
Sharmila hanya tergeletak begitu saja tanpa mau memandangi wajah suaminya yang duduk di sampingnya. Dokter wanita itu memeriksa kesehatan dan lukanya.
"Saya sudah memberikan suntikan pencegahan kehamilan. Walaupun sudah telanjur masuk empat jam. Kita lihat hasilnya nanti."
"Mengenai itu hanya robek sedikit dan sudah saya perbaiki. Tuan saya mohon untuk bersabar menunggu waktu lama memang agak sulit. Usahakan demi kesehatan Nyonya."
Bryant Cassano hanya menjawab dengan deheman saja. Dokter wanita itu hanya tersenyum tipis melihat ekspresi wajah sang suami, pembisnis terkenal itu terlihat malu.
Mukanya berubah menjadi merah merona karena penuturan sang dokter. "Tetap makan obat dan vitamin nya nyonya. Semoga sehat selalu." Ucapnya sambil mengelus lengan Sharmila yang hanya menatapnya sendu.
Wanita itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua di kamarnya. Sharmila hanya berbaring dengan membelakanginya.
Namun Bryant Cassano tak patah arang dia langsung memeluk tubuhnya erat-erat dan sangat melekat pada dirinya. Sharmila hendak memberontak namun ia merasakan gundukan di pantatnya.
Maka ia urungkan niat untuk tetep memberontak terhadap dirinya. Bryant Cassano tersenyum lebar mengerti tingkah laku istrinya. Yang takut mendapatkan serangan balik darinya.
"Jika suntikan ini gagal maka kau akan hamil lagi sayang. Dan itu yang ku harapkan. Aku ingin memiliki anak yang banyak di rumah ini." Bisiknya sambil terus bergerak menciumi belakang kepala hingga ke ceruknya.
" Kau tak tahu malu. Tempat itu masih basah dan luka.. bisa-bisanya kamu !" Umpatnya bersamaan dengan suara lenguhan kecil karena ulah Bryant Cassano.
" Aku suka jika kau seperti ini sayang. Jika kau pergi tanpa pesan atau ijinku maka kau ku hukum. Lebih lagi berani meragukan kemampuan dan keputusan yang ku buat." Ucap Bryant Cassano sambil mengusap perut Sharmila.
" Apa kau sudah selesai ? Putriku sudah menunggu terlalu lama, ia kelaparan di sana !" Balas Sharmila dengan nada ketus.
" Bukannya kau menyimpan Asimu di kulkas ? Kau pikir aku tak tahu itu ?" Sahut Bryant sengit dengan ******* bibirnya.
" Benar saja kau sakit ! Beraninya !" Sebuah tinju menyerang ke dadanya Bryant Cassano. Namun serangan itu tak ada artinya Bryant Cassano hanya terkekeh geli dan menggulingkan badannya dan menarik sang istri menghadap nya.
__ADS_1
Bryant Cassano menarik kepala Sharmila ke atas lengannya. "Aku menjadi gila saat tak menemukan mu. Benar seperti orang gila. Kau wanita cantik dimataku."
" Di saat semuanya begitu tergila-gila hartaku. Hanya kau yang ingin hidup biasa saja.. Kalau seandainya waktu itu dapat berputar, aku ingin yang pertama kali bersama mu."
" Aku dan dia berbeda sayang, aku tulus dan ikhlas mencintaimu. Tak ada wanita lain, terjadi semenjak bertemu dengan mu. Aku sudah melupakan kehidupan aku yang dulu."
"Aku belajar ilmu agama agar menjadi imam mu. Dan aku ingin bersama dengan mu hingga akhir hayat. Memimpin keluarga kecil kita."
" Agar anak-anak menjadi penurut Soleh dan Solehah. Aku marah ! Marah, cemburu dan gusar saat kau terluka kau tak berlindung padaku melainkan ke Arnoldus Janssen ?"
" Si tua bangka itu otaknya hanya selakangan aja. Apa dia memaksamu bercinta ? Apa dia menyiksa mu ?"
" Kurasa ia tak akan berani melakukan hal itu ! Aku melihat tubuh mu masih sama mulus dan tak tak ada luka walau itu kecil. Aku senang sekali dan bersyukur karena itu."
" Yang kutahu tentang si tua itu. Dia tak jauh dari selakangan. Banyak sekali yang jatuh di pelukannya termasuk kakak tiriku. Wanita itu di buang ayah karena ibunya tukang selingkuh." Umpat Bryant Cassano emosi jika mengingat kembali masa lalu.
"Namun ibuku di racun oleh mantan istrinya yang tak terima di singkirkan begitu saja. Ibu di racun hingga kandungan nya rusak dan tak dapat hamil, masih ada lagi racun lainnya. Sehingga ibu meninggal dunia."
" Awalnya pernikahan mereka saling membutuhkan dan saling membantu seperti kita, lalu saat mulai timbul perasaan, saat rasa cinta itu hadir malapetaka beruntun terjadi."
" Terkuaknya kesehatan ibu, bukti penyelewengan proyek dan uang perusahaan dan akhirnya kecelakaan ayah. Aku benar-benar letih sayang."
" Jika tak ada dirimu mungkin aku sudah menggila dan menjadi monster yang membalas dendam kepada semua orang. Kau yang mengajarkan tentang hal memaafkan."
" Membalas dendam atau memutuskan masalah dengan kebijaksanaan. Memikirkan hal lain yang berkenaan dengan hal itu. Agak sukar namun sedang kucoba."
" Menjawab semua pertanyaan dengan bijak dan menjalankan tugas serta memberikan keputusan yang bijak. Juga banyak bersedekah."
__ADS_1
" Kau juga mengajarkan tentang cinta yang tulus. Dan hanya memberikan tanpa harap kembali." Bryant menarik nafasnya menjeda kalimatnya.
Bryant Cassano mendengar deru nafas halus di pipinya dan menolehkan kepalanya. Dengan posisi miring menatapnya.
"Aku benar-benar gila. Bicara soal ini panjang lebar namun kau malah tidur. Mau menemani aku dengan tidurmu yang seperti anak kecil ini ?" Sungutnya.
" Sungguh menggemaskan dan aku mana mungkin dapat marah padamu sayang." Bryant Cassano menciumi wajah cantiknya dan terakhir bibirnya sekilas.
" Sungguh kau tega membiarkan aku sendirian sayang tanpa pelepasannya. Kita berpisah sangat lama. Bukan itu kemauan aku tahu !" Runtuknya sambil terus memeluknya erat. Dan menekan nya kuat.
Butuh waktu lama Bryant Cassano untuk memejamkan matanya. Karena pergolakan batin nya masih bersarang di sana. Dia berusaha menghilangkan pikiran dan perasaan rindu yang menggebu.
Lelaki itu hanya bekerja dan bekerja saja demi keluarga dan masa depan anak-anak nya nantinya. Namun apa daya dia harus berpisah lama dari keluarganya.
Selagi masih ada peluang usaha maka ia jalani dengan tujuan hanya untuk keluarga nya, nantinya. Toh ia harus berbagi hartanya yang ditinggalkan oleh almarhum ayahnya dulu.
Ia tak ingin keluarga nya bersitegang seperti ayah dan mantan istrinya. Sehingga saling menyakiti dan merugikan satu sama lainnya. Selagi bisa bersama dan dapat kerjasama kenapa tidak ? Merugi sedikit demi perdamaian.
Keutuhan keluarga dan mempertahankan serta memperbaiki posisi yang salah untuk kepentingan bersama.
Sinar matahari menyeruak di antara tirai jendela kamarnya. Bryant Cassano masih memeluk sang istri, seusai ibadah subuh ia menyusul tidur di samping Sharmila.
Wanita itu masih nifas jadi tidak bangun pagi. Perlahan mata Sharmila terbuka melihat kepala yang menempel di dadanya. Antara kesal dan senang ia hanya terdiam.
Bryant Cassano bergerak perlahan membetulkan posisi wajahnya yang menempel disana. " Kalau sudah bangun kenapa tidak mandi saja ? Apa kau libur" Omel Sharmila.
Bryant Cassano mengangkat kepalanya dengan muka bantalnya tersenyum lebar. " Pagi sayang." Cup. Cup. Ciuman singkat berulangkali mendarat di bibir Sharmila.
__ADS_1