Wanita Yang Ditinggalkan

Wanita Yang Ditinggalkan
11. Awal yang indah


__ADS_3

Arsy tertidur di pundaknya Bryant saat perjalanan pulang. Sehabis dari sekolah mereka merayakan kemenangan dengan makan es krim di minimarket langganan Sharmila.


Hanya sebatang es krim stik senyuman lebar bocah itu tiada henti. Mungkin ini karena eforia kemenangan sesaat saja pikir Bryant.


Lelaki itu tidak menyadari perubahan anak yang dipanggulnya. Bocah yang selalu bersikap sinis dan dingin itu menjadi anak yang ceria dan bersemangat.


"Bagaimana dengan perayaan hari ini ?" Tanya Sharmila begitu masuk apartemennya melihat Bryant duduk di sofa dengan handuk kecil di kepalanya.


"Menyenangkan dan menarik." Jawabnya sambil tersenyum lebar.


Sharmila berjalan menuju ke sampingnya hendak duduk namun sudah ditariknya. Ia terduduk di atas pangkuannya.


"Berhentilah bergerak ! Kau akan membangunkan dia dibawah sana !" Bisiknya serak. Dia menempelkan kepalanya di bahunya Sharmila.


" Aku merindukanmu sayang. Rasanya sudah tak sabar untuk memilikimu." Katanya sambil mengecupi puncaknya.


Sharmila membeku kaku pasalnya dia merasakan gundukan besar di bawah pantatnya.


"Sayang aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Ijinkanlah make love you." Bisiknya serak. Tangan Bryant memegang erat-erat pinggulnya Sharmila.


"Aku tidak ingin menjadi wanita murahan". Bisiknya lirih. Bryant Cassano menatap wajah cantiknya dengan ekspresi hasratnya.


"Baiklah. Kita resmikan secara agama setempat dan masalah legalitas kita urus besuknya ok ?" Bisiknya sambil memainkan jemarinya Sharmila.


Wanita itu hanya mengangguk mengerti. Setelah selesai mengirimkan pesan singkat kepada asisten nya Bryant Cassano masih asyik dengan mengendus aroma tubuhnya Sharmila.


"Mereka lambat bekerjanya apa sudah tidak butuh gaji ?" Umpatnya bersamaan dengan tangannya mengusap punggung Sharmila.


Wanita itu meremas ujung pakaiannya. " Sebaiknya saya duduk sendiri saja. Tuan ?"


"Tuan ? Kau bicara dengan siapa ?" Tanya Bryant dengan nada dingin menatap tajam kearah Shalimar.


Shalimar tersentil melihatnya aura dari Bryant Cassano. Buru-buru dia menjaga sikapnya dan bersikap manja dengan wajah tersenyum.

__ADS_1


"Sayang. Boleh aku duduk sendiri ?" Shalimar berkata dengan nada lembut dan manis.


"Boleh. Namun aku ingin diberi ciuman lembut boleh ? " Ganti Bryan Cassano menjahili dia.


Blush. Semburat memerah malu menghias di wajah cantiknya Sharmila. Dia memalingkan muka. Tak lama terdengar suara bel pintu.


"Ayolah mereka sudah datang." Bryant Cassano mengangkat tubuhnya Sharmila untuk berdiri. Bryant membuka pintu masuk apartemennya Sharmila.


Asisten Bryan dan petugas dan ustadz beserta perias pengantin datang untuk mendandani Sharmila seperti pengantin. Mereka menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya.


Prosesi ijab Kabul berjalan lancar seusai Sharmila di rias pengantin baru mereka sama-sama menghadap ustadz untuk prosesi pernikahan.


"Sah.. sah.." Seusai suara itu bergema. Mereka mengucapkan doa. Setelah memberikan ucapan selamat assisten nya dan petugas serta ustadz berpamitan pulang.


" Liat semuanya sudah resmi. Aku boleh kan ?" Kata Bryant meminta ijin untuk mendapatkan keinginannya.


Ritual pengantin baru terjadi di apartemen nya yang kecil. Mereka melakukan percintaan di ruang tamu beralaskan kasur matras. Hanya ada kamar satu saja dan di sana sudah ada Arsy.


"Besuk kita pindah ke rumah baru aku sudah menyiapkan. Mulai sekarang kita tinggal bersama, karena kau sudah menjadi istriku." Bisiknya sambil terus menciumi bibirnya.


Keesokannya mereka pindah ke tempat baru yang dijanjikannya oleh Bryant Cassano. Lelaki itu menyiapkan rumah mewah minimalis berlantaikan dua.


Memiliki taman mini dan akurium kecil di sudut ruangan rumah. "Kau suka rumahnya ?" Bisik Bryant Cassano saat berdua dengan Sharmila di kamarnya.


"Iya." Wanita itu masih menata pakaian di walk in closed. Bryant Cassano mengikisnya jarak keduanya serentak dia mengambil inisiatif untuk mencium istrinya.


Wanita itu hanya tersenyum dengan tingkah Bryant. " Ini masih awal, semuanya ada di rumah." Katanya sambil menahan desahannya.


Bryant tak memperdulikan semuanya segera di angkatnya tubuh mungil itu ala bridal style dan meletakkan di ranjangnya. " Kau sudah menguncinya ?" Tanya Sharmila ditengah keasyikan bercumbu dengan Bryant dan dijawabnya dengan anggukan kepala.


Mereka melakukan percintaan mereka berlangsung lama, melupakan anak mereka yang di lantai bawah. Sharmila menahannya agar suaranya tak terdengar oleh putra atau pun maid. "Aku benar-benar sudah kecanduan tubuhmu sayang." Rancau Bryant Cassano.


Lelaki itu bergerak cepat, nafasnya terdengar menggelitik di lehernya Sharmila. Wanita itu menikmati sentuhan lembut lelaki itu.

__ADS_1


Hingga akhirnya mereka melepaskan bersamaan. Bryant Cassano melepaskan diri dari penyatuannya. Ia meraih phonsel pintar nya karena bersamaan jatuhnya tubuhnya benda itu bergetar.


"Ya..? ......." Bryant Cassano hanya mendengarkan penjelasan dari seberang sana. Si penelepon tanpa menjawabnya ataupun sekedar berkomentar.


Bergegas dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari jejak-jejaknya percintaan mereka. Ia keluar dari kamar mandi setelah selesai.


Bergerak cepat mengenakan pakaiannya. "Aku harus pergi karena ada urusan. Pakai ini untuk keperluan sehari-hari. Dan mulai sekarang jangan pergi kemanapun tanpa sopir. Aku sudah memindahkan tempat kerjamu."


" Jangan pernah tebar pesona di sekitar kamu. Nanti daftarkan sekolah yang bagus buat Arsy" Bryant Cassano berbicara tanpa jeda dan meninggalkan kartu hitam di nakas.


Sharmila hanya bisa dan tiduran karena kelelahan melakukan hubungan intim mereka.


"Aku akan selalu mengawasi kegiatan kalian." Ujarnya seraya mengelus rambut panjangnya. Lalu melangkah keluar dari kamarnya.


Di lantai bawah dia bertemu Arsy. Dia berdiri mensejajari tinggi nya. "Jangan membuat mama marah. Dan ingat selalu belajar. Satu lagi kau harus menjaga mama." Perintahnya.


Arsy hanya menatap wajah ayah tirinya itu dan mengangguk mengerti kemudian Bryan Cassano bergegas menuju mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


Sharmila berhenti bergerak saat putranya menghampiri. "Mama habis mandi ?" Daddy bilang aku harus jaga Mom. Apa Daddy pergi jauh ?" Tanya Arsy ingin tahu.


"Daddy harus kerja sayang. Dia pemimpin perusahaan jadi jam kerjanya berbeda dengan mom yang hanya karyawan." Jelasnya pada Arsy.


"Mom juga masih bekerja ?" Tanya Arsy ingin tahu.


"Tentu. Manusia harus kerja keras untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Demi kenyamanan Arsy Mom harus maksimal bekerja. "


" Nanti jika Arsy besar mom tinggal istirahat dan juga Daddy." Ucapnya sambil mengelus rambut sang putra.


Arsy mengangguk setuju saja. Sharmila membimbingnya ke pantry mengajaknya makan siang. Semuanya sudah disiapkan oleh pelayan.


Mereka menikmati makanan yang disajikan di atas meja. Arsy memakannya dengan lahap makanan yang disajikan untuk mereka.


Sharmila hanya tersenyum tipis melihat ekspresi wajah sang putra. Hatinya bertanya-tanya mengapa Bryant Cassano tergesa-gesa meninggalkan dirinya sendiri dan juga Arsy.

__ADS_1


Yang sudah mulai belajar mencintainya. Bagaimana jika ini hanya suatu keinginan sesaat setelah itu dia ditinggalkan begitu saja. Karena dia tidak membiarkannya menyentuh nya tanpa sah dimatanya.


__ADS_2