
Sebenarnya Arghi telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit dengan syarat harus beristirahat total selagi jahitannya mengering sempurna. Tapi kalau begini Arghi sendiri yang jengah. Pasalnya Bulan benar-benar tidak membiarkannya turun dari ranjang atau melakukan sesuatu sedikit pun.
"Kakak mau ngapain?" Tanya Bulan sambil menahan bahu Arghi untuk tetap bersandar di headboard kasur.
Arghi menghela nafas panjang. "Kakak mau pipis."
"Oh, yaudah. Mau adek bantu?"
Arghi refleks menggeleng ribut. "Kakak bukan lumpuh dek," ujarnya lalu bangkit dan masuk ke kamar mandi.
Selesai dengan urusannya Arghi dibuat terperanjat saat membuka pintu kamar mandi. Pasalnya Bulan telah berdiri tepat di hadapannya sekarang tanpa aba-aba.
"Ya ampun dek, ngagetin aja."
"Hehe, maaf. Ayo balik ke kasur." Bulan menyeret Arghi kembali ke atas kasur. Untung Bulan adiknya. Kalau bukan, sudah dia ikat gadis itu di kursi belajarnya.
"Dek, pergi yuk. Jalan-jalan gitu ke taman atau ke mana. Kakak bosen di rumah. Sekalian refreshing otak sebelum ujian."
Bulan menggeleng tegas. "Harus istirahat. Nanti aja jalannya kalo kakak udah sembuh bener."
Arghi menghela nafas panjang untuk yang kedua kalinya. "Masa adek gitu sih sama kakak." Keluar sudah jurus maut Arghi yang telah lama tidak dikeluarkan.
Bulan seketika luluh begitu saja. Kasihan juga melihat Arghi sedari tadi duduk diam kebosanan.
"Yaudah iya kita jalan. Tapi Bintang lagi pergi, gak bisa nganterin."
"Kakak kan bisa nyetir."
"Tapi-"
"Udah, ayo siap-siap. Jangan lupa pakai jaket, anginnya kenceng."
Keduanya kini telah duduk selonjoran di bawah pohon rindang. Menikmati angin yang semakin kencang mengundang banyak daun yang dengan sukarela menjatuhkan diri.
Bulan mendongak ke atas. Melihat jembatan besar itu mengingatkannya akan Reyhan, pria yang menemaninya waktu hujan lebat di malam hari. Batinnya berharap semoga dia bisa bertemu lagi dengan lelaki itu dalam keadaan normal, tidak saat hujan seperti kemarin.
"Dek,"
Bulan mengalihkan pandangannya dari jembatan. "Apa?"
"Apa harapan adek di masa depan?"
Pertanyaan Arghi membuat Bulan tertegun. "Pengen dipeluk ayah bunda." Batinnya.
"Kalo harapan sih banyak banget. Salah satunya pengen liat kakak jadi sugar daddy." Jawab Bulan sambil nyengir.
Arghi tertawa dibuatnya. Tangannya terangkat guna mengacak rambut Bulan gemas.
"Ada-ada aja sih."
"Kalo kakak apa?"
Arghi mengehentikan tawanya. Kini pandangannya tertuju ke Bulan, menatap manik kelam itu dalam.
"Kakak pengen sama adek terus. Pengen liat adek bahagia selalu," ujar Arghi tulus.
__ADS_1
Senyum manis Bulan mengembang. "Sama kakak aja udah buat adek bahagia."
Arghi tersenyum lalu mengecup kening Bulan lembut. "Kakak sayang sama adek."
"Adek lebih sayang kakak."
Bulan memeluk kakaknya yang tentu saja langsung dibalas oleh Arghi. Untuk sesaat keduanya tenggelam dalam pelukan hangat, membatin dalam hati akan kelangsungan hidup yang lebih baik lagi setelahnya.
"Dek, itu ada yang jual es krim."
"Ayo beli!"
"Tunggu di sini ya."
"Tapi-"
Arghi langsung bangkit berlari ke penjual es krim tersebut.
"KAKAK JANGAN LARI! NTAR JAHITANNYA LEPAS!"
Arghi mengangkat jempolnya tinggi sambil tetap berlari. Bulan geleng-geleng kepala dibuatnya. Awas saja jika kakaknya itu telah kembali, akan dia omeli.
Bulan menggeser netranya kembali mengarah ke sungai.
"Keluarkanlah bebanmu. Kau bisa mencari seseorang di dekatmu untuk bersandar. Dan jika tidak ada, kau bisa menceritakannya kepada sungai ini. Air-air itu akan setia mendengarkanmu dan menunjukkan bahwa kau harus selalu hidup seperti air yang mengalir walaupun banyak sekali rintangan yang menghadang."
Bulan tersenyum kecil mengingat perkataan Reyhan. Kenyataannya dia tetap tidak bisa mengatakan apa pun walau di depannya telah terbentang air sungai yang mengalir tenang. Mulutnya terasa berat untuk mengeluarkan isi hatinya yang bagaikan benang kusut. Kenapa pula dia terlahir menjadi seorang yang pemendam.
"Dek,"
Bulan tersentak kaget saat Arghi memegang bahunya pelan.
"Gak ada."
Setelah es krim keduanya habis mereka pun beranjak dari sana. Berjalan santai mengitari area sungai yang cukup ramai.
Zrass
Hujan lebat turun secara tiba-tiba. Padahal langit sangat cerah sejak tadi. Tapi sekarang berubah 180 derajat menjadi gelap. Arghi pun dengan cepat menarik Bulan masuk ke mobil.
"Wah, hujannya deres banget. Padahal enak loh mandi hujan." Arghi tertegun sejenak usai menangkap getaran samar dari kedua tangan Bulan.
"Gak ada, nanti demem." Arghi memasang kaca anti hujan terlebih dahulu lalu mulai menjalankan mobilnya.
Sesampainya di rumah keduanya langsung berganti baju. Hujan masih turun dan bahkan lebih lebat dari yang tadi.
CTAAAARRR
Gledek plus kilat membuat Bulan bergidik ngeri. Walaupun dulu dia sering dijemur di tengah hujan plus petir, itu tidak membuat Bulan terbiasa akan suaranya. Bahkan Bulan selalu ketakutan setiap kali hujan deras dan petir terdengar. Mungkin semacam trauma masa lalu.
CTTTTAARRRR
Tubuh Bulan ikut bergetar. Ini adalah petir terbesar yang pernah dia dengar selama 15 tahun dia hidup. Dengan segera Bulan berlari ke kamar Arghi sampai sang empunya kamar terheran-heran melihat Bulan seperti dikejar setan.
"Kenap-"
__ADS_1
JDEEERR
"AAAAAA!" Teriak Bulan langsung berjongkok menutup kedua telinganya rapat-rapat.
Arghi pun dengan segera menutup jendela dan pintu balkon. Menggeser tirainya hingga suasana kamar menjadi gelap gulita. Menghampiri Bulan yang masih berada di posisi awal.
"Kakak di sini," Arghi membawa Bulan ke atas kasur. Memeluk adiknya itu yang masih ketakutan.
DUAR
Arghi menutup kedua telinga Bulan. Dirinya mengerti kenapa Bulan sampai ketakutan seperti ini. Petir di luar sana terdengar sangat mengerikan. Bahkan dia tadi sempat hampir terjungkal saking kagetnya.
Arghi mengelus kepala Bulan, berharap adiknya itu tertidur agar tidak lagi mendengar suara petir di luar.
Dan untungnya tak sampai lima menit cengkeraman Bulan pada baju Arghi terlepas menandakan jika gadis itu telah terlelap. Arghi tersenyum tipis melihat wajah damai Bulan. Cukup lama dirinya diam sampai matanya pun kian memberat.
"Ayah sakit,"
Nyawa Arghi yang baru saja akan menghilang langsung terkumpul detik itu juga usai mendengar gumaman Bulan.
"Sakit,"
Bulir bening keluar dari mata terpejam Bulan. Arghi menatap nanar adiknya yang tengah menangis dalam tidur.
"Bahkan saat adek tidur pun, adek gak bisa tenang ya."
"Maaf kakak gak bisa berbuat apa-apa saat adek kesakitan."
"Bunda," lirih Bulan.
Arghi mengelus surai Bulan. Dan ajaibnya gadis itu langsung berhenti menangis detik itu juga.
Hatinya seolah berdenyut nyeri merasakan sakitnya menjadi kakak yang tidak berguna. Adiknya selalu menyimpan semuanya seorang diri tanpa membiarkan orang lain mengetahui apa yang dia rasakan. Apakah dia sakit, apakah dia bersedih, dan apakah dia terluka. Bulan sangat menutup rapi semuanya dibalik senyum lebarnya.
Entah sudah keberapa kalinya pertanyaan 'kenapa' muncul di benak. Tentang kenapa adiknya selalu dilukai. Kenapa Bulan masih harus tersiksa di saat masa kecilnya pun telah terbuang di panti asuhan. Kapan adiknya bisa bebas dari semua beban itu?
Kenapa begitu banyak orang jahat yang mengitari Bulan? Padahal Bulan tidak salah apa-apa. Adiknya hanya gadis polos yang telah menerima begitu banyak penderitaan.
Arghi memukul dadanya pelan sambil menormalkan nafasnya yang sesak. Namun yang dia dapatkan malah nyeri yang semakin terasa. Arghi pun duduk, mengambil obat lalu menelannya tanpa air.
Kepalanya tertunduk dalam. Nyeri di dadanya berangsur menghilang seiring dengan nafasnya yang mulai normal.
Mendesah berat, Arghi perlahan beranjak dari kasur berniat pergi ke dapur untuk mengambil air. Tapi belum sampai kakinya menyentuh lantai suara Bulan kembali menghentikannya.
"Kak,"
Arghi kembali ke posisi awal untuk mengelus kepala Bulan. Sampai kerutan di dahi Bulan menghilang pun Arghi masih belum menghentikan usapannya.
Ditatapnya lamat wajah Bulan dalam gelap. Arghi mengecup kening Bulan cukup lama lalu ikut memejamkan mata.
...~~~...
"APA?! BERANINYA KALIAN!"
Siapa pun yang mendengar teriakan itu pasti akan merinding. Teriakan murka lelaki dewasa itu sangat menggelegar memenuhi ruangan walau melalui speaker ruangan saja.
__ADS_1
"Lakukan sekali lagi. Tapi jika sampai dia kembali terluka barang seujung kuku saja," pria itu menghentikan ucapannya. Tatapan tajam bak elang itu terpampang jelas di layar lebar.
"Tubuh kalian akan ku potong satu-persatu."