
Setelah puas jalan-jalan mereka kembali pulang ke mansion. Mereka dijemput sopirnya dan langsung menuju ke kamarnya. Sharmila langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari keringat.
Sharmila keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono mini dengan rambut basahnya. Ia menggunakan hair dryer listrik untuk mengeringkan rambutnya.
Bryant Cassano sudah di belakangnya dan memeluk pinggangnya. Cup. Ciuman di darat kan di puncaknya. Menatap lekat ke wajahnya yang cantik.
"Aku berharap secepatnya ada kabar baik sayang." Bisiknya sambil tersenyum tangannya mengusap-usap perut datarnya Sharmila.
"Kau sudah kerja keras untuk mendapatkan itu. Apa kau mau kita pergi ke dokter memeriksa kesehatan mu dan aku ?" Goda Sharmila.
Bryant Cassano menatap wajah cantiknya yang dipantulkan oleh cermin. " Menurut mu kita harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu ?" Tanyanya balik.
"Iya. Siapa tahu aku bermasalah. Karena kita melakukan terus menerus pada masa suburnya." Lanjutnya menatap manik birunya Bryant Cassano.
"Aku tak ada waktu, selama beberapa bulan ke depan. Aku ada pekerjaan, dan rencana awal akan mengajakmu sayang." Bryant menegaskan niatnya.
" Jadi kita akan berpergian berapa lama? " Tanya gamang. " Siapkan saja dirimu sayang. Kita akan bersama, setelah pekerjaannya selesai maka kita pulang. Karena itu sudah menjadi tugasmu." Sharmila membalikkan badannya dan seketika bertatapan dengan sang suami.
"Mendampingi suamimu ini." Lanjutnya lagi dengan mengelus ke-dua pipinya. "Akan kulakukan apa yang menjadi perintah mu. Karena kau suamiku." Ucapnya sambil tersenyum.
Seusai melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim mereka tidur bersama. Ini pertama kali mereka berbaring berdampingan tanpa melakukan apapun.
Keesokan harinya mereka berjalan beriringan menuju ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Menuju bandara dan berbagai perlengkapan sudah disiapkan oleh pelayan dan anak buahnya Bryant Cassano.
Mereka naik pesawat pribadi menuju ke kota Y untuk serangkaian kegiatan bisnis Bryant Cassano. Sharmila hanya tinggal di apartemen nya yang mewah.
Wanita itu di temani asistennya Felly, Sharmila belajar tentang kepribadian dan bahasa agar mudah berinteraksi saat mendampingi sang suami pada saat ada acara jamuan.
__ADS_1
Atau pun acara-acara tertentu yang mengharuskan dia membawa pasangan nya. Yang jelas Sharmila tidak merasa jenuh sendirian di hotel mewahnya.
Suatu hari ia berjalan-jalan di sekitar hotel itu. Karena Felly ada urusan, maka ia tidak ada kelas. Ia bermaksud menyapa Shalimar sang suami saat dari jauh melihatnya. Namun aku. langkahnya terhenti kala melihat Bryant Cassano di sana sudah dipeluk oleh seorang wanita cantik dan seksi.
Wanita itu bahkan sudah mencium bibir Bryant. Seketika itu juga ia berbalik arah kebalikannya dan pergi meninggalkan tempat itu. Wanita itu lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya. Air matanya menetes tanpa disadarinya.
"Berhentilah menangis Sharmila. Ini bukan pertama kalinya. Kau sudah tahu semua. Berhenti lah !" Gumamnya hingga akhirnya ia tertidur pulas.
Tengah malam ia terbangun dari tidurnya. Sharmila masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia baru saja merebahkan diri sesaat setelah itu ia mendengar suara handle pintu kamarnya dibuka.
"Kau sudah tidur sayang ? Maaf." Bryant Cassano mengecup kening Sharmila seusai itu ia membaringkan tubuhnya disisinya. Lelaki itu masih mengenakan setelan baju lengkap.
Sharmila langsung memalingkan tubuhnya sedikit menjauh darinya. Namun sudah di rapatkan lagi oleh Bryant.
Sharmila bahkan mencium aroma minuman saat lelaki itu menciumnya tadi. Wanita itu terjaga semalaman ia bahkan berusaha untuk turun hati-hati untuk melakukan ibadah.
Wanita itu melipat sajadahnya kemudian dia berbaring di sofa panjang. Dan ia menutup mata sembari tangannya tak berhenti menggunakan waktu tasbih.
Wanita itu hanya menatap kosong kedepan dan berdiri kaku di balkon kamarnya.
Di tempat lain. "Aku yang bertanggung jawab untuk kesepakatan Skype Co. Jadi apakah kita bisa?" Thalia berjalan menuju tempat duduknya Bryant Cassano.
"Maaf, namun aku tak tertarik untuk bergabung menjadi partner bisnis. Jika ini menjadi salah satu syarat maka kami mengundurkan diri dari kesepakatan ini. "
" Aku lebih suka memilih patner kerja lainnya. Terimakasih atas informasinya." Bryant Cassano bangkit dan berlalu di ikuti assisten nya.
"Bryant, apa kau tak pernah memikirkan hubungan kita ?" Ujarnya sambil menahannya. Namun segera ditepis oleh Bryant.
__ADS_1
"Aku berbisnis bukan untuk mencari kesenangan. Dan asal kau tahu saja aku sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak laki-laki. Jadi jangan pikir aku akan menerima semua keputusan sepihak mu." Tegasnya lagi.
Thalia terbelalak terkejut mendengar pengakuannya. Ia pun bergegas menuju ke arah Bryant Cassano. " Bisakah kita berdiskusi tentang hal ini ?" Ujarnya dengan tatapan memohon.
"Syarat utama yang kukatakan padamu tadi." Sahut Bryant menatapnya datar. Lelaki itu kembali duduk di tempatnya semula. Dan Thalia ikut duduk di hadapannya.
"Penawaran sesuai dengan proposal yang kami kirimkan lewat email. Dan jika ada perubahan maka mohon konfirmasi." Tutur sang asisten Bryan.
Bryant Cassano hanya memberikan isyarat agar wanita itu mengikuti arahannya asistennya. Dengan perasaan kesal Thalia kemudian berdiskusi dengan asistennya Bryant.
Lelaki itu hanya terdiam menyimak dialog mereka. Tanpa mengomentari tentang hal ini itu. Lelaki itu sudah kecolongan kemarin dan tak akan ada kesempatan kedua atau seterusnya.
Thalia adalah salah satu dari mereka yang pernah berkencan dengannya. Namun lelaki itu juga menegaskan hubungan mereka hanya sekedar bersenang senang saja tanpa ada keterikatan.
Kali ini mereka kembali bertemu karena bisnis kerjasama tidak lebih dari itu. Lelaki itu sudah memutuskan untuk setia pada istrinya dan berusaha menjadi suami yang baik.
Walaupun dirinya tak sesempurna itu. Mereka sudah mencapai kesepakatan bersama, Bryant Cassano dan asistennya meminta diri pada Thalia tanpa dapat dicegah olehnya.
Bryant masih melakukan pekerjaannya bersama asistennya di ruangan hotel.
Sharmila menatap wanita di hadapannya dengan tanda tanya. Wanita itu hanya tersenyum sinis melihatnya. "Aku kekasih Bryant. Asal kau tahu saja hubungan kami terjalin sudah bertahun tahun lamanya."
"Kau hanya wanita yang di nikahi diatas kertas saja ! Kau mengerti ?" Thalia sengaja mencari tahu keberadaan istrinya Bryant Cassano dan mencoba untuk mematahkan mental nya.
Wanita itu tak terima karena ditolak mentah-mentah oleh mantan kekasihnya.
Dan saat dia melihat wajahnya yang jelita ia makin tak rela melepaskannya. Wanita itu bertekad ingin memiliki Bryant bagaimanapun caranya.
__ADS_1
Sharmila menatapnya dengan tatapan matanya sendu. Wanita itu terpengaruh oleh kata-katanya. Apalagi dia mengerti bahwa Bryant Cassano seorang penguasa dan pengusaha.
Thalia tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Sharmila yang terpengaruh oleh kalimatnya.