
Sharmila menjalankan tugasnya sebagai ibu yang baik, walaupun terkadang dia melamun. Dia sendirian merawat putrinya yang berusia beberapa hari. Dibantu oleh baby sitter dan pelayan lainnya.
Bayi berkulit putih berambut hitam dan sangat cantik. Wajahnya mirip dengan Bryant Cassano tanpa di tanyakan siapa ayahnya. Hingga detik ini Bryant belum pernah pulang. Dia di luar negeri entah apa Sharmila juga tak berusaha menghubungi dia.
Wanita itu tahu posisinya sebagai predikatnya Nyonya tertulis saja. Dan sewaktu belum dibuang ia harus menjalani dengan baik tak perlu bertanya dan tak perlu banyak tingkah.
Dia juga mulai aktif di toko bunga seperti yang di arahkan Bryant Cassano. Lelaki itu mengetahui ia suka bunga dan memasak. Ia memiliki tiga karyawan dan terdapat kebun bunganya dalam bangunan itu. Dan bangku taman dengan meja minimalis modern.
Tempat kerja yang nyaman baginya. Ia sudah mulai mengerjakan pekerjaan itu setelah dua hari kepulangannya dari insiden tersebut. Ia beristirahat pasca melahirkan anak. Ia bermaksud istirahat dua pekan.
Setelah itu ia akan bekerja lagi. Sharmila terkesiap sepasang tangan kekar melingkar di pinggang rampingnya. Dia tertegun merasakan sensasi nafas ditengkuk nya dan mendapatkan ciuman lembut di pundaknya yang terbuka.
Karena sehabis menyusui bayi perempuannya. "Aku merindukanmu sayang dan maaf tak mendampingi mu saat kau membutuhkan aku." Bisiknya lirih sambil terus bergerak ke ceruknya. Bryant Cassano menatap wajah cantiknya Sharmila dari samping nya.
Wanita itu tak merespon ucapannya yang dilakukannya hanya mematung di tempatnya berdiri. Bryant Cassano mengangkat tubuhnya nya dan meletakkan diranjangnya perlahan.
"Aku merindukanmu sayang. " Ucapnya sambil mengelus rahangnya dan menciumi bibir mungil itu. Tak ada respon terhadap sikapnya. "Kau marah ? Katakan sesuatu ! Memaki atau apapun itu ?" Tatapnya memelas. Sharmila hanya menatapnya lekat dan datar. "Akan ku siap kan baju dan air mandimu." Katanya sambil menyingkirkan tubuh sang suami.
Bryant Cassano hanya menatap tubuh mungil itu yang bergerak meninggalkan dirinya sendiri. Istrinya menjadi pendiam dan suka murung. Itulah yang di terimanya dari orang suruhannya.
Dia selalu ramah pada orang lain di kantor nya. Namun setelah tiba di rumah ia diam, ia juga mengawasi Arsy dan bersenda gurau dengan cerianya bersama. Namun setelah anaknya pergi menjalankan tugasnya sebagai murid dan anak baik Sharmila kembali diam.
Dulu selalu menjawab sapaan pelayannya namun sekarang hanya mengangguk samar tanpa senyuman. Dia habiskan waktu dengan menyulam, merajut dan merawat bunganya dan terkadang mendengar musik sambil tiduran.
__ADS_1
Bryant Cassano menerima handuknya tanpa berkata apa-apa saat Sharmila menyodorkan itu. Ia bahkan sengaja berjalan mondar-mandir dengan handuknya yang sepinggang dadanya terekspose menatap wajah cantiknya Sharmila. Namun wanita cantik itu mengacuhkan semua itu.
Sharmila menggunakan lotion skincare dan seusai melakukan itu ia pun membaringkan tubuhnya di ranjang. Tanpa melihat Bryant Cassano yang kesal dibuatnya.
Lelaki itu langsung saja masuk ke dalam selimut dan merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya. Sharmila hanya diam dan memejamkan matanya.
Bryant Cassano yang masih kesal menciumi leher dan kepala Sharmila tangannya juga merabanya. Beberapa saat ia melenguh pelan membuat dia tersenyum lebar. "Kau tahu kan aku masih masa nifas. Belum boleh melayani mu." Bisik Sharmila membuat Bryant membatu.
Gairah nya yang menyala menjadi surut karena kalimat itu. "Aku hanya merindukanmu sayang." Kilahnya dan tersenyum sambil mendekap erat tubuh mungil itu.
Keesokannya harinya. Mereka berkumpul di meja makan tanpa suara. Arsy meliriknya sekilas memberikan isyarat tentang ibunya yang berbeda akhir-akhir ini. Bryant Cassano membalasnya dengan anggukan samar dan tersenyum.
"Mom. Bulan depan ada kegiatan bazar perayaan ultah sekolah. Dan aku ingin mom datang untuk pergi melihatnya bersama, bagaimana ?" Tanya Arsy memulai percakapan.
"Apa saja yang di pamerkan di bazar itu ?" Tanya Bryant sambil menyesap kopinya. Menatap putranya sekedar basa-basi.
" Banyak Daddy. Ada pameran sains, makanan, minuman, pakaian kerajinan tangan anak-anak." Belum selesai Arsy berkata Sharmila menyelanya.
"Akan lebih baik jika Daddy mu yang datang. Dan pasti akan seru dan semakin semarak."
"Kenapa ?" Tanya Bryant membuahkan hasil dengan wanita itu langsung menolehkan kepalanya ke arah nya.
" Karena dimana ada kamu maka akan terjadi sesuatu dan pestanya akan tambah meriah. Dan bersiap menghadapi wanita penggoda Daddy mu Arsy. "
__ADS_1
Wanita itu langsung berdiri dan berjalan menuju ke kamar nya. "Apa kau cemburu sayang ?" Tanyanya lagi sambil menatap wajah cantiknya Sharmila.
" Tidak. Aku sudah biasa di duakan. Jadi mau berapa lama atau banyaknya jumlah wanita mu. Aku tak pernah terpengaruh. Aku hanya menunggu waktu saja. Waktu dimana kau mencampakkan aku, atau tepatnya kami bertiga ?" Lanjutnya lagi dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Bryant Cassano mencengkeram erat serbet makan di depannya. Sekali sentakan ia membuangnya ke lantai. Arsy melihatnya kemerahan wajah sang ayah yang menahan emosi. Momy akan mendapatkan masalah, batinnya bermonolog.
Di dalam kamarnya Bryant Cassano memberikan isyarat pada pelayan dan baby sitter untuk membawa putrinya keluar. Bergegas pergi mereka meninggalkan tempat itu.
"Kau mau apa? " Tanya Sharmila gugub saat Bryant Cassano mengunci pintu kamar. Lelaki itu melepaskan pakaiannya sambil berjalan mendekati Sharmila.
Sekali terjang ia membanting tubuhnya nke ranjangnya dan melakukannya. Melepaskan pakaiannya wanita itu. " Kita belum dapat melakukan hubungan seksual Bryant. Aku masih terluka." Jeritnya sambil menahannya.
Tubuh Bryant mengukunginya dan mengunci tangannya. Bryant merobeknya panty yang dikenakan Sharmila walaupun dia sudah berhenti darahnya namun jahit di sana masih ada.
Bryant nekat menciumi sekitar **** * membuat respon melengkung tubuh wanita itu. "Kau harus di hukum atas kelancangan mulutmu." Bryant melakukannya, menyatukan mereka dan lelaki itu tidak bergerak hanya menekankan saja miliknya di sana kuat-kuat.
Bagaimana pun ia sudah bersalah menyakiti perasaan nya. Namun ia tak terima Sharmila berkata seperti itu seolah-olah ia sama brengsek nya dengan Azriel Weizmann.
Ia sudah di acuhkan hampir dua pekan lamanya. Dan ia tak menyangka jika istrinya memiliki pemikiran sendiri seperti itu.
Hatinya bertanya-tanya mengapa dia berasumsi seperti itu. Apa karena dia tak pulang setelah insiden tersebut. Ia hanya bekerja tanpa memikirkan bersenang senang dengan wanita lain apalagi wanita bayaran.
Ia selalu senam lima jari jika teringat Sharmila. Dan ia berusaha menjadi suami yang baik dan menjadi imamnya. Kenapa ia berpikir bahwa dia sudah tak dihiraukan oleh nya. Mengapa ? Bryant Cassano mengangkat pantatnya dan masih menekankan itu.
__ADS_1
Sharmila melenguh panjang dan matanya terbelalak melihat Bryant. Wanita itu merasakan kedutan itu. Bryant membungkam mulut nya lagi dengan ciumannya. " Apakah dia sudah tak waras ?" Batin Sharmila.