
Malam membuat suhu semakin meninggi. Bintang merapatkan jaketnya, melirik Bulan yang tengah membuka balkon kamarnya. Hanya ada mereka berdua di sini. Arghi dan Dirga menitipkan Bulan kepadanya dari siang tadi sampai... mungkin beberapa hari ke depan.
Digenggamnya tangan Bulan, membuat langkah gadis itu yang semula ingin keluar kembali masuk ke dalam. Bintang menutup rapat pintu balkonnya.
"Menggigil gini bisa-bisanya lo masih mau keluar." Omel Bintang sambil menaikkan resleting jaket Bulan sampai ke atas.
"Salju malam bagus," ujar Bulan sambil tersenyum lucu membuat Bintang mengacak rambut Bulan.
Bintang naik ke atas kasur, duduk bersandar di headboard kasur sambil membentang selimut lalu menekan remote tv. "Horor time?"
Bulan langsung membanting tubuhnya di samping Bintang sebagai tanda setuju. Mengambil sebuah bantal untuk dijadikannya teman tengkurap, lalu masuk ke dalam selimut tebal Bintang.
"Bin," panggil Bulan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
"Hm?"
"Kambuh ya?"
Bulan berganti posisi menjadi duduk dan mendekati Bintang yang tengah menatapnya aneh.
"Gue liat gelagat lo dari habis makan malam. Lo gak bisa bohongin gue."
"Gapapa, ini gak terlalu sakit. Nanti juga hilang sendiri." Bintang menyeka keringat dingin yang jatuh di dahinya. Membuat Bulan semakin yakin jika Bintang hanya membual.
"Gak terlalu sakit apanya? Lo aja sampe keringetan gini." Bulan menyeka pelipis Bintang. Membuat cowok itu tertegun melihat raut khawatir gadis di depannya.
Bulan mengambil remote tv dari genggaman Bintang, lalu mematikan film yang sedari tadi terabai. "Istirahat," Bulan memegang tengkuk belakang cowok itu, membantunya untuk berbaring. Setelah mendapat posisi ternyaman Bintang menepuk sisi kosong di sebelahnya yang langsung di tempati oleh Bulan.
Tangan Bulan digenggam erat oleh Bintang. Cowok itu hanya menatap langit-langit kamar tanpa ekspresi. Bulan tahu bahwa Bintang sedang menahan sakit, dilihat dari gelagat Bintang yang tengah menggigit bibir bawahnya kuat.
Bulan mengganti posisi menghadap Bintang. Tangannya terangkat lalu mengelus perut sebelah kiri Bintang. Berharap bisa meredakan sakit yang Bintang rasakan walau itu mustahil.
Mata Bintang terpejam. Nafasnya terdengar bergetar.
"Ke rumah sakit mau?" Bisik Bulan lembut. Cemas karena sakit Bintang tak kunjung mereda.
"Gak perlu," jawab Bintang semakin meremat pergelangan tangan Bulan.
Jujur saja Bulan takut. Apalagi melihat bibir Bintang yang hampir menyerupai kapas saking pucatnya. Bahkan Bulan tidak mempedulikan tangannya yang terasa perih oleh rematan Bintang.
Lima menit berlalu. Bintang mengendurkan rematannya. Sadar jika yang dirematnya itu adalah tangan manusia. Matanya terbuka sayu, menatap Bulan yang juga tengah menatapnya.
"Maaf, tangan lo sakit." Bintang berkata susah payah.
Bulan menggeleng, kembali menyeka keringat Bintang dengan tangannya. Mengelus pipi yang semakin tirus itu dengan perlahan.
"Gue malah seneng lo mau berbagi rasa sakit lo." Bintang tersenyum lemah. Menyelipkan tangannya ke kepala Bulan. Menjadikan lengannya sebagai bantalan Bulan. Lalu menarik cepat tubuh gadis itu ke pelukannya. Bahkan wajah Bulan sampai terbentur dada bidangnya. Sedetik setelah itu raut kesakitan Bintang tergambar jelas di wajahnya yang pucat pasi.
"Lan,"
"Em?"
"Apa keinginan lo yang belum terwujud?"
"Liat lo, kak Arghi, sama kak Dirga jadi sugar daddy." Bintang tertawa kecil.
"Kalo lo apa?" Bulan bertanya balik.
Bintang diam sebentar lalu mengeratkan pelukannya.
"Liat lo bahagia," ujarnya tulus.
Seketika Bulan merasa dejavu.
"Gue bahagia kok."
"Bukan bahagia biasa, bahagia yang bener-bener bahagia."
"Lan,"
"Em?"
__ADS_1
"Gue sayang lo."
Nafas Bulan tertahan. Apakah dia sedang bermimpi? Ataukah dia sedang menghalu? Tapi suara Bintang terdengar sangat nyata.
"Bisa... lo ulangin?"
Tidak ada jawaban dari Bintang. Bulan mengerutkan keningnya. Mendongak untuk melihat wajah Bintang. Mata bulan sabit cowok itu terpejam tanpa kerutan.
Bulan melepas pelukan Bintang dan bangkit duduk. Kedua tangannya menangkup wajah pucat Bintang. "Hey, lo tidur?" Bulan sedikit mengguncang tubuh Bintang. Namun tetap tidak ada jawaban hingga mengundang rasa paniknya.
"Bintang, hey, jangan buat gue takut plis." Tetap tidak ada jawaban. Dengan tangan yang bergetar Bulan meraih ponselnya di atas nakas, menelpon dokter Arina.
"Halo tante, aku harus ngapain?" Suara Bulan bergetar.
"Bulan, tenang dulu. Ada apa?"
"Bintang gak mau bangun tante, aku harus apa?"
"Kamu tunggu di situ, tante ke sana sekarang."
Panggilan terputus. Bulan melempar ponselnya ke nakas yang untungnya tidak terpeleset dan jatuh ke lantai. Menggenggam tangan Bintang sambil memijatnya perlahan. Tatapan Bulan menyendu. Dia sering sekali mengalami hal ini. Di mana orang-orang yang dia sayangi menutup mata dalam artian bukan tertidur. Dan itu selalu menjadi ketakutan terbesar Bulan. Takut jika mata itu tidak lagi terbuka.
"Bangun," Bulan mengguncang tubuh Bintang pelan.
"Katanya mau liat gue bahagia, ayo bangun."
"Kalian semua jahat banget. Suka banget tutup-tutup mata."
"Cukup ayah bunda aja yang gak mau bangun. Jangan ada lagi," suara Bulan semakin mengecil.
Bulan menatap tangan kirinya yang memiliki bekas goresan yang mengerikan. Lalu berganti menatap Bintang yang masih menutup mata.
Gadis itu bangkit, membuka satu persatu laci nakas Bintang. Sampai bulan menemukan cutter di laci kedua. Bulan segera masuk ke kamar mandi. Menggulung lengan jaket sebelah kirinya, dan dengan perlahan menggores seni yang baru ditempat yang sama. Bulan tersenyum kecil saat darah mulai memenuhi tangannya. Dengan cepat Bulan berlari ke wastafel, membasuh tangannya sampai tidak ada lagi darah yang tersisa. Mencabut tisu toilet untuk menutupi lukanya. Setelah semua dia bereskan Bulan keluar dari kamar mandi. Menatap Bintang yang masih terpejam. Ditaruhnya cutter yang telah bersih itu kembali ke tempat semula.
Gerakan Bulan yang hendak menaiki kasur terhenti saat bel rumah Bintang berbunyi. Dengan kecepatan kilat Bulan langsung turun ke lantai satu.
"Ayo masuk tante," Bulan menutup pintu kembali saat Arina telah masuk. Membawa langkah wanita dengan seragam dokter itu naik ke lantai dua.
"Gimana tan?" Tanya Bulan saat Arina mulai membereskan barangnya. Wanita dewasa itu menghela nafas gusar.
"Kita semua tahu bahwa ginjal Bintang sudah benar-benar rusak, bahkan tidak berfungsi sama sekali. Namun anak ini selalu saja melewatkan cuci darah. Dan juga, sepertinya akhir-akhir ini dia terlalu banyak pikiran membuat tubuhnya semakin kalah."
"Besok, tolong ajak Bintang cuci darah ya. Ini demi kebaikan dia juga. Karena ginjal kronis bukanlah penyakit sepele."
Arina menepuk pundak Bulan, membuat Bulan sadar dari lamunannya. "Bintang akan baik-baik saja jika melakukan perawatan dengan baik. Kamu tenang aja. Tante balik ke rumah sakit ya, ada jadwal operasi sebentar lagi."
Bulan mengangguk kaku. Mengantar Arina sampai ke gerbang, lalu segera mengunci pintu.
Sesampainya di kamar Bulan langsung merebahkan tubuhnya di samping Bintang. Tatapannya beralih ke tangan kirinya yang masih terbalut tisu yang telah berwarna merah. Bulan memutuskan untuk membersihkan lukanya terlebih dahulu. Setelah itu kembali berbaring di samping Bintang, menyusul Bintang ke alam mimpi.
...~~~...
Bintang terbangun tengah malam karena gejolak mual yang membuatnya mau tak mau segera ke kamar mandi. Mengeluarkan apa saja yang telah dia makan kemarin. Ringisan kecil keluar dari mulutnya. Perutnya terasa menyakitkan. Bintang jadi ingin tidak memiliki perut.
Keluar dari kamar mandi, netranya langsung terfokus ke Bulan yang tengah meringkuk sambil menutup kedua telinganya. Mata gadis itu masih terpejam dan sesekali menggeleng kuat. Bintang menghampiri Bulan, sedikit mengguncang tubuh kurus itu.
"Bulan, hey," Bintang mengusap kening Bulan yang dibanjiri keringat dingin.
"Iya, nanti aku mati," pupil Bintang membola. Detik itu juga Bintang langsung mengguncang tubuh Bulan lebih kuat. Membuat gadis itu tersentak bangun sampai terduduk.
"Dengerin suara gue Bulan. Jangan denger mereka, apalagi diturutin, okey?"
"Mereka nyuruh mati," gumamnya dengan tatapan kosong.
"Bulan, tatap mata gue." Bintang menangkup wajah Bulan hingga tatapan keduanya bertemu.
"Jangan dengerin suara lain, fokus ke suara gue." Bagai mantra ajaib, Bulan tersadar dari halusinasinya. Membuat Bintang refleks memeluk Bulan erat.
"Lo buat gue takut Lan," lirihnya pelan.
"Oh, udah bangun ternyata," Bulan balas memeluk Bintang tak kalah erat.
__ADS_1
Untuk sejenak keadaan hening. Membiarkan ketakutan masing-masing menghilang terlebih dahulu dalam sebuah pelukan.
"Maaf gue ketiduran tadi."
Bulan memukul dada Bintang lumayan keras. "Lo pingsan bego," umpatnya tertahan.
Bulan teringat sesuatu membuatnya melepas pelukan Bintang.
"Lo udah lewatin cuci darah berapa kali?" Kedua tangan Bulan menyilang di depan dada. Menatap tajam cowok pucat di depannya.
Bintang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "8?" Jawabnya ragu.
Bulan meninju keras lengan Bintang menghasilkan erangan kesakitan.
"Lo tolol, bego, gak ada otak! Kenapa gak cuci darah? Mau mati hah? Lo gak akan mati sebelum gue mati! Gue siap nemenin lo kapan aja, waktu gue bakal selalu ada buat lo! Tapi lo gak pernah minta sama gue, dan lo malah nolak keras pas gue bilang mau nemenin. Lo mau sakit sendirian? Sedangkan tiap gue sakit lo selalu ada. Gue jenuh selalu jadi orang yang gak berguna!" Bulan mengeluarkan semua unek-uneknya. Urat leher gadis itu menonjol dengan sangat jelas. Menunjukkan seberapa marah dirinya kini. Air matanya kian menderes membuat Bintang semakin merasa bersalah.
Tubuh Bulan memberontak saat Bintang memeluknya. Namun pelukan yang terlampau erat itu menghentikan pergerakannya. Bulan menangis keras di rengkuhan Bintang untuk yang kedua kalinya.
"Maaf," hanya kata itu yang dapat Bintang lontarkan. Tangannya sibuk membelai rambut Bulan. Sesekali mengecup pucuk kepala gadis itu berharap Bulan sedikit lebih tenang.
"Gue kayak gitu karena gak mau ngerepotin lo. Beban lo udah berat, jadi gue gak mau nambahin lagi. Tapi ternyata gue salah. Perbuatan gue malah bikin lo nangis, maaf, maafin gue."
Bulan menangis semakin kencang. Dia juga tidak mengerti kenapa tangisnya tidak mau berhenti. Hatinya hanya ingin menangis sekarang.
Pandangan Bintang bergeser ke bawah. Niat awalnya dia ingin melihat keadaan Bulan karena tangis gadis itu tidak sekencang tadi. Namun urung saat netranya malah menangkap tisu yang sedikit menyembul dari tangan kiri Bulan. Ada bercak merah yang Bintang yakini adalah darah. Seketika dia lupa caranya bernafas untuk beberapa detik. Nafasnya terasa sesak. Apa saja yang telah dia lewatkan saat tertidur tadi?
"Maaf," hanya itu yang dapat Bintang ucapkan. Tenggorokannya tercekat. Dia gagal lagi.
"Maaf Ar, kak Dirga, gue gak bisa jagain Bulan."
...~~~...
"Bilang ya kalo mual," Bintang mengangguk pelan.
Setelah kejadian semalam Bintang langsung mengiyakan ajakan Bulan untuk cuci darah. Dan sepertinya mulai sekarang dia tidak akan bolos cuci darah lagi. Dia trauma.
"Lan,"
"Em?"
Bintang diam sejenak, memikirkan kata-kata yang pas untuk Bulan.
"Mau cerita?"
Bulan mengernyitkan dahinya. "Cerita apa? Gue gak ada cerita."
"Kalo bener gak ada, kenapa lo cerita sama tangan?"
Bulan loading sejenak.
Bintang meraih tangan kiri Bulan, menyingkap lengan jaket yang gadis itu kenakan.
"Ada gue di samping lo, tapi kenapa cerita sama tangan?" Bintang mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lembut.
"Maaf," kepala Bulan tertunduk dalam.
"Bulan, liat gue." Bulan menggeleng dan semakin menundukkan kepalanya. Dirinya terlalu takut untuk berhadapan dengan Bintang.
Cowok itu menghela nafas. Tangan kanannya menyentuh dagu Bulan, mengangkat wajah itu menghadap ke arahnya. Namun Bulan malah menggulir netranya ke arah lain.
"Gue gak marah, gak perlu takut."
Berhasil. Bulan langsung menatap Bintang walau binar ketakutan itu masih tertera jelas.
"Nyakitin diri sendiri bisa berakibat fatal. Lo gak mau kami ninggalin lo, tapi lo sendiri mau ninggalin kami."
Bintang mengelus punggung tangan Bulan. "Gue harap lo berhenti. Pelan-pelan aja, pasti bisa."
Bintang terkejut dengan serangan pelukan tiba-tiba dari gadis itu.
"Maaf Bintang," cicit Bulan.
__ADS_1
Bintang terkekeh gemas. Tangannya terangkat guna mengusap lembut surai gadis itu. "It's okey, lo gak salah."