
Bryant Cassano hanya menatap tak berkedip ke Darren Cassano yang tengah berlutut dihadapan nya.
"Kau begitu menyayangi nya. Bahkan kau merelakan harga dirimu sendiri untuk wanita itu yang menyandang status sebagai ibu ?" Tanyanya sambil berdiri mensejajari tinggi nya dengan saudara tirinya.
"Ini adalah bukti aku sebagai anaknya. Kulakukan semua hanya untuk dirinya. Sama seperti dia mepertahankan aku walaupun caranya salah." Jawabnya sambil memandang wajah Bryant Cassano.
Bryant Cassano mengulurkan tangannya dan disambut dengan baik Darren Cassano.
"Jangan khawatir tentang dia. Aku hanya memberikan pelajaran kepada dia dan konsekuensinya akibat perbuatannya." Jawabnya sambil tersenyum dan kembali duduk di kursinya.
Dia mengisyaratkan kepada Darren untuk duduk di bangku depan meja kerjanya. Ia menuruti perintah itu.
"Aku sudah memerintahkan kepada mereka untuk menyediakan dokter itu. Jangan khawatir !" Ucapnya sambil tersenyum tipis.
" Ku harap kau masih bersama ku. Bekerja dalam posisi mu sekarang." Lanjutnya lagi. Darren Cassano menatap wajah Bryant Cassano tak berkedip.
"Kau serius ?" Tanya Darren Cassano ragu. Terus terang dia tak mengenal pribadi seorang Bryant dan ia selalu dijauhkan dari ayahnya Edward Cassano.
"Tentu saja. Secara hukum kita bersaudara. Jika kau bekerja keras mungkin aku akan berbagi saham padamu." Ujarnya sambil bersandar dan bersedekap kedua tangannya.
"Kau serius ? Kau akan memberikan aku kompensasi itu ?" Tanyanya tercekat dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan apa yang ditawarkan oleh Bryant Cassano.
"Cobalah jika kau mampu !" Lanjutnya santai bahkan dia sempat terkekeh kecil melihat ekspresi Darren Cassano.
"Cih, hanya aku janjikan saham 1% saja kau girang setengah mati." Cibirnya sambil menyeringai lebar.
Darren Cassano menatap wajah adik tirinya itu dengan sengitnya. " Kau pikir aku mau kerja tampa di bayar ? Aku bukan orang munafik. Semua orang di muka bumi tentu doyan uang."
Mereka tergelak bersamaan dengan ekspresi berbeda. Awalnya mereka kikuk dan segan semuanya sudah terlepas menjadi hangat.
Dibelahan dunia lain. Sharmila duduk mendengarkan keputusan dari hakim mengenai keputusan untuk hak asuh.
"Dengan pertimbangan dan bukti-bukti serta berkaitan dengan hal tersebut kami putuskan bahwa hak asuh atas Arsy Hussain jatuh di tangan Sharmila Tagore Hussain."
Belum selesai hakim mengatakan semuanya pihak dari Azriel Weizmann membuat gaduh dan di seret paksa oleh petugas keamanan dan dikeluarkan dari ruangan itu.
"Kau dengar sendiri hakim mengizinkan aku mengasuhnya karena memang aku yang berhak." Ucapnya meremehkan Azriel dan Adinda Zahrani.
" Kami akan mengajukan banding setelah ini. Lihat saja nanti." Sahut Adinda Zahrani menatap tajam.
__ADS_1
"Daripada merebut anak orang lain. Kenapa tak buat sendiri ? Tak bisa, apa mungkin mandul ? Jika iya kenapa tak adopsi saja ?" Ucapan sinis menampar mukanya berubah memerah.
Sharmila berjalan menuju parkiran. Mobilnya sudah menunggu dia. Adinda Zahrani memperhatikan tentang hal itu.
"Mobilnya termasuk mobil mewah. Juga pengacaranya, apa dia sudah menjadi simpanan ?" Sakarse Adinda Zahrani terdengar di telinga Azriel.
"Tutup mulutmu ! Sharmila bukan seperti kamu !" Hardiknya memelototi Adinda Zahrani. Terus terang dia kesal dan cemburu terhadap pasangan nya Sharmila.
Rasa penasaran memenuhi kepalanya. Dia ingin mengetahui siapa lelaki itu yang sudah menjadikan dia istrinya.
"Jadi kakak menang dalam sidang tertutup itu ? Selamat ya ". Ucapan tulus dari Raisa diterima Sharmila saat mereka makan siang bersama.
"Terimakasih. " Jawabnya sambil tersenyum dan makan makanan yang dipesannya tadi.
"Mantan kamu itu tak ada malunya. Urat malunya sudah putus kali ya ?" David ikut menimpali.
" Ngomong-ngomong udah dengarkan pimpinan baru akan datang akhir bulan ini." Seru Anna sui.
"Dia singgle, tampan, kaya." Lanjutnya lagi dengan ekspresi wajah yang membuat David, Raisa juga Sharmila tertawa terbahak-bahak.
Di perusahaan. Bryant Cassano mengadakan meeting bersama dengan para staf nya.
"Mengenai pengganti Beliau disini bagaimana tuan ?" Tanya sang asisten.
" Ada perekrutan tenaga baru dan aku ingin orang baru. Agar tidak ada praktek manipulasi. Dan aku ingin meremajakan perusahaan kita." Lanjutnya sambil menatap wajah para stafnya.
" Jika perlu kita menggunakan tenaga baru dan dengan semangat baru." Katanya lagi.
"Bagaimana dengan laporan keuangan perusahaan yang dipegang Michelle Cassano ?" Tanya Bryant pada staffnya.
"Buruk tuan. Ada permainan angka di sejumlah titik. Dan wanita itu hanya pergi bersenang-senang tanpa memperdulikan semuanya."Jelasnya sambil menunjuk data-datanya.
"Aku ingin dia di pecat dari jabatan. Cari penggantinya. Orang baru juga dan jika dia tertarik untuk bergabung maka kasi jabatan dari bawah. Jika dia bersedia." Perintah Bryant Cassano.
"Aku ingin semuanya di laporkan padaku paling lambat akhir bulan. Aku ingin laporan setiap pekan, bulan dan tahun." Tegasnya lagi.
"Baik Tuan." Serempak semua menjawabnya. Menjalankan tugasnya sesuai dengan keinginan Bryant Cassano.
"Kalian boleh keluar. Terimakasih." Ucapnya sambil membuka berkas-berkasnya yang di dapatkan dari stafnya.
__ADS_1
Semuanya sudah keluar menuju ke tempatnya semula. Bryant Cassano hanya menatap kosong ke depan. Entah apa yang dipikirkannya saat itu.
Di tempat lain. Michelle Cassano kesal karena kartu debit card nya tak dapat di gunakan. Ia mengeceknya ulang di mesin ATM. Hasilnya sama kartunya sengaja di blokir.
Dia bertambah emosi pada Bryant Cassano. Kebenciannya terhadap dirinya bertambah besar.
"Halo ? Apa kau ada di sana ?" Tanya Michelle.
"..............."
" Aku akan kesana. Aku sangat membutuhkan bantuan." Ucapnya lirih.
".............."
Tak lama ia pun berlalu dengan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sampai di sebuah rumah mewah.
Seorang pria duduk di kelilingi wanita cantik dengan bikini. Dan lelaki itu hanya mengenakan celana pendek dan di tangannya segelas tequila.
" Aku membutuhkan itu. Semuanya sudah di blokir. Ibuku sudah di rumah sakit jiwa." Michelle Cassano mengadu begitu tiba di hadapannya.
" Tentu. Kau bisa bekerja seperti mereka. Toh di dunia bisnis kau tak ada kemampuan untuk melakukan hal itu." Jawab lelaki itu berkomentar.
"Apa aku ada kesempatan untuk ikut ?" Tanyanya sambil menatap wajah lelaki rupawan itu.
"Ada jika kau mau. Aku akan mengaturnya untuk mu. Fifty-Fifty mau atau kau boleh pergi !" Ucap nya.
"Aku boleh tinggal di sini ?" Tanya lagi.
"Silahkan. Namun kalian akan berbagi. Kau tak bisa seperti ratu. Kecuali kau idolanya." Lelaki itu terkekeh kecil melihat satu wanita itu bermain-main dengan anaknya.
"Tentu saja. Terimakasih." Jawab Michelle Cassano.
"Aku sudah mengirimkan pesan singkat dari tuan mu. Layani dia di luar ada mobil yang sudah menunggu." Titah nya.
Michelle Cassano berbalik berjalan keluar mansion. Di halaman ada mobil dan sopirnya. Mereka masuk ke dalam bersamaan.
Michelle Cassano kau sekarang hanya sebagai penghibur hanya ini kemampuan yang kamu miliki. Nikmati dan bertahanlah.
Batinnya bermonolog, tanpa disadarinya ia meneteskan air matanya. Buru-buru dia menghapusnya.
__ADS_1