
"Lihatlah dia. Big Boss kemari. " Seru Raisa seraya menatap lelaki itu yang berjalan di ikuti assisten nya.
"Wah fixs ini dia lagi tebar pesona sama karyawan ini tak boleh di diamkan." Umpat David Guetta.
"Maksudnya ?" Sharmila bertanya tidak mengerti menatap sahabatnya.
"Jika dia kesini. Kapan aku laku dan menikah ? Secara dia tajir melintir kenapa juga makan disini ? " Sharmila hanya ternganga melihat ekspresi David Guetta.
Azlan tak mengucapkan salam ia berlalu duduk di seberang mejanya kelompok Sharmila dan rekan-rekannya. Lelaki itu memesan dan makan makanan mereka sambil berbincang-bincang.
Di lain tempat. Darren disibukkan dengan pekerjaannya. Dia atas mejanya banyak dokumen penting yang harus di periksa dan dia juga fokus pada layar laptopnya. Sekretaris nya masuk setelah mengetuk pintu.
"Kopi Anda tuan." Tasya meletakkan kopi hitam itu di meja. Darren meliriknya sekilas. Dua gunung kembar itu menantang di penglihatannya. Atau memang dia lagi mode ON ? Benar-benar sudah rusak kamu. Tasya juga tak cepat-cepat beranjak dari sana. Seolah-olah menunggu perintah selanjutnya.
"Tasya, apa ada yang ingin kamu katakan ?" Tanya Darren. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya Tasya.
"Tadi tuan. Saat istirahat tak sengaja melihat itu sama teman .
" Melihat itu ?" Darren membeo. Tasya menunjukkan smartphone nya. Akh. "Ini ! " Gumamnya tak jelas. " Anda mau membantu saya ?" Tanyanya sekali lagi. "Saya tak ingin terlibat skandal. Kau cari patner lainnya.". Tegasnya.
"Saya tak akan menuntut itu. Saya janji. Ini ONS please ? Semuanya ulah mantan saya. Itu milik dia. Dia tahu kalau saya mudah terpancing untuk itu." Jelasnya pada Darren.
"Kau janji tak akan ada kelanjutannya ?" Darren memastikan. Tasya mengangguk mengerti. Darren bangkit dan menuju pintu langsung menguncinya. " Mhmm." Tasya langsung menyergap bibirnya dan badan melekat pada tubuh Darren.
Lelaki itu reflek menyentuh pantat bohay dan meremasnya. Tasya memiliki badan yang bagus juga berwajah cantik. Tentu saja siapa saja tak akan menolaknya.
Mereka saling ******* bertukar Slavina saling bercumbu. Darren menyukai Coco chip dan mengulumnya. Desahannya dan nafas yang memburu mewarnai ruangan itu.
__ADS_1
"Akh..come in.." Jerit Tasya saat Darren melakukan penyatuan dan langsung bergerak. Dan akhirnya mereka melepaskan bersamaan.
"Akhh.." Ini nikmat sekali. "Di sela-sela kegiatan kantor ada seperti ini." Bisik Darren. Saat mereka melakukannya. Masih didalamnya dan menekannya kuat-kuat.
"Jika sepakat untuk bersenang-senang aku bersedia. Aku sudah memiliki pacar tapi aku ingin lebih." Tasya menatap memujanya.
"Kau mau kita menjadi patner ?" Darren memastikan. Tasya mengangguk pasti. " Deal." Darren menyanggupinya.
Mereka saling melepaskan diri dan mengenakan pakaian seperti semula. " Kita akan melakukan itu di kantor saja. Kapanpun kau mau." Ucap Darren menuju mejanya.
Tasya tentu saja girang setengah mati. Langsung aja dia memeluk tubuh Darren dari belakangnya. "Terimakasih." Serunya.
Wanita itu langsung pergi dari tempat tersebut dan memulai pekerjaannya lagi. Demikian pula Darren lelaki itu seolah-olah tak terpengaruh oleh kegiatan panas barusan.
Bryant Cassano mengangkat smartphone nya ketika mendengar suara notifikasi pesan singkat. " Misi sudah dilaksanakan." Smirk miringnya menghiasi wajahnya yang tampan.
Pagi ini Sharmila bermaksud mengantarkan Arsy ke sekolah. Wanita itu mengecek ulang perlengkapan Arsy yang diperlukan. "Arsy sudah siap sayang ?" Sapanya, dan anak itu mengangguk.
Mereka berjalan beriringan menuju ke meja makan. Sarapan pagi. Dalam perjalanannya Arsy banyak terdiam melihat ke arah jendela mobilnya.
Sharmila sekarang sudah dapat mengendarai mobil. Ia masih memperkerjakan pelayan pria untuk menjaga rumah di malam hari dan menjemput Arsy. Sedangkan seorang lagi membantu bersih-bersih rumah.
Tidak sebanyak dulu. Karena dia harus berhemat karena ia takut dana dari suaminya akan terhenti sewaktu-waktu. Apalagi sekarang hampir enam bulan ia tak ada kabarnya.
Arsy yang dulu ceria sekarang terlihat murung lagi sama seperti saat tinggal di apartemennya yang lama. Anak itu sepertinya terusik lagi kenyamanannya, pikir Sharmila.
Tak mereka sampai di sekolah Arsy. "Aku pergi mom." Bisik Arsy lirih saat Sharmila memeluk tubuh sang putra. wanita cantik itu hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Putranya Bu" Sapa sebuah suara, Sharmila berdiri dan menoleh. ' Iya. Maaf dengan siapa ?" Sharmila ganti bertanya. "Saya ayahnya Ferry. Danny." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya.
"Sharmila. Mamanya Arsy." Dia menyambut uluran tangannya. Menyalaminya. "Putranya pintar. Saya pernah mengobrol dengan dia." Katanya. "Benarkah ? Terimakasih. Tapi maaf saya harus ke kantor. Permisi." Sharmila kemudian meninggalkan tempat itu.
"Sharmila Tagore Hussain ? Nama mu kan ? Suamimu Anwar Hussain." Langkah Sharmila terhenti saat mendengar nama itu. Dia membalikkan badannya.
"Aku kenal suamimu. Dia mantan kakak ipar ku." Sahut nya lagi. Mata Sharmila membulat sempurna mendengar perkataannya. "Kau adik iparnya mas Anwar ?" Tanya Sharmila untuk memastikan pendengarannya.
"Iya. Aku ceraikan dia karena mandul. Dan aku sudah memiliki anak seusianya." Tegasnya lagi sambil melirik Arsy. "Kau menyelingkuhi adik ipar ?" Ucapnya sinis.
"Aku terpaksa. Karena keluarga kami butuh penerus." Tegasnya lagi. "Well selamat kalau begitu." Sharmila membalasnya dengan nada ketus, saat membalikkan badannya tangannya di tahan olehnya.
"Maaf ? Mau kamu apa ?" Tanyanya dengan nada kesal. "Aku hanya ingin silahturahmi saja. Walaupun kau mantan kakak ipar tak ada salahnya berteman. Lagian anak kita satu kelas." Jelasnya pada Sharmila.
"Namun aku bukan kakak ipar mu lagi. Jadi ku mohon jaga jarak saja. Tak perlu mengakrabkan diri." Sahut Sharmila menatapnya tajam.
"Tapi aku ingin kita berinteraksi selayaknya saudara. Aku tahu aku salah menyakitinya. Tapi kumohon dengan berhubungan layaknya saudara akan lebih baik daripada bercerai berai." Jelasnya dengan senyuman.
"Harusnya kau memperhatikan tentang itu sebelum kau menceraikan apalagi hingga selingkuh." Jelasnya seraya menghempaskan tangannya.
"Kita akhiri saja. Anggap kita tak saling mengenal. Dan aku dan kamu jalan masing-masing. Oke ?" Pintanya dengan memberikan hormat sesopan mungkin. Sharmila pun berlalu dan masuk ke dalam mobilnya.
Hatinya bertanya-tanya mengapa semua ini terjadi. Dunia benar-benar sempit, ia harus bertemu dengan adik ipar mantan suaminya.
Seandainya dia mengetahui kalau mereka sudah berpisah, sekarang ia sudah menikahi lelaki lain. Dan sekarang suaminya entah ada dimana ia pun tak mengetahuinya.
Bahkan alasan dia pergi pun dia juga tak tahu. Apalagi anggota keluarga yang lainnya. Teman dekatnya juga tidak tahu. Dia wanita bodoh untuk ke sekian kalinya.
__ADS_1
Bersama dengan lelaki tanpa tahu asal usul, keluarga juga rekannya. Sungguh menyedihkan nasibmu Sharmila.