Wanita Yang Ditinggalkan

Wanita Yang Ditinggalkan
36. Dia Putraku


__ADS_3

" Ck. Kau bahkan lupa janjimu dengan Arsy ? Kau bilang akan menjemputnya di sekolah." Lagi-lagi wanita itu mengomeli sang suami. Lelaki itu sudah tertidur terbang ke alam mimpinya.


Sharmila mengangkat kepala Bryant perlahan takut mengganggu istirahat nya. Seusai itu ia mengambil peralatan menyulamnya. Duduk di sampingnya dengan sulamannya.


Sambil sesekali ia melirik ke arah jam. Wanita itu mengisi waktu senggang nya dengan merajut, menyulam. Kegiatan yang ia lakukan hanya untuk mengisi waktu luangnya. Bryant Cassano tak mengijinkan ia bekerja.


Dia hanya diperintahkan untuk duduk diam saja dirumah. Menjaga anak-anak dan mengatur jadwal mereka, serta isi mansion mewah tersebut.


Wanita itu yang semula hanya menurut saja, pada waktu itu, melakukan perjalanan bisnis bersama. Wanita itu langsung percaya begitu saja mendengar perkataan orang lain. Tanpa konfirmasi terlebih dahulu, lebih memilih pergi tanpa memikirkan akibatnya.


Itulah yang dipikirkannya saat ini. Membantah perintah sang suaminya. Mengabaikan nya adalah peristiwa besar. Wanita itu meruntuki kebodohannya saat itu. Dan sikap dia yang tertutup adalah salah satu dari strategi mereka untuk memisahkan mereka.


Sharmila terhenyak saat perut nya diraba Bryant Cassano. "Sudah berapa lama aku tidur ? Kenapa kau tak membangunkan aku ?" Katanya sambil tersenyum muka bantal tercetak jelas di matanya. Lelaki itu pun duduk bersandar di bahunya.


"Cepatlah cuci air liur mu ! Putraku sudah menunggu ! Kau janji akan mengajak nya jalan-jalan." Sahut nya ketus. Mata Bryant Cassano yang semula terpejam menjadi melotot melihat Sharmila.


"Mengapa tak kau bangunkan aku ?" Teriak Bryant Cassano. Sharmila menutup kedua telinganya dan menatap tajam ke arah suaminya. " Kau yang tidur seperti kerbau ! Kenapa aku yang kau marahi ?" Sungutnya sambil turun dari ranjangnya dan pergi keluar bersamaan dengan Bryant yang berlarian ke kamar mandi.


"Sharmila !" Lelaki itu berteriak kesal saat mengaca ia tak menemukan apapun di wajahnya. Sedangkan Sharmila hanya tersenyum sambil menggendong bayi nya di lantai bawah.


Mereka berpapasan dengan melempar pandangan mata sengit. Bryant Cassano memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke sekolah anaknya. Di sana sudah ramai yang menjemput anak-anaknya.

__ADS_1


Bryant Cassano memakirkan mobil agak jauh dari gerbang penjemputan. Ia memilih berjalan menuju gerbang sekolah. Ia melihat Arsy yang di kerumuni 4-5 anak ? Bryant menyipitkan matanya. Rupanya putranya di rundung karena ia melihat dia di dorong walaupun hanya pelan.


"Kau cuma anak pembantu yang di adopsi majikannya. Apa kau punya ayah ?" Ejek si berambut cokelat.


"Kurasa tidak. Dia anak diluar nikah. Dan tak jelas Daddy nya." Sahut sang berjaket almater.


Mereka tak tahu Bryant Cassano merekam video mereka. Dan pemukulan terhadap Arsy juga terekam kamera. Ia melihat ke arah sekitar mereka yang acuh, juga ada CCTV.


"Ini sekolah mahal dan berkelas. Siapa kalian berani menyentuh nya !" Bryant Cassano sudah di belakangnya berjarak dua meter. Menatap tajam kearah mereka.


Mereka mundur beberapa langkah. " Lihatlah CCTV-NYA. Aku pastikan kalian akan ku penjara karena perbuatan mu !" Katanya lantang. Beberapa orang tua murid menoleh. Berseru padanya. " Dia anak haram. Bagaimana bisa sekolah disini ?"


"Dia putraku ! Bukan anak haram. Aku yang meminta pihak administrasi untuk merahasiakan identitas diri nya ! Kenapa ? Kau tak terima jika putraku lebih unggul ?" Sakarse Bryant.


" Apa kau sudah tahu tentang hal ini pak kepala sekolah ?" Tanyanya sambil berdiri mensejajari tingginya. Lelaki paruh baya itu berkeringat dingin tak berdaya dan takut. Karena ia lalai dalam tugasnya.


" Daddy ayo pulang saja." Ajak Arsy menatap wajah ayahnya. Memegang ujung jemarinya. Lelaki itu hanya tersenyum tipis melihat ekspresi putranya yang tertunduk sambil diam. Ia pun menelepon seseorang untuk melakukan penyelidikan terkait masalah putranya.


"Aku akan pergi. Ingatlah CCTV-NYA jika ada kesalahan maka kau benar-benar tak memandang aku." Bisiknya sambil tersenyum tipis menepuk pundaknya dan berlalu.


Bryant Cassano memanggul putranya di lengannya. Dan berkata." Kau anak Daddy. Jangan takut pada mereka ! Namun kau juga tak boleh tamak atau sombong ! Mengerti ?" Bisik Bryant. "Aku tahu Daddy. Mom sudah menjelaskan detail itu. Karenanya aku tak bicara soal ini." Jawabnya sambil terus menatap wajah ayah sambungnya.

__ADS_1


"Anak pintar." Sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya. Mereka masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.


Bersamaan dengan datangnya wakilnya Bryant Cassano yakni pengacara yang ditelpon oleh nya sebelum meninggalkan tempat itu. Beserta vidionya yang di kirim Bryant Cassano. Ia mengurus semuanya sesuai keinginan Bryant.


Bryant Cassano mengajaknya ke tempat tujuannya. Makan siang di restoran ayam kesukaan Arsy dan taman bermain yang diinginkan oleh Arsy, walaupun dia di rumah lengkap fasilitasnya namun ia rindu seperti kebiasaan bersama sang ibu.


Kehidupan sederhana dan bertamasya ke tempat hiburan umum dan tak perlu bermewah-mewah pula. Bryant Cassano terharu melihat ekspresi wajah sang anak. Mereka melakukan permainan bersama di taman bermain itu.


Setelah puas Bryant Cassano membeli minuman dingin dan camilan sehat bocah itu tertidur di kursinya karena kelelahan bermain. Menjelang sore mereka sampai di mansion mewah nya.


Sharmila tertegun melihat Bryant Cassano menggendong anaknya yang terlelap dalam tidur. "Dia suka di taman bermain. Aku janji akan meluangkan waktu bermain bersama dia dan adiknya." Katanya saat diikuti oleh istrinya.


"Apa kau tahu putra kita mengalami kesulitan di sekolah ?" Tanya Bryant pada Sharmila. Wanita itu terdiam saat hendak menutup selimut sang anak. "Iya aku tahu. Sopir melaporkan kepada ku. Melihat dia di pukuli dari jauh. Dia bermaksud untuk klarifikasi namun di cegah Arsy. Katanya itu tak ada gunanya." Sharmila menjeda kalimatnya.


" Dan iya kupikir juga begitu. Karena dia hanya putra sambung mu. Aku berpikir kau hanya sekedar memberikan dukungan saja" Jawabnya lirih.


Bryant Cassano memeluknya erat dan merasakan kesedihan itu. " Maafkan aku yang sibuk dengan duniaku sendiri. Maaf. Bertindak sebagai ayah yang kurang baik dan suami yang tak peka pada mu." Bisiknya sambil mengelus rambut panjangnya.


Mereka terdiam duduk di kamarnya Arsy. Sharmila memutuskan menunggu sang putra istirahat sejenak, menjelang magrib nanti ia akan membangunkan nya. Untuk membersihkan diri dan beribadah.


Terimakasih atas karunia Allah, Suamiku sudah mengetahui apa yang dibutuhkan putranya. Dan menjadi ayah yang dapat di andalkan. Menjadi idolanya dan panutan bagi nya.

__ADS_1


Tak terasa air matanya mengalir dari kedua belah matanya. Ia terdiam di sisi ranjangnya Arsy. Bryant Cassano hanya menatap kosong kedepan kearah sang istri yang terlihat menangis diam-diam.


__ADS_2