
Jam telah menunjukkan ke pukul 08.45 pagi. Arghi dan Bulan diam sejenak memandang banyaknya anak osis yang terlihat sibuk berjalan ke sana kemari mengurus persiapan. Kurang lebih 15 menit lagi acara dimulai, aula pun mulai terisi penuh.
"BULAN!" Lisa datang menghampiri.
"Kata kak Yohan kita duduk di sana. Biar habis acara formal kita langsung ganti baju." Jelas Lisa sambil menunjuk ke barisan paling belakang sebelah kiri tepat di samping pintu darurat.
Bulan mengangguk, lalu menoleh ke arah Arghi. "Semangat tampilnya." Ujar Arghi sembari mengelus surai adiknya. Bulan mengangguk semangat lalu pergi bersama Lisa.
"Bro!" Seru Yozi melambaikan tangannya. Arghi menoleh, menangkap tiga sahabat setannya duduk di barisan paling belakang. Sudah Arghi duga, mustahil mereka mau duduk di barisan depan.
"Adek lo mana?" Tanya Yozi.
"Dih, ngapain lo nanyain adek gue?" Tanya Arghi sewot.
"Najis posesif," cibir Yozi.
"Shht, udah dateng." Tegur Haris.
Semua siswa seketika hening sesaat setelah mendengar suara ketukan sepatu pertanda orang-orang penting telah tiba.
...~~~...
"Ayo keluar." Ujar Yohan pelan saat orang-orang penting di depan sedang sibuk berfoto.
Bulan, Lisa, dan Jeran pun mengikuti langkah Yohan menuju ke ruang dance.
Sesampainya di sana mereka langsung memakai kostum yang telah disiapkan di ruang ganti. Setelah itu duduk diam selagi penata rias menghias wajah mereka.
"Kostum kita lumayan berat, dan 20 menit lagi kita tampil. Mau latihan dulu buat pemanasan?" Tanya Yohan.
"Setuju, sekaligus pembiasaan diri sama kostum." Ujar Jeran.
Lisa ikut mengangguk. "Hooh, asli berat banget nih baju anj-" Jeran membekap mulut Lisa. "Bahasa mu beb," tegur Jeran.
"Yaudah langsung aja."
Bulan akui kostum ini memang berat. Pantas saja Dirga menyuruh mereka latihan menggunakan pakaian yang tebal. Ternyata ini maksudnya.
"Bagus, kita sudah leluasa dengan kostumnya. Kalian boleh istirahat sembari menunggu acara dimulai." Ujar Yohan lalu keluar dari ruang dance dengan tergesa-gesa.
"Kasian kak Yohan, pasti capek banget. Udah ngurus ini itu, habis itu harus tampil." Gumam Lisa.
"Resiko dia jadi ketos sih. Untung aku gak ikutan kemarin."
"Dih, kalo kamu ikutan siapa juga yang mau milih kamu." Celetuk Lisa.
"Kamu lah beb," Jeran berujar dengan percaya diri.
Lisa mencebik. "No, big no. Aku gak bakalan milih kamu. Bisa berabe sekolah ini kalo kamu jadi ketos."
"Kamu mah jahat banget sama pacar sendiri."
"Kring kring bunyi kaktus, pacaran aja sampe mampus." Sindir Bulan.
Kedua orang yang merasa tersindir pun menoleh.
"Makanya pacaran sono ama Bintang." Seru Lisa sambil menempelkan wajahnya ke bahu Jeran.
"Aduh beb, nanti make up kamu luntur! Bentar lagi kita tampil loh." Jeran mendorong kepala Lisa menjauh dari bahunya lalu menatap Bulan.
"Lagian Bintang ganteng, bodynya bagus, pinter, kaya, idaman, perfect, kurang apalagi? Pacaran aja."
Bulan meringis mendengar ujaran Jeran. Otaknya seketika tertuju akan kejadian di kamar mandi waktu itu.
"Bintangnya yang gak cocok sama gue kak, dia terlalu perfect buat gue. Lagian, Bintang cuma nganggep gue temen."
Lisa dan Jeran sontak tertawa terbahak-bahak mengundang sorot bingung yang ditertawakan.
Lisa berhenti sejenak untuk meredakan tawanya. "Nih ya, Rembulan gue kasih tau. Dari cara Bintang tatap lo aja tuh udah kelihatan. Walaupun gue baru kemarin liat Bintang secara live dari deket, mata gak akan pernah bisa bohong." Jelas Lisa panjang lebar.
__ADS_1
Pintu terbuka membuat ketiganya menoleh bersamaan.
"Waktunya tampil." Bulan, Lisa, dan Jeran sontak langsung berdiri.
Yohan mendekat lalu menjulurkan tangannya ke depan. Jeran pun meletakkan tangannya di atas tangan Yohan, diikuti oleh Lisa dan Bulan.
"Buat semua orang terpana dengan penampilan kita, dan jangan lupa ekspresi kalian." Tegas Yohan.
"YOO!" Teriak keempatnya kompak.
Mereka keluar dari ruang dance. Berjalan beriringan menuju ke aula utama.
Sesampainya di sana mata Bulan langsung menatap takjub barisan marching band yang telah siap dengan alatnya masing-masing. Mereka memang akan sedikit berkolaborasi dengan ekskul marching band.
Keempatnya pun bergabung ke dalam barisan.
"30 DETIK LAGI!" Teriak pak David selaku penanggung jawab acara. Semua murid langsung mengambil posisi.
"Astaga kok gue gugup." Bisik Lisa menggenggam tangan Bulan erat.
Bulan tersenyum menenangkan. "Dibawa enjoy aja. Dinikmatin biar gak gugup."
Lalu pintu aula tergeser, diikuti suara terompet yang membuat semua murid yang berada di dalam praktis menoleh.
Barisan marching band mulai memainkan alat-alat mereka sambil berjalan masuk ke dalam aula. Keempat dancer yang berada di barisan paling belakang pun ikut berjalan.
Saat marching band telah berbaris di depan untuk memulai aksi mereka, keempatnya mulai berpisah. Bulan dan Yohan menunggu di tangga panggung sebelah kanan. Sedangkan Lisa dan Jeran di sebelah kiri.
Tepat setelah sang mayoret terlempar ke atas, lampu aula pun padam.
Lima detik kemudian lampu gantung menyoroti panggung. Memperlihatkan keempat dancer yang telah mengambil posisi mereka.
Tepuk tangan dan sorakan semangat dari para murid langsung mengisi aula.
"Waw, so emejing." Arghi menatap takjub ke depan.
"Habis ini siap-siap gue mau ngelamar adek lo." Celetuk Bintang tanpa mengalihkan tatapannya dari panggung.
"Padahal gue sering liat adek ngedance, tapi tetep aja speechless." Arghi menoleh menatap Bintang yang masih terdiam.
"Fix, gue mau lamar adek lo."
Arghi menatap Bintang malas. "Gak gue restuin, Bulan masih kecil."
...~~~...
Usai semua penampilan para murid dibiarkan berkeliaran bebas di lapangan yang telah terisi dengan berpuluh-puluh stand makanan.
"KAK!" Panggil Bulan.
Senyuman Arghi mengembang setelah Bulan berada di hadapannya.
"Adek siapa sih, keren banget." Puji Arghi sambil mengelus kepala Bulan lalu dipeluknya erat. Yang dipuji pun hanya tersenyum malu.
"Baju lo berat banget keliatannya?" Tanya Bintang.
"Iya emang berat."
"Yaudah kita cari tempat duduk aja." Ajak Arghi.
Mereka membeli makanan terlebih dahulu, setelah itu barulah mencari tempat duduk yang enak.
"HOY!" Seru Yozi sambil melambaikan tangannya.
Bulan, Arghi, dan Bintang pun bergabung dengan Haris dan Yozi yang sedang duduk di bawah pohon dengan segala macam makanan di depan mereka.
"Kapan boleh pulang?" Tanya Bintang dengan mulut penuh.
"Gak tau." Jawab Yozi.
__ADS_1
"Bulan," Semuanya langsung menoleh ke asal suara.
Lisa yang ditatap pun tersenyum canggung. "Mau ganti baju gak?"
Bulan mengangguk cepat lalu bangkit berdiri. Berjalan pergi mengikuti langkah Lisa dan Jeran menuju ruang dance.
"Akhirnya lepas juga tuh baju besi." Lisa menghela nafas lega.
"Yuk langsung keluar. Ruangannya mau dipake lagi." Ajak Lisa menarik tangan Bulan pergi dari ruang dance.
"Tapi kita belum hapus make up."
Lisa berhenti berjalan, lalu menoleh ke samping. "Jarang-jarang lo make up, jadi nanti aja hapusnya pas di rumah. Tunjukkin ke orang-orang mata lo yang berkarisma itu, biar mereka gak lagi ngerendahin lo."
Lisa menepuk bahu Bulan. "Gue pergi dulu ke ayang bebeb." Lalu pergi dari hadapan Bulan sambil melambaikan tangannya.
Menghela nafas, Bulan berjalan kembali ke tempat kakaknya berkumpul.
"Kapan boleh pulang ya?" Tanya Bulan sesampainya di sana.
"Kan belum tau dek." Jawab Arghi.
Bulan menghela nafas pasrah lalu meminum minumannya.
"Kenapa?" Tanya Arghi heran.
"Pengen hapus make up, gak enak banget rasanya. Tapi gak tau gimana caranya."
Ketiga lelaki yang sedari tadi hanya diam sontak menoleh ke arah Bulan dengan tatapan tak percaya.
"Demi apa? Terus selama ini lo lomba dance atau yang lainnya gak dandan?!" Tanya Bintang syok.
Arghi tertawa kecil. "Biasanya cuma pake bedak bayi sama lip gloss doang."
"Ar, kayaknya lo harus cari pasangan deh biar ada yang ngajarin Bulan." Saran Yozi.
"Karin sering nawarin diri buat ngajari Bulan make up, tapi dianya aja yang gak mau. Kebanyakan ngedance sama belajar ya gini, gagal jadi cewek dianya." Celetuk Bintang dan tanpa basa-basi Bulan langsung memukul bisep Bintang tanpa perasaan.
"Sakit ******!" Seru Bintang.
"Ngebacot lagi, gue koyak mulut lo sampe jadi joker."
"SEMUANYA MASUK KE AULA!" Suara Yohan memenuhi seluruh penjuru sekolah. Semua anak pun mulai berhamburan masuk ke dalam aula.
Aula hening saat pemilik sekolah, Cahyo dan istri, masuk ke dalam dan naik ke atas panggung. Cahyo mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dengan mata bak burung elangnya, lalu tersenyum.
"Selamat siang anak-anakku sekalian. Hari ini, kita telah merayakan ulang tahun sekolah kita yang ke-12 dengan sangat meriah. Terima kasih untuk anak-anak yang telah menampilkan bakat kalian sehingga acara ini berlangsung sangat meriah. Mungkin itu saja, maaf kami tidak bisa berlama-lama. Tetap semangat belajarnya anak-anak."
Tepuk tangan mengiringi kepergian Cahyo dan Mentari. Setelah itu kepala sekolah naik, mengucapkan beberapa kata, lalu membubarkan acara.
Sesampainya di rumah Bulan langsung berlari ke kamar, masuk ke kamar mandi, lalu membuka ponselnya. Mengetik di pencarian bagaimana caranya menghapus make up.
Tok Tok Tok
"Dek, kakak masuk ya?"
"Iyaa."
Arghi geleng-geleng kepala saat matanya menangkap sosok Bulan yang tengah menscrool ponsel.
"Nih, pake ini." Arghi memberikan sebuah botol berukuran sedang, mirip dengan wadah sang kakak.
"Basuh dulu mukanya pake sabun muka sampe bersih." Bulan langsung menuruti perkataan Arghi.
"Udah."
Arghi mendudukkan Bulan di kursi, lalu menuangkan pembersih wajah yang tadi dibawanya ke kapas. Tangannya mulai bergerak lembut membersihkan sisa make up di wajah Bulan.
"Selesai."
__ADS_1
"Udah? Gitu aja?" Tanya Bulan dan Arghi mengangguk lalu membuang kapas ke tempat sampah.