
Lelaki itu merasa bersalah karena kejadian-kejadian yang menimpa mereka. Dan parahnya ia tak pernah ada saat-saat dibutuhkan.
Lelaki itu hanya ingin di maafkan dan diberikan kesempatan. Pikirnya sang istri telah hilang rasa kepedulian dan kepercayaan diri padanya.
"Maafkan aku sudah banyak menyakiti hati dan fisik mu sayang." Gumamnya lirih saat memeluk tubuh istrinya di kamar mereka.
"Aku baik-baik saja kan ? Lihatlah aku hanya luka pemukulan dan aku baik-baik saja." Jawabnya sambil tersenyum.
Sharmila menarik nafasnya dan membalikkan badannya lalu mencium bibirnya Bryant. Sekilas Bryant menyambut nya. Dua. Tiga. Ciuman itu dihentikan Bryant kedua tangannya menahannya, memegang lembut rahangnya Sharmila.
"Sayang. Sebaiknya kau istirahat ! Tubuh mu harus istirahat, dan aku akan menjagamu." Di kecup keningnya lalu di angkat tubuhnya ala bridal style dan direbahkan di ranjangnya. Menyelimuti tubuh mungil itu dan Bryant memeluk tubuh istrinya.
" Aku temani kamu tidur, aku nanti harus mengecek ulang pekerjaan. Akan ku temani sampai kau tidur. Aku janji !" Katanya lagi. Cup. Cup. Lelaki itu hanya tersenyum dan tiduran di sampingnya, Sharmila membalikkan badannya dan seketika air matanya menetes di pipinya.
Entah kenapa ia merasa ditolak oleh suami nya. Dan merasakan tak disayang lagi, apalagi ia ingat baju dan hijabnya telah dikoyak-koyak oleh bandit-bandit itu. "Apa aku sudah kotor ?" Pikirnya meruntuki nasibnya.
( Orang hamil kadang sensitif tak jelas emang iya, kadang drama. Author juga ngalamin. 😊)
Seusai memastikan istrinya tidur Bryant meninggalkan dirinya, lelaki itu ke ruang kerjanya. Dia mengerjakan pekerjaan kantornya yang ada tertunda karena tak dapat konsentrasi penuh.
Akibat insiden tersebut pikirannya terpecah dan selalu was-was akan berita terburuk sekalipun. Ia membuka-buka berkasnya dan sesekali ia mengetik di laptop. Hari menjelang malam ia dapat berkonsentrasi penuh dengan semangat ia kerjakan semuanya.
Apalagi ia akan memiliki anak lagi, rasanya sungguh luar biasa tak dapat Bryant jabarkan. Kriet. Derit pintu terbuka dan menampilkan sosok Sharmila dengan gaun tidur tipis dan minimnya masuk. Ia bahkan tak mengenakan kimono tidur nya.
wajah bantal tercetak jelas. "Kenapa disini ? Aku takut sendirian." Rajuknya dan mulai mendekati Bryant. Tak lama wanita itu sudah duduk di pangkuannya berhadapan tanpa jarak.
__ADS_1
"Aku kangen kamu. Aku tak dapat tidur jika tak mencium bau mu. " Sharmila berkata sambil mengendus aroma tubuhnya Bryant.
Gairah seksual lelaki itu bangkit, ia mengeram lirih. Karena ulah manja istrinya. " Sayang." Gumamnya sambil mengangkat tubuhnya. Sharmila digendong ala koala hingga ke kamarnya.
Bahkan wanita itu berani inisiatif mencium bibir Bryant berulangkali. " Kau masih sakit sayang. Lihatlah bibirnya masih sobek. Dan ini sangat perih sayang. Memar-memar ini belum hilang juga."
"Aku tak ingin menyakitinya. Akan berbahaya sayang." Balas Bryant Cassano sudah terpancing hasratnya. Mengimbangi ciuman lembut istrinya. Dalam sekejap lelaki itu sudah menyingkap baju tipis nya. Tangannya sudah bergerilya ke seluruh tubuh nya.
Lelaki itu menyeringai lebar saat menyadari sang istri tak mengenakan ****** *****. Dan sudah siap, ia langsung melakukan penyatuan. Namun lelaki tak bergerak dan hanya memeluk pinggangnya erat-erat.
"Bryant.. Cepat apa yang kau tunggu !" Sungut Sharmila kesal. Baru sekali ini istrinya mengumpati nya kasar. Lelaki itu hanya melongo cengo.
Namun Bryant tak menuruti perintah itu. Ia tetap menyalurkan nya secara perlahan-lahan hingga akhirnya pelepasan keduanya.
"Sayang kau mau kemana ? Ini sudah malam !" Teriaknya lantang sambil berlari mengenakan pakaiannya. Mengejar wanitanya yang terlihat marah.
Klik. Pintu di kunci saat wanita itu masuk ke kamarnya si kecil Alice, batita yang baru berusia lima bulan itu. Anak kedua di status pernikahan mereka, namun dia anak pertamanya bersama Sharmila.
Huff. " Dia marah. Dia marah hanya karena aku bergerak pelan ? Dan ia mengumpat terus ! Apa karena hormon bumil ?" Pikirnya meruntuki nasibnya lalu ia kembali ke ruang kerjanya.
Esoknya. Wanita itu acuh dengan wajah datarnya sama seperti kemarin pagi, seolah-olah tak ada hal yang terjadi. Mereka hanya bicara alakadarnya. Wanita itu menyediakan berbagai perlengkapannya dan makannya.
"Aku pergi dulu. " Lelaki itu hanya mencium bibir istrinya sekilas dan berlalu pergi ke kantor. Sorenya Sharmila kembali bersikap manis, manja dan menggodanya. Bryant Cassano hanya menatap wajah cantiknya Sharmila tak berkedip.
"Ini masih sore sayang." Saat lelaki tiba di kamar mereka dan sudah disambut dengan hangatnya, ciuman lembut sang istri. " Aku merindukanmu sayang." Ucapnya manja sambil membuka baju Bryant Cassano.
__ADS_1
"Aku ingin bersama." Disela-sela kesibukan membuka kancing bajunya Sharmila menciumi leher hingga ke dadanya Bryant. Lelaki itu sudah berusaha meredam getaran itu.
"Sayang.. Please.." Sharmila mengiba saat tangan nya dihentikan saat membuka Gasper ikat pinggang import milik Bryant Cassano.
Matanya sudah berkabut dan ingin melepaskan dahaganya namun ia ingat jika istrinya hamil muda. Lalu ia merengkuh tubuh istrinya dan menciumi bibir dan seluruh tubuhnya. Dengan hasratnya. Kali ini Bryant tak menahannya lagi dan bertindak seperti biasanya.
Sharmila mendesah dan menggeliat dan mencengkeram erat seprainya dan bahkan menggigit pundaknya Bryant. Lelaki itu bahkan tak berhenti setelah selesai pelepasannya.
Masih bergerak dan menciumi bibir, lehernya dadanya. Meninggalkan kiss mark di tubuh mungil itu. Dan wanita cantik itu sudah menjadi candunya, selain pandai merawat kebersihan di seluruh tubuhnya, sekarang sudah berani merayu nya lagi.
Hingga tiga kali pelepasannya ia menyudahinya dan terkulai di sampingnya. Sharmila terlihat letih namun raut mukanya nampak jelas rasa puas.
"Apa kau ingin seperti ini terus sayang ?" Bisiknya sambil tersenyum dan membelai rambut nya yang lembab. Sharmila mengangguk sambil mengelus dada Bryant Cassano.
"Baiklah. Akan ku kabulkan permohonan mu." Bisiknya sambil mengangkat tubuhnya dan mengajaknya mandi wajib bersamaan.
Mereka menghabiskan waktu bersama diranjangnya setiap malamnya. Dan melewatkan makan bersama di meja makan.
Namun Bryant memberikan pengertian kepada Arsy tentang ibunya yang sudah berbadan dua. Dia tak ingin putra sambung nya merasa di kucilkan dan terabaikan. Dia tak ingin ada kesalahpahaman dalam berkomunikasi.
Setiap kali dia tiba di kamarnya. Mereka langsung bercinta dengan penuh semangat dan berakhir mandi bersama dan baru makan malam di kamarnya.
Hampir setiap hari mereka melakukan percintaan itu, dan Sharmila tak bosan juga tak ada kendala pada baby dalam perut nya. Karena Bryant selalu mengeceknya seusai mereka melakukannya.
Laki-laki itu takut jika terjadi sesuatu, misal pendarahan atau semacamnya.
__ADS_1