WHY

WHY
Psychologist


__ADS_3

Dering ponsel Arghi yang sangat mengganggu di tengah heningnya suasana. Lantas pemuda tampan itu cepat-cepat merampas ponselnya.


"Kok belum ke sini?" Tanya Cakra to the point tanpa salam atau pun sapa.


"Anu, ayah sama bunda gak ada yang jagain kalo kita ke sana."


"Om udah kirim perawat ke sana. Cepet kalian ke sini gak pake lama!" Perintah Cakra lalu menutup panggilan secara sepihak.


"Dek, ayo. Pak dokter dah ngamuk." Arghi menarik pergelangan tangan Bulan pergi ke ruang kerja Cakra yang letaknya berada di lantai delapan.


"Sampe juga kalian ya. Ini udah hampir jam sembilan." Cakra berkacak pinggang, sedangkan yang diomeli hanya cengengesan dengan tampang tak berdosa.


"Udah sana cepet sarapan." Perintah Cakra yang langsung dituruti oleh Arghi dan Bulan.


"Bulan harus habis ya!" Tegas Cakra membuat Bulan tersentak menatap Cakra horor.


Cakra mengenal Arghi dan Bulan cukup lama dan itu membuatnya tahu akan kepribadian dan kebiasaan kakak beradik itu.


"Yahh, jangan dong om." Pinta Bulan dengan wajah memelas.


"Gak. ada. penawaran!" Ujar Cakra dengan penekanan di setiap kalimat.


Di samping Bulan terdapat Arghi yang sedang tersenyum penuh kemenangan.


"Seneng banget kayaknya." Sindir Bulan sinis.


"Oh iya jelas." Jawab Arghi dengan santainya.


"Au ah, semua cowok nyebelin,"


Kedua laki-laki itu puas tertawa melihat wajah Bulan yang tertekuk.


"Nanti kakak beliin es krim semau adek sekalian sama janji yang kemarin deh, jangan cemberut gitu." Tawar Arghi sambil menyolek hidung mancung Bulan.


"Bener ya." Ujar Bulan semangat dan Arghi pun mengangguk.


"Lanjutin makannya." Bulan menuruti perintah Arghi lalu mulai memakan makanannya dengan semangat.


"Om, aku udah selesai." Ujar Arghi usai meminum obatnya.


"Baring sini." Arghi membuka hoodie hitamnya terlebih dahulu hingga terpampang jelas bentuk yang serupa dengan roti bantal di perut pemuda itu.


Bulan mengamati Arghi dari sofa. Makanannya belum habis, tapi perutnya sudah terlalu penuh. Alhasil Bulan hanya mengaduk-aduk makanannya sambil terus memperhatikan Arghi dan Cakra.


"Lebih baik dari yang kemarin. Pertahankan ya." Arghi mengangguk lalu bangkit dari ranjang dan berjalan menghampiri Bulan yang sedang melamun.


"Adek, malah bengong. Udah kenyang banget ya?" Bulan mengangguk.


"Yaudah kalo gak habis. Nanti muntah kalo dipaksain." Ujar Arghi mengambil wadah makanan di pangkuan Bulan lalu membuangnya.


"Arghi, boleh om pinjem Bulan?"


"Kenapa om?" Tanya Arghi balik sembari memakai kembali pakaiannya.


"Ada yang mau diomongin sama Bulan."


"Yaudah, jangan lupa dibalikin ya." Arghi tertawa saat Bulan langsung menatapnya.


"Emangnya adek barang apa." Arghi semakin tertawa lalu mengacak rambut Bulan, setelah itu pergi kembali ke ruangan Cahyo dan Mentari.


"Ayo ikut om." Bulan menurut mengikuti langkah Cakra dari belakang.


.

__ADS_1


.


Cakra membawa Bulan berjalan melewati lorong rumah sakit yang terletak di sudut paling ujung lantai 20. Suasana lantai ini sangat sepi membuat Bulan cukup merinding.


"Ini lantai pribadi om. Ada istri sama anak om di sini." Ujar Cakra sambil membuka pintu. Di sana terlihat seorang wanita dan laki-laki yang tengah duduk saling bersandar di sofa.


"Ehh, papa udah dateng. Ini Bulan ya? Cantik banget." Puji seorang wanita membuat Bulan tertunduk malu.


"Sini duduk nak." Ajak wanita tadi sambil menepuk-nepuk sofa yang berada di sebelahnya.


Bulan menatap Cakra terlebih dahulu, sedangkan yang ditatap hanya mengangguk. Bulan pun melangkah pelan dan duduk di samping wanita tadi.


"Kamu Rembulan kan?"


"Iya, tante." Jawab Bulan gugup.


"Nama tante Arina dan ini anak tante satu-satunya, namanya Abian."


"Nama kakak Abian. Panggil aja Bian." Ujar seorang lelaki dengan senyum dimple miliknya sambil mengulurkan tangan.


"Bulan kak." Bulan tersenyum lalu menyambut uluran tangan Abian.


"Bulan mau ikut tante?" Tanya Arina.


"Emm, iya." Jawab Bulan sedikit ragu. Dia masih belum terbiasa dengan suasana hangat keluarga ini.


Arina mengambil pergelangan tangan Bulan lalu membawanya ke sebuah ruangan.


"Kamu duduk di sana, tante mau kunci pintu dulu biar yang cowok gak ngintip." Bulan melangkahkan kakinya ke sebuah sofa. Di belakangnya terdapat kaca besar yang menyuguhkan pemandangan kota di luar sana.


Arina duduk di samping Bulan yang tengah menatap keluar dengan pandangan kosong.


"Bulan, kamu dengerin tante baik-baik ya." Pinta Arina.


Diraihnya jari-jemari lentik Bulan, untuk dia genggam dengan erat.


di sekitarnya, termasuk kamu sayang."


"Nggak ada salahnya kok kalau kamu lelah. Tapi setidaknya agar lelah itu berkurang, kamu bisa membaginya dengan orang yang kamu percayai. Contoh nih, wadah kalau diisi air lama lama bakalan penuh dan tumpah kan? Nah, cara agar air itu tidak tumpah ya dengan membagi air itu ke wadah yang lainnya. Begitu juga kamu."


Hati Bulan berdesir mendengar penuturan lembut wanita dewasa itu. Otaknya mencoba meresapi semua penjelasan dari seseorang yang baru saja dia kenal sepuluh menit yang lalu


"Tunggu di sini." Arina pergi dan mengambil sebuah peralatan dokter, lalu duduk di balik punggung Bulan yang sedang duduk menyamping.


"Baju kamu tante buka dulu ya, tante obatin." Arina membuka baju bagian punggung Bulan dengan perlahan. Bulan masih membisu, lebih tepatnya terkejut. Dia tidak pernah diperlakukan selembut ini oleh bundanya.


Arina meringis tanpa suara saat punggung Bulan telah dia pandang langsung.


"Kalian menyia-nyiakan anak sehebat Bulan."


Tangan Arina dengan perlahan mulai mengobati punggung Bulan yang penuh dengan luka lebam dan gores. Kulit-kulit punggungnya juga banyak yang terkelupas. Arina tidak bisa membayangkan bagaimana Bulan bisa menahan semua luka-luka itu.


Tak ingin berlama-lama, Arina mempercepat gerakan tangannya. Sepuluh menit punggung Bulan sudah sepenuhnya terobati. Arina pun kembali menurunkan pakaian Bulan, kemudian bangkit meletakkan peralatan yang dia pakai tadi.


"Keluar yuk. Bian pengen banget deket sama kamu katanya." Bulan mengangguk mengikuti langkah Arina keluar ruangan.


"Kalian udah selesai rupanya." Cakra tersenyum hangat ke arah Bulan lalu menatap Arina penuh arti.


"Bulan, kamu di sini dulu ya. Kami ada urusan sebentar."


"Oke ma." Jawab Abian mantap.


Cakra dan Arina pun keluar dari ruangan menyisakan Abian dan Bulan bersama dengan suasana canggung.

__ADS_1


"Bulan," panggil Abian.


"Eh, iya kak kenapa?" Tanya Bulan gugup.


Bian tertawa hingga kedua lesungnya muncul. "Gak usah gugup gitu, kakak gak gigit kok." Bulan tertawa kecil sambil mengangguk pelan.


"Kamu punya kakak kan?" Bulan lagi-lagi mengangguk.


"Kelas berapa dia?"


"Kelas 12, kalo kakak?" Tanya Bulan balik.


"Kakak kuliah dan sekarang lagi magang di sini."


Dan obrolan selanjutnya mengalir begitu saja. Keduanya lambat laun mulai dekat, asik mengobrol menceritakan keluarga masing-masing tanpa ada lagi kecanggungan.


Hingga dua jam berlalu tanpa terasa.


"Kenapa Lan, ada janji?" Tanya Abian yang mendapati Bulan melirik jam tangan.


"Kayaknya kita keasikan ngobrol. Udah dua jam ini." Jawab Bulan jujur.


"Yaudah, ayo ke sana."


"Makasih ya kak udah nganterin." Ucap Bulan sesampainya mereka di tempat tujuan.


"Iya, titip salam buat kakak kamu ya. Kakak pergi dulu."


Setelah tubuh Abian tidak lagi terlihat, Bulan membuka pintu kamar inap orang tuanya. Arghi yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya sontak menoleh.


"Ngapain aja di sana lama banget?" Tanya Arghi setelah Bulan duduk di sampingnya.


"Ngobrol doang. Ada istri sama anaknya om Cakra juga." Jawab Bulan.


"Ngobrolin apa?" Tanya Arghi lagi.


"Dikasih siraman rohani."


"Istrinya om Cakra dokter di sini juga. Dokter organ dalam, dan mungkin dokter psikolog juga kali ya." Bulan terdiam sejenak. "Bulan diobatin sama istrinya om, habis itu... ya gitu deh." Lanjut Bulan.


"Ayah nambahin lagi? Kok gak kasih tau kakak?" Tanya Arghi dengan aura yang perlahan mulai mencekam.


Yang ditanya hanya terdiam menunduk, tidak tahu bagaimana harus menjawab.


"Coba sini, kasih liat kakak semuanya." Bulan lagi-lagi diam.


"Kakak cuma mau liat punggung adek." Pinta Arghi lagi.


Rasanya Bulan ingin berlari sekencang mungkin sekarang. Tatapan serius Arghi ingin membuatnya menghilang dari bumi detik itu juga.


"Berbalik." Perintah Arghi yang langsung dituruti oleh Bulan.


"Tahan baju depannya," Bulan langsung mencengkeram baju depannya. Jantungnya berdetak dua kali lipat dari biasanya saking tegang gadis itu.


Arghi mulai menyingkap hoodie Bulan dengan perlahan. Di sana dirinya langsung mendapati banyaknya perban yang menempel di punggung Bulan, menjadi bukti sebanyak apa luka yang diberikan oleh sang ayah kepada adiknya.


Arghi kembali menutup pakaian Bulan.


"Terakhir kakak liat, minggu kemarin, dan gak sebanyak ini. Kenapa adek gak pernah kasih tau kakak? Selama seminggu ini berapa kali, di mana, kapan, adek gak pernah lapor. Adek udah gak nganggep kakak lagi?" Pertanyaan Arghi di akhir kalimat membuat Bulan terkejut dan langsung berbalik menghadap Arghi. Wajah sang kakak menyiratkan kekecewaan yang begitu besar. Mata Arghi yang selalu terlihat menenangkan seperti sang bunda pun kini berubah sendu.


"Nggak kak. Adek, adek bukan..." Bulan menghela nafas gusar. "Adek gak mau buat kakak khawatir dan merasa bersalah, karena itu bukan salah kakak. Ini emang salah adek dan semua ini pantes adek dapetin. Adek harusnya tolak saat ayah sama bunda jemput di panti dan semua kesialan gak akan pernah terjadi. Jadi-"


Arghi menghentikan omong kosong Bulan, membawa sang adik ke dekapannya dengan hati-hati karena tak ingin manambah perih di luka Bulan. Pemuda itu membisu, kehabisan kata-kata setelah mendengar semua penuturan Bulan.

__ADS_1


Ruangan hening bermenit-menit. Keduanya pun sama-sama terdiam, hanyut dalam hangatnya pelukan masing-masing.


"Tuhan, tolong jaga Bulan. Aku tidak tau sampai kapan aku berada di sisinya. Jangan buat dia terluka lagi Tuhan, dia sudah terlalu banyak luka. Tolong buat adikku bahagia." Doa berakhir bersamaan dengan luruhnya air mata seorang kakak karena adiknya.


__ADS_2