
Di suatu apartemen. Seorang wanita berparas cantik jelita. Terkungkung dibawah lelaki muda berparas tampan.
"Akh.." Suara desahannya semakin tinggi bersahutan bersama. Dia bergerak liar dan cepat. "Akh.." ******* si wanita, yang mengeluarkan banyak disana karena patner nya belum juga selesai.
"Akhhh.." Buru-buru dia menarik dan memuntahkan cairan itu di tubuhnya wanita itu.
"Ini terakhir kalinya kita bertemu. Kau sudah tak senikmat dulu. Aku sudah bosan." Lelaki itu melenggang ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari jejak-jejaknya percintaan mereka.
Wanita itu hanya menatap sendu. Dia akui sudah tidak muda dan badannya sedikit berubah. Terlebih dia jarang perawatan karena sang suami sudah tak memberikan dukungan finansial lagi.
Dia adalah Adinda Zahrani. Istri Daniel Azriel Weizmann, lelaki itu sudah jenuh dengannya. Yang sering bergonta-ganti pasangan.
ONS. Azriel Weizmann menikahinya hanya demi usaha ayahnya dan karirnya saja.
Lelaki tampan itu adalah Axelo Rodriguez. Pembisnis terkenal dan sekaligus CEO di tempat kerja Adinda Zahrani.
Wanita itu yang menggodanya terlebih dahulu, namun lelaki itu penyuka surgawi tentunya tak ingin melewatkan kesempatan itu.
Adinda Zahrani mengenakan handuk kecil duduk di ranjangnya mengenakan pakaiannya.
Sedangkan Axelo Rodriguez hanya menatapnya sepintas.
"Apa kau sudah menemukan mainan baru ? Aku free kapan pun kau mau." Katanya sambil memperlambat gerakannya.
" Tidak. Namun aku suka yang ketat." Jawabnya asal sambil memainkan gawainya.
" Baiklah aku pergi." Kata Adinda memperlambat jalannya. "Mhm." Hanya deheman saja bahkan dia tak menoleh.
"Ck" Adinda berdecak sambil membanting pintu. Lelaki itu hanya tersenyum tipis.
"Ck. Dasar nenek tua. Apa kau pikir aku bodoh." Umpatnya dengan melirik ke pintu kesal.
Adinda baru saja tiba di lantai dua. Ia mendengar suara sayup-sayup ******* dari kamar sisi kanan. Itu adalah kamar Azriel.
Dia berjalan menuju ke arah mereka. Azriel nampak diatas wanita cantik itu dengan penuh nafsu dan gerakannya semakin bersemangat.
"Akh ... Sayang...Akh..." Sang wanita menggeliat karena pertahanan tubuhnya yang di porak porandakan sang patner.
Adinda mendekati mereka dan menanggalkan pakaian nya. " Aku ikut bergabung." Serunya.
__ADS_1
Sambil menampar pantat Azriel. Lelaki itu terkejut dan menatapnya lekat.
Dia pun berpindah ke Adinda. Mereka melakukan penyatuan tanpa pemanasan. Wanita itu beringsut minggir di sisi ranjangnya.
Dan mereka melakukannya tepat disampingnya.
"Dia kekasihmu ?" Tanyanya.
" Bukan, gadis bayaran." Jawabnya sinis.
"Teruslah, yang kuat !" Teriak Adinda. Mereka saling bercumbu dan melakukannya bergantian.
Seperti itulah hubungan pernikahan mereka berdua hanya kesepakatan bersama.
Di lain tempat. Bryant Cassano, Al Fattah Hussain, Sharmila dan David O'Brien berdiskusi tentang cara memiliki hak asuh anak.
Tentu dengan adopsi legalitas. Sang mertua mengurus hal-hal tentang legalitas hak asuh penuh. Karena Al Fattah Hussain termasuk pengusaha sukses dan memiliki nama.
Juga membuat surat tuntutan atas pembuatan laporan DNA yang tanpa izin Sharmila. Dan untungnya Sharmila menyimpan surat kopian dari surat keterangan DNA.
"Kita tenang saja. Biarpun mereka bergerak. Surat legalitas hak asuh akan jadi dalam sebulan lagi. Jadi kita akan menang kali ini. Di tambah surat nikah kalian. Maka dia berhak mengadopsinya." Ujar David O'Brien.
Azriel melepaskan diri dan mencampakkan pengaman itu asal saja ke tempat sampah. Saat sedang kesal karena pertemuan dengan Sharmila tak membuahkan hasil. Wanita itu masih sama seperti terakhir bertemu.
Meluapkan emosi yang meledak-ledak, bahkan dia berani menyiram air ke mukanya. Menjadi tontonan pengunjung di sana. "Akan ku balas semuanya Sharmila. Kau harus tahu aku mempunyai finansial yang mapan. Daripada kamu yang hanya pegawai magang dan kerja serabutan seperti itu.
Makanya dia melampiaskan nya pada nafsu. Bermain untuk melupakannya. Namun wanita pilihannya kali ini masih kikuk dan ia juga malas dengan istrinya. Yang jelas beda, karena banyak sekali yang mampir ke sana.
"Jadi, kalian bermaksud untuk membawa pulang anak wanita itu ?" Tanya Adinda mendekati Azriel yang sedang menenggak minuman dingin dari botol hingga tandas.
"Sharmila. Itu namanya, dia kekasihku waktu di kampus dulu. Dan ia merahasiakan identitas nya dari aku." Jelasnya.
" Ck. Tipuan jaman dulu. Aku yakin dia pasti mengincar posisi nyonya Weitzman." Cibirnya.
" Dia wanita polos. Tak seperti kamu !" Hardik Azriel sewot dan berlalu.
"Apa dia mencampakkan kamu ? Kenapa kau pulang awal ? Mengganggu saja !" Sakarse Azriel sambil melenggang pergi setelah membuang botol minuman nya.
"Aku tak akan tinggal diam ! Jika wanita itu masuk dalam lingkup kita ! Camkan itu !" Teriak nya nyalang.
__ADS_1
Adinda Zahrani bergegas menuju kamarnya karena kesal. Wanita itu tak terima jika disingkirkan oleh Azriel.
Secara dialah yang menyakinkan ayahnya untuk menanamkan modalnya di perusahaan sang mertua.
Di lain tempat. Sharmila mengucapkan salam kepada sang mertua karena dia harus pulang. Wanita itu meminta shif pagi, agar dapat menjaga anaknya.
Sharmila tertegun melihat Bryant duduk di atas motornya. "Selamat malam, Pak. Maaf, bolehkah.." Belum selesai dia bicara Bryant menyambar kunci ditangannya Sharmila.
" Mari, aku antar kau pulang." Bryant Cassano langsung menarik tangannya dengan lembut ia membimbing nya ke mobilnya.
"Aku kangen dengan jagoan mu. Bolehkan aku menjenguk nya ?" Ujarnya seraya menutup pintunya.
"Tuan. Ini sudah malam untuk kunjungan seorang lelaki ke tempat "
"Tidak. Ini masih pukul setengah delapan. Dan belum terlalu larut malam." Sanggah Bryant Cassano tanpa menoleh.
Lelaki itu menyuruh pegawai hotel untuk mengantarkan motor matic miliknya Sharmila ke apartemennya.
Hanya beberapa menit kemudian mereka sampai di depan unit apartemen nya.
"Silahkan." Sharmila tertegun melihat ekspresi wajah sang putra yang tertidur pulas di Sofanya.
"Biarkan aku saja." Ucapnya mendahului Sharmila. Mengangkat tubuhnya dan meletakkan di ranjangnya.
"Ini terlalu sempit untuk kalian berdua. Hanya satu ranjang, sebuah sofa panjang dan pantry juga sempit." Keluhnya saat mengedarkan pandangannya ke ruangan itu.
"Hanya ini kemampuan yang saya punya." Jawabnya sambil menyodorkan teh hijau padanya.
"Aku lebih suka kopi daripada teh." Bryant Cassano mencebikkan mulutnya.
"Ini lebih sehat daripada itu." Bantah Sharmila.
Lelaki itu duduk dan ditemani Sharmila di sampingnya. Lelaki itu hanya menatap wajah cantiknya Sharmila. Dengan makeup tipis natural.
"Kenapa kau tidak menikah saja ?" Celetuk Bryant Cassano.
"Aku ? Orang miskin seperti aku ? Mana ada yang mau." Sanggah Sharmila mengelak dari pertanyaan Bryant Cassano.
Itu sering dia mendapatkan pertanyaan yang sama dari tetangga dan pemilik minimarket yang selalu di sambangi dia.
__ADS_1
Wanita itu juga sering di goda rekan kerja juga pemilik kios sebelahnya Pak Maman. Bahkan dia mencoba menyuap sang putra, namun di acuhkan oleh Arsy.