
"Gimana om? Operasinya berhasil kan?"
"Tubuhnya tadi sempat menolak dan terjadi penghentian jantung. Tapi kami berhasil mengembalikannya. Untuk sekarang, kami tidak dapat memastikan kapan Arghi akan bangun. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa supaya Arghi cepat sadar."
Raut Dirga yang tadinya penuh harap berubah pias. Otaknya sedari tadi membayangkan jika Arghi memilih untuk menyerah, entah apa yang harus dia katakan pada Bulan. Untungnya bayangannya itu tidak terwujud ke dunia nyata.
"Semua akan baik-baik saja. Arghi anak yang kuat." Dirga mengangguk.
"Makasih om."
"Kalau begitu om pergi dulu ya, ada jadwal operasi lagi."
Setelah Cakra tak lagi terlihat Dirga segera mengambil ponselnya di saku celana. Memberi kabar kepada sang adik tentang keadaan Arghi.
"Kak, gimana operasinya?" Suara Bulan langsung menyapa indra pendengaran.
Dirga pun menjelaskan sesuai dengan yang diberitahu oleh Cakra tanpa ada yang dikurang-kurangi. Bulan sempat diam sejenak setelah Dirga selesai berbicara.
"Gapapa, Arghi pasti bakalan bangun kok. Tugas kita sekarang cukup doain Arghi biar cepet sadar. Adek tetep di sana aja ya sama Bintang, biar kakak di sini yang jagain Arghi. Kalo ada apa-apa langsung hubungi kakak. Nanti kakak anterin makan siang ke sana."
"Gak usah kak, nanti adek makan kok. Serius deh janji."
"Beneran loh ya, awas bohong."
"Iya beneran, adek gak bohong."
"Ya udah kalo gitu kakak tutup ya."
Dirga menatap sendu Arghi dari balik kaca pintu. Andai dia bisa memindahkan penyakit Arghi, dia pasti dengan senang hati menggantikan posisi Arghi berbaring di sana.
"Cepet bangun Ar."
...-~~...
"Kakak," sapa Bulan dengan nada riang yang dibuat-buat. Tentu saja tidak ada yang menanggapi. Arghi saja masih betah tertidur.
"Ini kunjungan pertama adek setelah 10 jam yang lalu kakak operasi. Adek udah makan kok, kakak tenang aja." Bulan mengelus tangan berurat itu.
"Tadi adek nyuapin Bintang makan, tapi baru tiga suap dianya udah gak mau lagi. Terus lima menit kemudian malah muntah. Adek gak tega liat Bintang kesakitan. Hati adek sakit, persis kayak adek liat kakak yang selalu kambuh. Kenapa coba, orang-orang yang adek sayangi harus sakit semua. Rasanya jadi kayak pembenaran kalo adek emang bawa sial mulu, sampe orang-orang yang ada di deket adek selalu kesakitan."
"Kakak seneng ya di sana sampe lama gini tidurnya. Pasti enak kan di sana. Kakak gak perlu nahan sakit lagi. Oh iya, kakak ketemu ayah sama bunda gak? Kalo ketemu adek titip salam ya. Bilangin ke mereka, adek selalu sayang ayah sama bunda. Terima kasih udah bawa adek ke dunia. Adek seneng terlahir dari anaknya ayah Cahyo sama bunda Mentari." Suara Bulan bergetar ketika menyebut nama orang tuanya.
"Kakak jangan lama-lama ya tidurnya. Adek udah kangen berat. Kangen denger suara kakak. Nanti kalo kakak udah bangun adek janji. Gak akan ada lagi manusia bertopeng itu. Bakal adek tendang dia keluar dari bumi biar gak ganggu kakak lagi."
"Oh iya hampir lupa. Bintang tadi titip salam buat kakak, katanya kalo gak cepetan bangun dia mau belah dada kakak habis itu mau dia ambil jantungnya. Adek refleks langsung mukul dia dong. Sakit gak sakit kelakuannya tetep aja minus. Ganteng doang dia, tapi pas pembagian akhlak malah molor di pojokan."
Bintang tiba-tiba saja tersentak bangun. Tangannya terangkat mengusap-usap telinganya. "Kuping gue kok panas ya."
"Adek pergi ya kak. Nanti besok adek ke sini lagi." Bulan mengecup kening Arghi cukup lama, menatap lekat wajah Arghi, lalu keluar dari sana.
Bulan duduk di samping Dirga yang stay duduk di bangku panjang. "Kak, pulang aja gih. Biar adek yang jagain kak Arghi."
__ADS_1
"Terus yang jagain Bintang siapa?"
"Nanti adek ganti-gantian kok. Lagipula Bintangnya udah tidur."
Dirga tersenyum lalu mengelus kepala Bulan. "Mana bisa gitu dong. Adek pasti gak tidur kalo kayak gitu."
"Tapi masalahnya kakak habis pulang dari kantor, langsung ke rumah sakit tanpa istirahat. Nanti sakit kalo terus-terusan kayak gitu. Adek juga gak ngapa-ngapain di rumah sakit ini, cuma duduk doang jagain Bintang sama kak Arghi. Jadi kakak pulang aja."
Dirga kembali tersenyum. "Nggak sayang, udah tugas seorang kakak buat jagain adeknya. Jadi kakak gak bisa ninggalin Arghi dan biarin adek sendirian di sini. Kakak gapapa kok, ntar kakak langsung istirahat kalo capek."
"Emm... kalo kakak boleh tau, Arghi sakit dari kapan dek?" Dirga mengalihkan pembicaraan. Menanyakan hal yang sebenarnya sangat sensitif untuk Bulan.
Gadis itu sempat diam sejenak. Mengingat masa itu membuatnya ingin kembali melukai dirinya.
"Semua itu dimulai di malam pertama adek dateng ke rumah."
Malam itu, saat pertama kalinya Bulan keluar dari panti, dirinya dan Arghi memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar perumahan hitung-hitung pendekatan.
"Maaf kakak gak suruh ayah sama bunda jemput adek lebih awal." Arghi berujar sembari mengelus surai Bulan dengan lembut.
"Bukan salah kakak kok, jadi gak usah salahin diri kakak, okey?" Senyuman manis Bulan membuat sang kakak tanpa sadar menitikkan air mata. Dibawanya tubuh kurus Bulan masuk ke dalam pelukan dan dengan senang hati Bulan membalasnya. Dirinya tertegun tatkala netranya tertuju ke jalan raya yang berada di luar perumahannya.
Di sana terdapat seorang remaja laki-laki yang mungkin seumuran dengan kakaknya berjalan dengan tubuh penuh luka serta darah yang mengucur dari kepala membuatnya terlihat menakutkan. Dengan tatapan kosongnya remaja itu menyeberang tanpa melihat ke kanan kiri terlebih dahulu. Dan sepertinya dia tidak menyadari ada sesuatu yang mendekat.
Tanpa aba-aba, Bulan melepaskan pelukan sang kakak dan berlari dengan sangat cepat.
"ADEK!!" Arghi tentunya tidak tinggal diam. Apalagi saat matanya menangkap sahabatnya yang serupa dengan zombie, berada di ujung maut. Kakinya melangkah cepat menyusul Bulan yang semakin mendekat ke jalan raya.
Bulan yang awalnya ingin menarik Bintang terhenti karena cowok itu tak ada pergerakan.
BRAAKKK
Tubuh Bulan mematung. Tak peduli dengan kakinya yang terluka, Bulan bangkit menghampiri Arghi yang telah terbaring tak berdaya. Bulan mengangkat kepala Arghi yang berdarah di pahanya. Tangannya yang bergetar mengambil ponsel di saku celana Arghi untuk memanggil ambulans.
"Kak, tahan sebentar ya. Plis jangan tutup mata kakak!" Kristal bening mengalir melihat Arghi yang masih sempat tersenyum kepadanya.
Dua ambulans datang tak lama kemudian. Tubuh Arghi yang pertama diangkat, setelah itu Bintang yang sedari tadi telah pingsan tepat saat Arghi mendorongnya.
"Itu asal mula kak Arghi sakit. Dadanya kebentur keras banget waktu itu, dan dampaknya ke jantung." Bulan menunduk dalam.
"Ini semua salah adek, andaikan waktu itu-" perkataan Bulan terhenti saat Dirga memeluknya tiba-tiba.
"Nggak ada yang salah Dek. Itu semua udah jadi takdir yang harus Arghi hadapi. Tuhan nyuruh dia untuk jadi manusia yang lebih kuat lagi, dan buktinya Arghi kuat kan. Bahkan dia udah bertahan sejauh ini, dan sebentar lagi dia sembuh."
"Jangan salahin diri adek lagi, Arghi gak akan suka itu." Dirga melepaskan pelukannya lalu membelai rambut Bulan.
"Udah, adek balik ke ruangan Bintang sana. Istirahat, udah malem."
"Kalo capek langsung pulang aja ya," Dirga mengangguk.
Bulan pun pergi dari sana kembali ke ruangan Bintang. Namun saat sampai di tujuan tubuhnya membeku. Bintang tak ada di sana. Dengan jantung yang berdebar Bulan memeriksa ke kamar mandi. Namun sosok Bintang tidak dia dapati. Bulan diam sejenak, memikirkan berbagai tempat yang mungkin dikunjungi oleh Bintang. Hatinya mengatakan bahwa Bintang ada di rooftop. Bulan segera berlari menaiki tiap anakan tangga. Lift terlalu jauh dan pasti memakan waktu untuk sampai ke sana.
__ADS_1
Dan benar, netranya mendapati Bintang yang berdiri di pagar pembatas. Bulan pun segera berlari menghampiri cowok itu.
"Lo bikin gue jantungan tau gak!" Ujar Bulan kesal.
Bintang diam tak membalas.
"Masuk yuk, udah malem loh ini. Lo harus istirahat."
Bintang masih diam membuat Bulan berdecak.
"Serasa ngomong sama patung gue." Bulan memegang lengan Bintang bermaksud menarik cowok itu. Namun Bintang langsung menepis tangan Bulan.
"Bin, lo kenapa?"
Bintang menoleh menatap Bulan dingin. "Apa gue harus nguping dulu supaya tau penyebab Arghi sakit?"
Bulan mematung. Tak menyangka Bintang mendengar percakapannya dengan Dirga.
"Kenapa? Kaget?" Bintang tertawa miris. "Ternyata sakitnya Arghi selama ini karena gue. Bahkan gue yang bikin lo semakin dibenci orang tua lo. Brengsek banget ya gue."
"Bintang, ini bukan salah-"
"LO MAU BILANG KALO INI BUKAN SALAH GUE? PADAHAL JELAS-JELAS ARGHI KAYAK GITU KARENA NYELAMATIN GUE!" Bulan menunduk dalam. Ini pertama kalinya Bintang membentaknya habis-habisan.
"Waktu itu lo gak sadar Bintang. Inget pas kak Arghi kambuh? Gue ada di rumah kan, nyakitin diri gue sendiri padahal gue gak ngerasa ngelakuin itu. Lo sama Bintang, posisinya saat itu lo gak sadar sama sekali. Jadi itu semua bukan salah lo."
"AARGHHH!" Bintang menjambak rambutnya kuat. Tak sanggup menahan bobot tubuh, Bintang menjatuhkan lututnya ke lantai.
"Jangan kayak gini Bintang," lirih Bulan melepas paksa rematan Bintang. Memeluk cowok itu erat.
"Boleh gak ya, kita nyalahin takdir." Bulan bergumam setelah sekian lama terdiam.
"Semua kejadian ini udah takdir masing-masing kan ya. Tapi kita sebagai manusia juga ada rasa jenuh. Jenuh karena kedapatan takdir yang kurang beruntung."
"Gue pengen nyalahin takdir. Tapi kesannya kayak gak bersyukur gitu."
"Jadi, mending lo salahin gue aja. Karena gue udah ditakdirin untuk jadi penerima kesalahan."
Bintang tertegun akan ucapan gadis di depannya ini. Dirinya melepas pelukan Bulan. Menatap gadis itu lamat. Raut lelah dan takut tergambar jelas di wajah gadis itu. Namun selalu ditutupinya dengan senyum lebar nan manis.
Bintang menunduk dalam sambil menghela nafas berat. "Maaf gue ngebentak lo."
Bulan tersenyum manis. "Gue maafin asal lo gak nyalahin diri sendiri lagi."
Bintang terdiam. Pernyataan Bulan sulit untuk dikabulkan.
"Lo boleh ngerasa bersalah. Tapi inget, kalo semua ini bukan salah lo. Kak Dirga bilang ke gue kalo takdir, mau sekeras apa pun kita berusaha, itu tetap akan terjadi. Sekarang gue mau bilang ini ke lo. Kak Arghi udah ditakdirin jadi anak kuat. Gak semua orang bisa bertahan sampai sembuh kayak kak Arghi. Banyak yang lebih milih nyerah karena mereka gak kuat nahan sakitnya. Tapi kak Arghi nggak. Dia masih bernafas sampe sekarang dan itu juga udah takdirnya. Tuhan ngasih kak Arghi kesempatan sesaat untuk jadi anak yang lebih kuat dengan lo dan gue sebagai perantara."
Bintang mengangkat kepalanya. Menatap Bulan yang juga tengah menatapnya.
"Sejak kapan lo jadi bijak gini?"
__ADS_1
"Anak anjing," Bintang tertawa mendengar umpatan Bulan. Tangannya terangkat mengacak surai panjang itu.
"Ayo masuk, menggigil gue di sini dari tadi." Bintang bangkit lalu menarik Bulan kembali ruangannya.