
Masa sekarang. Sharmila merasa bersalah pada putranya karena dia belum menjelaskan tentang ayah kandungnya.
Laki-laki yang ada di foto kamar mereka hanya ayah di atas kertas. Sahabatnya yang baik hati. Biarpun dia berkata kasar dan grasak-grusuk namun dia baik hati.
Sangat menjaga arti persahabatan serta persaudaraan. Setia dan murah hati," Andaikan kau diberikan kesempatan
untuk bersama, aku akan menyerahkan diriku seutuhnya sebagai mana istri yang baik." Batinnya sedih.
"Ibu besuk adalah hari ayah. Kami diwajibkan untuk mengapresiasi karya berupa foto, puisi, atau lukisannya." Mama. Menurut Mama mana yang baik.?' Tanya Arsy kepada ibunya.
Wanita itu hanya tersenyum tipis melihat ekspresi wajah sang anak.
" Kata Bu Guru, lebih baik lagi jika Papa datang." Arsy berkata dengan menundukkan kepalanya.
Sharmila tertegun melihat ekspresi wajah sang putra. Dibelainya rambut coklat bercampur merah itu dan di kecup berulangkali.
" Maafkan Mama. Sayang." Bisiknya menahan air matanya agar tak menetes di pipinya. Hatinya tersentuh oleh penuturan sang anak.
"Dia benar-benar butuh seorang ayah", Batinnya. Keheningan malam itu menambah kan rasa emosi bagi keduanya. Di lain tempat.
"Jadi kau sudah menemukan petunjuk di mana menantu ?" Lelaki itu bertanya.
"..................."
" Dia pergi bersama anaknya ?". Seorang lelaki paruh baya itu duduk di meja kerjanya sambil meremas kertas di genggaman tangannya.
"…................"
" Dia bekerja di Hotel xxx. Sebagai resepsionis ?
"......................."
" Dia juga masih memiliki usaha sambilan menitipkan peyek dan kerajinan tangan ?" Gumamnya pada dirinya sendiri.
Lelaki itu adalah pengusaha kerajinan ukiran dari Al Fattah Hussain. Pengusaha ukiran kayu dari Bali.
Dia mengirimkan sang putra ke Jawa untuk kuliah. Namun sang anak tak pernah kembali. Yang pulang hanya jenasah dan berkas-berkasnya.
Putranya di dampingi pihak kepolisian setempat dan pemilik rumah kontrakan.
Kabarnya dia menikah dan sang istri tidak ikut menyertai karena usia anaknya masih balita.
Dia sudah membaca buku jurnal harian anaknya. Mengisahkan tentang perjalanannya di tanah Jawa.
Buku yang di bawanya di sisa hidupnya. Pihak kepolisian dan dirinya yang mengetahui hal itu.
__ADS_1
Disana dia membaca bahwa dia sudah menikahi wanita pujaannya yang sudah disakiti kekasihnya.
Dan menjelaskan detail tentang nya. Putranya meninggal dunia karena kecelakaan lalulintas sepulang dari kantor.
Anaknya hidup sederhana semenjak remaja. Dan dia lanjutkan hingga saat kuliah.
Putranya memiliki dua sahabat wanita, mereka adalah Sharmila dan Rafaela. Gadis berdarah suku Aceh dan Medan.
Yang dicintainya adalah yang berasal dari Aceh yang berparas cantik namun bernasib malang.
Ditipu oleh seorang lelaki yang mencintai nya. Wanita itu polos dan sederhana juga taat beribadah.
Karena cinta ia melupakan tentang semuanya, norma dan agamanya.
Dia hanya ingin menjalankan amanah sang putra yang ingin menjaga mereka berdua.
Secara istrinya hanya sendirian di tanah Jawa tanpa kerabatnya terlebih Rafaela sudah kembali ke Medan.
Hanya berbekal foto usang ia mencari keberadaan menantunya dan cucu sambung.
Karena dia bukan anak kandungnya Anwar Hussain.
Terlebih sekarang ia sudah tak memungkinkan memiliki penerus karena sang putra meninggal sedangkan putrinya sedang menderita gangguan pada rahimnya.
Karenanya itulah dia diceraikan suaminya. Lelaki itu hanya bersedih mendapatkan nasib buruk anak-anaknya.
Dia tak patah hati karena mendapati Anwar yang begitu bahagia bersama istrinya walaupun dia menjaganya seperti saudara.
Dia pikir akan mengadopsi wanita itu menjadi putrinya dan anaknya akan menjadi penerus usahanya.
Hanya itulah pikiran lelaki itu. Bryant Cassano melihatnya sekilas Sharmila yang berdiri di depan tengah berbincang dengan tamu hotel.
Timbul senyuman itu. Dia tertutup rapat seperti itu saja sudah kelihatan cantik. Apalagi.. Sekali lagi pikiran kotornya melintasi otaknya.
Dan disinilah dia. Al Fattah Hussain berdiri tegak menatap ke arah sang menantu. Dia sudah reservasi hotel ditempat kerja menantunya itu.
"Apakah saya boleh berbincang dengan Nona Sharmila Al Hussain ?" Tanyanya lagi.
Dan wanita itu hanya tersenyum mengangguk.
Mereka duduk bersama di sofa lobby hotel.
"Perkenalkan nama saya Al Fattah Hussain. Mungkin nona pernah mendengar nama aku ?" Tanyanya lagi sambil menangkup kedua tangannya di pangkuannya.
"Al Fattah Hussain" Sejenak Sharmila bergumam lirih. Matanya terbelalak menatap lelaki paruh baya itu.
__ADS_1
"Ayah.." Sharmila tercekat.
"Ayah Anwar. Benar sekali." Jawabnya sambil tersenyum.
"Anwar menuliskan semua tentang kalian dan juga" Belum selesai dia berkata sudah dipotong kalimatnya.
"Aku minta maaf Ayah. Gara-gara saya dia tertunda dan berakhir pada.." Sharmila menunduk dan mencoba menahan air matanya.
"Aku tahu. Menantu ku. Pulang lah bersama Ayah. Kita tinggal bersama ada ibu dan adik. Mereka sudah mengetahui tentang kalian." Bujuknya.
"Ayah tak membenci aku ?" Tanyanya terbata tanpa disadari nya air matanya menetes.
"Kau putri kami, walaupun kau tak beruntung. Tapi kau gadis baik." Ucapnya seraya meraih tangan nya. Sharmila menangis diam-diam tubuhnya bergetar hebat mengingat Anwar Hussain.
Interaksi antara mereka diamati secara seksama oleh Bryant Cassano. Lelaki itu menatap dari jauh ke arahnya.
"Ada.. Sesuatu Ayah. Dia mengetahui keberadaan Arsy. Dan ingin menuntut hak nya. Ayah aku harus bagaimana ?" Tanyanya lagi dengan tersendat.
"Dia memiliki bukti DNA. Dan bermaksud untuk mengambil Arsy dari aku Ayah." Sharmila tergugu.
"Sharmila ?" Bryant Cassano merasa tidak nyaman maka dia menghampiri mereka.
"Pak Bryant." Sapanya hormat. Mereka berdua berdiri saling memberi menyalami hormat.
"Saya mertuanya Sharmila. Kami lama tak bertemu. Jadi dia terharu.":Ucap Al Fattah Hussain.
" Ah. Begitu. Saya pimpinan Sharmila. CEO di hotel ini." Ujarnya sambil tersenyum. Mereka duduk bersama.
"Mengenai itu Ayah akan mencari pengacara di sini yang mahal. Ayah mampu membayarnya." Ucap Al Fattah Hussain.
"Pengacara ? Apa ada masalah hukum ?" Sela Bryant Cassano.
" Seseorang ingin menuntut saya. Mengklaim putraku sebagai anaknya. Aku hanya janda."
" Hanya ingin bersama dengan putraku dan keluarga. Dia... Brengsek ! Dulu menyakiti hati orang lalu.." Sharmila menganga kalimatnya disela dengan Bryant Cassano.
"Saya mengerti. Sahabat aku pengacara. Dia ada janji bertemu dengan aku. Kau bisa mengandalkan kemampuan untuk menenangkan kasus ini." Sela Bryant.
"Itu dia !" Serunya saat melihat seorang laki-laki berpakaian rapi masuk dengan koper.
Lelaki itu mempesona seperti Bryant Cassano. Tampan dan berkharisma dengan setelan jas hitam itu.
"Dia seperti orang luar negeri." Gumam Al Fattah Hussain.
"Dia lulusan Universitas terhebat. Dan jam terbangnya sudah internasional. Ini hanya kasus kecil."
__ADS_1
" Aku yakin kita akan memenangkan persidangan jika memiliki pengacara seperti dia." Katanya antusias.
Lelaki itu memberikan kode tangan. Dan dia membelokkan arah jalannya. Ke arah mereka.