
Bryant Cassano memerintahkan kepada pelayan untuk mengirimkan makan malam Arsy ke kamarnya. Dan ia juga menemui putrinya Alice menyapa dan serta bercanda sejenak.
Di ruang makan Arnoldus Janssen berpapasan dengan Bryant Cassano. " Sendirian ?" Sapanya sambil duduk dan makan makanannya. "Mhm. Dia letih, ini pertama kali kami bercinta. Kemarin aku ragu mengajaknya, karena dia sedang hamil muda." Jawab Arnoldus Janssen.
"Asal tak keseringan main, semuanya akan baik-baik saja." Bryant Cassano hanya tersenyum memberikan saran kepada Arnoldus Janssen.
"Aku iri padamu. Jujur kau hanya beruntung saja, dalam hal apapun. Jago bisnis dan wanita yang benar saja." Arnoldus Janssen mencebikkan mulutnya dengan masih mengunyah makanan nya.
" Itulah kehidupan. Kau tak pernah bisa tahu dengan siapa kau jatuh cinta, dan dengan siapa kau habiskan sisa hidupmu. Dan bagaimana akhir dari segala hidupmu." Lanjutnya lagi dengan makan makanannya.
" Kau benar. Kupikir dia cinta sejati ku. Hingga tergoda dengan sekretaris ku. Dan alih-alih mengakui jika aku telah selingkuh. Namun aku semakin menggila."
" Dan ia merahasiakan hal itu, tentang kehamilannya yang bermasalah. Dia mengalami masa-masa sulit itu sendiri. "
" Dan ego ku tak dapat menerima nya, saat ia meregang nyawa karena nya. Dan menyalahkan diriku sendiri, saat ku tahu kesulitannya adalah sumber kesenangannya. Aku hancurkan dia !"
" Stella Maris mengetahui jika dia mengalami fase trisemester pertama yang menyakitkannya. Ia muntah terusan, rasa mual itu. menderanya dan ia tak dapat makan yang. beraroma wangi menyengat."
" Pertama kali aku melihat ia muntah begitu menyiksa nya. Hatiku sakit sekali. Dan dia maksud ku Stella Maris. Ia selalu menghapus pesan singkat dari nya. Juga telpon dari rumah."
" Makanya kuputuskan dia tak boleh mengandung. Karena ia begitu kejam pada istri ku. Ia kuberikan status istri sah. Namun ku balas sama seperti ia melakukan itu pada istriku."
"Hingga aku bertemu Caroline Cassano. Aku sudah tidak bermain-main lagi dengan yang lainnya. Hanya dengan Caroline. "
" Dia tak menuntut juga tahu batasan nya. Dia juga tak menggunakan uang ku seperti Stella Maris."
" Entahlah, mulai kapan hatiku mulai menyukainya. Ia juga belajar memasak memperhatikan tentang kesukaan aku. Dan melakukan hal yang sederhana. Aku menyukainya." Arnoldus Janssen berbicara tentang hal pribadi nya.
Bryant Cassano hanya tersenyum menyimaknya. " Yang lalu tak mungkin kembali. Kau bisa mendoakannya dan meminta maaf. Kau bisa melakukannya, memperhatikan dan menjaga pasangan mu sekarang. Seolah dia yang di sampingmu."
__ADS_1
"Iya. Aku juga memikirkan hal itu." Sahut Arnoldus Janssen dengan cepat. " Bagaimana dengan mu. Kau bisa bertemu dengan Sharmila ?" Ganti Arnoldus Janssen bertanya.
"Sharmila. Ia wanita yang perasa, hatinya lembut dan banyak cinta. Mudah memahami dan sangat pengertian. Namun rapuh. "
" Ia disakiti oleh cinta pertamanya. Yang tak lain saudara kembar ku. Arsy anak sambung ku. Kenapa wajah kesukaan nya sama dengan aku ? Aku tak tahu. Itu rahasia alam."
" Aku mendampingi nya, dengan dalih kerjasama. Padahal aku jatuh cinta pada pandangan pertama. "
" Aku sempat melupakannya, karena kesibukan yang padat dan menguras energi dan pikiran ku. Dan saat aku bersamanya, mantan wanita yang pernah ku kencani menyerangnya."
" Dan aku kurang menjaganya. Dia juga terluka karena aku. Aku bukan suami yang baik."
" Namun ia selalu berusaha setia pada ku. Aku sangat menghargai perasaan nya. Aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk nya." Keduanya serempak terdiam dan menerus makannya.
"Aku ke atas. Mengantarkan makanan untuknya." Bryant Cassano berdiri dan mengangkat baki yang disiapkan pelayan.
" Aku juga. Dia sudah lelah karena itu." Arnoldus Janssen menyeringai lebar dan Bryant tertawa kecil melihat ekspresinya.
"Sayang makanlah dahulu. Ini aku bawakan chicken steak dan meat ball." Bryant Cassano menciumi wajah Sharmila untuk membangunkan wanita cantik itu.
"Aku malas makan. " Gumamnya seraya duduk dengan muka bantalnya. Bryant Cassano hanya mengelus kepala nya lalu beranjak mengambil bakinya.
Lelaki itu langsung menyuapi makanan ke dalam mulutnya, saat wanita itu sedang menguap.
" Kau.." Sharmila terbelalak matanya, terkejut dengan tingkah Bryant barusan. " Makanlah agar dia bertambah gemuk." Bisiknya sambil mengecupi bibirnya sekilas yang mengerucut.
Menahan meat ball yang penuh di mulutnya. Pipinya mengembung terlihat lucu di mata Bryant Cassano yang masih terkekeh kecil di depannya.
"Kau tak akan bisa gemuk sayang. Badan mu ramping lagi jika dia keluar. Dan aku selalu merasa seperti pertama kali melakukan itu." Bisiknya sambil mengelus pipinya yang mengembung.
__ADS_1
Sharmila memalingkan wajahnya antara malu dan suka menjadi satu. Wanita itu hanya menatap wajah Bryant Cassano yang setia menyuapi makanan ke mulutnya.
"Puding coklat dan buahnya juga harus habis sayang." Titahnya yang masih belum berhenti menyuapi nya. Sharmila hanya mengangguk mengerti.
" Apa mereka sudah pulang ?" Tanya Sharmila saat Bryant Cassano menaruh baki di atas nakas.
"Mereka menginap. Dikamar tamu. Aku ingin mereka diterima sebagai keluarga, dan memperbaiki kesalahanku dimasa lalu." Jawab Bryant Cassano.
"Sungguh ? Dia cantik dan seperti nya baik hati." Sharmila menatap sang suami. " Benar dia baik. Hanya saja ibunya terlalu ambisius dan melakukan banyak kesalahan."
"Sehingga banyak menyakiti hati karena itu. Terlalu banyak cinta juga tak baik terlalu sedikit juga buruk." Lanjutnya dengan menciumi bibirnya Sharmila.
Mereka sekarang duduk berhadapan di ranjangnya saling menatap satu sama lainnya. "Apa kita juga begitu ?" Tanya Sharmila ganti. bertanya.
"Entahlah sayang. Menurut mu ? Jujur. Aku hanya menginginkan yang terbaik, nyaman dan kesehatan mu serta anak-anak." Jawabnya.
" Ayo, istirahat lah. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Fokus pada bayinya." Bryant Cassano menariknya ke bawah selimut dan mendekapnya erat-erat.
"Aku mencintaimu. Selama nya akan berusaha untuk setia pada mu. Berjanjilah jangan pernah berubah." Bisiknya sambil mengecupi puncak rambutnya.
Wanita cantik ini hanya terdiam dan menutup mata. Dan tak menjawab perkataan nya yang ia lakukan hanya menggeliat memposisikan dirinya dalam dekapannya.
"Lagi-lagi dia mengacuhkan aku. Apa ini balasan mu ? " Tatapnya sengit mencurigai wanita itu yang terdiam dan memejamkan matanya.
Sejenak kemudian dia terkekeh kecil mendengar suara nafasnya yang beraturan menandakan ia sudah terlelap dalam alam mimpi.
Paginya Sharmila bangun lebih awal dari Bryant dan ia sudah mandi saat tangannya menyentuh mukenanya. " Kita bersama sayang. Aku mandi dahulu." Serunya dengan bergegas menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai ia mengenakan pakaian muslim nya dan mereka mengerjakan shalat subuh berjamaah di kamarnya. Seusai melakukan itu dia takzim mencium tangannya Bryant Cassano.
__ADS_1
Hati Bryant Cassano selalu hangat jika dia melakukan hal itu. Bryant Cassano mudah sekali terpengaruh oleh pergerakan kecil sang istri. Dan ia membalasnya dengan ciuman di keningnya.