
Bintang terbangun dari tidur panjangnya. Peluh membasahi kening padahal pendingin ruangan telah dihidupkan sejak dia pulang dari jalan-jalan kemarin. Bangkit dari ranjang sembari memijat pelipisnya pelan. Kepalanya berdenyut entah karena apa. Matanya mengedar ke seluruh penjuru kamar lalu melihat ke jam dinding yang menunjuk pada pukul setengah enam pagi kemudian masuk ke kamar mandi.
Sepuluh menit Bintang berada di dalam, keluar dari sana dan berjalan ke lemari pakaian yang berada di pojok kamar. Tangannya yang hendak meraih baju sekolahnya tiba-tiba terhenti. Bintang meremat perutnya yang masih berbalut bathrobe sampai urat-urat tangannya terlihat jelas saking kuat rematannya.
Berpegang erat pada pintu lemari, Bintang mencoba tetap berdiri. Setidaknya dia harus memakai baju terlebih dahulu.
Mengambil celana jogger dan kaus hitam polos, Bintang berjalan ke kasur. Memakai pakaiannya dengan susah payah. Perutnya sangat nyeri, lebih dari yang kemarin.
Tangannya meraih obat yang berada di laci nakas dan meminumnya tanpa bantuan air. Setelah obatnya tertelan Bintang mengambil ponselnya untuk mencari kontak seseorang.
"Halo Rin, lagi di mana?" Tanya Bintang.
"Lagi mau siap-siap ke kampus, kenapa Bin?" Jawab Karina dari seberang sana.
"Mau minta tolong. Izinin gue ke sekolah ya," pinta Bintang. Tangannya masih setia menekan perutnya, berharap sakitnya segera menghilang.
"Sakit lagi?" Tanya Karina. Nada suaranya berubah khawatir.
"Emm, gue gapapa kok. Sumpah demi alek gue gapapa."
"Bintang, gak usah main-main ih. Gue ke sana aja ya."
"Gak usah, gue gapapa. Tiduran sebentar paling hilang. Serius deh gak usah ke sini, nanti telat ke kampusnya!" Jelas Bintang tertawa kecil mendengar rengekan Karina.
"Tapi jangan lupa makan, minum obatnya, kalo ada apa-apa langsung telpon gue, jangan diem-diem aja. Ngerti gak?" Celoteh Karina panjang lebar.
Bintang tersenyum sampai matanya pun ikut tersenyum. "Iya, hati-hati perginya. Gue tutup ya Rin, bye..." Bintang langsung memutuskan panggilan tanpa membiarkan Karina berceloteh lebih panjang lagi. Bintang yakin pasti Karina sedang menyumpah serapahinya sekarang.
Melempar ponselnya ke sembarang tempat lalu memejamkan matanya.
"Kampret udah dikasih obat juga," gerutu Bintang. Tangannya memukul perut sebelah kirinya berharap sakitnya mereda.
Namun bukannya mereda, perutnya malah menjadi mual. Bangkit dari rebahannya dengan cepat lalu berlari ke kamar mandi. Bintang memuntahkan semua yang dia makan kemarin.
Menghidupkan air wastafel hingga semua bekas muntahan hilang. Lalu membasuh wajahnya sebanyak dua kali dengan brutal.
Kakinya melangkah pelan keluar dari kamar mandi. Hampir saja tubuhnya ambruk jika dia tidak berpegang erat pada pintu kamar mandi.
"Akhh..." ringisnya pelan. Kakinya sudah tidak bisa lagi menahan bobot tubuh saking lemasnya. Dan tepat setelah tubuhnya berbaring di atas kasur, matanya pun langsung ikut tertutup rapat.
.
.
.
Bulan sekarang tengah berada di taman sekolah. Duduk diam di sebuah bangku sambil memandang ke area parkir. Bintang belum datang, jadi dia tidak ada teman mengobrol. Dia tidak mempunyai teman dekat di kelas selain Bintang. Jadi wajar jika dia bosan.
Tidak mungkin juga dia ke kelas Arghi yang berada di lantai satu. Bulan takut tiba-tiba bertemu dengan kakak kelas yang kemarin melabrak dia.
"Bintang kok belum dateng ya?" Tanyanya pada angin. Matanya menatap kosong ke parkiran, berharap sosok yang dia tunggu-tunggu datang.
Sejujurnya Bulan cukup khawatir. Wajah pucat Bintang kemarin selalu terngiang-ngiang di kepalanya sampai sekarang.
Bintang tidak takut menonton film horor. Keduanya sudah saling mengenal satu sama lain. Mereka bahkan sering sekali menonton film horor jika sedang bosan di kelas atau saat waktu luang. Jadi tidak mungkin jika pucatnya wajah Bintang disebabkan oleh penampakan yang terlalu menyeramkan.
Di tengah lamunan matanya tiba-tiba terpaku pada sosok yang sangat dia kenali keluar dari mobil. Tapi yang membuatnya bingung adalah kenapa orang itu datang ke sini.
Tanpa mengulur waktu lagi Bulan langsung berlari menghampiri orang itu.
"Karin!" Seru Bulan sambil berlari. Sang pemilik nama pun menoleh lalu tersenyum.
"Kayak dikejer setan aja lo. Jatoh nanti lari-lari." Tegur Karina.
"Lo kok di sini? Terus... Bintangnya ke mana?" Tanya Bulan mengabaikan teguran Karina.
Karina tersenyum, "Lagi ada pertemuan keluarga. Gue gak ikut karena ada tugas presentasi. Jadi gue mau ngasih surat izinnya ke wali kelas kalian."
Bulan mengangguk. "Yaudah, gue anterin ke ruang guru."
"Ehh, gak usah. Mending lo ke kelas aja." Tolak Karina.
"Gapapa, gue gabut di kelas sendirian. Ayo," Bulan menarik pergelangan tangan Karina dengan lembut.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke ruang guru sambil sesekali membicarakan hal random yang mereka temukan di sekolah.
Setelah sampai di ruang guru Karina langsung masuk ke dalam dengan Bulan yang tetap menunggu di luar.
"Habis ini langsung ke kampus?" Tanya Bulan sesampainya mereka di parkiran.
Karina mengangguk. "Gue pergi ya, lima belas menit lagi kelasnya mulai. Yang rajin belajarnya, jangan lupa makan." Ujar Karina sambil mencubit pipi Bulan gemas lalu masuk ke dalam mobil.
Bulan pun menjauh dari mobil lalu melambaikan tangannya sampai mobil Karina menghilang dari pandangan. Melirik jam tangannya, dua menit lagi bel berbunyi. Bulan pun bergegas meninggalkan area parkir untuk kembali ke kelas.
...~~~...
Matanya mengerjap pelan menyesuaikan cahaya yang menusuk indra penglihatan. Melirik jam di dinding, "Jam satu?!"
Terdiam sebentar lalu memaksa tubuhnya untuk duduk. Perutnya terasa tidak enak.
"Gue tidur apa pingsan? Buset lama bener!" Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di sebelah tubuhnya lalu melemparnya kembali.
Bangkit dari kasur, Bintang berjalan keluar kamar untuk turun ke lantai satu atau lebih tepatnya dapur. Tenggorokannya terasa kering sekali.
Kakinya menyusuri lantai dua rumahnya, sepi. Lalu turun ke bawah, sepi juga.
Sesampainya di dapur Bintang langsung menuangkan air ke dalam gelas lalu meminumnya dengan cepat. Matanya mengedar ke seluruh penjuru dapur. Hanya ada roti tawar dan beberapa selai dengan berbagai macam rasa.
Bintang mendudukkan bokongnya ke atas kursi meja makan lalu mengambil satu helai roti tawar. Kemudian meraih selai coklat untuk dia oles ke atas roti tawarnya lumayan tebal untuk dilapisi dengan satu roti lagi.
Setelah itu Bintang menuangkan air ke dalam gelas yang tadi dia pakai. Kemudian membawa air beserta rotinya pergi ke kamar.
Duduk di sofa kamarnya sambil menggigit roti dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk menggulir layar ponsel.
Tiba-tiba terlintas di otaknya, Bintang lantas mengarahkan ibu jarinya untuk membuka aplikasi google. Dia ingin mencari tahu sesuatu.
"Ginjal?" Gumamnya. Lalu tangannya kembali sibuk menscrool layar ponsel.
"Widih, bisa mati juga? Gue bakalan mati ya?" Tanyanya pada angin.
Bintang kembali menggigit roti, mengunyahnya dengan sangat perlahan. Kemudian meletakkan ponselnya ke samping.
Memakan rotinya dengan cepat sampai habis lalu minum lagi. Beralih dari sofa kemudian keluar ke balkon kamarnya. Angin langsung berhembus menusuk tubuh setelah Bintang membuka pintu. Matanya terkunci ke rumah yang berada tepat di depan rumahnya.
"Kalo gue mati, gue bisa kasih jantung gue buat Arghi." Ujarnya pada angin.
"Tapi gue belom tentu mati. Kenapa gue udah nethink gini."
Bintang masuk ke dalam untuk mengambil ponsel, lalu kembali ke tempat semula dia berdiri.
"Lo dimana nyet?" Tanya Bintang sedikit ngegas.
"Santai njir, gue lagi di rumah sakit."
"Lo sama Bulan?" Tanyanya lagi.
"Gak, Bulan mulai latihan hari ini. Lo lagi di mana? Belum selesai acaranya?" Tanya Arghi balik.
Dalam hati Bintang berterima kasih kepada Karina yang telah berbohong mengenai alasannya tidak masuk.
"Ini gue lagi di atap gedung, otw lompat ke bawah." Jawab Bintang santai.
"Ohh, kalo lo mati kasih tau gue ya. Gue mau buat party." Ujar Arghi menanggapi candaan Bintang. Setelah itu keduanya tertawa, entah apa yang lucu.
"Udah dulu ye, enam langkah lagi gue-"
"Ehh, tunggu dulu. Bulan selesai jam berapa?" Tanya Bintang cepat sebelum panggilan dimatikan Arghi secara sepihak.
"Jam tiga."
"Oke nyet, babai..." Bintang pun memutuskan panggilan setelah itu menyeret langkahnya masuk ke dalam kamar.
...~~~...
"Okey, sampai di sini dulu latihannya ya. Kalian sudah berlatih keras hari ini. Habis ini jangan lupa istirahat dan makan ya, silahkan pulang."
Keempat orang yang tengah mengatur nafas itu pun mulai bergerak bubar termasuk Bulan. Dia berjalan ke sudut ruangan tempatnya menaruh tas. Duduk terlebih dahulu lalu merogoh isi tasnya untuk mengambil ponsel. Setelah menemukannya Bulan langsung membuka aplikasi chatting.
Ada tiga notif yang masuk, salah satunya adalah Arghi. Bulan pun langsung membukanya.
...Kak Arghi...
Kalo udah selesai langsung telpon kakak
Bukannya menjawab pesan dari Arghi Bulan malah membuka ruang chat yang kedua. Bintang mengiriminya chat tepat di jam 15.00 yang berarti tiga menit yang lalu.
...Bintang Besar...
Allo
^^^Gabut lo?^^^
Baik?
__ADS_1
^^^Lo sehat?^^^
^^^Kok aneh gini?^^^
^^^Kerasukan ya lo?^^^
Udah selesai latihannya?
^^^Lo kenapa sih^^^
^^^Jangan nakutin ah^^^
Gue serius nanya
Udah selesai latihannya?
Bulan terdiam sebentar. Merasa aneh dengan cara mengetik Bintang.
Kok cuma diread?
^^^Gue udah selesai kok^^^
^^^Ini mau siap2 balik^^^
Ok hati2 baliknya
Jangan lupa makan
Bulan diam menatap layar ponselnya, membaca sekali lagi percakapan mereka barusan. Terasa aneh dan ganjil.
"Bulan, kamu gak pulang?" Tanya Dirga yang sekarang telah berdiri tepat di hadapannya. Bulan otomatis langsung bangkit.
"Eh, i-iya kak, ini lagi mau minta jemputan." Jawab Bulan agak terbata-bata.
Dirga diam dengan sorot mata lurus ke arah Bulan sambil tersenyum teduh. Bulan yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah plus was-was.
"Maaf kak, kenapa ya?" Cicit Bulan. Dia lumayan takut karena hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dirga yang ditanyai pun tersentak lalu menggeleng. "Ah, gapapa. Cepet pulang ya, sebentar lagi gelap." Setelah mengatakan itu Dirga langsung berlalu dari hadapan Bulan. Ditatapnya punggung Dirga sampai lelaki berwajah tampan bak anime hidup itu menghilang ditelan pintu.
Termenung sejenak, Bulan mengambil baju sekolahnya dan berjalan ke ruang ganti. Mengganti bajunya dengan kecepatan penuh setelah itu mengemasi barang-barangnya dan bergegas pergi dari ruang dance. Tangan kanannya sibuk menggulir layar ponsel untuk memesan kendaraan.
Sesampainya di gerbang sekolah, sebuah benda berbentuk persegi yang melayang di udara menyapanya. Ebox, mesin kendaraan berteknologi tinggi yang bentuknya seperti sebuah kotak hadiah dengan ukuran yang bisa untuk dimasuki satu orang. Bulan segera menaikinya dan kendaraan pun mulai melayang membelah jalanan.
Di sisi lain, Bintang tengah terkulai lemas di atas kasur. Setelah chattan dangan Bulan tadi Bintang muntah lagi untuk yang kedua kalinya.
Tangannya terulur mengambil ponsel di nakas tapi tak sampai. Bintang menghela nafas lelah sambil menggeser posisi. Duduk setengah bersandar dengan dua bantal yang ditumpuk, lalu mengambil ponselnya.
Belum sempat Bintang memencet tombol telepon, ada panggilan dari seseorang yang baru saja ingin Bintang hubungi.
"Halo Bintang, gue sebentar lagi sampe ke rumah. Lo lagi ngapain? Gak lagi diluar kan?"
"Nggak."
"Lo kenapa Bin?" Karina cemas mendengar suara Bintang seperti orang yang tengah sekarat.
"Gapapa," jawab Bintang seadanya. Tubuhnya terlalu lemas hanya untuk berbicara lebih panjang lagi.
Tiba-tiba panggilan diputuskan begitu saja oleh Karina. Bintang langsung menaruh ponselnya ke sembarang tempat.
"Gue kenapa lemah banget anjir! Sia-sia aja gue nge-gym," gerutunya sangat pelan
Bintang memejamkan matanya, berharap sakitnya berkurang walau sedikit.
Dua menit kemudian matanya terbuka lebar lantaran terkejut. Bintang menangkap sosok Karina yang telah berada di ambang pintu dengan nafas yang tidak beraturan.
"Astaga Bintang?! Ya ampun lo pucet banget. Maaf gue baru dateng, dosennya banyak maunya tadi! Lo pasti belum makan kan? Ini udah gue bawain makanan, lo makan dulu ya. Aduh, baru ditinggal bentar aja lo udah kayak gini. Gimana kalo berhari-hari!"
"Astaga cerewet banget." Ujar Bintang setelah Karina tidak lagi berkicau.
Karina tidak menghiraukan ledekan Bintang. Dia malah pergi dari kamar, lalu kembali lagi dengan seceret besar berisi air putih. Bintang pun sampai melongo dibuatnya.
"Biar gak harus bolak-balik ngambil air." Karina mengambil styrofoam yang berisi siomay di meja nakas dan mengaduknya perlahan. Sebenarnya Karina ingin membeli bubur, tapi tidak ada penjual bubur di sore menjelang malam ini.
"Aaa," bukannya membuka mulut Bintang malah membuang muka sambil menggeleng.
"Perut gue gak enak Rin."
"Ya makanya makan dulu, habis itu minum obat."
"Buat apa gue makan kalo ujung-ujungnya bakal dimuntahin. Mending lo aja yang makan."
"Mana bisa gitu! Pilih mau makan atau mau ke dokter?"
"Dih kok malah ke dokter? Gue cuma gak enak perut doang Karina."
"Mual."
"Ke dokter!"
"Dih, kok ngeyel!"
"Lo yang nge-" belum sempat Karina menyelesaikan kata-katanya Bintang terlebih dahulu kabur.
Karina otomatis bangkit menyusul Bintang yang masuk ke kamar mandi.
"Huekk," hanya cairan bening yang keluar. Bintang meremat perutnya dengan kuat.
"Ke dokter ya, plis turut-" lagi-lagi perkataan Karina terpotong karena tubuh Bintang yang ambruk begitu saja ke lantai.
"BINTANG!"
.
.
.
"DOKTER!" panggil Karina bak orang kesurupan. Beberapa orang pun mulai berdatangan. Tubuh Bintang diangkat dan dibaringkan ke atas brankar.
"Tenang ya, saudara kamu akan baik-baik saja. Percaya sama saya." Karina mengangguk hingga dokter itu masuk ke ruangan tempat Bintang dibawa.
"Bintang," gumam Karina. Cairan bening mulai keluar dari bola mata Karina. Perasaaan cemas, takut, sedih, dan khawatir bergabung menjadi satu.
"Gimana keadaan Bintang?" Tanya Karina cepat saat dokter wanita yang menangani Bintang keluar.
Dokter itu tersenyum. "Bintang baik-baik saja. Mari ikut ke ruangan saya. Hasilnya telah keluar, jadi tidak perlu menunggu besok."
Karina mengangguk lalu berjalan mengikuti dokter tersebut dari belakang.
.
.
"HEH!"
"Astaga kaget!"
"Bener-bener ya nih anak, siapa suruh buka infusan hah?! Ini juga ngapain lo duduk? Baring aja napa sih?! Bisulan punggung lo?" Omel Karina sambil berkacak pinggang.
"Belom kebuka juga," cicit Bintang lalu membuang muka.
"Tapi kalo gue belom sampe ke sini pasti lo udah kabur kan?" Bintang hanya mengangguk dengan wajah yang dibuat-buat seperti anak anjing yang minta dianjingin.
Karina menghembuskan nafas, setelah itu mendorong tubuh Bintang dengan paksa hingga kembali berbaring.
"Buset hulk!" Gumam Bintang yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Karina.
"Gue mau pulang Rin, besok harus sekolah." Pinta Bintang.
"Enak aja! Mau lo ambruk di sekolah hah?!"
"Oh iya, emang gue sakit apa? Pasti parah kan?" Tanya Bintang membuat Karina membisu. Bingung bagaimana cara menjelaskannya.
"Gapapa, kasih tau intinya aja." Ujar Bintang yang mengerti dengan diamnya Karina.
"Ginjal kronis." Singkat, padat, dan jelas.
Bintang terdiam sejenak lalu tertawa kecil.
"Udah gue duga," Karina menatap Bintang dengan pandangan bertanya.
"Gue udah sempet searching di google, dan yang gue dapet selalu berhubungan sama ginjal. Jadi gue gak kaget lagi." Jelas Bintang.
"Lah, kok nangis?!" Tanya Bintang panik sembari mendudukkan tubuhnya.
Karina menggeleng lalu mengusap air matanya. Bintang tersenyum melihat sepupunya itu menangis seperti anak kecil yang terpisah dari orang tuanya.
"Lo gak usah khawatir, gue kuat kok. Buktinya lengan gue berotot, perut gue juga kotak-kotak nih udah kayak roti. Jadi lo gak perlu nangis." Ujar Bintang lembut sambil mengelus rambut panjang Karina.
"Ishh, lo masih aja bercanda. Gue takut," lirih Karina. Air matanya kembali mengalir lebih deras dari yang tadi.
Bintang menggeser tubuhnya sedikit, lalu menarik tubuh Karina masuk ke dalam pelukannya. Membelai rambut Karina dengan lembut sesekali menepuk punggung sempit sepupunya itu pelan.
__ADS_1
"Ututu... jangan nangis lagi, nanti gak dibeliin es krim loh." Refleks Karina melepas paksa pelukan Bintang. Wajahnya berubah keki walaupun masih ada air mata di pipinya.
"Nyebelin banget sih," ketus Karina. Ingin sekali gadis itu memukul lelaki menyebalkan ini sekarang. Namun melihat kondisi Bintang yang seperti minta dikasihani, Karina pun mengurungkan niatnya.
"Nah gitu dong, jangan nangis lagi ya." Sambil mengusap sisa air mata Karina.
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok wanita berparas awet muda yang tidak lain adalah dokter Arina.
"Bintang, gimana keadaan kamu?" Tanya wanita itu.
"Baik dok, pulang ya." Pinta Bintang sambil menatap sang dokter penuh harap. Karina mencibir melihat tingkah menggelikan Bintang.
"Boleh kok, tapi janji harus minum obatnya tepat waktu. Jangan bolong-bolong, jangan sampe kelelahan juga." Peringat Arina yang langsung dibalas dengan anggukan semangat dari Bintang.
"Kok dibolehin sih dok?!" Seru Karina tidak terima.
"Dih, iri bilang bos."
"Gapapa, asal jangan sampe kelelahan. Obatnya juga diminum tepat waktu." Bintang mengangguk semangat lalu menjulurkan lidahnya ke hadapan Karina.
"Sabar, kalo udah masanya bakalan tak hih!" Gumam Karina sambil menatap Bintang tajam.
"Jadi ini infusnya saya lepas sendiri dok?" Tanya Bintang. Tangannya yang hendak melepaskan infus pun terhenti karena dipukul oleh Karina.
"Gak usah ngadi-ngadi! Maaf ya dok, otaknya emang rada konslet." Karina tertawa hambar, sedangkan Arina tersenyum maklum sambil berjalan menghampiri Bintang. Melepas infus yang menempel di tangan pasiennya itu.
"Yes pulang!" Seru Bintang sambil melompat turun dari brankar. Karina membuang muka, menahan rasa malu karena kelakuan kanak-kanak Bintang.
.
.
.
"Bintang? Karin? Kalian kok di sini?" Tanya Bulan yang tiba-tiba saja berada di belakang Bintang dan Karina. Kedua manusia yang dipanggil pun terkejut, lalu menoleh ke belakang. Persis seperti orang yang kepergok setan.
"Bu-Bulan, eh kami itu, anu," Bintang gagap sendiri.
"Muka lo pucet banget Bin, lo sakit?" Tanya Bulan menatap wajah Bintang lekat.
Bintang diam sejenak. "Emang iya muka gue pucet?" Tanya Bintang balik. "Rin, emang muka gue pucet?" Tanya Bintang lagi kepada Karina dengan wajah kebingungan yang dibuat-buat.
"Iya, lo pucet banget." Jawab Bulan sambil mengangguk.
Bintang lagi-lagi diam.
"Oh iya gue baru inget. Tadi kan ada acara keluarga tuh, gue dipakein lipstik dong ama banci. Pas mau hilangin lipstiknya malah kemana-mana, mana susah banget hilangnya. Jadi gue pakein lip tint. Eh malah kek orang sakit gini." Jelas Bintang panjang lebar. Untung saja mulutnya tidak gagap.
Bulan pun mengangguk walaupun masih agak ragu kemudian melirik jam di tangannya.
"Astaga lupa! Karin, Bintang, duluan!" Pamit Bulan cepat lalu berlalu pergi dari hadapan Bintang dan Karina sambil berlari.
"JANGAN LARI HOY, ENTAR JATOH NANGIS!" Teriak Bintang yang membuat banyak pasang mata melihat ke arah mereka.
"Gak usah malu-maluin kenapa sih? Udah ah, ayo balik."
.
.
Bulan yang sedang berjalan cepat di sepanjang koridor rumah sakit langsung melambat saat melihat sang kakak yang tengah berlari dari ujung koridor.
"Kak, jangan lari!" Seru Bulan sambil menahan lengan Arghi.
"Astaga adek udah di sini?! Kenapa gak telpon kakak sih? Adek naik apa ke sini?" Pertanyaan beruntun Arghi membuat Bulan tertawa.
"Kok ketawa?" Bulan menggeleng lalu berhenti tertawa.
"Lucu aja. Ayo ke tempat ayah bunda." Ajak Bulan lalu menarik pergelangan tangan Arghi. Dan di sepanjang perjalanan itu diisi oleh suara Arghi yang sibuk mengomeli Bulan karena tidak memberi kabar. Sedangkan yang diomeli hanya mengangguk-angguk saja tanpa mendengarkan.
Sesampainya di depan sebuah ruang rawat Bulan hanya diam berdiri di depan pintu. Mengintip ke dalam melalui kaca pintu untuk melihat keadaan kedua orang tuanya.
Bulan tersenyum melihat kondisi Cahyo dan Mentari yang terlihat lebih baik hari ini.
"Besok ayah sama bunda udah boleh pulang kok." Arghi memberi tahu.
"Mau pulang?" Tanya Arghi. Bulan diam sejenak lalu mengangguk.
"Iya deh, tapi adek pulang sendiri aja. Kakak di sini jagain ayah sama bunda."
"Mana bisa gitu!" Seru Arghi tidak terima.
"Bisalah, buktinya adek bisa ke sini sendirian. Kak, adek udah besar, kakak gak perlu takut. Udah ya, adek pulang. Jangan lupa makan sama minum obat."
"Tapi-"
"Dadah kakak!"
Arghi menahan Bulan sebelum gadis itu berlalu. "Jangan lupa makan." Pinta Arghi.
.
Bulan turun dari ebox dan berjalan masuk ke perumahannya.
Penjagaan di sini amat sangat ketat karena diisi oleh orang-orang penting dan yang pasti kaya raya. Karena itulah ebox atau apapun itu tidak bisa masuk.
Perjalanan dari gerbang menuju rumahnya lumayan jauh. Padahal hanya perlu melewati 7 rumah. Tapi karena rumah-rumah di sini sangat lebar dan luas rasanya seperti melewati 20 rumah.
"BULAN!" Bulan otomatis mengedarkan pandangannya, mencari asal suara tersebut. Hingga matanya menangkap sosok Bintang yang berada di balkon kamar sambil melambaikan tangan.
"Kok jalan sendirian? Arghi mana?" Tanya Bintang.
"Masih di rumah sakit," jawab Bulan. "Oh iya ada pr geografi. Besok harus dikumpul."
"Buset! Besok bener?" Tanya Bintang dan Bulan mengangguk.
"Ringkas seluruh bab 1." Mata sipit Bintang langsung melotot seketika.
"Mau pingsan aja lah gue "
"Mau ke rumah aja gak nanti? Gue juga belom ngerjain sama sekali." Tawar Bulan.
"Wih, boleh tu. Nanti gue ke rumah lo." Jawab Bintang sambil mengangguk.
"Yaudah gue pulang dulu, mau mandi." Pamit Bulan dan setelah itu berjalan masuk ke rumahnya.
Pukul setengah enam sore Bintang datang ke rumah Bulan lengkap dengan buku dan sebuah pena
"Udah makan?" Tanya Bulan mengawali perbincangan. Bintang pun mengangguk singkat.
Setelah itu ruang keluarga hening tanpa perbincangan. Hanya ada suara televisi yang mengisi ruangan tersebut dengan penghuninya yang sibuk dengan tugas.
"Anjir, masih banyak!" Bintang menyandarkan punggungnya ke kaki sofa.
"Gurunya kenapa gak ngotak sih. Geografi walaupun diringkas juga masih tetep banyak." Gerutu Bintang.
Bulan menghela nafas. "Iya, padahal udah 25 halaman, tapi serasa gak habis-habis. Masih ada 25 halaman lagi."
Bintang melirik ke jam dinding, pukul 19.30.
"Break dulu lah bentar," ujar Bintang.
"Tapi masih banyak, ntar gak selesai-selesai."
"Bentar doang, 10 menit aja." Bulan mengangguk tanda setuju. Mereka memakan camilan yang sedari tadi terbengkalai sambil menatap layar televisi tanpa minat.
Hingga sepuluh menit kemudian keduanya benar-benar melanjutkan tugas masing-masing.
Sampai jam menunjukkan pukul 21.45 pintu rumah terbuka. Arghi yang hendak menaiki anak tangga terhenti karena mendengar suara televisi dari ruang keluarga. Pintu ruang keluarga pun juga terbuka.
"Loh, kalian belum tidur?" Tanya Arghi. Bulan dan Bintang kompak menoleh dengan mata sayu.
"Dikit lagi kak," jawab Bulan singkat lalu melotot agar matanya terbuka kemudian lanjut menulis.
"Kalian ngeringkas satu bab geografi?!" Tanya Arghi lagi sambil berjalan menghampiri Bulan dan Bintang. Bintang berdehem sebagai jawaban.
"Kakak istirahat gih, mandi dulu." Ujar Bulan. Tangannya masih tetap bergerak di atas kertas yang telah banyak terisi dengan tulis tangannya.
"Kalian gapapa? Mau dibuatin kopi dulu?"
"Gak usah, dikit lagi selesai kok." Jawab Bulan.
Arghi mengangguk dan pergi ke kamarnya, meninggalkan dua manusia yang sedang berjuang melawan kantuk demi seonggok nilai.
Tepat pukul sepuluh malam mereka selesai dengan tugas meringkasnya. Berbaring ke atas karpet guna mengistirahatkan tubuh yang kaku sehabis menulis banyak.
"Tangan gue keram asli." Bintang membunyikan buku-buku jarinya.
"Kalian udah selesai?" Tanya Arghi yang baru saja selesai mandi. "Tidur gih, mata kalian udah merah." Ujar Arghi sambil mengelus rambut Bulan yang sedang tiduran di karpet.
"Bin, lo mau di sini atau pulang?"
"Pulang aja gue," jawab Bintang kemudian bangkit dari rebahannya. Mengambil semua buku yang tadi dia pakai, "Gue pulang,"
__ADS_1
Pandangannya teralih ke Bulan yang telah tertidur karena usapan lembut sang kakak. Arghi lantas mengangkat Bulan ke punggungnya. Setelah itu mengambil buku-buku Bulan dan naik ke atas.
Membaringkan tubuh Bulan ke kasur dengan perlahan, Arghi menyelimuti tubuh adiknya sampai sebatas dada. "Tidur yang nyenyak adek." Bisik Arghi tepat di telinga Bulan kemudian mencium pucuk kepala Bulan singkat.