
"Maafkan aku. Aku bermaksud untuk minta maaf pada mu, namun aku takut di acuhkan. Waktu aku tahu tentang dia dari Darren aku hanya... Aku ingin mengenal lebih jauh tentang istrimu." Cicit nya pelan.
Jujur ia ketakutan, takut di tuduh ikut bergabung menyakiti hati dia. Yakni Sharmila, juga takut di tolak permintaan maafnya kepada Bryant Cassano.
"Lalu ?" Suara dengan nada dingin menggema di ruangan itu.
Caroline hanya menunduk, tubuhnya bergetar karena takut disalahkan oleh kedua lelaki itu. " Aku hanya dapat melihat dari jauh. Dan hanya dapat memanggil polisi saja. Aku tak berani menelepon mu. Karena kau membenciku saat aku membuat keributan di perusahaan terakhir kalinya. Maaf." Wanita itu menjeda kalimatnya.
"Maaf. Aku tak dapat menolong secara langsung, bagaimanapun aku hanya sendirian. Dan aku memilih mengamankan dia." Lanjutnya lirih sambil mengelus perutnya yang datar.
"Aku tak tahu siapa ayahnya. Hanya dia yang ku miliki, aku tak berani meminta bantuan pada Darren karena ia sudah membiayai medis ibu." Katanya sambil setengah menangis.
"Maafkan aku Bryant Cassano, aku tak dapat menolong istrimu." Isaknya menjadi diiringi tubuhnya terguncang hebat karena menangis.
Arnoldus Janssen bangkit dan berjalan menuju dirinya dan memeluk pinggangnya ramping itu. Membenamkan kepalanya di dadanya dan memeluk nya.
" Cih dramatis." Stella Maris mencibirnya dengan sinis. "Jadi intinya dia memberikan pertolongan kepada istriku karena sudah memanggil anda pihak kepolisian ?" Ucap Bryant.
"Tepat. Dan kami minta kerjasama agar persoalan ini selesai dengan damai." Lanjut petugas kepolisian.
"Saya akan menuntut dia atas penyerangan terhadap istriku. Dan juga merusak properti selebihnya tugas pengacara saya. Apa boleh saya bawa istriku pulang ?" Bryant Cassano berkata dan bertanya sekaligus pada petugas kepolisian terkait.
"Silahkan. Kami sudah meminta keterangan pada yang bersangkutan dan juga saksi mata." Jawabnya sambil tersenyum. Bryant Cassano dan istrinya pergi meninggalkan tempat itu.
Saat berpapasan dengan mereka yakni Caroline dan Arnoldus Janssen.
"Datang lah ke rumah. Kita harus bicara banyak soal. Kami menunggu mu." Ucap Bryant sambil mengelus kepala Sharmila dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Caroline Cassano hanya tersenyum ditengah derasnya air matanya menetes tanpa henti. Arnoldus Janssen juga membimbing nya keluar dari sana. Tanpa permisi pada petugas kepolisian terkait.
Pengacara Arnoldus Janssen melanjutkan kalimatnya. " Tuan Janssen mendapatkan telpon dari nona Caroline Cassano jika ada kekacauan ini. Maka saya ingin memastikan keadaan nya saja."
"Nona Caroline Cassano hanya saksi tak ada masalah jika meninggalkan tempat ini. Hanya nanti akan dipanggil untuk keperluan saksi dalam pengadilan." Jelasnya.
"Baik lah terima kasih atas semua nya." Pengacara itu hendak berjalan namun terhenti karena suara nyaring. "Bagaimana dengan aku ? Apa kau tak menembus aku ? Aku tak mau dipenjara !" Suara itu berasal dari Stella Maris.
"Seharusnya sudah kau perhitungan kan resiko saat menyerang dia Nyonya. Anda salah tuan tak pernah ada cinta pada Anda. Harusnya kau tahu diri." Sakarse pengacara itu meninggalkan tempat itu.
Stella Maris berteriak histeris tak terima ditinggalkan oleh Arnoldus Janssen begitu saja. Wanita itu meraung keras memanggilnya petugas kepolisian mengembalikan dia ke sel dan disana dia dipaksa diam oleh sesama penghuni tempat itu.
"Sudah berapa lama dia sini ?" Tanya Arnoldus Janssen pada Caroline Cassano. Wanita itu sudah diam dan dapat menguasai dirinya setelah menangis berjam-jam. Saat ini mereka berada di apartemen nya yang diberikan oleh Arnoldus Janssen. Disini pula ia melayani lelaki itu.
"Dua bulan. Baru beberapa Minggu lalu aku baru tahu saat memeriksa kesehatan ke dokter. Dan aku harus berhati-hati dalam melakukan itu. Jika nantinya akan menyakiti dia." Ucapnya sambil menunduk.
"Entahlah. Mungkin juga karena memang hormon." Jawabnya sambil memalingkan wajahnya dari tatapan Arnoldus Janssen.
Lelaki itu langsung melesat memberikan ciuman lembut dan menuntut dan memberikan pemanasan pada wanita itu. Caroline terangsang dan terpancing. Dan mereka pun memadu kasih hingga ke puncak mereguk kenikmatan berkali-kali.
Sementara itu di mansion Bryant Cassano memanjakan Sharmila yang berubah binal jika malam tiba. Wanita itu selalu menuntut hak nya setiap malam tiba. Sungguh berbeda dengan saat dulu saat mengandung putri mereka.
Seusai melakukan hubungan itu mereka mandi bersama lagi.
Dan berakhir dengan lelapnya sang istri dalam dekapannya. Wanita itu akan terjaga dan menuntut nya lagi dan lagi. Sharmila seperti memiliki kepribadian ganda. Karena pagi dan malam pribadinya berbeda.
Mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga. Yakni ada televisi besar dan vidionya player. Bryant Cassano memutar video anak-anak dan Arsy juga Alice duduk menonton film ini. Sedangkan Sharmila hanya tidur di bantal-bantal yang disusun oleh nya dan memakan kudapan sehat.
__ADS_1
Salad buah dan beberapa jajanan kesukaan anak-anak. Berkumpul bersama menikmati waktu luang untuk melakukan kegiatan lainnya.
"Tuan Nyonya ada tamu." Suara pelayan membuyarkan lamunannya Sharmila yang sedari tadi hanya diam saja tak menyentuh kudapan di pangkuannya.
"Aku saja sayang. Kau temani anak-anak." Bisiknya sambil tersenyum lebar dia berdiri dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Di ruang tamu ada dua orang duduk sedang berbincang satu memunggungi nya. Laki-laki itu menutupi sang wanita sehingga Bryant Cassano sulit untuk melihat.
"Ehem." Deheman menginterupsi keasikan keduanya. " Arnoldus Janssen ? Caroline Cassano?" Gumamnya.
"Kau bilang kami boleh datang menemui mu." Ucap lelaki paruh baya itu setengah sinis. Bryant Cassano melengos pergi duduk bersama mereka.
"Aku hanya meminta dia karena kakak tiri ku. Bukan kamu !" Sakarse Bryant membuahkan muka datarnya Arnoldus Janssen menjadi tambah kesal
"Kami menikah di catatan sipil. Apa kau tak mengijinkan suamiku untuk bersama kita ?" Tanya Caroline Cassano dengan berkaca-kaca.
"Hanya bergurau. Baguslah jika kau sudah menikah. Aku hanya ingin kau tahu batasan mu dan kemampuan mu untuk bertahan hidup dengan skill yang kau miliki." Jelas Bryant Cassano panjang lebar.
"Aku akan memberi profit jika kau mampu mempertahankan karir mu. Dan lebih bagus lagi kau bisa melebihi saudara mu." Lanjutnya.
"Aku tak pernah membenci mu. Yang ku benci ibumu. Dan aku tahu kau hanya salah didik saja
"bahwasanya kau orang baik." Kalimat yang tidak membuat Caroline Cassano nyesek banget dan wanita itu lagi-lagi menangis haru.
" Kita saudara dan tak ada istilah mantan saudara. Yang ada mantan istri, mantan pacar, mantan suami. Benar kan ?" Godanya dengan mengedipkan matanya.
Caroline Cassano tertawa kecil melihat tingkah laku Bryant Cassano dan hatinya menjadi hangat karena nya.
__ADS_1