Wanita Yang Ditinggalkan

Wanita Yang Ditinggalkan
8. Goyah


__ADS_3

"Kenapa kau tidak menikah saja ?" Celetuk Bryant Cassano.


"Aku ? Orang miskin seperti aku ? Mana ada yang mau." Sanggah Sharmila mengelak dari pertanyaan Bryant Cassano.


Terlalu sering dia mendapatkan pertanyaan yang sama dari tetangga dan juga pemilik minimarket yang selalu dia sambangi nya.


Wanita itu juga sering di goda sesama rekan kerja, juga pemilik kios sebelahnya Pak Maman. Bahkan dia mencoba menyuap sang putra, namun di acuhkan oleh Arsy.


Lelaki itu menatapnya lekat dan mengikis jaraknya dengan Sharmila.


"Kurasa waktunya Anda pulang. Tuan Cassano." Wanita itu langsung berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


"Kurasa begitu." Sahut Bryant Cassano dengan tersenyum kecut.


"O, ya. Jika kau ingin bersama dengan putramu. Satu-satunya yang kuat adalah menikahi lelaki mapan seperti aku ? " Celetuk nya.


" Dengan demikian kau tak akan berpisah dengan putramu. Jika mertua kamu kemungkinan kecil. Entahlah siapa tahu." Lelaki itu sengaja membuat dia bimbang.


Karena tujuannya adalah untuk mendapatkan wanita itu dengan segala caranya. Mereka saling menatap satu sama lainnya.


Sharmila tertegun sejenak dan memutuskan pandangan matanya, ia menundukkan kepalanya.


Ia sudah membuat kesalahan waktu itu, jangan sampai dia berbuat hal yang tidak.


Dia tak ingin perjuangan sahabatnya Anwar Hussain menjadi sia-sia jika ia bersikap seperti dulu lagi.


Ditutupnya pintu masuk apakah. Wanita itu hanya menghela nafasnya panjang.


"Apakah itu benar? Ayah Mertua kemungkinan besar akan kalah dalam proses pengadopsian ?" Batinnya bimbang.


Dia putuskan untuk membersihkan diri dari keringat karena seharian bekerja. Dia juga menjalankan shalat isya kemudian dia murojah sebentar.


Setelah itu dia langsung istirahat menyusul Arsy ke alam mimpinya.


Semenjak menikah dengan Anwar wanita itu kembali ke sifatnya dulu sebelum bertemu dengan Azriel.


Almarhum suaminya seorang yang tekun beribadah dan terkadang dia malu karena dia sudah kotor dan tergoda terus untuk berbuat maksiat.


"Kau mau menitipkan dagangan ?" Suara Bryant Cassano membuat dia terjenkit terkejut.


Sedangkan Arsy hanya menatap wajah lelaki itu penuh selidik.

__ADS_1


"Tuan Cassano ? Apa yang menyebabkan Anda pagi-pagi sekali ada di sini ?" Cicitnya perlahan.


"Hanya ingin minta sarapan pagi", Jawabnya asal. Sharmila hanya tersenyum tipis.


Lelaki itu langsung meraih tas plastik besar itu. Dan mereka berjalan beriringan menuju ke minimarket depan apartemen itu.


Dia menerima pembayaran dan menitipkan peyek buatan sendiri. Kemudian berjalan mengantarkan Arsy pergi ke sekolah.


Sekolah nya masih di lingkungan itu juga. Di tengah jalan Sharmila berhenti dan menghentikan Arsy.


"Sayang. Jika ada orang yang mengaku sebagai teman mama, jangan percaya dan teman mama hanya dia. Kau mengenalnya ?" Ucap Sharmila pada Arsy sambil menunjuk ke arah Bryant Cassano dengan dagunya.


Wanita itu ingin menunjukkan bahwa bos nya adalah temannya. Dia harus berjaga-jaga jika nantinya Azriel berbuat sesuatu dibelakangnya.


Dia dulu tega menyakiti perasaan nya, dan dia yakin Azriel akan melakukan hal itu. Bryant Cassano mensejajari tinggi Arsy.


"Kau percaya padaku Arsy ? Aku akan selalu menjaga kalian." Ucapnya sambil mengelus rambut anak itu. Anak itu hanya terdiam menatap wajah Bryant Cassano.


"Arsy. Apa dia papamu ?" Tiba-tiba terdengar suara seorang anak. Anak laki-laki yang berseragam sama dengan Arsy berdiri tak jauh darinya saat mereka berdiri di depan sekolah taman kanak-kanak.


"Kata orang papamu sudah mati. Bagaimana caranya kamu punya papa lagi ?" Tanyanya lagi ingin tahu.


Sharmila tertegun melihat ekspresi sang putra. Dia baru menyadari ekspresi wajah datarnya Arsy.


" Arsy memang mempunyai Papa lagi. Apa masalahnya ? Kamu keberatan ?" Tanya Bryant pada anak lelaki yang menghampiri Arsy. Bocah. laki-laki itu hanya menatap wajah Bryant Cassano dengan bingung.


" Ck. Pagi-pagi sudah nyinyir. Apa ibumu tak memberi sarapan ?" Ucap Arsy ketus. Arsy kembali ke tempat Sharmila dan Bryant juga temannya berada. Arsy mencium tangan sang ibu dan Bryant lalu melenggang pergi masuk ke gedung sekolah.


"Apa dia papanya jeng? Mirip banget " Sapa ibu-ibu julid pagi hari, menghampiri Sharmila. Yang merupakan ibu anak tadi.


Sharmila hanya tersenyum kemudian ia berlalu dari sana.


"Kenapa tak di jawab?" Bryant Cassano mensejajari langkahnya.


"Masih pagi tak bagus buat qibah apalagi jika bertengkar dengan orang. Buat rejeki seret saja." Sungutnya Bryant Cassano hanya tersenyum tipis.


"Kalau diperhatikan sepintas kalian memang mirip. Mungkin saja ini hanya kebetulan." Gumam Sharmila.


Bryant hanya tersenyum melihat tingkah lakunya Sharmila.


Mereka berjalan beriringan menuju ke parkiran mobil. Bryant mengajaknya berangkat bersama dan sedikit memaksa kepada Sharmila.

__ADS_1


"Kenapa Anda berbuat seperti ini Tuan " Protes Sharmila saat dipaksa masuk dan masih dibantu memasang sealt belt oleh Bryant.


"Seharusnya kau manfaatkan saja situasi ini." Jawab Bryant Cassano dengan sangat santai.


Saya bukan type orang yang seperti itu !" Sanggah Sharmila sewot.


" Lalu ?" Sahut Bryant acuh.


"Kau sangat cantik. Walaupun sudah janda namun kau mempesona dan terus terang aku sangat menyukai nya." Lanjutnya.


" Bukannya banyak wanita yang suka dengan Anda?" Sharmila menjawab dengan nada ketus.


"Mereka perawan namun berasa janda berbeda dengan kamu janda berasa perawan ?" Jawabnya enteng.


"Maksudnya ?" Sharmila menatapnya bingung.


"Kau akan tahu jika nanti kau memutuskan untuk memilih aku." Sahutnya sambil tersenyum smirk miringnya.


"Dasar orang aneh" Gumamnya sambil memandang sekilas lalu ia mengalihkan perhatian pada jalanan lewat kaca jendela mobil itu.


Sharmila meminta Bryant untuk menurunkan dia di sebuah halte tak jauh dari hotel tempat kerja. Dia tak ingin ada gunjingan di antara karyawan.


Bryant Cassano menuruti kemauannya. Namun dia masih saja mengirimkan pesan singkat pada Sharmila mengenai ajakan untuk makan siang bersama.


Atau hanya sekedar berkirim pesan via WA namun tak di balasnya. Posisinya sebagai karyawan lah yang menjadikan dia segan untuk melakukan hal itu.


Walaupun hanya sekedar membalikkan kembali pesan singkat dari Bryant Cassano. Dia tak ingin di katakan memanfaatkan situasi.


"Jam berapa kau istirahat makan siang Sharmila ?" Tanya Al Fattah Hussain saat mereka berpapasan di koridor hotel.


"Detik ini Ayah. Saya baru saja selesai shalat. Dan hendak ke pantry hendak makan siang." Jawab Sharmila.


"Ayolah ikut ayah ke taman belakang hotel. Ayah sudah membeli makanan. Kita dapat mengobrol tentang Arsy juga." Ajaknya. Sharmila hanya tersenyum mengangguk.


Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat tujuannya. Disana mereka duduk bersama dan makan makanan yang dibeli lelaki itu.


"Apa kau akrab dengan CEO hotel tempat kerjamu ?" Tanya Al Fattah Hussain hati-hati.


"Secara tak sengaja dia menolong Arsy di jalan saat jatuh. Dan sungguh aku tak tahu jika dia bekerja di sini." Aku Sharmila menunduk hormat.


"Kulihat dia mempunyai perasaaan padamu." Ucapan Al Fattah Hussain membuat Sharmila tertegun.

__ADS_1


__ADS_2