
Bulan berjalan keluar dari toko elektronik dengan menenteng sebuah plastik yang berisi gembok dan beberapa paku.
Tujuannya sekarang adalah kembali ke sekolah.
Sepuluh menit yang lalu Bulan diminta oleh salah satu gurunya untuk membeli gembok dan paku yang memang tidak akan ada jika dicari di kantin sekolah.
Saat hendak menyeberang, Bulan melihat seorang anak kecil yang sedang diseret paksa oleh seseorang.
"WOI!" Teriak Bulan.
Pergerakan lelaki itu terhenti lalu menatap Bulan tajam.
"Lepasin anak itu." Desis Bulan.
"Cih, berani juga lo bocil."
Bulan mendekat kemudian menendang tulang kering lelaki itu.
"Bangsat."
Tubuhnya refleks menghindar saat orang itu hendak memukulnya. Bulan melempar plastik isi belanjaannya tadi ke sembarang arah. Mulai serius meladeni lelaki besar itu.
BUAGH
Dan tak butuh waktu lama baginya untuk menumbangkan orang itu. Ternyata kekuatannya tidak sebesar badannya, terbukti hanya dalam waktu kurang lebih satu menit Bulan selesai.
"Cih, kabur lo." Ujar Bulan setelah lelaki tadi berlari menjauh. Lantas mendekati anak kecil yang masih berdiri ketakutan di bawah pohon.
"Dek, kamu gapapa?" Tanya Bulan lembut. Anak lelaki yang mungkin berumur sembilan tahun itu mengangguk cepat.
"Orang tuanya ke mana?" Tanya Bulan lagi.
"Rey!" Bulan menoleh ke belakang. Terdapat seorang wanita paruh baya yang sedang berlari mendekat.
"Syukurlah, kamu gapapa sayang?" Tanya ibu itu lembut sambil memeluk anaknya erat.
Bulan tertegun. Hatinya tiba-tiba sakit entah mengapa.
"Makasih ya nak, ibu gak tau harus gimana kalo Rey sampe dibawa. Terima kasih banyak."
Bulan tersenyum. "Iya, sama-sama bu."
"Oh iya, saya balik dulu ke sekolah ya bu. Takut dicariin guru," pamit Bulan.
"Tunggu. Nama kamu siapa?"
"Rembulan."
"Nama yang cantik, persis seperti orangnya."
Wajah Bulan memerah malu. "Makasih bu."
"Sekali lagi terima kasih atas bantuannya, semoga Tuhan selalu melindungi kamu."
Bulan mengangguk, lalu pergi dari hadapan ibu dan anak itu sambil melambaikan tangannya. Mengambil barang yang tadi dia lempar dan melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Ingatannya kembali ke momen di saat ibu tadi memeluk anaknya dengan raut kekhawatiran.
"Pengen juga." Gumam Bulan.
Menghela nafas panjang, menghalau rasa nyeri di hatinya.
__ADS_1
"Bulan, kenapa kamu lama sekali?" Tanya pak David, guru yang menyuruh Bulan membeli gembok dan paku.
"Maaf pak, ada preman di jalan tadi. Jadi harus muter jalan." Bulan menjawab dengan sedikit bumbu kebohongan.
"Yasudah, kembali ke kelas. Terima kasih telah membantu." Bulan mengangguk lalu naik ke lantai dua menuju kelasnya.
Saat pintu kelas terbuka telinganya langsung disuguhi suara gaduh teman-teman sekelasnya. Maklum, kelas mereka sedang kosong.
"Lo dari mana aja? Lama bener ke toilet." Tanya Bintang saat Bulan telah duduk di bangku.
"Lo gak diganggu lagi kan?" Tanya Bintang khawatir.
"Nggak, tenang aja. Gue cuma disuruh pak David beli barang di luar, makanya lama." Bintang mengangguk paham.
"Bin," panggil Bulan sambil menggeser bangkunya menghadap ke belakang.
"Apa?"
"Gue punya kakak baru."
Bintang mengernyit menatap Bulan aneh.
"Maksudnya, lo mungut kakak di jalan?"
Bulan menghela malas. "Ishh, bukan lah anjir! Kakak beneran ini."
Dahi Bintang semakin mengernyit dalam. Menatap Bulan yang tampak jujur dengan ucapannya. "Lo gak lagi ngigau kan? Bangun dulu coba, udah pagi."
"Yaudah kalo gak percaya. Jangan kaget ya nanti." Bulan melengos, kembali menghadap ke depan sambil memainkan ponselnya.
...~~~...
Arghi dan Bulan baru pulang dari kegiatan masing-masing pukul 4 sore. Keduanya memilih duduk di ruang keluarga terlebih dahulu guna melepas penat.
"Nggak, udah dari setahun yang lalu." Jawab Arghi asal.
Dirga mencibir.
"Kakak mau ke mana?" Tanya Bulan saat melihat Dirga rapi dengan setelah formalnya.
"Kakak mau ke kantor, gantiin ayah sama bunda rapat. Kalian mandi dulu, habis itu makan. Kakak pergi ya." Dirga melenggang pergi dari ruang tamu.
"Kakak udah deket ya sama kak Dirga." Ujar Bulan.
Arghi menoleh. "Nggak tuh, biasa aja."
Bulan mendengus lalu bangkit dari sofa. Naik ke kamar lalu masuk ke kamar mandi.
Air dingin mulai mengguyur tubuhnya yang berjongkok di bawah shower. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang menyelimutinya. Bulan ingin menangis. Tapi air matanya tidak bisa keluar.
Hembusan nafas beratnya tersamarkan dengan suara air yang terus mengguyur.
"Kerja bagus hari ini Bulan," ujarnya sambil mengusap kepalanya sendiri.
"Kakakkk..."
Arghi yang sedang menggunting sesuatu di lantai kamar pun menoleh.
Bulan duduk di hadapan Arghi sambil meletakkan buku tulis dan pena yang sedari tadi dia bawa.
"Mau tanya ini."
__ADS_1
Arghi mengambil buku tulis Bulan. Mengamati sederet tulisan yang memenuhi seperempat kertas putih bergaris tersebut.
"Ini kakak belum belajar, semester 2 nanti pelajarannya. Emang buat apa?"
"Lomba kemarin kan adek masuk ke babak akhir, soal nya pasti lebih susah. Yang kemarin aja susah banget."
"Kenapa gak suruh kelas akhir aja sih? Apa jangan-jangan ayah yang milih?" Batin Arghi.
"Kakak ambil buku dulu."
Arghi bangkit berjalan ke meja belajarnya. Mengambil buku matematika yang lumayan tebal, lalu kembali ke posisi semula.
Selagi Arghi berkutat dengan bukunya, Bulan mengubah posisinya menjadi tengkurap. Mengamati sosok Arghi yang terlihat sangat tampan walaupun hanya diam. Ditambah dengan cahaya lampu yang menyinari menambah keindahan lelaki itu.
"Adek ngapain liat kakak kayak gitu?" Tanya Arghi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Kakak ganteng, pasti banyak yang suka. Nanti kakak pacaran, habis itu lulus, kuliah, nikah, punya anak."
Arghi terkekeh geli. "Kalo kakak masih hidup." Arghi membatin dalam hati. Tidak mungkin dia mengatakannya secara gamblang. Arghi tidak ingin menghancurkan ekspektasi tinggi adiknya.
"Jauh banget pikirannya."
"Kak, kalo adek gak bisa sama kakak terus, gak bisa datang ke acara nikahan kakak, adek minta maaf ya."
Fokus Arghi buyar seketika.
"Kenapa ngomong kayak gitu?" Arghi menatap Bulan yang juga tengah menatapnya.
"Eh, astaga adek ngelantur. Bukan apa-apa kok." Bulan nyengir hingga memperlihatkan deretan gigi rapinya.
Jika saja perkataan Bulan tidak mengganjal di hatinya mungkin Arghi akan mengacak-acak rambut Bulan gemas. Berdehem pelan, Arghi pun mendekati Bulan. Mulutnya mulai berkomat-kamit menjelaskan materi matematika yang tadi Bulan tanyakan.
"Adek ngerti?" Bulan mengangguk semangat.
"Makasih kak." Ucap Bulan sambil tersenyum hingga kedua matanya pun ikut tersenyum.
Arghi mengangguk.
"Kapan babak finalnya?"
"Lusa."
"Belajarnya jangan sampe malem banget, jangan sampe gak tidur kayak kemarin ya." Nasihat Arghi sambil membelai lembut surai Bulan.
"Oke," Bulan memindahkan kepalanya ke paha Arghi.
"Adek pengen ke bulan."
Entah apa hanya pemikirannya saja, namun dia merasa Bulan mengatakan hal yang ambigu sedari tadi.
"Adek pengen naik ke langit, pengen liat Bulan secara langsung. Apa adek jadi astronot aja? Tapi adek pengen jadi dokter. Ah, adek juga mau ngedance. Tapi adek juga suka musik."
Arghi tertawa. Tangannya mencubit pipi tirus Bulan gemas. "Kok random banget sih?"
"Adek bingung mau jadi apa nanti."
Arghi menghentikan tawanya lalu kembali mengelus surai panjang Bulan. "Adek bisa nerusin hal yang adek sukai sekarang. Tapi adek juga bisa kalo mau nyobain hal baru kayak dokter sama astronot tadi. Semua itu tergantung ke adek mau pilih mana yang adek pengen banget."
Bulan diam sejenak. Menatap lurus ke langit kamar Arghi. "Adek mau ke langit."
Dan lagi, perkataan Bulan mengganggu pikiran Arghi. Seperti ada artian lain dibalik perkataan sang adik yang terdengar ambigu di telinganya.
__ADS_1
Arghi tersenyum lembut. Menghempas pemikiran buruknya. "Kakak akan selalu dukung apapun impian adek."