WHY

WHY
War-2


__ADS_3

"Balas dendam masa lalu."


"Mau balas dendam? Ke gue aja, gak usah bawa-bawa orang lain. Gue yang paling tua di antara mereka. Silahkan lo mau ngapain gue tapi tolong, lepasin mereka." Arghi menggeleng ribut mendengar perkataan Dirga.


"Gue aja, umur gue gak lama lagi."


"KALIAN BERDUA APAAN SIH!" Bulan berteriak marah mendengar kedua kakaknya asal bicara.


Pria bertopeng itu tertawa keras. "Wah... persaudaraan yang erat."


"Ayo berperang sebagai manusia dan manusia. Aku tak akan menggunakan kekuatanku." 


Salah satu bawahan pria bertopeng itu maju menarik Bintang untuk berdiri lalu didorongnya ke arah Arghi. Untungnya Arghi memiliki reflek yang bagus membuat Bintang tidak harus terjatuh ke lantai lagi.


PRAAANGG


Suara pecahan kaca menarik perhatian semua orang. Helikopter mengambang di sana, mengeluarkan pasukan yang Arghi panggil. Seketika pertarungan itu tidak bisa dihindarkan. Lantai tiga yang tadinya sunyi berubah gaduh dan kacau balau.


"Kak, lindungi adek. Gue jagain Bintang di sini." Dirga mengangguk lalu segera berlari ke arah Bulan yang telah bergerak gesit mematahkan lawan.


"Bin, lo masih bangun kan?" 


Bintang tertawa kecil walau akhirnya meringis. "Gue gak selemah itu."


"Pake senjata ini, pukulan lo gak akan sekuat biasanya dengan kondisi lo yang sekarang." Bintang menerima sebuah tembakan yang cukup berat membuatnya sedikit mleyot.


"Kuat kagak lo megangnya?" Arghi bertanya khawatir. Bintang melambaikan tangannya tanda dia baik-baik saja. Menyuruh Arghi fokus pada lawan.


"Ar, lo harus kuat." Bintang menatap Arghi sendu. Dia tahu dada Arghi sedang berulah dilihat dari gelagat dan pucatnya bibir sang sahabat.


"Gue titip adek ya." Setelah mengatakan itu Arghi kembali fokus ke lawan. Meninggalkan Bintang yang terdiam mendengar ucapan Arghi.


Di sisi lain Dirga tengah kewalahan mengatasi lawan yang mengepung dirinya. Hampir belasan orang yang menyerangnya dari berbagai sisi. Setelah bertahan selama delapan menit Dirga terjatuh karena tendangan kuat dari arah samping. Bulan yang melihat itu pun bergegas menolong Dirga untuk kembali berdiri. Setelah itu keduanya kembali fokus melumpuhkan lawan, hingga suara alat komunikasi di telinga membuat Dirga menahan nafas. Dimas mengatakan bahwa di lantai satu dan dua banyak sekali pasukan lawan yang mulai menyerbu.

__ADS_1


"Arghi, darurat satu. Kerahkan ke lantai satu dan dua." Arghi di seberang sana menjawab singkat.


Dirga menahan pergerakan lawan yang ingin memukul Bulan dari belakang. Memutar pergelangan tangan itu cepat membuat sang lawan mengerang keras. 


Dirga menatap Bulan yang terdiam. "Dek?"


Bulan tak bergeming. Tenggorokannya tercekat. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, seseorang menendang dada Arghi dengan sangat kuat sampai sang kakak membentur tembok. Dengan langkah tergesa-gesa Bulan menghampiri kakaknya yang telah terduduk tak berdaya ke lantai.


"Kak, kakak denger adek?" Bulan menangkup wajah pucat Arghi. Menepuknya pelan berharap Arghi merespon panggilannya.


Mata indah Arghi terbuka perlahan, menatap sendu Bulan yang sudah berkaca-kaca. "Sa...kit," Bulan tidak akan mengerti ucapan Arghi jika dia tidak memperhatikan gerak mulut Arghi saking lirihnya suara lelaki itu.


"Kak, jangan tutup mata dulu ya. Adek minta bantuan dulu." Belum sempat Bulan mengambil ponselnya tendangan keras dari belakang menghentikan Bulan. Kuatnya tendangan orang itu membuat punggung Bulan serasa patah. Belum lagi kepalanya yang terbentur dinding akibat dorongan tendangan itu membuat dunia serasa berputar. Bulan menggeleng kuat kepalanya mengusir rasa pening lalu bangkit menendang area terlarang sang lawan tak kalah kuat. Arghi menatap nanar adiknya. Ingin sekali memberi pelajaran untuk orang yang telah melukai adiknya. Tapi dirinya terlalu lemas untuk sekedar membuka mata.


Setelah memastikan orang itu tak bangun lagi Bulan mengambil ponselnya.


"Kak Arghi sekarat." 


"Tunggu sebentar." Tak lama dari itu datang orang-orang suruhan Dirga, mengangkat tubuh Arghi menuju helikopter yang telah datang. Bulan mendatangi Bintang yang tengah duduk bersandar ke dinding.


Bintang membuka matanya sayu, menatap Bulan dari kepala sampai ke ujung kaki. "Maafin gue."


"Tahan ya," Bulan membantu Bintang untuk berdiri namun cowok itu menahan dengan sisa tenaganya yang tidak seberapa.


"Musuh kita banyak. Gue masih kuat kok," bohong. Faktanya dirinya tengah menahan diri untuk tidak menutup mata. Darahnya terus mengalir membuat pandangannya terus-terusan memburam. Bahkan dia tidak akan tahu yang mendekatinya itu Bulan jika saja gadis itu tidak bersuara.


"Bintang plis," Bulan merampas senjata Bintang, menarik laki-laki itu berdiri. Bahkan mengendong Bintang di punggungnya dan berjalan cepat menuju helikopter.


"CEPAT BAWA KE RUMAH SAKIT!" Setelah mengatakan itu Bulan kembali masuk ke area peperangan. Matanya mengedar ke penjuru ruangan, mengernyit saat tidak mendapati Dirga di mana pun. Ke mana dia?


Dirga berada di lantai satu untuk membantu pasukannya yang terkepung. Dimas di seberang sana telah terkapar tak berdaya dengan dua luka tusuk di punggung dan kakinya. Keadaan semakin genting.


"Ed, darurat!" Seru Dirga melalui alat komunikasi. 

__ADS_1


Beberapa saat kemudian rombongan menerobos masuk dengan ganasnya. Membabi buta membasmi lawan tanpa ampun. Nafas Dirga terengah-engah. Pukulannya tidak lagi kuat karena tenaganya sudah banyak terkuras. Belum lagi karena luka-luka di tubuhnya. Dirga meraup oksigen rakus, lalu kembali memukul lawan. Tanpa menyadari seseorang datang mendekatinya.


JLEEBB


Pergerakan Dirga terhenti.


"Argghhh..." Pisau itu dicabut dari punggung Dimas. Dirga dengan sigap menangkap tubuh Dimas yang limbung ke lantai. Bulir bening jatuh dari pelupuk matanya. Menatap sendu sahabatnya yang tengah kesulitan meraup oksigen.


"Maaf Ga."


"Gue mau donorin jantung dan ginjal gue buat dua adek lo. Ini permintaan terakhir gue," Dirga menggeleng ribut.


"Lo bakal selamat Dimas, bentar gue panggil bantuan." Dimas memegang pergelangan tangan Dirga lalu menggeleng lemah.


"Udah waktunya gue nyusul mama papa, mereka udah nungguin gue." 


"Makasih buat waktunya selama ini, dan maaf-" belum sempat Dimas menyelesaikan kata-kata terakhir matanya telah tertutup. Dirga menepuk pipi Dimas berharap mata itu kembali terbuka. Namun tetap tak ada respon.


Dirga meletakkan tubuh tak bernyawa itu lalu bangkit. Aura mencekam langsung menyelimuti. Matanya menatap tajam sang pelaku. Orang itu adalah orang yang sama dengan yang menendang dada Arghi dan hampir memukul Bulan.


"Belum mati juga lo," desis Dirga tajam. Lantas dengan buasnya langsung memukul sang lawan dengan membabi buta. Bahkan setelah sang lawan mati pun Dirga tidak mengehentikan pukulannya.


"Kak, dia udah mati. Jangan buang-buang tenaga kakak. Adek di sini, semua akan baik-baik aja." Bulan memeluk Dirga sambil mengusap-usap punggung lebar itu. Seketika itu juga Dirga menangis sejadi-jadinya. Hatinya sakit sekali. Kehilangan sahabat yang telah dia anggap saudara sangatlah menyakitkan. Belum lagi keadaan Arghi dan Bintang semakin membuatnya histeris.


"Maafin kakak, kakak gak becus jagain kalian." Bulan menggeleng cepat.


"Gak semua kakak bisa menghadapi masalah sebesar ini, cuma kakak yang bisa. Kakak bener-bener udah jadi kakak terhebat di dunia ini. Kak Arghi juga pasti berpikiran sama." Bulan melepaskan pelukannya, memandang Dirga dengan senyuman tulus. "Makasih udah lahir jadi kakaknya Bulan." Bagai mantra ajaib, sudut bibir Dirga tertarik membentuk senyuman.


"Ayo kita berjuang, sedikit lagi." Dirga mengangguk kecil.


Dua kakak beradik itu kembali ke medan perang. Membasmi lawan tanpa ampun. Pertarungan dilewati dengan sedikit mudah dengan bantuan pasukan terakhir. Semua pasukan lawan gugur tanpa ada yang tersisa. Menyisakan pria bertopeng itu seorang diri.


"Aku kalah," dengan mudahnya pria tersebut menghilangkan diri membuat semua pasukan syok. Bahkan mereka sampai mengucek mata karena merasa terlalu konyol melihat hal yang mereka yakini hanya ada di dunia dongeng.

__ADS_1


Sedangkan Bulan tidak memusingkan hal itu. Membantu Dirga bangkit menuju ke helikopter. "Ayo ke rumah sakit."


__ADS_2