WHY

WHY
Afraid


__ADS_3

"Gimana?" Tanya Dirga sesampainya di depan ruang ICU tempat Arghi ditangani.


Cakra memandang Bulan dan Dirga prihatin. Prihatin karena melihat keadaan keduanya dengan luka di mana-mana dan prihatin dengan kabar buruk yang akan dia sampaikan.


"Maaf, tapi Arghi membutuhkan donor jantung secepatnya. Waktunya tidak banyak lagi." Tubuh Bulan merosot begitu saja ke lantai.


"Dok, teman saya ingin mendonorkan jantung untuk Arghi dan ginjalnya untuk Bintang. Tolong lakukan pemerikasaan sekarang," Bulan menoleh ke arah Dirga dengan tatapan bertanya.


"Baik, segera bawa orang itu."


"Nanti kakak jelasin." Dirga berlalu pergi bersama Cakra menyisakan Bulan yang masih terduduk di lantai. Merogoh ponselnya, Bulan menghubungi Arina.


"Tante, gimana keadaan Bintang?" 


"Bulan kamu baik-baik aja?" Bukannya menjawab Arina malah balik bertanya. 


"Iya," Bulan berbohong. "Gimana keadaan Bintang?" Bulan mengulangi pertanyaannya.


Di seberang sana Arina diam.


"Tante, Bintang baik-baik aja kan?" 


Arina menghela nafas. "Kondisinya semakin memburuk Bulan. Tusukan itu sangat dalam sampai mengenai ginjal Bintang. Lukanya juga cukup lebar dibanding luka tusuk biasa."


Kepala Bulan tertunduk dalam. Dirinya tak sanggup menerima dua kabar buruk ini.


"Kamu tenang ya, sebentar lagi Bintang akan diperiksa kecocokan ginjalnya dengan ginjal temannya Dirga. Kamu berdoa aja semoga cocok untuk tubuh Bintang."


Bulan mengangguk walaupun tahu Arina tidak dapat melihat itu. Memutuskan panggilan, Bulan bangkit dengan tak bertenaga mendekati pintu ICU. Dirinya hanya bisa memandang Arghi dari kaca pintu. Bulan sering sekali berada di dalam situasi ini. Situasi di mana dirinya hanya bisa memandang tubuh yang dipenuhi dengan banyaknya alat penopang hidup. Tubuh yang sangat sering memeluknya, mengelus rambutnya, menenangkannya, menghiburnya, bahkan mungkin separuh hidupnya ada di diri Arghi. Kakaknya itu yang membuatnya bertahan di dunia. Dan jika Arghi sampai pergi, Bulan mungkin juga akan memilih pergi.


Air mata Bulan semakin mengalir deras. Tubuhnya merosot ke lantai. Memukul lantai dengan sisa tenaganya guna melampiaskan sesak di dada.


"Kak," lirihnya. Dia sangat membutuhkan Arghi sekarang.

__ADS_1


"Adek," Bulan mendongak mendapati Dirga yang telah menggenggam tangannya.


Dirga memeluk Bulan. Keduanya menangis bersama. Mengeluarkan semua beban yang terpendam. Melampiaskan sakit di hati dengan lelehan air mata. Berharap sesak itu berkurang seiring dengan derasnya air mata yang turun.


Arina dan Abian memandang keduanya sendu. Mereka memang tidak merasakan sakitnya, namun tangisan keduanya cukup membuktikan seberapa sakit keduanya melihat orang-orang tersayang berjuang untuk hidup. 


Arina pun mendekat. Mengusap bahu keduanya memberi kekuatan.


"Dirga ikut sama Abian ya, Bulan ikut tante. Kita obatin dulu luka-lukanya." Tanpa bantahan keduanya menurut. Mungkin terlalu lemas hanya untuk mengatakan barang satu kata pun. Arina tersenyum dan segera membawa Bulan ke ruangannya.


"Aku mau mandi dulu tante," Arina mengangguk paham.


"Langsung aja ke kamar mandi. Baju gantinya udah tante siapin. Jangan lama-lama ya," yang dijawab dengan anggukan oleh Bulan.


Tak butuh waktu lama Bulan telah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Arina pun dengan sigap mendudukkan Bulan di sofa dan mulai mengobati luka-luka itu.


Dua puluh menit setelah mengobati Bulan, Arina mengambil handuk yang sedari tadi ada di pangkuan Bulan. Mengeringkan rambut gadis itu sampai tidak lagi terlalu basah.


"Udah, kamu istirahat di sini dan jangan ke mana-mana. Tante pergi dulu."


"Gimana kondisi kakak?" Abian yang sedang berkutat dengan lembaran kertas itu pun menoleh.


"Dirga dapet delapan jahitan di kepala, dan selebihnya cuma luka biasa. Kamu kenapa jalan-jalan? Bukannya istirahat."


"Ya udah, aku pergi dulu. Tolong jagain kak Dirga ya kak," Bulan kembali menutup pintu menyisakan Abian yang menatap sendu gadis itu.


Kini Bulan telah berada di ruangan Bintang. Cowok itu tengah berbaring tak berdaya dengan masker oksigen menutupi sebagian wajahnya. Bulan duduk di samping brankar Bintang, menggenggam tangan besar itu. Menunduk dalam, lalu menangis.


"Bintang,"


"Sakit banget."


"Semuanya gara-gara gue."

__ADS_1


"Gue penyebab semua kekacauan ini Bintang, gue..." Bulan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya dan menangis semakin kencang.


"Bu-kan," tangis Bulan terhenti. Mendongak untuk melihat pelaku yang bersuara.


"Bintang," melihat Bintang menatapnya sayu entah mengapa membuat tangis Bulan semakin deras.


Bintang menyusuri tiap tubuh Bulan yang banyak sekali tertempel perban. "Kenapa gak pake jaket? Sekarang lagi musim dingin," Bintang mengatakan itu dengan susah payah karena masker oksigen menganggu gerak mulutnya. Ternyata ini alasan Arghi selalu melepaskan alat bantu nafas tersebut. Rasanya sangat tidak nyaman.


"Maaf, gue gak bisa jagain lo."


Bulan menggeleng ribut. "Gue yang harusnya minta maaf. Semua kekacauan ini karena gue." Bulan meletakkan kepalanya di tangan Bintang. Tidak ingin Bintang melihat air matanya.


"Nggak Lan, lo gak salah."


"Kak Arghi Bin, gue harus apa?" Nada bicara Bulan terdengar amat frustasi.


"Kondisi lo semakin buruk, gue harus ngapain? Gue bingung Bintang, gue harus gimana sekarang?"


Bintang tidak dapat mengatakan apa pun selain terus mengusap kepala gadis itu. Dia juga tidak bisa memberikan janji bahwa dia sendiri dan Arghi akan baik-baik saja.


...~~~...


Bulan terbangun pukul empat pagi. Dua jam tertidur sehabis menangis membuat matanya berat. Menggulir netranya, ternyata Bintang sedang tertidur. Bulan pun bangkit keluar dari ruangan Bintang. Menyusuri lorong rumah sakit yang amat lenggang. Gadis itu hanya mengenakan celana training dan kaos putih polos berlengan pendek tanpa jaket atau pun mantel. Rautnya datar, namun tubuhnya bergetar kedinginan. Gadis itu sepertinya memang sedang mencari kematian. Terbukti dengan di mana gadis itu sedari tadi berdiri.


Bulan menunduk, memandang kosong jejak kakinya yang berbekas di butiran salju. Dia tidak memiliki benda tajam untuk melukai dirinya, jadi inilah pelampiasan yang dapat dia lakukan. Berdiri di tengah-tengah salju pada pagi yang masih gelap ini.


Rooftop, di tempat yang sama dengan hari di saat dia menangis di depan Bintang.


"Bulan," gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati sosok tegap Reyhan. Cowok dengan pakaian khas rumah sakit itu pun perlahan mendekati Bulan. Memakaikan Bulan jaket, lalu membawa Bulan ke dalam dekapannya. Mengelus punggung dan kepala Bulan bersamaan.


"Bulan anak hebat," kalimat singkat itu berhasil membuat Bulan kembali menangis.


"Kan kemarin kakak udah bilang, kalo butuh seseorang, kamu bisa dateng ke kakak. Jangan jadikan diri kamu sebagai pelampiasan."

__ADS_1


Reyhan melepaskan pelukannya, menggendong Bulan meninggalkan rooftop menuju ke ruangannya dan membaringkan gadis itu ke brankarnya. Wajah pucat, tubuh bergetar, napas tersengal, Reyhan meyakini Bulan mulai mengalami hipotermia. Dengan cekatan Reyhan mengambil sebuah jaket lagi untuk dipakaikan kepada Bulan. Setelah itu menyelimuti Bulan dengan selimut. Duduk di samping brankar, Reyhan mengusap lembut kepala Bulan sampai gadis itu tertidur sepenuhnya.


__ADS_2