
"Udah?"
Yang ditanya mengangguk. "Mereka semua mantan narapidana, pengangguran, belum pernah menikah, dan tempat tinggalnya pun tidak menentu. Lokasi mereka sekarang juga tidak bisa ditemukan lokasi pastinya karena mengarah ke daerah yang tidak terjamah cctv."
"Baik, terima kasih. Kau boleh keluar sekarang,"
Bintang memijat pelipisnya pelan mengurangi kadar pening yang menyengat. Nafasnya terhembus berat melihat kertas yang bertumpuk tebal di hadapannya.
Tok tok tok
"Hmm,"
Pintu dibuka pelan oleh Daffa. "Maaf menganggu, tuan Dimas telah datang."
Bintang mengangguk. "Tunggu sebentar."
Daffa masuk lebih dalam kemudian menutup pintu.
"Lo sakit? Mau gue gantiin?"
Bintang menggeleng kemudian bangkit dari duduknya. Mengancing jasnya terlebih dahulu lalu keluar dari ruang pribadinya.
"Maaf saya terlambat." Lelaki itu menoleh lalu tersenyum tipis.
Namanya Dimas. Dialah tangan kanan perusahaan Cahyo, orang terpercaya sekaligus sahabat Dirga sejak dari zaman zigot di Amerika.
"Gak masalah, dan tolong jangan terlalu kaku. Kita cuma berdua di sini."
Bintang tertawa pelan. "Oke."
Dimas memberikan sebuah kertas kepada Bintang. "Habis ini lo pulang aja sana, istirahat." Ujar Dimas prihatin melihat betapa pucat bibir rekannya ini.
Bintang memberikan kertas yang telah dia tanda tangani. "Masih banyak kerjaan."
"Kan lo banyak anak buah, santai aja kali. Toh duit lo juga dah banyak."
"Gue gak bisa tenang kalo belum nangkep orang yang nyulik Bulan."
"Btw soal penculikan, tuan Cahyo marah besar pas tahu Arghi kena tusuk karena nyelamatin Bulan. Gue juga gak tahu beliau dapet informasi ini dari mana. Sedangkan posisi beliau sekarang masih di Aussie. Mungkin dari orang suruhannya."
Bintang bersandar ke punggung sofa. "Dia bakalan pulang gak?"
Bahu Dimas terangkat tanda dia pun tidak tahu.
"Kalo gitu aman berarti."
Dimas menggeleng ribut. "Tuan Cahyo bisa ngelakuin apa aja. Bahkan beliau bisa nyuruh seseorang gantiin dia buat nyelakain Bulan."
Bintang mendesah berat. "Bapak tua itu nyusahin aja." Bintang kembali memijat pelipisnya yang semakin berdenyut.
"Selagi tuan Cahyo belum pulang mungkin aman. Tapi tetap harus berhati-hati."
"Gue balik dulu ya, banyak kerjaan. Istirahat lo."
Bintang mengangguk. Memejamkan matanya untuk meredakan rasa pening hingga suara pintu terbuka membuatnya kembali membuka mata.
"Lo pulang sana," Daffa mendekat.
"Tapi-"
"Ck, bacot lo. Banyak babu buat lo suruh, gak perlu turun tangan kalo lagi sakit."
"Udah sana pulang," Daffa menarik Bintang ke pintu keluar.
"Yaudah, gue pulang dulu."
"Y."
Bintang geleng-geleng kepala. Begitulah Daffa dengan sifat tsundere tingkat tingginya.
Kakinya melangkah ke parkiran gedung. Menyalakan mobilnya lalu keluar dari area perusahaan.
Langit hari ini sangat cerah. Cocok untuk piknik di taman bersama keluarga atau pacar. Bintang menoleh sekilas ke kanan, lalu menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ada seorang anak kecil terduduk di jalur khusus ebox sambil menangis. Lutut anak itu pun terlihat berdarah. Lantas Bintang pun turun menghampiri anak perempuan itu.
__ADS_1
"Adek, kenapa di sini? Orang tuanya ke mana?" Tanya Bintang sambil mengangkat anak itu ke tepi jalan.
Anak itu menggeleng.
"Adek ke sini sama siapa?" Tanya Bintang lembut.
"A-ayah" Jawab anak itu tersendat.
"Tadi ayah tiba-tiba tidul, habis itu dibawa olang naik mobil putih."
Bintang meringis. Apa ayah anak ini pingsan? Kenapa orang-orang itu tidak membawa gadis kecil ini juga.
"Adek mau ikut kakak? Kita cari ayah." Anak itu sontak mengangguk cepat.
Zrass
Bintang terbelalak kaget saat hujan tiba-tiba turun sangat deras. Dengan segera Bintang menggendong anak kecil tadi. Tangannya terangkat untuk melindungi kepala kecil itu dari hujan walaupun sebenarnya tidak mempan.
Sesampainya di mobil keduanya telah basah kuyup. Bintang pun mengambil selimut di belakang, mengelap tubuh anak perempuan yang telah menggigil kedinginan.
"Nama adek siapa?"
"Gina."
Setelah tubuh Gina kering walaupun baju dan rambutnya basah, Bintang mengambil selimut satu lagi untuk menyelimuti tubuh Gina. Setelah itu menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
"Apa ada pasien yang tadi dibawa ke sini oleh ambulans?"
Suster yang bertugas di bagian resepsionis itu mengangguk. "Pasien telah dipindahkan ke ruangan 145 lantai tiga."
"Baik, terima kasih." Bintang berjalan sambil menggandeng Gina ke lantai dua.
Tok tok tok
Tanpa menunggu lama pintu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan bekas air mata di wajah menyapa indra penglihatan Bintang.
"Mama,"
Wanita paruh baya itu terkejut. "Sayang, astaga kamu gapapa nak? Ya ampun." Wanita tadi menangis sambil mengecup setiap inci wajah anaknya.
"Kamu jadi basah kuyup begini. Masuk dulu yuk, ganti baju dulu."
"Ah, gapapa gak perlu. Saya juga habis ini langsung pulang." Tolak Bintang halus.
"Sekali lagi maaf ya, dan terima kasih." Bintang mengangguk lalu membungkukkan tubuhnya tanda permisi.
Bintang menggeleng-gelengkan kepalanya menghalau rasa pening yang teramat. Kehujanan tadi membuat kepalanya bertambah berat. Dengan segera Bintang menjalankan mobilnya agar cepat sampai ke rumah.
Ngiingg
Bintang menghentikan mobilnya terlebih dahulu usai dengungan hebat menyambar kepalanya. Jalanan terlihat berkunang di mata. Akan berbahaya jika dia tetap memaksa.
Nafasnya terhembus berat. Dia kedinginan, namun tidak bisa pulang ke rumah sekarang.
Apa dia naik ebox saja? Tapi area perumahannya tidak memperbolehkan benda semacam itu masuk, jadi percuma.
Bintang mendongak menatap jalan. Kunang-kunang di matanya perlahan mulai memudar. Dengan segera Bintang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Untungnya dia masih bisa sampai di rumah dengan selamat. Bintang masuk ke kamar, membersihkan tubuh, lalu menutup semua tirai kamar. Kilat dan petir di luar terlalu menakutkan.
Meminum obat pereda sakit kepala terlebih dahulu lalu berbaring ke atas kasur. Namun belum sempat matanya tertutup suara petir menggelegar membuatnya tersentak.
"Njir hampir jantungan gue."
...~~~...
"Bintang... kita mau nginep!" suara Bulan memenuhi seisi kamar Bintang.
"Kambuh ya?" Tanya Bulan mendekati Bintang yang sedang rebahan diikuti oleh Arghi di belakang.
"Kagak, pusing dikit gara-gara kehujanan tadi."
"Lah, atap mobil lo bocor kah?" Pertanyaan bodoh Arghi membuat Bintang mendesah berat.
__ADS_1
"Goblok dipelihara."
"Gue tadi ketemu anak kecil, kasihan tau dia duduk di jalur ebox. Katanya ayahnya tidur."
"Hah? Maksudnya ayahnya tidur di tengah jalan gitu?" Kini Bulan pula yang membuat Bintang berucap sabar dalam hati.
"Ya kagaklah anjir. Astaga ini bocah berdua bikin darah tinggi aja."
"Jadi apa?"
"Ayahnya pingsan."
Mata Arghi dan Bulan kompak membola. "Anaknya ke mana sekarang?" Tanya Bulan.
"Ya gue anterlah ke rumah sakit."
"Oh, gue kira lo bekep di rumah."
Bintang menoyor kepala Arghi.
"Btw, lo jadi kan cuci darah? Kapan?"
Bintang menatap Bulan, lalu dengan wajah lempeng dia menjawab. "Seribu sembilan ratus tahun lagi."
Bulan memukul kuat betis Bintang. "Lo minta digorok?"
"Ya kagak tau gue." Tepat setelah Bintang menjawab lampu tiba-tiba saja padam.
DUARRR
Bulan meraba sekitarnya sampai sebuah tangan menggenggam jemarinya erat.
"Ada yang pegang ponsel?" Bintang dan Bulan kompak menjawab tidak.
"Tunggu di sini."
"Hati-hati kak."
Arghi pun keluar dari kamar untuk mengambil senter dan lilin di lantai satu rumah Bintang
DUAARR
Lagi-lagi petir menggelegar. Bintang mendekat saat tangan Bulan mulai bergetar. Dirangkulnya bahu gadis itu untuk menenangkan.
Tak lama kemudian Arghi datang dengan senter dan lilin di tangan. Namun ruangan itu malah terang benderang tanda lampu telah hidup kembali.
Wajah Arghi berubah masam. "Astaga, sabar gue." Arghi mengusap-usap dadanya.
Bintang mentertawakan kesialan Arghi.
DUAARR
"Huaaa..." Bulan awalnya berteriak, namun setelah itu menangis membuat Arghi dan Bintang terperanjat kaget. Mereka tentu terkejut. Tumben sekali Bulan menangis.
"Cup cup cup... bayi kecil takut ya." Bintang menepuk pucuk kepala Bulan pelan. Arghi pun naik ke atas kasur lalu menggeser tubuh Bulan untuk berbaring di dekatnya.
"Tidur aja, biar petirnya pergi." Cukup lama menunggu Bulan sampai benar-benar terlelap tidur.
"Ar,"
"Hm?"
Bintang menatap Bulan yang telah terlelap tidur. Otaknya kembali mengingat ke hari di mana dia melihat Bulan rapuh untuk pertama kalinya.
"Kemarin, di rumah sakit, yang gue tinggalin lo. Gue ke rooftop." Bintang diam sejenak. "Gue liat sisi lain Bulan."
"Gue gak bisa ngulang apa yang dia omongin. Tapi intinya, Bulan butuh pelukan orang tuanya sekarang. Dia bilang dirinya sendiri pembawa sial dan gak berguna. Dia bahkan sampe mukul kepalanya. Dia nahan nangis diem-diem sampe badannya gemetaran padahal di sana gak ada orang. Harusnya dia bisa teriak buat keluarin beban dia kan. Dan yang paling bikin gue gak habis pikir itu niatan dia yang mau lompat ke bawah. Tapi dia urung karena dia mikirin lo. Dia bahkan mikir kalo dia mati, dia mau donorin jantungnya buat lo, dan ginjal buat gue."
Hati Arghi berdenyut. Perasaan tidak berguna sebagai seorang kakak kembali muncul.
"Seandainya kehidupan bisa diatur, gue mau buat adek jadi orang yang paling bahagia di dunia ini." Ujar Arghi teramat lirih.
"Gue yakin Bulan bahagia sama lo. Tapi gak menutup kemungkinan, seorang anak pasti butuh kasih sayang orang tuanya. Apalagi Bulan..." Bintang tidak melanjutkan perkataannya. Namun Arghi tahu apa yang akan Bintang ucapkan.
__ADS_1
Adiknya dibuang ke panti.
"Di kehidupan selanjutnya, kakak bakal buat adek jadi orang yang paling bahagia di dunia."