WHY

WHY
Ordinary Day


__ADS_3

Mata Bulan mengerjap pelan sampai kesadarannya terkumpul penuh. Bangkit untuk duduk, kemudian bingung saat sadar bahwa dia ada di kamar.


"Lah, Bintang?" Bulan mendekati Bintang yang tidur dengan posisi duduk bersandar ke sandaran kasur.


"Bin," Bulan menggoyang tubuh Bintang sampai cowok itu bangun.


"Ngapain tidur kayak gini? Sakit semua pasti badan lo."


"Oh iya, kita kok di sini? Kak Arghi sendirian dong di rumah sakit."


Bintang menatap Bulan kaget. "Lo... gak inget?"


"Inget apa?" Bintang terdiam. Bulan tidak sadar saat melukai dirinya sendiri semalam.


"Liat tangan lo."


Sepersekian detik kemudian mata sipit itu membola. Perban putih menempel di tangan kiri dengan bercak kemerahan. Kenapa dia bisa tidak sadar?


"I- ini,"


Bintang mengangguk.


Bulan masih memandang pergelangan tangan kirinya. Ini kali pertama dia melakukan self harm di tangan dan itu pun tanpa dia sadari. Selama ini sedari Bulan berumur tujuh tahun sampai sekarang, dirinya selalu menyayat tipis kakinya. Mengikuti garis-garis kaki secara abstrak tanpa ada siapa pun yang mengetahui hal itu tentunya.


"Lo pulang ke rumah naik apa?" Bulan menggeleng tanda tak tahu. Dia masih syok melihat tangannya. Bagaimana jika Arghi melihat ini?


"Kalo kak Arghi liat ini gimana?" Tanya Bulan lesu.


Bintang mengelus kepala Bulan.


"Nanti gue jelasin ke dia."


Di sinilah keduanya berada, di depan ruangan tempat Arghi dirawat. Sedari tadi Bulan terus saja menahan tangan Bintang untuk membuka pintu tersebut. Sampai pintu terbuka dengan sendirinya dari dalam membuat kedua muda-mudi yang tadi sibuk berdebat mematung.


"Loh Ar? Udah boleh pulang?" Tanya Bintang.


Arghi hanya mengangguk. Sebenarnya belum diperbolehkan, tapi dia yang memaksa. Bosan tiduran di ranjang rumah sakit terus-menerus.


"Adek?" Panggil Arghi heran karena Bulan bersembunyi di balik tubuh Bintang.


"Balik dulu, nanti gue jelasin."


Bulan langsung menggeser tubuhnya saat Arghi berjalan mendekatinya. Jadilah kini Bintang yang berada di tengah.


Sesampainya di rumah Bulan langsung keluar dari mobil. Berlari ke dalam entah ke mana. Arghi sebenarnya ingin menahan Bulan. Dia ingin bertanya apakah dirinya melakukan kesalahan sampai Bulan menghindarinya. Tapi Bintang langsung mencegah. Mengajaknya duduk di ruang tamu.


"Jadi?" Tanpa basa-basi Arghi langsung membuka suara.


Bintang menghela nafas panjang. "Dengerin cerita gue sampe habis, jangan lo potong."


Bintang menceritakan semua yang terjadi semalam kepada Arghi tanpa ada yang terlewat. Sampai Bintang menyelesaikan kata-katanya Arghi sukses membatu di tempat. Bisa-bisanya dia baru tahu sekarang.

__ADS_1


"Bulan cuma takut lo sedih dan berakhir drop liat dia kayak gitu. Makanya dia menghindar."


Bintang menepuk bahu Arghi. "Gue balik ya," Bintang pun berlalu dari hadapan Arghi dan pulang ke rumahnya. Memberi waktu untuk kedua kakak beradik itu.


Tanpa banyak berpikir Arghi bangkit dan melangkah cepat ke kamar Bulan. Tetapi tidak ada siapa pun di sana. Kakinya mengitari lantai dua sampai ke sudut-sudut tapi masih tidak menemukan Bulan. Turun ke lantai satu, sang adik masih tak dia dapatkan. Arghi berhenti sejenak mengatur nafas.


Sampai dirinya memeriksa halaman belakang, dia melihat Bulan yang duduk di atas rumput. Kepala sang adik tenggelam di kedua lutut.


Arghi mendekati Bulan, duduk di samping sang adik.


Bulan tersentak saat ada sebuah tangan mengelus kepalanya. Menoleh ke samping, ternyata Arghi pelakunya. Arghi langsung memeluk Bulan. Air matanya pun turun tanpa diperintah. Tidak peduli dengan kalimat orang yang mengatakan laki-laki tidak boleh menangis. Hatinya sudah terlampau sakit.


"Kakak, maaf." Cicit Bulan dengan suara bergetar.


Arghi menggeleng. "Kakak yang harusnya minta maaf."


"Maaf kakak gak dateng semalem."


"Maaf, ayah sama bunda gak bisa peluk adek. Adek peluk kakak aja ya, seharian, atau selamanya juga boleh."


"Maaf, udah biarin adek terluka."


"Kakak maaf," Bulan masih mengulang perkataannya. Punggungnya bergetar hebat menahan tangis membuat Arghi semakin mengeratkan pelukannya.


Arghi menaruh dagunya di pucuk kepala Bulan. Mengecup surai panjang itu. "Gapapa nangis aja, jangan ditahan. Kakak di sini."


...~~~...


Matanya tak sengaja menangkap ruangan yang biasanya dipakai Cahyo untuk beristirahat. Pintunya terbuka sedikit. Arghi yakin jika di dalam sana ada seseorang.


"Kak Dirga,"


Arghi mendekati Dirga yang masih terlelap. Memandang wajah itu lamat. Raut wajah lelahnya begitu kentara. Kantung matanya pun terlihat sangat jelas.


"Ar, lo di sini." Dirga bangun dari tidurnya.


"Berapa jam tidur?"


Dirga melirik jam tangannya. "Satu jam."


"Yaudah tidur lagi aja."


"Gak bisa, habis ini harus ke kantor bunda."


"Biar gue aja."


"Kliennya mau ketemu gue, bukan lo."


Kening Arghi berkerut. "Harus lo banget?"


Dirga mengangguk lalu bangkit dari ranjang. Mengambil handuk di sudut ruangan lalu masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Arghi pun keluar dari ruang istirahat untuk memeriksa berkas yang baru saja diantar oleh bendahara perusahaan.


Tok tok tok


"Masuk,"


"Maaf mengganggu tuan, klien yang kemarin ingin bertemu tuan Dirga membatalkan janji temunya. Sebagai gantinya, malam nanti klien tersebut akan datang kemari."


"Oke, nanti saya sampaikan. Terima kasih."


Karyawan itu membungkuk lalu pergi dari ruangan. Arghi pun kembali fokus ke kertas di tangannya sambil sesekali mengetik sesuatu di keyboard laptop.


"Ar, gue pergi dulu."


"Ehh, gak usah."


Kening Dirga mengkerut.


"Kliennya batalin, gantinya dia dateng ke sini malem nanti."


Dirga menghela nafas kesal. "Tau gini mending gue lanjut tidur tadi."


"Yaudah sana tidur."


"Kagak bisa, mata gue udah melek sempurna ini." Dirga menghempaskan tubuhnya ke sofa.


Arghi menutup laptopnya lalu duduk di sebelah Dirga.


"Gue mau ngomong sesuatu, penting." Dirga sedikit membenarkan posisinya. Siap mendengar apa yang akan Arghi ucapkan.


"Kejadian semalem."


"Maksud lo?"


Arghi menceritakan semua yang terjadi dengan Bulan kepada si sulung.


"Mau coba bawa adek ke psikiater?" Arghi menggeleng.


"Adek gak mau. Lagipula, sama kita aja adek tertutup, apalagi sama orang lain."


Dirga menghela nafas gusar. Banyak sekali kejadian akhir-akhir ini. "Jangan terlalu dipikirin banget, nanti stres lo. Gue ceritain ini ke lo karena lo adalah yang tertua. Pasti gak enak kalo adeknya nutupin masalah sebesar ini."


Dirga tersenyum tipis. Beruntung sekali dia memiliki adik seperti Arghi dan Bulan.


"Habis ini gue ke rumah sakit. Mau minta saran sama dokter Arina tentang psikis adek."


"Mau gue temenin?"


"Gak usah, lo pulang aja. Istirahat atau gak temenin adek di rumah depan, sekalin kenalan sama Bintang."


Arghi pun bangkit lalu kembali ke bangku kebesaran Cahyo. Melanjutkan perkerjaannya yang tertunda.

__ADS_1


"Ar, gue pulang ya." Arghi menoleh lalu mengangguk.


__ADS_2