
"Secara tak sengaja dia menolong Arsy di jalan saat jatuh. Dan sungguh aku tak tahu jika dia bekerja di sini." Aku Sharmila menunduk hormat.
"Kulihat dia mempunyai perasaaan padamu." Ucapan Al Fattah Hussain membuat Sharmila tertegun.
"Ayah. Dia seorang CEO dan sangat kharismatik banyak wanita yang menginginkan nya. Jujur aku juga salah satunya.
Hanya saja aku seorang pekerja biasa dan seorang ibu berperan orang tua tunggal.
Apakah menurut Ayah aku mempunyai peluang usaha memikat dia ?" Tanya balik Sharmila mewakili hati dan keinginan tahuan tentang dirinya.
"Entahlah. Karena menurut pengamatan Ayah dia memiliki minat padamu. Kenapa tak kau coba ?" Lelaki paruh baya mengedipkan bahunya seraya meminum minumannya.
Sharmila menghela nafasnya panjang dan memandangi jalanan dengan hampa.
"Katanya kemungkinan besar Ayah akan mendapatkan kesulitan untuk mengadopsi Arsy karena secara biologis Ayah bukan kakek kandung." Ujar Shalimar gamang.
"Itu benar adanya. Tapi kita dapat mencoba dulu baru kemudian kita menyerah jika sudah tak ada peluang." Sahut Al Fattah Hussain.
"Jadi begitu saja." Gumamnya lirih. Shalimar. tambah ragu dan bimbang.
"Kalau kau mempunyai kekasih maka itu lebih baik dan dia dapat membantu kamu mendapatkan hak asuhnya." Lanjutnya lagi.
Shalimar menatap wajah Lelaki paruh baya itu tak berkedip.
Itu sama saja dia mendorongnya untuk menerima usulan sang Boss. Dia bahkan tidak mengenali pribadinya. Mereka baru beberapa kali bertemu.
Seusai acara makan siang bersama mereka berpisah, Al Fattah Hussain sekaligus berpamitan kepada Shalimar.
Karena urusan pekerjaan yang ditinggalkannya.
Al Fattah Hussain berjanji akan meluangkan waktu bertemu sang cucu sambungnya.
Shalimar pun kembali ke tempat kerjanya dan memulai aktivitasnya sebagai karyawan yang baik.
Tanpa sepengetahuan mereka Bryant Cassano memperhatikan mereka lewat CCTV yang di sambungkan ke laptop nya.
Pria itu hanya ingin mengetahui kegiatannya Shalimar.
__ADS_1
"Sharmila." Azriel nampak mendekati wanita itu. Rupanya dia sudah menunggu di depan pintu masuk hotel.
"Ada perlu apa kemari ?" Tanyanya sengit dan waspada.
"Aku ingin kita bicara. Ini mengenai anak kita." Ajaknya dengan nada lembut. Saat tangannya hendak menyentuh pundaknya Sharmila sudah menghindari terlebih dahulu.
Mereka berjalan beriringan menuju halaman parkir di depan gedung hotel tersebut.
"Anak kita ? Yang benar saja." Jawabnya sinis saat mereka berhenti di dekat sebuah mobil hitam.
"Dia butuh ayahnya. Tolong jangan egois ! Dia butuh semuanya demi masa depan !" Teriak Daniel Azriel Weizmann tak terima mendapatkan tatapan mata remeh dari Sharmila.
"............" Tak ada komentar atau jawaban dari Sharmila. Wanita itu hanya menatap wajah Daniel Azriel Weizmann dengan muka datarnya.
"Semuanya demi masa depan anak itu sendiri." Ulang nya lagi untuk menyakinkan Sharmila.
" Masa depannya ada pada aku. Kami baik-baik saja tanpa ayahnya yang meninggal ketika dia berumur 1 tahun." Jawab Sharmila menatap Azriel dengan ekspresi sikap yang sama.
"Ayolah. Kau tahu aku ayah kandungnya." Sahut Azriel gusar.
"Lantas kenapa ? Kau yang bilang kami bukan bagian rencana di hidupmu." Ujarnya sinis.
"Lalu bagaimana dengan aku ? Siapa yang harus mengerti kesakitan yang kurasakan karena bukan bagian dari rencana hidupmu." Azriel menatap ke arah wajah cantiknya Sharmila tertegun.
"Sayang. Kau disini ? Aku mengirimkan pesan singkat namun masih belum kau baca dari tadi." Bryant Cassano muncul dari dalam mobilnya tak jauh dari tempat mereka berdebat.
Sharmila terkesiap mendengar perkataan dari Bryant. Buru-buru dia menjaga sikapnya agar tak terbaca oleh Azriel.
"Kau siapa ?" Tanya Daniel Azriel Weizmann dengan menatapnya tak suka. Melihat lelaki itu berjalan mendekati mereka.
"Aku ? Mhmm menurut kamu aku siapa ?" Ganti Bryan Cassano bertanya.
"Dia ayah tirinya Arsy." Jawab Sharmila, bergegas menghampiri Bryant Cassano dan mengambil tangannya dan takzim.
"Apa yang terjadi ?" Batin Daniel Azriel Weizmann menatap ke-dua orang tersebut bingung.
"Sudah kukatakan padamu kau tak perlu mengkhawatirkannya. Masa depan putraku terjamin. Itu pun tanpa kamu !" Sakramen dari Sharmila.
__ADS_1
"Kenapa sayang ? Siapa dia ?" Tanya Bryant Cassano pura-pura tidak tahu ada apa diantara mereka. Dia sengaja membelai hijab Sharmila untuk menarik perhatian Azriel.
"Dia mantan pacar ku sewaktu kuliah. Dia kakak senior ku. Dan dia yang memutuskan hubungan cinta kami. Kemudian kembali menemui aku karena dia tahu aku hamil anaknya." Adu Sharmila manja.
Dalam hatinya Bryant Cassano mengutuk sikap Sharmila yang manja nampak imut di matanya. Dia menahannya lagi agar rencananya berhasil ia berlagak setenang mungkin.
"Benarkah ? Apa kau tak punya hati ? Kau yang meninggalkan dia tanpa pertanggungjawaban. Dan kau menuntut hak asuh ?" Cibiran pedas Bryant Cassano menusuk ke dalam hatinya Azriel.
"Jika aku jadi kau. Aku tak akan meminta hak itu. Melainkan hanyalah meminta maaf dan memberikan bantuan secara terbuka tanpa imbalan." Sahut nya.
"Kau sungguh keterlaluan sekali." Maki Bryant Cassano.
"Kurasa ini hanyalah masalah kami berdua. Kau seharusnya tidak perlu ikut campur dalam urusan kami." Sahut Azriel gusar.
"Apa kau tak memiliki cermin berkaca tuan. Kau yang meninggalkan dia dan membuatnya sakit hati dan fisiknya. Apa menurutmu ia akan memaafkan semuanya ?" Sindiran buat Azriel mengenai hatinya lagi.
"Aku yang akan menjaga dia dan anak mu yang baru-baru ini kamu akui. Apa kau akan mengakuinya secara hukum. Bahwa dia anak haram kamu" Azriel Weizmann membulat sempurna menatap tajam ke arah Bryant.
"Dia bukan anak haram." Teriaknya marah.
"Jika kau nekat membawanya apa yang kau berikan padanya. Berdasarkan statusnya." Pertanyaan Bryant membuat Azriel bungkam.
"Dia secara hukum adalah putra Anwar Hussain dan ibunya Sharmila Tagore. Lalu apa yang dapat kau berikan padanya ?" Tanyanya lagi.
Azriel Lagi-lagi bungkam seribu bahasa menatap Sharmila yang memandangnya sinis.
"Terimalah semuanya sudah terlambat. Dan mereka baik-baik saja tampa kamu disisinya." Bisiknya sambil menepuk pundaknya Azriel.
Bryant Cassano menggandeng tangan Sharmila dan membimbingnya ke mobilnya. Mobilnya melaju cepat meninggalkan tempat itu.
Daniel Azriel Weizmann mengepalkan tangannya buku-bukunya tangannya memutih karena dia menahan emosinya.
Dia tahu dia bersalah namun ia tak terima jika diremehkan orang. Terlebih Sharmila yang dia ketahui hanya orang rantau tanpa memiliki apapun.
Wanita itu menggunakan pesonanya untuk memikat lelakinya agar dia terlindungi dan merasa hidupnya nyaman.
Sama seperti dulu saat mereka bersama. Tinggal di apartemennya dan semuanya dia yang menanggung beban pengeluaran mereka.
__ADS_1
Yah, itulah yang saat ini dia lakukan. Agar anaknya tak jatuh ke tangannya maka dia mencari pendukung agar anaknya tak diambil darinya.
Itulah yang sebenarnya terjadi. Semuanya hanya untuk keegoisannya sendiri. Sharmila aku mengerti kenapa kamu bersikap seperti itu. Batin Daniel Azriel Weizmann.