WHY

WHY
Worried


__ADS_3

Duagh


"******! Lo ngagetin aja!" Jerit Bulan KESAL.


Pasalnya cowok itu tiba-tiba datang mengejutkannya yang tengah mengikat tali sepatu, dan sekarang malah tertawa puas hingga membuat Bulan jengkel mendengarnya.


Kaki Bulan terangkat untuk menendang betis Bintang. Tapi karena refleks Bintang bagus kaki Bulan malah tertahan oleh tangan besar Bintang.


Masih ingin membalas dendam, tangan Bulan terjulur ke surai legam Bintang.


"Aduhhh, iya ampun! Astaga..."


"Kalian ngapain?" Cengkeraman Bulan terlepas oleh suara Arghi.


"Dia nyebelin." Tunjuk Bulan sembari menatap Bintang tajam.


Arghi menoyor kepala Bintang. "Jangan diganggu, hari pertama." Bisik Arghi tanpa suara.


Bintang mengangguk mengerti, lalu tersenyum manis ke arah Bulan. "Maaf ya sayang."


Bulan bergidik ngeri. "Jijik asu!" Lalu buru-buru masuk ke dalam mobil.


Menutup pintu mobil dengan cepat Bulan bergumam. "Astaga jantung gue." Batinnya dalam hati. Siapa coba yang tidak salah tingkah dipanggil sayang oleh pujaan hati.


Mobil pun bergerak keluar dari garasi. Dari kursi belakang, Bulan menatap Bintang yang duduk di samping kursi kemudi dengan tatapan seperti ingin membunuh. "Bintang bodoh, tukang baperin anak orang aja lo."


"Sebentar lagi." Gumam seseorang dari kejauhan.


...~~~...


Bel istirahat berdering nyaring. Anak-anak mulai berhamburan keluar kelas untuk mengisi perut yang keroncongan sehabis mengasah otak


"Lan-"


"BULAN!"


Bintang menoleh ke arah pintu kelas. Terdapat Lisa yang tengah mengemut permen tangkai sambil menenteng tas masuk dan mendekati Bulan.


Mata Bintang bertemu pandang dengan mata Lisa. "Hehe, pinjem Bulan yak." Lalu beralih ke Bulan yang sedari tadi menatap bingung. "Beresin buku, kita ke ruang dance sekarang."


Bulan mengangguk. Tangannya mulai bergerak cepat memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


"Bin, kasih tau kak Arghi ya. Gue pergi dulu."


Menggendong tasnya di bahu sebelah kanan, Bulan pun pergi bersama Lisa. Sampai ke ruang dance Bulan dan Lisa langsung duduk bergabung dengan yang lain.


"Hari ini kalian dipinta untuk mengikuti lomba dan tempatnya lumayan jauh di pinggir kota. Lomba akan dimulai pukul tujuh malam nanti. Jadi hanya sedikit waktu kita untuk berlatih. Pukul empat kita berangkat naik mobil sekolah. Sekarang kalian boleh ke kantin dulu setelah itu kembali lagi ke sini." Jelas pak David.


"Maaf pak, kenapa mendadak gini?" Tanya Yohan.

__ADS_1


Pak David menatap serius anak-anak muridnya. "Mereka sengaja. Jadi, kita harus tunjukkan kemampuan kita. Bungkam mereka dengan pesona dan bakat kalian."


Jeran mengangkat tangan.


"Kita tampil apa di lomba nanti? Waktu kita gak akan cukup buat ngafalin gerakan baru."


"Kalian istirahat saja dulu, nanti kita bicarakan lagi." perintah pak David.


"Baik pak."


Suasana koridor sudah lumayan sepi. Bulan berjalan dengan pikiran menerawang. Otaknya sedang mencemaskan sesuatu hingga tanpa sadar telah berada di kantin sekolah.


"Kok sepi?" Tanya Bulan setelah sampai di meja paling pojok. Penasaran karena tidak mendapati sosok Haris dan Yozi di samping Arghi maupun Bintang.


"Sakit." Jawab Arghi sambil menarik Bulan duduk di sampingnya.


"Mau makan apa?" Tanya Arghi.


"Gak mau."


"Makan punya kakak aja." Arghi mendorong piringnya yang masih tersisa setengah porsi.


"Nggak."


"Makan adek."


Menghela nafas pasrah, Bulan menyendokkan makanan itu ke dalam mulut. Mengunyahnya tanpa selera dengan tatapan kosong.


"Kenapa?" Tanya Arghi.


"Eh, kenapa?" Tanya Bulan balik.


Arghi tersenyum. "Ada lomba lagi?" Bulan mengangguk singkat.


"Kapan?"


"Nanti malem."


"Malem?" Tanya Bintang yang sedari tadi hanya diam dan Bulan kembali mengangguk.


"Di mana?"


"Pinggir kota."


"Buset jauh bener!"


"Gak usah khawatir, adek udah hebat kok. Lomba kan gak harus menang. Yang penting itu pengalamannya." Arghi mengusak rambut Bulan lembut.


"Bukan itu, masalahnya besok-" Bulan menghentikan kalimatnya. Hampir saja dia keceplosan.

__ADS_1


"Besok apa?" Tanya Arghi.


"Nggak, gak ada apa-apa." Jawab Bulan sambil tersenyum, lalu kembali memakan makanannya.


Dahi Arghi berkerut. "Kalo ada apa-apa bilang aja."


"Iya." Bulan kembali fokus ke makanannya. Mengabaikan Arghi dan Bintang yang masih menatapnya curiga.


Arghi dan Bintang saling tatap. Keduanya pun menggeleng kecil secara bersamaan. Entah apa yang mereka bicarakan.


"Pergi nanti sama pihak sekolah?" Tanya Arghi memecah keheningan dan Bulan mengangguk.


KRIIINGGG


"Habis ini langsung latihan ya?"


"Iya."


"Yaudah, kakak ke kelas dulu. Habisin makannya baru pergi."


"Emm."


Arghi mengelus rambut Bulan. "Semangat yam" Bulan tersenyum sambil mengangguk cepat.


Setelah tubuh Arghi dan Bintang tak terlihat lagi Bulan dengan kilat menghabiskan makanannya. Lalu berjalan kembali ke ruang dance.


...~~~...


Pintu besar itu terbuka. Melirik jam tangannya, ternyata telah lewat tengah malam, tepatnya pukul dua pagi. Kakinya menapaki satu persatu tangga dengan langkah gontai. Tubuhnya lelah sekali.


Menutup pintu kamar, pandangannya langsung tertuju ke sebuah benda. Buku yang lumayan tebal dengan tulisan matematika sebagai judul besarnya.


Nafasnya terhembus berat. "Belum belajar." Lirihnya.


Meletakkan tas di dekat meja belajar lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Sepuluh menit berselang, Bulan telah keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah.


Mendekati meja belajar, Bulan berbalik ke belakang saat mendengar pintu kamarnya terbuka.


"Kakak?"


Arghi tersenyum simpul lalu mendekati Bulan. Menarik tangan kurus tersebut naik ke atas ranjang. Mendorong pelan tubuh sang adik untuk berbaring.


Bulan masih tak bergeming.


Arghi bangkit untuk mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Setelah itu naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di samping Bulan. Mengaitkan jemarinya ke jemari kurus Bulan dengan erat.


Sepertinya Arghi tahu niat Bulan mendekati meja belajar. Dia bahkan memeluk Bulan dengan erat. Benar-benar tidak mengizinkan adiknya itu menyentuh meja belajar barang satu inci pun.


"Tidur yang nyenyak," bisiknya.

__ADS_1


Bulan pun menutup matanya, pasrah dengan hari esok yang mungkin akan lebih melelahkan.


__ADS_2