
Bulan membuka pintu kamar Arghi, menemukan sang kakak yang tengah menepuk pelan dadanya.
"Sakit kak?" Arghi langsung mendongak. Mendapati Bulan yang menggeret Bintang mendekatinya.
"Nyeri sedikit. Bintang kambuh?"
"Kagak, adek lo doang yang lebay."
"Gue potong-potong badan lo ya. Bacot bener dari tadi."
"Lo liat Ar? Adek lo galak banget dari tadi. Padahal pms dia dah lewat."
"Lo pantes digalakin. Btw, udah minum obat?"
"Udah kak. Tapi obat doang gak mempan. Diajak hd malah ngajak jalan-jalan dianya."
"Kenapa gak mau hd?" Kini Arghi menatap Bintang. Tatapannya sih biasa saja, namun mampu membuat Bintang ketar-ketir.
"Gue ngerasa itu gak ada gunanya." Bintang berbaring di samping Arghi, menatap kosong atap kamar berwarna krem itu.
"Adek ke kamar ya, mau ngerjain tugas." Bulan langsung berlari keluar kamar. Mengerti jika kakaknya ingin berbincang serius dengan Bintang.
"Lo gak takut mati?" Tanya Arghi setelah pintu tertutup rapat.
Yang ditanya pun menggeleng. "Mau takut pun, mati bakal tetap datang."
"Tapi kalo gini penyakit lo malah makin ganas. Katanya lo sayang sama Bulan kan. Belum juga berjuang lo malah pergi duluan, atau lo gagal sayang sama Bulan?"
Bintang terbahak. Namun Arghi merasa bahwa tawa Bintang terdengar hambar. Seperti ada makna lain dibaliknya.
"Sayang gue gak pernah hilang buat dia, bahkan terus bertambah di setiap detiknya. Dengan liat muka dia aja sakit gue seakan kalah start."
"Terus kenapa gak mau hd? Lo udah nyerah?"
Bintang tidak langsung menjawab. Netranya menggulir atap kamar dengan tatapan nelangsa. "Gue gak bisa jawab."
Ada jeda sejenak sebelum Arghi merubah posisinya yang semula duduk di pinggir kasur, bersandar ke kepala ranjang.
"Lo tahu? Walaupun gue udah dioperasi, rasa takut itu masih ada. Gue takut kalau sewaktu-waktu jantung ini berontak. Soalnya dari pagi tadi sampe sekarang dada gue sakit banget. Dan entah kenapa, perasaan gue akhir-akhir suka gak enak. Apalagi liat kalian berdua."
Bintang diam-diam mengulum senyum. Kepekaan Arghi memang setinggi itu. "Besok periksa aja gimana? Entar pulang sekolah langsung kita jemput. Jangan dibiarin gitu aja."
"Nanti besok gue periksa sendiri aja pas kalian sekolah."
"Kak Dirga ada gak?"
"Amerika. Ada urusan mendesak di sana."
"Ya udah, nanti aja habis pulang sekolah. Jangan pergi sendirian."
"Kenapa? Gue udah gede."
"Kalo lo pergi sendiri, terus amit-amit nih ya, berita buruk yang keluar. Lo gak akan jujur sama kita." Arghi mencibir namun tidak membalas. Apa yang Bintang katakan itu fakta, jadi dia tidak akan mengelak.
"Gue sekolah aja ah, kan kak Dirga gak liat."
"Ini nih, ciri-ciri anak setan."
"Katanya mau nemenin gue periksa. Ya gue sekolah dong biar gak bolak-balik dari sekolah ke rumah habis itu ke rumah sakit."
"Gue naik mobil, bukan jalan kaki. Congor lo bisa aja nyari alesan."
"Udah ah, sakit dada gue debat sama lo."
Arghi menumpuk tiga bantal terlebih dahulu lalu berbaring di sana. Dadanya sesak tiba-tiba.
__ADS_1
"Sesek ya? Mau gue ambilin masker oksigen?" Arghi menggeleng. Sesaknya masih bisa dia netralkan.
"Cerita Bin, kalian ngapain aja tadi?"
Bintang seketika tersenyum mengingat harinya dengan Bulan hari ini. "Kami banyak cerita tentang kehidupan. Bahkan sampe nangis."
Mata Arghi membola. "Kalian berdua? Nangis?" Bintang mengangguk.
"Dari jam tiga kami ngobrolin banyak hal. Sampe senja dateng baru kita berhenti. Duduk liatin senja kayak orang pacaran." Arghi terkekeh pelan melihat raut riang sahabatnya.
"Tapi dari sekian banyak obrolan, dia gak pernah ceritain masa kecil dia. Lo pernah tanya tentang hidup dia di panti?"
Arghi mengangguk. "Tapi gak ada jawaban pasti. Katanya ya kayak hidup biasa. Bangun, mandi, sarapan, sekolah, beres-beres, main sama anak-anak lain, tidur."
"Tapi dari cerita dia tadi kayaknya beda deh."
"Cerita gimana?"
"Waktu umur dia delapan tahun dia udah punya niatan bunuh diri." Tubuh Arghi menegang seketika. Kenapa Bulan tidak pernah memberi tahunya?
"Waktu itu situasi di panti lagi kosong. Dia bilang ada satu temen ceweknya yang rela pura-pura sakit perut buat nemenin Bulan yang memang gak akan pernah diajak liburan. Gue mikir, dari kata-kata dia yang bilang gak akan pernah diajak liburan itu udah jadi pembuktian kalo dia di panti gak kayak yang lo bilang tadi. Bahkan sampe kepikiran bunuh diri di usia sekecil itu."
Tubuh Arghi terasa lebih lemas dari sebelumnya. Mengapa dia baru mengetahui hal itu? Apa saja yang telah Bulan lewatkan sampai tidak ingin menceritakan kisahnya.
"Gue minta buat ceritain kehidupannya di panti. Tapi dia malah ngomong, ntar nambahin beban pikiran gue. Dari situ gue tambah yakin, kalo kehidupannya di panti berat, lebih berat dari yang gue duga."
"Bin, tolong ambilin masker oksigen." Pinta Arghi susah payah.
Buru-buru Bintang mengambil masker itu di laci nakas lalu memasangkannya ke hidung Arghi. Meringis pelan melihat bagaimana cara Arghi menghirup udara dengan sangat rakus.
"Gapapa? Butuh ke rumah sakit gak?" Arghi menggeleng pelan.
"Cerita lagi aja." Pintanya lirih.
"Adek cerita apa lagi?"
"Kami saling cerita pengalaman bunuh diri."
Arghi meringis pelan. "Kesel gue inget kelakuan bodoh lo dulu."
Bintang nyengir dengan tampang polosnya. "Makasih ya. Kalo dulu lo gak cegah gue, gue mungkin gak akan pernah ketemu Bulan."
"Nyengir lo," ketus Arghi melayangkan tangannya untuk memukul Bintang yang dengan sigap menghindar.
"Ampun bos, gak lagi deh."
"Maaf ya, dulu gue ngerepotin banget. Lo bahkan rela datengin gue, padahal lo lagi sakit."
"Makasih udah narik gue dari kegelapan. Serasa jadi orang paling beruntung sedunia gue punya sahabat kayak lo."
Arghi tersenyum mendengarnya. "Berterima kasih juga ke diri sendiri. Sekuat apa pun gue narik lo, bakalan tetap jatuh juga kalo gak ada kemauan di hati lo."
Bintang memeluk dirinya sendiri. "Makasih Bintang kecil."
Hanya dengan melihat kelakuan Bintang saja sudah membuat Arghi tergelak. Namun tak lama karena dadanya nyeri bukan main jika dia tertawa terlalu lepas. Tangannya terangkat untuk membuka masker oksigen bertepatan dengan Bulan yang masuk ke kamar dengan dua gelas air hangat.
"Sesek kak?" Tanya Bulan khawatir saat melihat Arghi melepas alat bantu nafas itu.
"Udah berkurang kok." Jawab Arghi dengan senyum lembut.
"Duduk sini dek." Pinta Arghi menepuk tempat kosong di sebelahnya. Bulan pun mengangguk, menaruh gelas ke nakas terlebih dahulu lalu duduk di samping Arghi.
"Mau nambah bantal lagi?" Arghi menggeleng.
"Bin, gimana? Udah berkurang? Atau masih sakit? Kalo masih sakit ke dokter aja. Gue bawain tali biar lo mantep di ranjang, cuci darah."
__ADS_1
"Udah berkurang kok. Anda kejam sekali." Bintang bergidik sembari sedikit menjauhkan tubuhnya. Takut-takut jika Bulan benar-benar menyeretnya ke rumah sakit.
"Gimana jalan-jalan tadi?"
"Enak. Tapi dia nyebelin, ngegombal terus sepanjangan." Bulan melirik Bintang sinis.
"Padahal gue ngomong jujur, bukan lagi gombal."
"Ya tapi jangan terlalu jujur gitu! Gue yang panas dingin denger lo ngomong."
Arghi tertawa tanpa suara. Biasanya perempuan kalau salting sembunyi-sembunyi. Tapi adiknya berbeda. Gadis itu secara terang-terangan mengatakan bahwa dia salah tingkah.
"Ngapain aja di sana? Gak lupa makan kan?"
"Iya makan. Kita banyak cerita-cerita di sana. Bahkan nangis bareng. Harusnya kakak liat Bintang nangis tadi. Momen langka banget itu. Coba aja adek videoin."
"Penistaan terhadap orang yang sedang bersedih ini. Sangat tidak berperikebintangan."
"Lo kan manusia. Ngapain gue periin?"
"Serah lo deh cil. Asal lo bahagia aja."
Arghi mengusap tangan Bulan. "Cerita tentang apa?" Tanya Arghi lembut.
"Cerita temen adek di panti. Dia baik banget, selalu percaya sama adek. Bahkan dia nemenin adek di panti. Padahal harusnya dia ikut yang lain liburan ke pantai, soalnya jarang banget bisa jalan-jalan ke luar. Tapi dia malah lebih milih tetep di panti nemenin adek."
"Kenapa adek gak ikut liburan?"
Arghi dan Bintang langsung menangkap sorot kepedihan itu di balik mata bulan sabit Bulan. Walaupun gadis itu tersenyum sampai matanya tersisa segaris, sendu itu masih tercetak jelas.
"Waktu itu lagi gak enak badan, jadi adek istirahat di rumah aja." Arghi dan Bintang tentu tak percaya. Namun memilih bungkam karena sepertinya Bulan benar-benar tak ingin berkata jujur.
"Tadi gak beli minuman dingin kan?" Tanya Arghi yang sudah paham betul dengan pribadi sang adik yang maniac minuman dingin tanpa pandang cuaca. Terlebih lagi es krim.
Bintang menguap terlebih dahulu lalu menjawab. "Nggak, tenang aja. Gue yang pesenin tanpa nanyain dia mau pesen apa. Untung gak ngerengek minta es dianya."
Bulan berdecih. Bintang sangat tidak bisa diajak berkerja sama.
"Nanti lusa kita beli es krim mau?" Wajah Bulan sontak berbinar.
"Mau!" Jawabnya penuh semangat. Sudah lama sekali dia tidak merasakan nikmatnya sensasi dingin dari es krim.
Arghi mengambil sebuah bantal yang jarang sekali dia sentuh. Itu bantalnya sewaktu dia kecil dulu yang memang terus dia letakkan di ranjang walaupun tidak terpakai. Sedikit menggeser tubuhnya, lalu meletakkan bantal tersebut di sampingnya. "Baring sini." Bulan hanya menurut. Tepat setelah mendapatkan posisi ternyaman, Bulan langsung merasakan usapan lembut di kepala. Arghi membagi selimutnya dengan Bulan, lalu mengecup kening sang adik singkat.
Diliriknya Bintang yang sedari tadi diam. Ternyata cowok itu sedang berkelahi dengan kantuk. Terlihat dari matanya yang sayu dan sesekali tertutup.
"Pake dulu itu selimutnya Bin." Titah Arghi mengembalikan kesadaran Bintang. Cowok itu dengan malas menarik selimut di ujung kasur, membentangnya asal, lalu terpejam.
Arghi berganti mengusap kening Bintang yang terdapat beberapa bulir keringat dingin. Arghi tentu tahu jika Bintang sedari tadi sedang menahan sakit. "Makasih udah berjuang Bin."
"Tidur dek," setelah mengusap kepala Bintang beberapa saat, Arghi kembali ke Bulan. Melanjutkan usapannya yang terhenti.
Bulan mendongak untuk melihat wajah Arghi lebih jelas. "Masih sakit dadanya? Seseknya belum hilang?"
"Udah berkurang semua." Jawab Arghi seadanya.
"Bener? Gak bohong?"
"Nggak sayang, ayo tidur."
Bulan merubah posisinya menjadi miring. Melintangkan tangannya ke perut Arghi. Mencari kenyamanan di dalam rengkuhan sang kakak.
Arghi dengan posisi tetap membalas pelukan sang adik. Untuk beberapa saat pikirannya melalang buana. Tentang perasaannya yang akhir-akhir ini tidak nyaman. Rasanya sangat tidak enak. Seperti akan ada sesuatu yang direnggut paksa darinya. Namun dia tidak mengerti apa itu. Beberapa kali otaknya menyakinkan tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Tapi hatinya mengatakan hal lain.
"Tuhan, tolong jaga orang-orang yang aku sayang. Jangan membuatku kembali merasakan kehilangan Tuhan. Aku tidak sanggup untuk merasakannya lagi. Tolong ambil saja nyawaku, jangan mereka."
__ADS_1