenjara. Karena aku akan melaporkan kalian sebagai pencuri. Barang barang ini aku beli pakai uangku, dan semua kwitansinya juga atas namaku, masih tersimpan rapi di dompetku juga." sahut mas Danang sinis, dengan senyum penuh kemenangan.


Membuat Bu Wati dan Ambar terdiam seketika.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


Novel baru :


#Ternyata Aku Yang Kedua


Novel on going :


#Wanita sebatang kara


#Ganti Istri


Novel Tamat :


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ tamat ]


#Bidadari Salju [ tamat ]


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2