WHY

WHY
Arika Pratama


__ADS_3

Setelah hangout, Farel mampir ke rumah Kanaya dan berlama-lama di sana hingga malam hari lantaran ingin menemani gadis itu hingga ibunya pulang. Mereka memutuskan untuk menonton serial netflix sambil memakan beberapa cemilan. Kanaya duduk menyandar pada bahu Farel dan Farel melingkarkan tangannya di tubuh Kanaya.


 


Awalnya, Kanaya biasa saja dengan perlakuan Farel, toh mereka ini adalah sahabat. Tapi tiba-tiba saja, Farel mencium pelipisnya.


 


Kanaya terkejut hingga ia menoleh pada sahabatnya itu. Sedangkan Farel sendiri hanya tersenyum dan kembali menarik tubuh Kanaya agar bersandar padanya.


 


Asal kalian tau saja, Kanaya itu orang yang cukup peka. Dia tau maksud ciuman di pelipisnya itu atau senyuman yang Farel berikan padanya. Kanaya tau kalau Farel menyukainya.


 


Tapi Kanaya tidak menyukai Farel lebih dari sahabat.


 


“Rel…”


 


“Aku menyukaimu, Nay.”


 


Kanaya terdiam. Matanya terus menatap layar LCD di depannya dengan pandangan lurus. “A-aku… maaf.”


 


Kanaya memang tidak melihat wajah Farel saar ia berucap meminta maaf, tapi Kanaya bisa merasakan aura kecewa yang terpancar dari sahabatnya itu. Hal itu terbukti dengan tingkah Farel yang kini melepaskan rangkulan pada tubuhnya.


 


Kanaya menoleh dan menatap Farel dengan mata berkaca-kaca. “Maaf…”


 


“No, it’s fine. Seharusnya aku tau kau tidak pernah menganggapku lebih dari seorang teman.”


 


“Rel…”


 


“Tidak apa, Nay. We are fine. Tidak akan ada yang berubah setelah ini. Aku hanya ingin menyampaikan perasaanku saja. Oke?”


 


***


 


“And we’re not fine at all, Des. Mungkin aku memang tidak berubah, aku tidak menjauhinya atau apa. Tapi Farel berubah.”


 


“Seperti ada batas di antara kami berdua. Farel mulai jarang mengajakku hangout, sikapnya tidak hangat seperti biasanya. Dia juga bergabung ke dalam eskul basket. Dan aku kembali… sendirian.”


 


“Aku dan Farel menjauh, namun pembullyan yang kuterima tetap berhenti. Sepertinya Farel memang marah terhadapku, tapi dia tidak menghentikan kepeduliannya agar aku tidak lagi mendapat penindasan. Dia selalu ada di sampingku jika aku mulai mengalami pembullyan.”


 


“Kisahku dengan Farel belum berakhir, Des. Keretakan hubunganku dengan Farel menjadi awal masuknya seseorang yang semulanya dapat mendekatkan kami kembali… tapi kemudian berakhir menghancurkan hubungan kami hingga bekeping-keping.”


 


“Kali ini aku akan memberitahumu, rekaman ketiga. Dia adalah sahabatku juga… dengan Farel. Bersiaplah, Arika Pratama.”


 


***


Desta bangkit berdiri. Ia mendengarkan rekaman kedua tentang Farel ini memang saat dirinya di sekolah. Dan selama itu, matanya tidak lepas memandang seorang laki-laki yang kini sedang duduk di pojok kafetaria dengan segelas hot chocolate.


 


Desta menghampiri si laki-laki itu. “Apa hot chocolate itu membantumu?”


 


Farel mengangkat wajahnya. Matanya tidak sengaja melihat ada sebuah tape recorder di tangan Desta. Seketika senyuman sinis itu terbit di wajahnya.


 


“Ah, kau sudah mendengarkan rekaman tentangku? Lalu ada apa kau ke sini? Kau ingin menghakimiku juga?”


 


“…”


 


“Aku tidak pernah membunuh Kanaya…” lirih Farel dengan suara bergetar. Matanya menunduk menatap hot chocolate miliknya, yang juga merupakan minuman favorit Kanaya.


 


“Tapi kau menjadi penyebab dia membunuh dirinya sendiri,” jawab Desta dengan nada dingin.

__ADS_1


 


Farel memejamkan matanya frustasi, air mata itu sekali lagi mengalir di pipinya. Ya, Desta menyadarinya. Farel tidak semempesona dulu. Laki-laki itu menjadi kurus dan wajahnya terlihat kacau. Kantung matanya menebal dan matanya tidak pernah tidak bengkak di setiap harinya.


 


“Aku tidak pernah mencintai Arika atau Selin. Sampai detik ini, aku masih mencintai Nay.”


 


“Kau sempat menjadi sahabat Kanaya, Farel. Mungkin sampai mati pun, Kanaya akan tetap menganggapmu sebagai sahabatnya. Dia tidak pernah membencimu, tapi kenapa?” Desta menelan ludahnya kasar. “Kenapa kau membunuhnya?”


 


Desta langsung pergi tanpa mendengar respon dari Farel atas ucapannya. Farel sendiri kini meremat gelas yang berisi hot chocolate miliknya. Matanya yang sudah peuh air mata itu menatap kepergian Desta dengan senyum getir. “Kau juga mencintainya, Desta. Tapi kenapa kau membunuh Nay juga?”


 


***


 


“Desta seperti ancaman bagi kita. Dia sudah atau akan mengetahui apa yang telah kita lakukan pada Taehyung.”


 


Arika diam saja saat suara Ardhika memecah keheningan. Ia tak sudi menatap laki-laki itu. Karena sejak awal, Arika memang tak pernah menyukainya.


 


Menurut Arika, Ardhika itu adalah seorang pengecut. Dialah paling pengecut di sini dan bukannya Desta.


 


“Lalu apa yang akan kita lakukan padanya? Apa kita harus mengancamnya untuk tutup mulut?” sahut Freya. Gadis itu juga tampak kacau seperti Arika dan terlihat aneh setiap harinya. Karena di hari ini dia akan terlihat ceria, besoknya dia akan terlihat seperti terkena bencana.


 


“Aku tidak mau mengancam siapa-siapa. Sudah cukup perbuatan buruk yang pernah aku lakukan, aku tidak mau melakukan apapun lagi,” desis Farel.


 


“Mungkin kita harus mengajak Desta bergabung?” usul Ardhika.


 


Arika tersenyum sinis. “Apa yang membuatmu berpikir kalau Desta mau bergabung dengan kita? Dia mencintai Kanaya. Dia akan berusaha untuk membuka semua rahasia ini dan mengeksposnya ke publik.”


 


Ardhika, Farel, dan Freya menatapnya.


 


“Desta itu mencintai Kanaya dan dia tidak takut dengan cintanya sendiri. Sementara itu, orang-orang lain yang mengaku pernah mencintainya terlalu egois dan takut akan cintanya sendiri. Sampai akhirnya tanpa mereka sadari mereka telah membunuh Kanaya karena satu hal…”


 


 


“… yaitu cinta mereka sendiri.”


 


Arika memalingkan wajah. “Dan keegoisanku lah yang juga membunuh, Kanaya. Aku tidak akan pernah melupakannya.”


 


***


 


“Hai Rika. Aneh rasanya memanggilmu begitu di saat kau lebih suka kalau aku memanggil nama kecilmu, Ara. Apa kau masih ingat pertemuan pertama kita? Waktu itu kau mendatangiku dengan wajah memerah serta pandangan yang selalu tertunduk.”


 


“Kau bilang, kau menyukai Farel. Dan kau meminta bahkan memohon padaku untuk membantumu dekat dengannya. Aku yang saat itu sedang membutuhkan teman karena Farel menjauh pun langsung mengiyakan permintaanmu. Bisa dibilang… aku ini butuh teman.”


 


“Dan setelah itu kita berdua menjadi semakin dekat. Topik yang awalnya selalu membahas tentang Farel kini berganti menjadi topik lain. Kau jadi sering mengajakku pergi ke mal hanya untuk belanja bersama atau bahkan bermain di game center. Jujur saja, aku sangat senang.”


 


“Terlepas dari reputasi burukku di sekolah, kau tetap mau duduk bersamaku. Kau mengabaikan semua itu dan tetap berjalan di sampingku. Aku benar-benar berterima kasih padamu, Ara.”


 


“Maka untuk membalas kebaikanmu, aku mulai menjodohkanmu dengan Farel. Farel memang menjauhiku tapi dia tak menolak kalau aku mengajaknya berbicara. Aku membicarakan tentangmu ke Farel dan memintanya agar dia memperhatikanmu.”


 


“Dan selanjutnya, kalian resmi berpacaran.”


 


“Ra, aku tidak pernah marah kepada kalian. Aku tidak marah saat kalian berdua mulai menjauhiku dan asik dengan dunia kalian sendiri. Aku juga tidak pernah membenci kalian dan menaruh dendam. Kalian tau kenapa?”


 


“Karena aku sangat menyayangi kalian berdua. Kalian adalah sahabatku, orang-orang yang selalu ada bersamaku walapun aku memiliki reputasi yang buruk. Aku benar-benar menyayangi kalian.


 

__ADS_1


“Tapi pertanyaannya, apa kalian menyayangiku juga?”


 


***


 


Saat itu jam istirahat sudah berakhir dan Kanaya berniat memasuki kelas setelah 30 menit terakhir ia habiskan dengan duduk di halaman belakang sekolah. Kanaya sedikit terkejut ketka ia memasuki kelas, ia bisa melihat Farel duduk di tempatnya dengan tatapan yang terlihat… marah.


 


Kanaya tidak mengerti, ia tidak pernah melakukan sesuatu yang salah dengan sahabatnya itu. Mata Kanaya bertemu pandangan dengan manik Arika yang berdiri di samping Farel, namun gadis itu langsung memalingkan wajahnya.


 


“Rel, kau sedang apa di sini?”


 


Farel menatap Kanaya tajam. “Arika memutuskanku. Katanya ia tidak mau berpacaran dengan orang yang sudah menodai hubungannya dengan sahabatnya.”


 


Kanaya semakin tidak mengerti. “Rel, maksudmu …”


 


“Diam, Nay. Kau yang menjadi penyebab aku dan Arika putus. Kau bilang padanya kalau aku pernah bersetubuh denganmu ‘kan?”


 


Mata Kanaya melebar. “Tidak, aku tidak pernah mengatakan hal itu, Farel. Aku bahkan…”


 


“Nay, kau benar-benar hina. Aku pikir kau tidak akan pernah menjadi sehina ibumu yang seorang *******, tapi nyatanya..”


 


Mata Kanaya berkaca-kaca. Apa Farel baru saja menyebutnya hina? Apa Farel baru saja menghina ia dan ibunya?


 


“Kau jahat, Nay. Aku sudah cukup baik hati mau berteman denganmu, membentengi dari semua penindasan yang siswa lain lakukan. Tapi lihat apa balasanmu padaku? Kau menusukku dari belakang dan menjadi penyebab aku putus dengan pacarku!”


 


Kanaya ingin menjerit. Ia ingin berteriak menyangkal kalau itu semua tidak benar. Tapi suaranya tidak kunjung keluar. Ia tidak pernah menusuk mereka dari belakang, berpikir untuk melakukan itu saja tidak pernah. Kanaya tulus berteman dengan mereka.


 


Farel dan Arika pergi dari kelasnya. Dan dalam sekilas Kanaya tau, ia kehilangan dua sahabatnya. Mereka menatapnya dengan salam perpisahan.


 


Satu kelas mulai menghakiminya. Mereka mulai mencibir dan menghina Kanaya seolah-olah gadis itu tidak ada di sana. Maka dari itu Kanaya berlari keluar dan berniat mengejar Farel dan Arika. Namun langkahnya terhenti begitu matanya melihat kedua sahabatnya itu… bergabung dengan kelompok Ardhika.


 


“Bagaimana bisa? Dulu kau bilang kau ingin menghajarnya Rel. Kau bilang kau ingin membuat Ardhika jera dan tidak akan mematahkan hati para gadis lagi nantinya. Tapi sekarang… kau tertawa bersamanya. Kau berteman dengannya.”


 


Dan hari itu, Kanaya bukan hanya kehilangan dua sahabatnya… tapi juga harga dirinya.


 


***


 


“Kenapa kau berkata begitu kepada Farel, Ara? Kenapa kau menyeretku ke dalam masalah hubungan kalian? Sampai saat ini aku bahkan tidak tau apa yang sebenarnya menjadi penyebab hancurnya hubungan kalian.”


 


“Aku tidak pernah tau. Padahal seluruh siswa di sekolah menuduhku sebagai penyebabnya.”


 


“Kau tau, Ra. Apa yang kau lakukan padaku itu bukan hanya sekedar menyakitiku. Tapi juga merupakan awalan dari setiap sentuhan yang tidak ku inginkan.”


 


“Dan aku sungguh-sungguh ingin membencimu. Kau pantas untuk kukutuk seumur hidup. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membenci sahabatku sendiri.”


 


“Tapi yang menjadi masalah di sini adalah… apa kau pantas untuk kusebut sebagai sahabat?”


 


***


 


“Hei, Desta. Aku ingin kau membuka topeng salah satu siswa di sini. Kau tau, aku mempunya stalker. Ya benar, stalker. Kanaya Dhira mempunyai seorang stalker.”


 


“Nama stalkerku adalah Fahri. Dan ini adalah rekaman untuknya.”


 

__ADS_1


***


To be continue...


__ADS_2