
Michelle Cassano kau sekarang hanya sebagai penghibur hanya ini kemampuan yang kamu miliki. Nikmati dan bertahanlah.
Batinnya bermonolog, tanpa disadarinya ia meneteskan air matanya. Buru-buru dia menghapusnya.
Michelle Cassano memasuki lobby hotel mewah dan megah di room suite hotel termahal. Dia melangkah masuk begitu pintu masuk terbuka.
Seorang pria seusia ayahnya menyergapnya langsung mencumbui bibirnya. Dia hanya membalasnya karena itu adalah pilihan nya.
Dia harus total melakukan hal itu. Ia terbelalak melihat isinya saat dia melepaskan pakaiannya.
Lelaki itu memang berumur namun tubuhnya terawat baik. Otot-otot perut nya rata juga dada belum lagi di sana sudah menantang menunggu sentuhannya.
Lelaki itu begitu lincah menyentuh bagian-bagian sensitif tubuhnya. Begitu cepat dia menemukan itu menunjukkan bahwa dia piawai dalam permainannya.
Dan terbukti dia mendominasi semuanya dan Michelle Cassano hanya mengikuti saja instruksi lelaki itu.
Hingga akhirnya mereka melepaskan bersamaan jatuh terkulai di ranjangnya. Michelle menarik selembar kain untuk menutupi dirinya.
Sedangkan lelaki itu berdiri dan melenggang ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari jejak-jejaknya percintaan mereka.
Lelaki itu memberikan selembar kertas padanya. "Kemampuan stamina tubuh mu boleh juga. Boleh aku bertemu tanpa melalui dia ?" Tanya dia.
"Itu tidak mungkin. Karena aku numpang di rumah itu. Apartemen atau rumah aku tak punya. Jika kau memberikan atas namaku aku bersedia menerima kapan pun." Jawabnya.
"Kirimkan nomor telepon dan rekeningnya." Lelaki itu mengambil smart phonenya di nakas. Mereka berbagi Slavina saling berbagi kenikmatannya lagi.
"Sampai nanti aku kabari lagi." ucapnya sambil melepaskan penyatuannya lagi. Dia melakukan nya secara singkat.
Lelaki itu meninggalkan dirinya sendiri di ranjangnya. Michelle Cassano tersenyum kecut karena hari ini dia sudah menjalani kehidupan liar yang sebenarnya. Kalau dulu ia hanya bersenang-senang, jika sekarang karena uang.
Di lain tempat. Di sebuah mall terbesar. Sharmila berbelanja di bagian minimarket hendak menyentuh buah-buahan segar tangannya sudah di genggam seseorang.
"Kau ! Lepaskan aku Daniel Azriel Weizmann !" Hardiknya memelototi lelaki itu.
__ADS_1
"Kita harus bicara. Ini mengenai dia." Ujarnya seraya menariknya keluar dari minimarket. Mereka berjalan beriringan menuju ke food court.
" Makanlah. Bukannya ini kesukaan kamu." Azriel meletakkan hot coklat dan red Velvet cake. Dia sendiri juicy orange dan potato chips.
"Aku ingin mengenalnya dan berbagi kisah. Juga aku ingin meluangkan waktu bersama saja walau itu hanya sehari." Aku nya setelah sesaat mereka terdiam.
"Beri aku kesempatan untuk bertemu dengannya." Pintanya menatap Sharmila.
"Kami bukan rencana dalam masa depan mu. Untuk apa kau repot mengurus semuanya." Sharmila menatapnya tajam.
"Tolong berikan aku kesempatan walaupun sekali." Pintanya memelas.
"Aku tak bisa. Dan dia tak mengerti juga tak mengenali kamu. Ayah tirinya sudah cukup untuk dia." Katanya sambil berdiri dan melangkah keluar dari sana.
Azriel Weizmann tak menyerah dia mengikuti Sharmila melangkah. Wanita itu kesal di buatnya.
"Aku takkan pernah berubah pikiran hanya karena kau seperti ini. Cam kan itu tuan Daniel Azriel Weizmann." Umpatnya bersamaan itu dia meninggalkan dirinya sendiri.
Sharmila sudah masa bodoh dengan semuanya ia berlalu dan menuju ke sopirnya. Dia di bantu membawakan barang belanjaan tanpa menghiraukan lelaki itu.
Sesampainya di rumah Sharmila langsung membersihkan dirinya dari keringat dan debu. Rasanya dia ingin pindah saja ke belahan dunia lainnya. Dia gusar karena tingkah laku Azriel.
"Azriel kita harus bicara." Adinda Zahrani mengikuti Azriel yang ke kamarnya.
"Ada apa ?" Tanyanya dengan nada dingin.
" Ada rumor yang mengatakan kau memiliki anak diluar nikah. Ada di media sosial bahkan mereka memuat foto nya." Jawabnya tanpa jeda.
"Yang jelas bukan aku yang membongkar nya. Dan itu pasti nya kamu !" Azriel menjawabnya dengan menatap tajam kearah Adinda Zahrani.
"Kau ! Beraninya menuduh aku seperti itu ! Sekian lama kita bersama kau.." Belum selesai dia berkata sudah dipotong kalimatnya.
"Aku paham tingkah laku mu Adinda Zahrani. Kau kesal karena teman kencan mu berkurang. Dan kau cemburu karena wanita aku dulu masih terlihat muda dan seksi. Walaupun dia sudah pernah berbadan dua." Cibirnya sambil menyeringai lebar.
__ADS_1
"Itu adalah sidang tertutup bagaimana ada kebocoran seperti ini. Pastinya itu ulah orang dalam. Dan yang jelas ia berbuat seperti itu karena sudah dirugikan dan frustasi." Lanjutnya lagi.
"Kau sudah kehilangan banyak hal. Materi, teman, keluarga ? Berhentilah berusaha untuk menyingkirkan dia. Ia tak bersalah ! Akulah yang brengsek ingin dia dan kamu." Ujar Azriel terus terang.
"Aku sarankan sebaiknya kau diam. Dan menerima kenyataan jika kau tak ingin hamil. Lalu kenapa ? Asal kita saling mengenal dan mencintai semuanya akan berjalan lancar." Jelas Azriel Weizmann.
"Aku tahu aku lelaki brengsek. Namun aku juga tak ingin memiliki pasangan yang sama brengsek nya.". Ucapnya sambil menghantam tangannya di kaca walk in closed. Praaang.
Nyaring terdengar dari kamarnya. Azriel benar-benar kesal dan frustasi. Kesal karena istrinya selalu curiga dan cemburu terhadap dirinya.
Bukannya sudah disepakati bersama bahwa ia tak akan ikut campur masalah dia mencari kesenangan diluar sana.
Frustasi karena Sharmila menolaknya berulangkali, ia hanya ingin berbagi dan bertemu dengan buah hatinya.
Apa yang salah tentang itu ? Ia juga sudah meminta maaf karena kesalahannya. Terkadang ia tak mengerti alur pikiran wanita.
Sementara itu di tempat lain. Bryant Cassano berjalan menuju ke basemen kantor. Di halangi Darren Cassano.
" Kau mau ikut party ? Temanku sedang merayakan keberhasilan bisnisnya." Ajaknya.
"Aku tak suka pergi ke tempat yang tidak kukenal dan tak jelas. Kenapa tak ke Club langganan aku ?" Bryant gantian menawarkan. Darren Cassano menatap wajah Bryant yang menyeringai penuh semangat.
"Baiklah kita pergi ke tempat yang kau katakan." Serunya. Mereka berjalan beriringan masuk ke mobilnya Bryant.
Mobilnya melaju ke jalanan menyusuri jalanan kota. Tak lama sampai di sebuah Club malam termegah di kota. Mereka langsung diarahkan ke tempat VVIP.
Di sana Bryant Cassano bertemu sahabat nya Devan Wright dan Smith Lloyd yang sudah ditemani wanita cantik. Mereka bertos ria khas lelaki.
Dan saling mengisi minuman dan menenggak air itu hingga tandas. Para wanita berparas cantik dan seksi mengelilingi mereka bersenda gurau ceria.
Darren Cassano bukan cowok alim dia juga menyukai wanita dan minuman. Nyatanya begitu sampai dia langsung memangku salah satu wanita itu.
Dengan tangan nya menjelajahi seluruh tubuhnya. Wanita itu memekik keenakan dan menghujaninya ciuman. Bryant Cassano hanya meliriknya sekilas dan terkekeh kecil.
__ADS_1
Ini baru awal surga duniawi yang kukenal kan padamu. Lainnya akan menyusul dan pastinya kamu nagih. Batinnya bermonolog sendiri di sela-sela kegiatannya meminum wine nya.