
"Aku akan kembali. Tunggu saja disini." Titahnya pada Thalia. Wanita itu hanya mengangguk mengerti. Namun ia masih merasa kegerahan dan munculah seorang lelaki dan duduk disebelahnya. Terdiam. Mereka saling menatap satu sama lainnya.
"Mhmm.." Thalia menggeliat menahan hasratnya. Lelaki itu menyentuh pahanya perlahan dan direspon oleh Thalia yang langsung melingkarkan tangannya di leher lelaki itu. Cup. Akhirnya mereka berciuman lama.
Lelaki itu sudah meraba sekujur tubuhnya. Dan Thalia bersemangat untuk melepaskan pakaiannya dan milik patnernya. Wanita itu bahkan sudah duduk dipangkuan nya. Dan menekankan pada intinya.
Lelaki itu mengangkatnya dan berpindah ke ranjangnya tanpa melepaskan tautan bibirnya. Dan pergumulannya terjadi. Thalia meracau berulangkali saat di setubuhi. Wanita itu menikmatinya dan mereka melakukannya bersama dan saling bercumbu bergantian.
Di lain tempat. Sharmila tertegun melihat taman bunga yang indah dimatanya. Tempat ini sama mewah nya dengan milik Bryant Cassano namun tempat ini bernuansa klasik seperti taman kerajaan yang di lihatnya di film, berbeda milik Bryant yang bernuansa modern tropis.
Sharmila diikuti oleh dua pelayan yang menunggunya. Berjalan-jalan dan menikmati keindahan taman. Wanita muda itu menyentuh bunga-bungaan disana dan menghirup aromanya tanpa memetiknya.
Ada mawar, bunga lonceng, anggrek dan banyak jenis bunga lainnya. Senyuman manis menghiasi wajahnya dan menatap pemandangan indah di depannya. Ia sudah melupakan semua keinginan dia untuk pergi dari sana.
Dari balkon kamar nampak jelas seorang lelaki itu memperhatikan tingkah lakunya Sharmila, hanya tersenyum tipis kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Lelaki itu sengaja tak menemuinya karena dia ingin Sharmila nyaman di rumah itu.
Pada saat berjalan beriringan menuju ke dalam rumah. Arnoldus Janssen berpapasan dengan Sharmila yang masuk ke dalamnya. Mereka bertemu di ruang tengah rumah itu.
"Apakah Anda pemilik rumah ini ? Terimakasih sudah menolongku dan mengijinkan aku untuk tinggal. Namun aku seharusnya sudah ijin untuk meninggalkan tempat ini. Jika Anda tidak keberatan.."
"Aku keberatan ! Aku menginginkan mu untuk tetap di sini bersamaku." Sela Arnoldus Janssen, Sharmila terperangah mendengar perkataan itu.
"Tapi kita tidak mengenal dan aku bukan kerabat dekat Anda juga.."
"Aku tahu. Kau istri Bryant Cassano. Aku tahu kaliyan memiliki anak. Tapi aku sudah jatuh cinta padamu. Jadi kau harus bertanggung jawab atas semua itu." Sahut nya. Arnoldus Janssen berjalan mendekati dia, Sharmila mundur beberapa langkah lagi. Dia merasa tidak nyaman untuk berinteraksi secara langsung dengan lelaki itu.
__ADS_1
"Jangan pernah berpikir untuk pergi dari sini. Kau milikku !" Bisiknya sambil tersenyum tipis. Lelaki itu berlalu menuju ke meja makan.
"Kau tak ikut bergabung dengan ku ?" Arnoldus Janssen bertanya dan menatap tajam kearah dirinya. " Kau sudah melupakannya dan ingin menyingkirkan segala sesuatu tentang Bryant Cassano ?" Tanyanya lagi.
Sharmila mengerti tentang hal tersebut. Bergegas menuju ke tempat duduk di seberang tempat lelaki itu duduk. Pelayan segera menyajikan hidangan makan siang mereka.
Dan menu utama ayam, yang diolah secara berbeda-beda. Ada yang dipanggang, di grill, goreng tepung saus keju, ayam teriyaki. Walaupun porsi setiap menu sedikit namun masakan itu beranekaragam.
Dan itu membuat Sharmila menelan ludah karena tergoda untuk mencoba mencicipi makanan tersebut. "Apakah Anda ingin aku gendut ? Pelayan di rumah ini tahu kalau saya suka makan." Keluh kesahnya menatap tajam ke Arnoldus Janssen.
Lelaki itu hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah Sharmila. "Makanlah makanan yang kau sukai. Jika kau gendut dan dia tak menyukai mu maka dengan senang hati akan ku terima." Katanya sambil tertawa kecil.
Sharmila mencebikkan mulutnya." Tidak lucu ! Aku bukan barang yang dilempar ke sana sini." Kesal rasanya Ia pun memakan makanannya sendiri tanpa melihat ekspresi sang tuan rumah.
Rasanya aku ingin menyentuh nya, sungguh menggemaskan, Batin Arnoldus Janssen menatap wajah cantiknya Sharmila. Wanita itu tidak memperhatikan lawan bicara nya.
"Kau siapa ?" Tanyanya kebingungan. Dia berpikir telah bercinta dengan Bryant semalaman dan ia sengaja tak menggunakan pengaman agar dapat memiliki anak darinya.
"Aku lelaki yang kau sewa semalam. Dan aku sungguh menikmatinya. Kau sangat bersemangat dan membuat ku nagih. Walaupun di sana tak seketat namun aku suka." Katanya sambil tersenyum dan berdiri.
Berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lelaki itu kembali dengan handuk sepinggang dadanya terekspose ia sengaja mengenakan pakaiannya perlahan. Thalia mencengkeram erat selimut itu dengan penuh emosi.
"Hubungi aku lagi jika kau mau, aku juga bersedia jika jadi ONS. Free." Ucapnya sambil mengerlingkan matanya menggodanya. Thalia tak mengeluarkan banyak kata. Karena kesal dan emosinya memburu.
Dia pun berdiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan jejaknya disana. Kemudian dia bergegas menuju ke tempat Bryant Cassano. Untuk mengetahui apakah dia yang merencanakan tentang jebakan itu.
__ADS_1
"Nona Anda tak boleh masuk !" Sekretaris Bryant Cassano mencoba menahan, namun wanita itu sudah dipenuhi emosinya.
"Bryan Cassano aku.."
" Kau menikmatinya kan ? " Sakarse Bryant.
"..........."
"Kau sudah salah memilih musuh. Kau sudah mengusikku dengan mengunjungi Istriku. Dan tunggu saja balasan selanjutnya." Tegas Bryant Cassano yang menatapnya.
Thalia berubah pias manakala mendengar perkataan nya. Wanita itu langsung menyadari jika lelaki itu mengerti tentang kenekatan nya, yakni meracuni pikiran wanita itu.
"Bryant kumohon. Maafkan aku. Aku.."
"Pergilah ! Aku tak ingin melihatmu ! Dan tunggu saja hadiah kejutan untuk mu lagi." Ujarnya sambil tersenyum miring ke arah Thalia.
Bergegas Thalia meninggalkan tempat itu, sudah tidak ada harapan untuk dia merajut cinta padanya. Lelaki itu sudah memutuskan hubungan antara mereka sejak lama.
"Seharusnya aku tak mengusiknya," Batinnya penuh penyesalan. Wanita itu hanya terdiam dalam perjalanannya menuju ke apartemennya.
"Siapkan rencana selanjut nya. Buat dia menyesalinya seumur hidupnya. Sampai Istriku ditemukan jangan pernah berhenti. Dia sudah berani bersikap lancang." Tegasnya.
Lelaki itu melanjutkan pekerjaannya dan memilah berkasnya. Tatapan dan ekspresi wajahnya dingin tak ada senyuman. Bawahannya yang di sekitarnya merasa hawanya yang tak bersahabat semenjak kejadian itu, Nyonya mereka menghilang dari hotel. Tuannya kembali ke temperamen awalnya. Bahkan lebih parah lagi.
Bryant Cassano tidak menerima sedikit saja kesalahan dalam pekerjaan anak buahnya. Juga memberikan teguran keras bahkan cenderung lebih arogan.
__ADS_1
Pria itu juga tak ramah dan royal, bahkan dia tak segan-segan memecat atau memutuskan kontrak kerjasama jika tak berjalan sesuai keinginan atau kesepakatan bersama. Dia menenggelamkan diri pada pekerjaannya.