WHY

WHY
Meet Again


__ADS_3

Angin berhembus kencang menusuk kulit tepat saat kakinya menginjak lantai rooftop rumah sakit. Setelah tadi memastikan Bintang tertidur Bulan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Namun perhatiannya sejak tadi tertuju ke seorang lelaki berpakaian rumah sakit. Dirinya merasa familiar melihat punggung itu. Dengan perlahan Bulan berjalan mendekat, hingga tersisa dua langkah lagi Bulan berhenti karena lelaki itu berbalik badan. Keduanya sama-sama terkejut.


"Kak Rey?"


"Bulan?"


Bulan tersenyum kaku. "Kita ketemu lagi." Bulan mengambil tempat di samping Reyhan. Menatap pemandangan kota yang dipenuhi butiran-butiran salju.


"Iya. " 


Sejenak suasana canggung melanda sampai Reyhan membuka suara. "Kamu... gak makan?"


"Apa?" Kening Bulan mengernyit dalam. Bingung dengan maksud perkataan cowok disampingnya itu.


"Terakhir kita ketemu, kamu kurus. Sekarang tambah kurus."


Bulan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku mati dong kak kalo gak makan."


Reyhan tertawa mendengar jawaban polos Bulan. Tidak salah sih, tapi bukan itu jawaban yang dia inginkan. "Maksud kakak kamu jarang makan ya? Ada masalah? Sampe ngaruh ke berat badan kamu."


"Gak ada," jawab Bulan singkat.


Merogoh kantung bajunya, Reyhan mengambil tangan kiri Bulan. Menulis sesuatu di sana. "Hubungi kakak kalo kamu butuh sesuatu atau seseorang." Bulan menatap manik karamel itu lalu tersenyum tulus.


"Em, makasih kak."


"Kakak sakit apa?"


"Gapapa, cuma kecapekan aja."


"Kalo sampe dirawat berarti capek banget?"


"Kamu di sini ngapain?" Reyhan mengalihkan pembicaraan dan Bulan sadar akan hal itu.


"Ne-" pandangan keduanya teralih saat pintu rooftop terbuka.


"Maaf bos, saatnya kem-"


"Ahh iya iya, saya ke sana sebentar lagi." Hembusan nafas panjang terdengar saat pintu kembali tertutup.


"Kak Rey mau balik? Ayo aku anter."


"Ah, gausah."


"Udah ayo," Bulan menarik paksa tangan cowok itu.


Keduanya pun berakhir di depan ruangan yang akan Reyhan tuju. "Kakak masuk ya," Bulan mengangguk kaku. Hingga tubuh cowok itu menghilang Bulan masih saja terdiam di sana. Otaknya berusaha menyangkal fakta, membuang pikiran buruknya jauh-jauh, menganggap bahwa dia salah lantai.


"Permisi mbak."


"Ah iya, maaf dokter." Bulan pun menyingkir, memberi ruang untuk dokter masuk ke dalam.


Sepuluh menit Bulan masih berdiri di sana hingga dokter tadi keluar. "Maaf dok, pasien di dalam lagi kemoterapi?"


"Iya benar. Anda kerabatnya?"


Bulan menggeleng. "Saya temennya."


"Jika anda berkenan tolong temani pasien di dalam. Ini kemoterapi pertamanya."

__ADS_1


Bulan mengangguk, lalu masuk ke dalam tanpa suara. Menatap sendu remaja yang tengah memejamkan matanya erat. Obat itu sedang bereaksi.


Duduk di samping brankar, Bulan menggenggam jemari besar itu. Membuat Reyhan tersentak kaget dan membuka mata, menatap Bulan dengan pandangan tak percaya.


"Aku temenin kakak kemo. Bilang ya kalo mual."


"Kamu tau dari mana?"


"Aku udah kenal lama rumah sakit ini. Setiap lantainya aku hafal. Dan lantai ini khusus buat yang sakit kanker," suara Bulan mengecil diakhir.


Bulan mengambil pena di meja nakas, menulis sesuatu di telapak tangan Reyhan. "Kalo kakak butuh temen panggil aku aja."


Setelah menemani Reyhan kemoterapi Bulan kembali ke ruangan Bintang. Cowok itu telah mengganti pakaiannya, bersiap untuk pulang.


"Lo dari mana aja?! Gue kira lo diculik tau gak."


"Gue bukan anak kecil ya."


"Muka lo itu polos-polos kayak bocah, mudah ditipu."


"Gue udah gede ya, bocah itu buat anak kecil."


"Iyain aja nanti nangis."


Bintang sigap menangkap tangan Bulan yang akan melayang ke lengannya.


"Serius, lo dari mana?"


"Dari lantai tiga."


"Siapa yang kanker?" Raut Bintang terlihat panik. Pemikiran buruk sontak memenuhi otaknya.


"Temen."


"Ya temen."


"Temen sekolah?"


"Bukan."


"Cowok?"


"Iya."


"Btw lo udah mendingan? Perut lo aman kan pas gue tinggal?" Bintang mengangguk.


"Temen yang mana? Gue pernah liat gak?" Bintang masih melanjutkan interogasinya.


"Ya... pokoknya temen. Lo gak pernah liat dia. Emang kenapa sih?"


"Gapapa," singkat padat dan jelas membuat Bulan mencebik kesal. 


"Pulang sekarang?" Dan Bintang lagi-lagi hanya mengangguk. Memilih abai, Bulan pun mengikuti langkah Bintang yang sudah keluar terlebih dahulu. 


"Eh kok lewat?" Tanya Bulan heran saat mobil melaju lurus. Sedangkan arah rumah keduanya berbelok ke kiri. Bintang tak menjawab sampai mobil terhenti di sebuah cafe.


Bintang menatap Bulan lalu tersenyum manis. "Nongki dulu kita."


"Mau minum apa?"

__ADS_1


"Vanilla latte, yang dingin ya." Pinta Bulan dengan senyum manis. Bintang mencubit hidung Bulan gemas. Gadis itu akan selalu meminta minuman dingin walau sedang badai salju sekalipun.


"Ya udah, sana duduk." Bulan mengangguk lalu berlari kecil ke tempat kosong di pojokan. Suasana cafe tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi. Sangat pas untuk bersantai sembari melihat pemandangan salju.


Tak lama kemudian Bintang datang meletakkan nampan di atas meja. Keduanya pun tenggelam dalam percakapan ringan. Sesekali Bintang harus meringis karena lengannya dipukul lagi. Hingga minuman keduanya habis, seseorang datang dan duduk begitu saja di samping Bintang.


Queen, siswi kelas dua belas sekaligus teman sekelas Arghi. Pembully nomor satu di sekolah, dan yang paling gencar mengejar pria tampan.


"Hai Bintang, apa kabar?" Tanyanya sambil merangkul lengan Bintang. Bahkan merebahkan kepalanya ke bahu lebar Bintang. Bulan dapat melihat raut tak nyaman di wajah Bintang. Bahkan cowok itu tak segan-segan mendorong Queen dan bangkit berdiri memegang pergelangan tangan Bulan. "Ayo pulang."


Queen mendelik tak suka, namun diam saja saat Bintang dan Bulan berlalu.


"Bilang ke gue kalo dia gangguin lo di sekolah nanti."


...~~~...


Bulan merebahkan kepalanya ke lengan Bintang. Dan Bintang ikut merebahkan kepalanya ke atas kepala Bulan. Tatapan keduanya lurus ke televisi. Percayalah keduanya tidak sedang menonton, melainkan meratapi kegabutan.


"Sepi banget ya," Bintang mengangguk.


"Kak Arghi sama kak Dirga kapan pulang sih." Bintang menggeleng pertanda tak tahu.


"Coba kita ikut aja ke Brazil," Bintang mengangguk.


"Olahraga yuk," Bintang menggeleng ribut.


"Ntar lo tambah kurus kalo olahraga!"


"Dih, olahraga bikin sehat. Bukan kurus!"


Bintang menghela nafas lalu menggeleng. "Orang kalo mau kurus biasanya ngapain?"


"Olahraga,"


"Nah... jadi kesimpulannya olahraga bisa menyebabkan?"


"Kurus," jawab Bulan ragum


"Pinter," Bintang menepuk pelan kepala Bulan. 


Bintang meraih pergelangan tangan Bulan. Memegangnya dengan jari jempol dan kelingking.


"Liat, gue pegang kek gini aja masih ada ruang saking gak ada dagingnya tangan lo."


"Coba deh, banyakin dikit porsi makan lo. Biar ada isi dikit tuh badan. Gue kadang takut lo ketiup angin saking kurusnya."


"Ini nih, tukang body sliming."


"Body shaming njir, bukan sliming."


"Sama aja "


"Beda!"


"Y,"


"Z."


Perdebatan keduanya pun berakhir di sana.

__ADS_1


"Besok gue ke kantor, lo ikut ya." 


"Y."


__ADS_2