
Pukul setengah enam pagi Bintang sudah berada di area sekolah. Terlihat kurang kerjaan memang, tapi dia lebih menyukai suasana sepi sekolah daripada suasana sepi rumahnya.
Kakinya terus melangkah menaiki satu persatu anak tangga sampai ke lantai paling atas yang tidak lain adalah rooftop. Rebahan di salah satu sofa sembari menghirup udara pagi yang masih sejuk.
Rooftop sekolahnya tidak seperti rooftop sekolah pada umumnya. Cukup banyak fasilitas untuk para murid bersantai di sana. Orang tua Arghi dan Bulan memang tidak tertandingi jika soal fasilitas.
Tapi walaupun diisi dengan fasilitas yang lengkap, tidak banyak murid-murid yang mau datang kemari. Entah karena mereka malas naik tangga atau mereka mempunyai tempat yang lebih nyaman daripada rooftop.
Bintang menutup matanya bersiap untuk kembali tidur. Angin dingin pagi dan cahaya matahari yang belum tampak membuat siapa saja pasti tergoda untuk tidur di sana.
Di sisi lain sedang terjadi adegan tarik menarik antara dua kakak beradik di parkiran sekolah.
"Kak, rooftop itu di lantai enam, jauh kak. Mending di taman aja," pinta Bulan dengan wajah memelas.
"Kan biasanya juga kita ke rooftop, kakak gapapa kalo cuma mendaki enam lantai." Sergah Arghi lalu kembali menarik pergelangan tangan Bulan. Gadis itu pun pasrah mengikuti langkah Arghi yang menyeretnya naik ke rooftop.
"Kaki siapa tuh?" Bulan menunjuk sebuah kaki kanan yang mengintip dari balik sofa.
"Ternyata si samoyed," ujar Arghi setelah melihat sosok Bintang yang sedang tertidur lelap.
"Bin, bangun heh. Ngapain tidur di sini?" Bulan mengguncang tubuh Bintang dengan kuat sampai sang lekaki membuka mata.
"Nikmat dunia bangun tidur disuguhi muka Bulan," batinnya. Tubuh Bintang tidak bergeming, sibuk menatap wajah perempuan yang diam-diam dia sukai.
"Malah bengong, terpesona pasti." Gumam Arghi tertawa kecil.
"Lo pagi buta begini udah di sini, belum sarapan pasti?" Tanya Bulan.
"Kalian sarapan berdua aja nih," ujar Arghi sambil membuka kotak makan Bulan.
"Gak ah, mager." Tolak Bintang tanpa mengalihkan pandangan barang satu cm pun dari Bulan.
"Gak boleh," Bulan pun menarik Bintang hingga sang empunya badan terduduk.
"Buset hulk."
Arghi menyerahkan kotak makan kepada Bulan, lalu mendorong kaki Bintang untuknya duduk.
"Nih," Bulan menyodorkan sepotong roti bakar dengan isian coklat keju.
"Males Lan."
"Sarapan itu penting. Lagian ini cuma roti," sergah Bulan lalu menaruh roti tersebut ke tangan Bintang dengan paksa.
Akhirnya Bintang memakannya dengan malas. Jujur saja, Bintang benar-benar tidak memiliki nafsu makan sejak kemarin.
Sarapan pun berjalan dengan sunyi. Arghi diam menatap langit, Bintang yang tengah mengunyah roti dengan pandangan kosong, dan Bulan yang memakan rotinya sambil berjalan-jalan melihat pemandangan melalui pagar rooftop. Sesekali Arghi bersuara untuk memperingati Bulan yang terlalu mencondongkan tubuhnya ke bawah melihat hal yang menurut Bulan menarik.
Sampai waktu hampir membunyikan bel masuk, Bulan dan Bintang pun berpisah dengan Arghi di lantai dua. Sedangkan Arghi melanjutkan langkahnya ke lantai satu menuju kelas.
Sepulang sekolah Arghi dan Bintang langsung duduk santai di kafe yang letaknya tidak jauh dari sekolah mereka. Memesan dua es americano, mereka memilih tempat duduk yang paling pojok agar lebih leluasa berbincang.
"Jadi, mau coba ngelacak?" Tanya Bintang mengawali pembicaraan.
"Coba aja kali ya." Arghi mengangguk, lalu mengeluarkan laptop yang sengaja dia bawa dari rumah khusus untuk hari ini.
"Platnya?" Tanya Arghi.
"XYZ 72720." Arghi mengangguk paham dan mulai tenggelam dalam kesibukan. Bintang sendiri hanya diam sambil menyedot minumannya.
"What?!" Seruan Arghi di tengah damainya suasana sontak membuat Bintang terperanjat.
"Ngagetin aja lo."
"Ini mah kantor utama bokap gue anjir! Mobilnya ada di sana!"
"Bokap atau nyokap lo?" Tanya Bintang memastikan.
"Bokap gue, gak mungkin gue salah." Jawab Arghi memastikan.
Setelah itu terjadi keheningan yang cukup lama di antara keduanya.
"Kita gak tau apa yang akan terjadi ke depannya. Jadi harus tetep hati-hati. Jangan sampe kejadian yang nggak-nggak." Bintang memecah sunyi lalu menyedot minumnya lagi.
Menghela nafas, Arghi pun mengangguk. Meraih americano yang sedari tadi terabaikan dan meneguknya dengan cepat. Setelah itu tangannya kembali bergerak gesit di atas keyboard.
"Ke kantor bokap gue kuy."
Bintang mengernyit. "Serius lo?"
"Serius lah," jawab Arghi cepat. Senyum miringnya tercetak jelas membuat Bintang yang masih dilanda bingung pun akhirnya mengangguk.
Kedua remaja tampan itu telah berada di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi berwarna biru langit. Tulisan X-Light berwarna biru tua terpampang jelas. Siapa yang tidak mengenal gedung ini. Bagi mereka yang mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan X-Light pasti akan terjamin keuntungannya.
Arghi dan Bintang mulai melangkah masuk ke dalam kantor Cahyo.
Para karyawan yang sedang bekerja sontak membungkuk hormat melihat kedatangan putra pertama bos mereka.
Arghi mengangguk kecil dengan senyum ramahnya dan setelah itu semua karyawan kembali ke pekerjaan masing-masing.
Sesampainya di lantai teratas mereka berjalan menuju ke sebuah pintu otomatis yang berada tepat setelah pintu lift terbuka.
Arghi mengarahkan kepalanya ke sebuah layar kecil yang berada di tengah-tengah pintu sampai pintu terbuka.
"Ada Bintang juga." Bintang tersenyum lalu membungkuk sopan kepada ayah sahabatnya.
"Baik yah? Gak ada yang sakit kan? Ayah sama bunda harusnya istirahat dulu di rumah. Kita gak akan miskin walau ayah gak dateng ke kantor, ayah banyak anak buah." Omel Arghi panjang lebar.
Cahyo tertawa. "Ayah gabut kalo di rumah terus," jawab Cahyo.
"Sekeluarga gabutnya random bener anjir." Bintang membatin.
"Jadi, kamu ada perlu sama ayah?" Tanya Cahyo menatap Arghi dan Bintang bergantian.
__ADS_1
"Gak ada, kami habis dari kafe starlight tadi, jadi sekalian mampir buat mastiin keadaan ayah. Habis ini aku mau ke kantor bunda juga kayaknya. Ayah kalo capek istirahat, jangan lupa makan. Aku sama Bintang pamit dulu."
Arghi menekan tombol lift ke lantai 49 yaitu lantai yang berada di bawah ruangan Cahyo.
Mereka memutuskan untuk turun melalui tangga sekaligus melihat-lihat jika ada sesuatu yang mencurigakan di sana.
"Capek gue anjir. Tangga bokap lo banyak bener!" Keluh Bintang frustasi.
"Gue gak tau apa-apa," timpal Arghi yang sama frustasinya.
"Naik lift aja udah." Arghi menarik Bintang beralih dari tangga menuju lift.
"Serius mau ke kantor nyokap lo?" Tanya Bintang saat mobil telah keluar dari area perusahaan.
"Langsung ke sekolah aja, bentar lagi jam tiga."
"Dadah Lisa," tangan Bulan melambai-lambai seiring dengan kepergian sang teman.
"Dek," Bulan sontak menoleh ke samping. Senyumannya mengembang melihat Arghi dan Bintang berjalan mendekatinya.
Arghi tersenyum lembut. "Adek udah kerja keras hari ini. Gimana latihannya tadi?" Tanya Arghi. Tangannya sibuk merapikan rambut sang adik yang sedikit berantakan karena tertiup angin.
"Lancar," jawab Bulan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yaudah, ayo pulang." Arghi mengambil pergelangan tangan Bulan. "Nanti gue kabarin, sekarang pulang dulu." Bisik Arghi. Bintang mengangguk lalu pergi ke mobilnya sendiri.
Di tengah perjalanan, melalui spion mobil mata Bulan menangkap mobil Bintang yang berjalan sangat
perlahan di belakang. Padahal setahunya Bintang bukanlah tipe orang yang ingin berlama-lama dalam perjalanan.
"Kak, itu mobil Bintang kenapa lambat banget jalannya?" Tanya Bulan.
Arghi melirik spion mobil sekilas. "Ohh, lagi nyari siomay yang enak dia tuh." Bulan mengernyitkan dahinya sambil menoleh mendengar jawaban Arghi.
"Tukang siomay kan banyak, jadi Bintang setiap ada penjual siomay dibelinya gitu?"
"Mungkin aja." Jawab Arghi lalu tertawa di akhir.
Lima menit kemudian mereka sampai di rumah. Arghi dan Bulan masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan tubuh sehabis beraktivitas seharian.
Mulut Bulan menggumamkan nyanyian yang akhir-akhir ini sering dia dengarkan. Air terus mengucur deras dari shower. Tangannya sibuk menggosok rambutnya yang masih setengah berbusa.
Hingga dirasa cukup Bulan memakai bathrobe hitamnya dan masuk ke dalam walk in closet.
Usai memakai baju Bulan merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Rasa bosan yang mendominasi membuat tubuhnya bergerak kesana-kemari guna mengusir bosan. Seperti inilah jika gadis itu bosan. Randomnya sampai-sampai membuat Bintang ingin angkat kaki saja rasanya.
Pintu terbuka memperlihatkan Arghi dengan rambut setengah basahnya.
"Adek ngapain?" Tanya Arghi heran.
Bulan berhenti. "Gabut."
"Gangguin Bintang aja mau gak?" Usul Arghi. Mata Bulan berbinar seketika "Ayo!"
Bintang menatap keduanya horor, "Mau ngapain kalian?" Tanya Bintang was-was. Perasaannya mulai tidak enak.
"Jangan bilang-"
"Gabut." Jawab Arghi cepat.
Bintang menghela nafas pasrah sembari menguatkan kesabaran menghadapi segala kerandoman yang akan dua kakak beradik itu lakukan.
"Berenang mau gak?" Tanya Bulan tiba-tiba.
"Berenang sore-sore, mau diculik wewe gombel lo?" Celetuk Bintang.
"Kalo di air mah hantu banyu, bukan wewe gombel." Sanggah Arghi.
"Yaudah sih sama aja. Sama-sama setan dan sama-sama jelek!" Sewot Bintang. Arghi memutar bola matanya malas.
"Asal lo bahagia aja, gue diem."
"Bin, pinjem gitar lo." Pinta Bulan yang dijawab anggukan oleh Bintang.
Bulan pun mengambil gitar yang tergantung di samping rak buku. Duduk di sebuah sofa dan mulai memetik senar-senar gitar. Bulan kurang ahli dalam memainkan gitar. Tapi dia ahli dalam bermain biola dan piano.
Bintang pun turun untuk bergabung.
"Ayo nyanyi." Ajak Bulan menyerahkan gitar kepada si pemilik.
"Lagu apa?" Tanya Bintang memposisikan tempat yang nyaman untuknya bersandar sambil memetik gitar.
Bulan terdiam sebentar.
"Here's your perfect?" Tanya Bulan.
"Oke."
Suara gitar pun mulai memenuhi ruangan.
I remember the day
Even wrote down the date
That I fell for you
And now it's crossed out in red
But I still can't forget if I wanted to
And it drives me insane
Think I'm hearing your name
__ADS_1
Everywhere I go
But it's all in my head
It's just all in my head
(Bintang)
But you won't see me break
Call you up in three days
Or send you a bouquet
Saying, "it's a mistake"
Drink my troubles away
One more glass of champagne
And you know
(Bulan)
I'm the first to say that I'm not perfect
And you're the first to say you want the best thing
But now I know a perfect way to let you go
Give my last hello, hope it's worth it
I'm the first to say that I'm not perfect
And you're the first to say you want the best thing
But now I know a perfect way to let you go
Give my last hello, hope it's worth it
(Bintang & Bulan)
Keduanya kompak meloncat ke reff yang kedua. Bulan segera mengambil ancang-ancang untuk lirik selanjutnya.
Say yeah, yeah, yeah (Bulan)
But now I know a perfect way to let you go
Give my last hello, hope it's worth it
Here's your perfect
(Bintang & Bulan)
Dalam rebahannya Arghi berdecak kagum. Harmonisasi keduanya menyatu sampai ke relung hatinya yang paling dalam.
"Lanjut-lanjut, request lagu apa lagi?" Bulan berpikir sejenak.
"Love you like me?" Bintang mengangguk setuju sambil kembali membenarkan posisi gitarnya.
She never calls this late at night, no
But I can tell she's been drinking all night long
She sounds upset, I'm asking baby where you at
I called you earlier but you aint hit me back
She's breaking down, I'm bout to lose it
Im screaming who the **** were you with
I grab my keys you better tell me where you at
She said she fucked up but theres no taking it back
(Bintang)
I gave everything to you
And this is what you turn around and do
Did he have all, all that you wanted
For you to go and break your promise
(Bulan)
I wanna know (Bintang)
Every secret you've been hiding (Bulan)
I wanna know (Bintang)
Just how long have you been lying (Bulan)
I wanna know (Bintang)
Does he **** you like I did (Bulan)
I wanna know (Bintang)
And will he love you like I did (Bulan)
__ADS_1
Arghi mengulum senyum menikmati lantunan indah suara dua muda-mudi itu. Bangkit dari rebahannya untuk ikut bergabung duduk di sana. "Lanjut ngamen!"