
.Perlahan mata Sharmila terbuka melihat kepala yang menempel di dadanya. Antara kesal dan senang ia hanya terdiam.
Bryant Cassano bergerak perlahan membetulkan posisi wajahnya yang menempel disana. " Kalau sudah bangun kenapa tidak mandi saja ? Apa kau libur" Omel Sharmila.
Bryant Cassano mengangkat kepalanya dengan muka bantalnya tersenyum lebar. " Pagi sayang." Cup. Cup. Ciuman singkat berulangkali mendarat di bibir Sharmila.
Pria itu menariknya lagi dalam dekapannya. "Aku letih boleh kan cuti setelah kerja lembur sampai ber bulan-bulan sebelumnya ?" Tatapnya sambil tersenyum lebar. Ekspresi wajah yang sudah lama tak dilihatnya setelah sekian lamanya.
" I miss you", Bisiknya masih saja tersenyum. "Aku gerah. Dan ingin ganti, dan lengket bangun tidur." Omelnya lagi sambil menggeliat. Bryant Cassano tersenyum evil matanya berkabut.
Ia bangkit dari rebahan sekali sentakan tubuhnya Sharmila sudah terangkat ke udara. Lelaki itu membawanya ke shower dan mode air hangat mengguyur sekujur tubuhnya. Bryant Cassano melepaskan pakaiannya dan milik istrinya.
Ke-dua nya berdiri di bawah shower. Bryant Cassano menciumi bibirnya sekilas lalu turun kebawah. " Aku bantu memeras sedikit sayang." Bryant Cassano sudah mengulum dan menghisapnya kuat-kuat hingga dirasa cukup.
"Ini enak rasa ASI-nya." Gumamnya lirih sambil terus membuat tanda di tubuhnya. Wanita itu melenguh panjang saat di sentuh titik sensitif tubuhnya.
Sharmila merasakan kenikmatan berkali-kali tanpa di jamah namun ia tak tega pada suaminya yang belum mendapatkannya ia pun berinisiatif melakukan hal itu dengan berjongkok di depannya.
Bryant Cassano berteriak lantang dalam kamar mandi itu saat mendapatkan pijatannya dan puas. Ia menghadiahi ciumannya di puncak kepalanya. Setelah itu mereka membersihkan diri dari jejak-jejaknya.
Di kamar Bryant Cassano membantunya untuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer memberikan vitamin rambut. Lalu mereka beriringan menuju ke meja makan.
Sharmila menyapa Arsy dan putrinya. " Pagi kesayangan Mom." Sapanya sambil menciumi pipi keduanya. " Pagi." Bryant Cassano mencium puncak kepalanya Arsy dan pipi putrinya.
Mereka duduk dan makan makanannya. Ada bubur kacang merah, crepes pisang keju, sandwich isi tuna, ayam grill saus teriyaki, juice jeruk, dan salad sayuran.
__ADS_1
Sebenarnya Sharmila ingin makan nasi namun itu dilarang Bryant Cassano. Asupan nasi dikurangi dan dia juga memperkejakan ahli gizi dan koki jadi wanita cantik itu hanya menerima saja.
"Daddy tidak kerja ?" Tanya Arsy ragu. Lelaki itu hanya tersenyum tipis kemudian mengangguk. " Wow. Apa kita bisa jalan-jalan ?" Tanya dia antusias. " Mungkin sebentar. Setelah ku jemput kamu pulang sekolah. Adik masih bayi dan tak boleh bepergian." Tegasnya.
"Its OK. Asal sama Daddy." Sahut Arsy dengan sumringah. Senyuman garis melengkung menghiasi wajahnya. Sharmila tertegun melihat ekspresi keduanya yang saling berinteraksi selayaknya ayah dan anak. Begitu lugas dan santainya.
"Aku pergi dulu Daddy. Sampai nanti." Pamit Arsy sambil tersenyum lebar mencium tangan takzimnya pada sang ayah sambungnya. Lalu pada Sharmila.
Mereka saling menatap satu sama lainnya. Bryant Cassano memainkan phonsel nya dan meneruskan makannya sambil tersenyum lebar ketika bertemu pandang dengan istrinya.
Sharmila bangkit setelah makan ia bermaksud memberikan ASI-nya pada bayinya. Ia duduk di sofa di ruang tengah adalah tempat bersantai bersama.
Ia menekan drama Korea dan baru fokus memberikan ASI-nya. Bryant Cassano menyusulnya dan duduk di sampingnya dengan menempel di badannya Sharmila, tangannya melingkar di pundaknya.
Tentu saja Sharmila langsung bersandar di dadanya masih dengan posisi menyusuinya. Bryant Cassano menciumi puncak kepalanya dan menatap kosong ke depannya.
" Oppa Lee tak tahu jika dia sudah di jebak dan ditipu, hartanya sudah terkuras Namun masih cinta padanya. Cinta sungguh hal mengerikan !" Cerocos wanita itu.
" Kenyataan nya di dalam kehidupan nyata ini kau memilih pergi tanpa berjuang untuk mendapatkan keinginan atau melihat kesetiaan ku." Sindiran buat Sharmila, dari sang suami.
Si kecil telah tertidur, ia pun memberikannya pada baby sitter nya. Wanita itu terkejut saat mengetahui Bryant Cassano memperhatikan saat dia memberikan ASI-nya.
"Baru beberapa bulan dia sudah terlihat gemuk dan aku menyukainya." Bryant menarik Sharmila ke pelukannya.
Wanita itu langsung tersenyum tipis masih menonton film itu. Tak ada respon. Bryant Cassano mengusiknya lagi bermain di antara ceruk lehernya Sharmila.
__ADS_1
"Kau ambil cuti ? Apa kau sakit ?" Sharmila merasakan tak nyaman karena ada beberapa pelayan yang berkeliaran di sekitar mereka walaupun tak dekat namun dari jauh mereka dapat melihat kegiatan Bryant Cassano.
"Ayo. Ke kamar !" Ajak Sharmila setengah berbisik. Lelaki itu hanya tersenyum mengangguk mengerti. Mereka berjalan beriringan menuju ke kamar mereka.
" Tidurlah !" Sharmila duduk di ranjangnya dan menyuruh Bryant Cassano rebahan di pahanya. Sharmila memberikan pijatan di kepalanya. Wanita itu juga terkadang mengelus rambut Bryant Cassano.
"Jika disini kita bebas dan merdeka tidak akan sungkan menjalankan tugasku." Ucapnya sambil mengelus rambut Bryant Cassano. " Mhmm". Hanya suara deheman yang keluar dari mulutnya.
Lelaki itu terdiam dan menikmati sentuhan lembut sang istri. Ia merubah posisinya menghadap ke perutnya yang rata. " Terus begini sayang. Aku menyukainya." Katanya serak. Menatap wajah cantiknya Sharmila.
Kemudian mereka kembali saling bertautan bertukar Slavina. Bryant Cassano kembali berbaring di posisi sama. Di pangkuannya Sharmila.
Hingga lelaki itu sudah tak bergerak sama sekali. " Ck. Kau bahkan lupa janjimu dengan Arsy ? Kau bilang akan menjemputnya di sekolah." Lagi-lagi wanita itu mengomeli sang suami. Lelaki itu sudah tertidur terbang ke alam mimpinya.
Sharmila mengangkat kepala Bryant perlahan takut mengganggu istirahat nya. Seusai itu ia mengambil peralatan menyulamnya. Duduk di sampingnya dengan sulamannya.
Sambil sesekali ia melirik ke arah jam. Wanita itu mengisi waktu senggang nya dengan merajut, menyulam. Kegiatan yang ia lakukan hanya untuk mengisi waktu luangnya. Bryant Cassano tak mengijinkan ia bekerja.
Dia hanya diperintahkan untuk duduk diam saja dirumah. Menjaga anak-anak dan mengatur jadwal mereka, serta isi mansion mewah tersebut.
Wanita itu yang semula hanya menurut saja, pada waktu itu, melakukan perjalanan bisnis bersama. Wanita itu langsung percaya begitu saja mendengar perkataan orang lain. Tanpa konfirmasi terlebih dahulu, lebih memilih pergi tanpa memikirkan akibatnya.
Itulah yang dipikirkannya saat ini. Membantah perintah sang suaminya. Mengabaikan nya adalah peristiwa besar. Wanita itu meruntuki kebodohannya saat itu. Dan sikap dia yang tertutup adalah salah satu dari strategi mereka untuk memisahkan mereka.
****
__ADS_1
Mohon maaf cerita agak tersendat, karena banyak urusan di dunia nyata, mohon maafkan sekali lagi 🙏🙏🙏