
Sepulang dari rumah orangtuanya Azriel mengurung diri di ruang kerjanya. Lelaki itu hanya minum minuman keras. Lelaki itu meruntuki kebodohannya sendiri.
"Maaf Sharmila. Aku yang tidak dapat membedakan antara nafsu dan cinta. Seharusnya aku tak menyakitimu." Ratapnya. dia patah hati dan cemburu.
Cemburu karena semestinya ia yang bercanda ria dengan sang anak dan Sharmila. Tapi kakaknya yang memiliki dirinya. Ia hanya dapat memandang dari jauh.
Di lain tempat. Arsy asyik bermain di taman restoran di atap gedung pinggir kota. Sedangkan Bryant Cassano hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.
Lelaki itu hanya duduk terdiam menikmati suasana malam itu. Sesekali ia menciumi bibirnya Sharmila sekilas.
Wanita itu hanya menunduk dan bersembunyi di ceruknya Bryant Cassano. Dan itu membuat dia merasa ingin lebih menggoda nya terus. Sharmila mencubitnya sesekali di perut sixpack Bryant Cassano.
Lelaki itu tidak berhenti mendapatkan hadiah kecil itu. "Daddy kita pulang sekarang. Arsy capek !" Bocah itu mendekati mereka. Dengan sigab Bryant menggendong anaknya. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran mobil.
Di tidurkan Arsy dijok belakang dan Sharmila di depan bersama Bryant. Lelaki itu mengemudikan mobilnya dan sesekali mengelus paha sang istri. Sharmila berusaha menggenggam tangan Bryant agar lelaki itu berhenti menjahilinya.
"Apa yang kau lakukan ?" Saat Bryant meminggirkan mobilnya. "Aku ralat sayang. Aku tak tahan jika tak menyentuh mu." Ucapnya.
Lelaki langsung menindihnya dan tangannya bergerilya melepaskan bagian bawah tubuh sang istri. Dia langsung melakukan penyatuan dan melakukan perlahan agar sang anak tak terjaga.
Mulut Sharmila ditahannya dengan ciuman mereka. Awalnya Sharmila memberontak namun ia pun larut. Mereka melakukan percintaan singkat di pinggir jalan raya yang sepi itu.
Bryant mengangkat tubuhnya dan membenarkan celananya seraya melirik sang istri yang terkulai lemas di sampingnya.
"Benar-benar kau ini keterlaluan !" Umpatnya sambil menurunkan gamisnya. "Dengan istri boleh kan melakukan hal itu dimana saja." Kilahnya membela diri.
Mobilnya kembali berjalan membelah jalanan. Sharmila masih bergetar sesudah aksi panas mereka. Wanita itu merasa was-was jika kepergok orang lewat atau mungkin sang anak terbangun. Begitu sampai di rumah Bryant ditinggalkan oleh Sharmila ia langsung mandi untuk membersihkan diri.
Bryant Cassano hanya tersenyum melihat tingkah lakunya. Sewaktu di ranjangnya Bryant mengajaknya lagi.
" Kita harus melakukan lebih intens sayang. Supaya lekas mendapatkan hasil maksimal." Begitu alasannya.
__ADS_1
Di kediamannya. Oscar Weitzman duduk melamun. Mengingat kejadian itu. Saat ia bersama istri pertamanya.
" Maafkan aku. Kita harus berpisah demi keluarga. Aku tahu aku salah. Tapi mengertilah bahwa ini kulakukan semua untukmu sayang." Oscar Weitzman berusaha membujuk Anindya Fauzi.
"Kau juga tak mau dipoligami. Jadi kita bercerai. Mengenai anak-anak kita bagi berdua. Kau pilih mana yang kau sayang." Lanjut Oscar.
Plaak. Tamparan keras mendarat di pipinya Oscar. "Kau gila ! Seorang ibu tak akan membagi cinta berat sebelah.". Hardik Anindya memelototi penuh amarah.
"Sampai mati aku tak mau membaginya padamu ! Aku sanggup membiayai mereka sendiri." Sembur Anindya emosi.
"Aku tak akan membiarkan dia bersama mu. Biarkan ku bantu kau ambil keputusan ini.' Oscar mengambil satu bayinya dan menggendong anaknya keluar dari rumah itu.
"Kembalikan putraku !" Teriaknya lantang. Dia tak perduli makian dan sumpah serapah tetangga kost itu padanya.
Oscar naik taksi membawanya pergi. Anindya tak bisa menyusul karena kalah cepat. Dia juga kebingungan karena si pemilik tempat itu menyusul dia dengan menggendong bayinya yang lain.
Itu semua dapat di lihat Oscar di dalam taksi. Dia melihat keduanya menangis bersama. Dia bahkan tak kembali untuk melakukan kewajibannya sebagai ayah, memberikan nafkah untuk anak yang ditinggalkannya.
"Dia balas dendam dengan cara itu !" Kata-kata Azriel membuat dadanya nyeri. Lelaki paruh baya itu hanya menangis diam-diam di ruang kerjanya.
Miszka Rahardjo hanya berdiam di depan pintu masuk ruang kerjanya Oscar. Wanita itu juga terluka secara diam-diam karena ia sudah memisahkan keluarga yang utuh.
Sebagai wanita ia mengerti rasanya disakiti. Dia kejam meminta ayahnya untuk memaksakan kehendaknya karena ia sudah cacat.
Rahimnya sudah robek pasca menggugurkan janin hasil perbuatannya di masa muda. Dan Oscar Weitzman mengetahui tentang itu. Ia meminta dinikahi untuk menjadi istrinya yang kedua.
Namun istrinya tak mau dipoligami, Dan sekarang dia sudah pergi jauh tanpa dia tahu dia ada dimana. Setelah mendengar perkataan Azriel mantan istrinya sudah menikah dengan orang kaya dan bahagia
Hatinya tersentuh ada rasa nyeri di dadanya karena mengingkari janjinya. Dia tak pernah mencari tahu keberadaan mereka.
"Kau sudah selesai ?" Bryant menghampiri sang istri yang sedang berdandan membenarkan hijabnya.
__ADS_1
"Sebelumnya kita mampir ke suatu tempat. Aku harus memberikan perhitungan. Kau cukup diam dan mendampingi aku". Pintanya sambil menciumi puncak kepalanya.
"Tentu. Apapun sayang." Jawabnya sambil tersenyum dan mengelus rahangnya mengeras.
"I love you." Bisiknya sambil memeluk pinggangnya dan mencium ceruknya.
Mereka berjalan beriringan. Dan pelayan sudah memasukkan koper besar mereka ke bagasi.
Mobilnya melaju ke jalanan menyusuri jalanan Sharmila menatap Bryant saat mobilnya memasuki kawasan pemukiman mewah.
"Benar. Kita akan menuju ke rumahnya. Aku hanya menjalankan amanah ibuku." Bisik Bryant dengan mengecup bibir mungil Sharmila.
Arsy di pangkuannya asyik dengan game. "Kau marah ?" Tanyanya lagi. Sharmila menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Mobilnya memasuki sebuah rumah mewah dan berhenti di depan rumah. Mereka berjalan beriringan menuju rumah. Miszka Rahardjo melihat ada tamu dari balkon kamar berteriak pada sang suami.
"Sayang ada tamu di depan." Wanita itu berjalan ke arah ruang tamu dengan bergegas. " Sediakan teh untuk tamu". Perintah dia pada pelayannya.
"Selamat datang di rumah kami. Aku Miszka Rahardjo istrinya. Silahkan duduk." Katanya dengan tersenyum kecil sambil menatap wajah tamunya.
Bryant masih berdiri kaku. Tangan Sharmila mengelusi lengan besarnya. Bryant menurut saja di ajak duduk. Muncul Oscar Weitzman.
Mereka duduk bersama. Hening. "Aku datang mengantar ini. Ini adalah amanah ibuku. Dia ingin aku memberikan ini." Bryant Cassano meletakkan amplop coklat tanggung di atas nakas.
Oscar membuka amplop. Ada foto pernikahan mereka dulu dan foto satunya foto mantan istrinya dengan pria berwarga negara asing. Dan cincin kawin yang ia berikan dulu.
"Aku putra pertama mu. Dan dia wanita yang di sakiti anak kesayangan Anda. Sekarang kita sudah impas." Bryant Cassano berdiri dan mengajak pergi dari sana.
Di depan pintu ia berhenti. " Jika kau ingin bertemu dengan mereka maka tunggu tiket dari malaikat maut. Karena mereka sudah meninggal dunia." Ucapnya sambil menatap kedua nya. Kemudian mereka kembali naik ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Oscar Weitzman terduduk lemas air matanya luruh. Aku belum meminta maaf tapi kau sudah pergi jauh, batinnya bermonolog.
__ADS_1