WHY

WHY
Rey


__ADS_3

Arghi menarik Bulan hingga sang adik membentur tubuh tegapnya. Bulan pun mendongak guna melihat wajah kakaknya lebih jelas.


"Hati-hati adek, tutup dulu bukunya. Di kelas nanti baru lanjutin." Tegur Arghi.


"Iya kak."


Setelah Bulan menutup bukunya Arghi kembali menggandeng tangan Bulan menuju ke lantai dua. Mengantar sang adik sampai ke kelas.


"Jangan khawatir, adek udah hebat kok. Pasti bisa ngerjain soal nanti dengan lancar. Jangan terlalu dipikirin, nanti panas otaknya." Nasihat Arghi.


Bulan mengangguk.


"Kakak ke kelas ya." Arghi mencium kening Bulan lalu mengelus surai panjang itu dan berlalu dari kelas Bulan.


Terdiam selama 15 detik di depan kelas. Bulan jadi bingung mau melakukan apa. Otaknya eror. Hingga bel masuk berdering membuat Bulan tersentak sadar bahwa dia harus masuk ke kelas.


"Astaga kenapa gue jadi ngebug gini?" Gumamnya kemudian masuk ke dalam kelas.


...~~~...


Bulan menghela nafas berat. Perasaan gelisah itu terus saja menghantuinya. Rasanya dia ingin pergi ke tempat yang sepi dan berteriak sekencang mungkin.


"Awas saja jika tidak dapat menduduki posisi pertama."


Sekali lagi Bulan menghela nafas. Menatap ke arah panggung yang menampilkan layar lebar yang masih kosong.


Setelah berjuang mengisi soal dengan 9 orang lainnya, dan kini Bulan tengah menunggu layar tersebut terisi. Berharap namanya muncul di sana agar dapat melanjutkan perlombaan ke babak terakhir, yaitu lima besar.


Deg


Bulan menghela nafas lega. Namanya terpampang di urutan kedua. Kurva indah terangkat menampilkan senyum bulan sabitnya.


"Lo harus bisa Bulan."


Di sisi lain ada Bintang yang sedang berdiri gagah di rooftop gedung dengan setelan formal plus kacamata hitamnya.


Melirik pergelangan tangan kirinya lalu berbalik. "Minus sepuluh detik."


Suara tawa memenuhi indra pendengar Bintang. Melepaskan kacamatanya, menatap intens lelaki lewat paruh baya yang berada tepat di hadapannya.


"Long time no see Bintang. Wahhh, kau semakin tampan saja. Terakhir saat aku mencekik lehermu, kau masih sangat kecil." Lelaki tua itu kembali tertawa. Entah apa yang lucu, mungkin dia sudah gila.


"Jangan membuang waktuku." Ujar Bintang dengan raut datar.


"Eyy, kau tak berubah ya. Masih saja ketus jika berbicara denganku."


Bintang tak mengindahkan. Maju selangkah, lalu melemparkan sebuah flashdisk yang langsung ditangkap oleh si tua.


"Jangan macam-macam."


Bintang berlalu pergi dari hadapan lelaki tua itu. Namun baru setengah perjalanan langkah Bintang terhenti saat lengan kirinya tergores pisau yang terlempar dari arah belakang.


Hingga pisau tersebut jatuh terbentur dinding Bintang masih diam. Melirik lengannya sekilas lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Bintang menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Anjir! Itu lengan lo?!" Seru Daffa histeris.


"Biasa aja kali." Bintang mencibir.


Dengan raut geli Daffa pun membuka paksa jas Bintang hingga menampilkan kemeja putih yang telah berubah warna menjadi merah di bagian kiri.


"Buka baju sendiri atau mau gue bukain?" Tanya Daffa dengan raut datar.


"Biarin aja, lo pergi sana. Bentar lagi meeting mulai kan?"


"Oh, gue yang bukain nih?"


"Ga- EH IYA IYA GUE BUKA SENDIRI! Anjir gak ada harga diri lagi gue jadi bos depan lo." Gerutu Bintang sambil membuka kemejanya dengan setengah hati.


"Bacot." Daffa pergi mengambil kotak obat lalu kembali duduk di samping Bintang. Mengobati luka sang atasan yang ternyata lumayan dalam.


Bintang melirik tangannya. "Gak jadi meeting lo?" Dengan sengaja Daffa menekan lengan berotot tersebut hingga membuat Bintang refleks menggeplak wajah bawahannya tersebut.

__ADS_1


"Anjing lo." Umpat Bintang.


Daffa tak menjawab. Hanya memasang wajah julidnya yang membuat Bintang menahan diri untuk tidak kembali menggeplak wajah tampan Daffa.


Ruangan pun hening hingga Daffa selesai mengobati Bintang. Membereskan tisu yang tadi dipakainya lalu membuangnya ke tempat sampah. Berjalan ke pojok ruangan, membuka lemari yang berdiri tegak di sana dan mengambil sebuah kemeja. Memberikannya kepada Bintang lalu kembali duduk.


Selesai memakai kemeja Bintang menatap Daffa bingung. "Napa masih di sini? Gak meeting?"


Daffa berdecak. "Meeting terus yang lo omongin."


"Dih, pms lo?" Cibir Bintang.


"Iye, napa gak suka lo?" Sewot Daffa.


Bintang memilih diam. Takut kena semprot lagi oleh lelaki yang sedang dirasuki oleh setan perawan di sampingnya itu. Setengah menit saling diam, Daffa beranjak dari duduknya. Berjalan ke meja kebesaran Bintang lalu mengambil sebuah map yang barusan dibawanya. Memberikannya kepada Bintang lalu kembali duduk.


"Idih, cuma flashdisk doang ditaruh di map." Julid Bintang.


"Tulung ya bos, julidnya dikurangin. Minta ditampol banget mukanya." Pinta Daffa sambil tersenyum manis.


"Mon maaf nih ya, gue julid juga dari lo nularnya." Balas Bintang.


Berdehem sebentar, Bintang mencolek lengan Daffa pelan. "Tolong ambilin laptop dong."


"Dih, ambil sendiri sono."


"Aduh, lengan gue sakit banget. Rasanya kayak mau patah nih." Bintang memelas.


Merotasikan bola matanya dan dengan setengah hati kembali bangkit mengambil laptop yang berada di atas meja.


Bintang nyengir lebar lalu fokus ke laptopnya.


"****."


...~~~...


"Terima kasih untuk semua siswa dan siswi atas kerja kerasnya hari ini. Setelah ini langsung pulang dan istirahat ya, see you soon everyone!"


Bulan tetap di tempat. Menunggu suasana tidak terlalu ramai sambil menatap layar di panggung dengan tatapan kosong. Hingga suasana mulai sepi Bulan langsung beranjak bangkit.


Menapaki trotoar dengan pandangan kosong. Malam ini hanya sedikit orang yang berjalan kaki. Biasanya banyak pasangan muda yang memenuhi jembatan untuk menatap keindahan sungai di malam hari mengingat besok adalah hari libur.


Mungkin karena suasana dingin ditambah dengan langit yang sepertinya siap menumpahkan bebannya, membuat siapa saja lebih memilih berdiam di rumah. Dan benar saja, tiba-tiba hujan mengguyur kota dengan derasnya. Bulan mendongak guna membiarkan wajahnya dipukul keras oleh air hujan. Menghentikan langkahnya, Bulan berpegang pada pembatas jembatan. Menatap air sungai yang meloncat-loncat karena pukulan hujan.


Dua menit terdiam, Bulan mencengkeram pagar pembatas.


"Ayo lompat bersama, sudahi penderitaanmu. Kamu pasti lelah kan? Ayo,"


Telinganya dipenuhi dengan bisikan seseorang. Tubuhnya pun hendak bergerak di luar kendali.


Bulan menutup telinganya mencoba menghalau bisikan tersebut. Tapi tetap tidak mau hilang.


Kakinya bergetar. "Tahan Bulan." Gumamnya lirih.


Sejujurnya dia ingin, Bulan ingin mengakhiri semuanya. Tapi mengingat orang-orang yang dia sayangi membuatnya harus tetap bertahan. Tugasnya belum selesai.


Hingga sebuah tangan ikut menutup telinganya, membuat bisikan-bisikan itu lenyap seketika.


"Kuasai dirimu, jangan biarin bisikan itu mengambil hakmu." Bisiknya lirih.


Bulan tersentak. Suara itu asing. Dia tidak pernah mendengarnya. Dengan takut Bulan berbalik, hingga sosok lelaki dengan setelan hitam di depannya itu tersenyum manis.


"Jangan takut, saya bukan orang jahat kok." Ujarnya.


Lelaki itu berpindah tempat, berdiri di samping Bulan. "Berat ya? Pasti capek kan? Wajar kok. Tapi jangan sampai membuat dirimu hilang kendali. Itu tubuhmu, dan kamu sendiri yang harus mengendalikannya."


Bulan bingung saat lelaki di sampingnya itu menjulurkan tangan.


"Reyhan, panggil aja kak Rey."


Seketika Bulan teringat dengan anak kecil yang dia tolong kemarin. Nama yang sama dengan wujud yang berbeda.


Bulan membalas uluran tangan Reyhan dengan ragu. "Rembulan, panggil aja Bulan." Bulan diam sebentar dan dengan ragu bertanya. "Emm, kakak kelas berapa?"

__ADS_1


Reyhan tersenyum. "Gak sekolah."


"Umurnya berapa?" Tanya Bulan penasaran.


"17 tahun."


Bulan terkejut. Kenapa Reyhan tidak sekolah? Padahal penampilan lelaki itu seperti orang berada.


"Kakak udah selesai sekolah. Sekarang lagi belajar ngurus perusahaan orang tua."


Bulan mengangguk paham. "Kakak... bahagia?" Entah mengapa, namun pertanyaan itulah yang pertama terlintas di otaknya.


Reyhan tersenyum tipis. "Ya... mau gimana lagi, gak bisa dihindari." Jawaban yang tidak masuk dengan pertanyaan Bulan, tapi dia paham makna di balik ucapan itu.


"Belum mau pulang? Bulan menggeleng.


"Udah 15 menit hujan-hujanan."


Bulan kembali menggeleng. "Belum mau. Kak Rey aja yang pulang, nanti sakit loh."


Reyhan terkekeh geli sambil mengusak rambut Bulan dengan gemas. Setelah sekian lama, baru kali inilah Reyhan berbicara langsung dengan gadis itu. Biasanya dia hanya dapat melihat Bulan dari kejauhan. Bukan dia menguntit, namun sosok Bulan sangat sering dia temukan. Gadis itu sering sekali dia dapati menyendiri di taman atau rooftop rumah sakit dengan tatapan sendunya.


Mata keduanya terpaku pada pemandangan kerlap-kerlip sungai yang terlihat sangat indah jika di malam hari.


"Kakak lagi sakit ya?"


Reyhan menoleh menatap Bulan kaget. "Enggak tuh."


"Kok pucet banget?"


"Emang dari sananya." Jawabnya asal.


Bulan percaya saja walau agak kurang yakin.


"Pulang gih. Sakit nanti, udah 20 menit. Rumahnya di mana? Mau dianter? Hujan deres kayak gini, malem pula. Nanti diculik."


"Belum mau, 10 menit lagi. Kak Rey aja yang pulang sana." Usir Bulan.


"Rumah di mana? Ayo kakak anter." Bulan kembali menolak.


Menghela nafas, Reyhan menatap Bulan dari samping. Mata bak kucing itu sibuk menatap ke depan dengan pandangan menerawang. Sepertinya beban anak perempuan itu berat sekali dilihat dari sorot mata dan hembusan nafasnya.


"Nanti orang tuanya khawatir loh."


"Iya, sebentar lagi aja." Lirih Bulan sambil tersenyum. Bukan senyum biasa. Tapi senyum yang menyiratkan kepedihan yang mendalam. Reyhan tahu karena mungkin pernah mengalami itu.


Menggeser tatapannya ke langit malam, Reyhan bersuara. "Kakak anak tunggal. Dari dulu bahkan sampai sekarang selalu sendiri. Mereka yang bahkan keluarga sendiri pun gak peduli. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri, dan akhirnya berpisah dan kembali ke pasangan masing-masing. Tanpa mempedulikan seseorang yang merupakan darah dagingnya sendiri."


"Pernah suatu hari kepikiran buat pergi dari dunia yang kejam ini. Tapi untungnya gak jadi. Setelah itu kakak jalani hidup seperti biasa. Hingga suatu malam, kakak berdiri di sini, tepat di tempat kamu berdiri sekarang. Tubuh rasanya bergerak di luar kendali, hampir aja jatuh kalau gak ada yang nahan. Dan kamu tahu dia bilang apa?"


Bulan menggeleng.


"Keluarkan bebanmu. kamu bisa mencari seseorang di dekatmu untuk bersandar. Dan jika tidak ada, kamu bisa menceritakannya kepada sungai ini. Air-air itu akan setia mendengarkan kamu dan menunjukkan bahwa kau harus selalu hidup seperti air yang mengalir walaupun banyak sekali rintangan yang menghadang."


"Hindari pemikiran 'masih banyak yang lebih menderita di luar sana.' Karena dengan pemikiran itu cuma buat kita menyepelekan rasa lelah di diri sendiri dan membuat kita tenggelam di rasa sakit yang nantinya malah berujung ke dampak yang lebih berbahaya."


Bulan tertegun.


"Gak masalah jika ingin menangis karena menangis bukan berarti lemah. Air mata yang keluar akan menjadi saksi perjuangan hidup yang nanti bisa kamu jadikan pelajaran di masa depan yang akan datang."


Tanpa sadar air mata Bulan mengalir tertutupi oleh kerasnya air hujan yang sedari tadi menghantam. Mengendalikan dirinya, Bulan tersenyum penuh, menampik rasa nyeri di hati membuat Reyhan pun ikut tersenyum.


Diusapnya kepala Bulan dengan lembut. "Jangan tersenyum kalau itu menyakitkan."


Bulan menghela nafas berat, tersenyum lebih lebar lagi lalu mengangguk.


"Pulang ya? Udah 30 menit."


Bulan mengangguk, lalu melambaikan tangannya.


"Dadah kak Rey! Makasih untuk motivasinya."


"GAK MAU KAKAK ANTER?"

__ADS_1


"NGGAK! KAKAK PULANG AJA NANTI SAKIT! DADAHHH!"


Reyhan tersenyum, menatap punggung kecil Bulan yang semakin lama semakin menjauh. "Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu Rembulan."


__ADS_2