WHY

WHY
Pain


__ADS_3

Arghi berdiri tegak mengamati rumah baru Bintang dan Bulan. Suasana pemakaman telah sepi. Hanya tersisa dua kakak beradik dengan Dirga yang menjaga Arghi dari belakang. Takut kalau tubuh itu tumbang tiba-tiba.


"Ar, pulang yuk. Tubuh lo butuh istirahat."


"Sebentar lagi."


Suasana kembali sunyi. Keduanya tidak melakukan apa pun di sana. Hanya diam memandang nisan yang masih sangat baru tanpa menangis ataupun tertawa. Hingga 20 menit lamanya, Arghi baru mengajak Dirga untuk pulang.


"Balik rumah aja."


"Tapi-"


"Please." 


Dirga pun mau tak mau mengangguk lalu memapah Arghi masuk ke dalam mobil. Dari perjalanan sampai keduanya sampai di rumah, tak ada satu pun yang membuka percakapan. Mereka diam tenggelam dalam pemikiran masing-masing.


"Langsung istirahat ya." Arghi mengangguk lalu melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua. Bukan ke kamarnya, namun ke kamar sang adik. 


Aroma lavender langsung menguar saat dia membuka pintu. Aroma ini Arghi pilih khusus untuk Bulan agar dapat mengurangi sedikit beban pikiran buruk gadis itu.


Kamar bernuansa coklat muda itu terlihat sangat rapi. kasurnya, meja belajar, lemari televisi, dan samua barang tertata sangat rapi. Seperti tahu bahwa setelahnya kamar itu tak ada penghuninya lagi, Bulan benar-benar menata kamarnya.


Arghi pun beralih duduk di meja belajar. Menyentuh buku-buku tebal milik Bulan. Buku yang menjadi saksi seberapa keras Bulan belajar sampai menjelang pagi, bahkan sering tidak tidur. Apalagi saat ada olimpiade, Bulan benar-benar tidak menyentuh kasurnya barang seinci pun.


Berganti ke laci. laci pertama berisi semua alat tulis Bulan. Pena, pensil, penggaris, penghapus, pensil warna, dan masih banyak lagi. Itu semua juga tertata rapi. Berlanjut ke laci kedua yang membuat Arghi mematung sejenak. Di sana hanya ada 3 amplop yang mengisi. Di masing-masing amplop tersebut ada namanya, Dirga, dan Lisa. Arghi pun meraih ketiga amplop tersebut tak percaya.


"Udah disiapin ya." Gumamnya serak.


Dengan tangan gemetar Arghi membuka amplop yang terukir namanya. Dirinya mengambil nafas panjang, menyiapkan diri, lalu mengeluarkan isinya.


.


Kakakkkk


Emm... kayak kuno banget ya nulis surat gini. Hehe... tapi gapapa. Surat ini khusus buat kakak yang palingggg adek sayangi. Kakak tahu? Adek beruntunggggggg banget bisa jadi adik dari seorang Arghi Cahya Pratama. Orang-orang pasti iri banget sama adek. Secara kakak ganteng, baik, perhatian, penyayang, lembut banget perlakuannya, pokoknya kakak tuh paket lengkap banget. Untung adek gak baper sama kakak sendiri, kan gawat jadinya. Nanti siapa ya yang bakal dapetin kakak? Pengen tau, tapi waktu adek ternyata gak cukup ya, hehe...


Kak, terima kasih ya untuk semuanya. Terima kasih udah sayang sama adek, peluk adek saat hujan petir, rawat adek layaknya orang tua, jagain adek, duh... banyak banget yang udah kakak lakuin buat adek. Maaf adek belum bisa kasih apa-apa, belum bisa banggain kakak, belum bisa jadi orang yang berguna, belum bisa jagain kakak. Nanti di kehidupan selanjutnya adek mau gantian. Adek yang bakal jagain kakak!

__ADS_1


Kakak jangan lupa istirahat ya, minum obat, rajin-rajin check up, kalo kerja jangan sampe gak makan. Ambil bantal adek kalo bantal di kamar kakak kurang ya. Jadi kalo sesek tumpukin bantal sebanyak-banyaknya. Eh tapi kalo banyak-banyak jadinya duduk ya. Jangan deh, secukupnya aja. Terus, kalo sekolah jangan lupa ke kantin pas jam istirahat. Oh iya, bentar lagi kakak lulus. Wahh... pengen liat kakak kuliah sampe make toga. Tapi gak bisa rupanya. Hehe... nanti di kehidupan selanjutnya aja ya, semoga. Tapi pengen juga liat kakak nikah terus punya anak. Aduh kebanyakan pengen jadinya.


Maaf ya kak, kalo tulisan adek susah dimengerti. Ini kertasnya juga banyak kena air. Sesek banget kak, adek gak bisa tahan buat gak nangis. Jadi geter-geter nulis ini. Pengen peluk kakak sekarang, sakit banget. Lebih sakit dari pukulan ayah bunda, lebih sakit dari kena hukum ibu panti, lebih sakit dari tuduhan jahat mereka.


Padahal cuma nulis gini doang ya, tapi kok sesakit ini?


Udah dulu ya kak, adek pamit. Nangis aja kalo kakak sedih. Tapi jangan sampe lupa istirahat dan minum obat. Adek gak mau ya kalo kakak sakit lagi! Kalo kangen, liatin bulan aja. Itu adek yang lagi nyamar jadi penerang malam. 


Udah, habis ini langsung istirahat ya. Dadah... Adek sayang kakak!!!


.


Tangis Arghi keluar deras seusai membaca surat dari adiknya. Setelah pagi tadi dia mati-matian menahan diri, akhirnya bulir itu keluar juga. Dadanya nyeri, namun hatinya lebih nyeri. Terpisah dengan Bulan sejak adiknya itu lahir. Saat bertemu malah melihat adiknya sengsara. Dan sekarang, dia harus menerima kenyataan bahwa sang adik telah berpulang tanpa ada yang bisa dia berikan. Bahkan keinginan terbesar Bulan untuk dipeluk orang tuanya saja tak bisa Arghi kabulkan. 


"Dek, kakak sakit. Adek gak mau dateng? Sebentar aja." Lirihnya sambil meremat kuat dada kirinya. Denyutan itu semakin menjadi-jadi seiring dengan isakannya yang semakin hebat.


"Ya Tuhan... Kenapa?!"


"Aku yang sakit, tapi kenapa mereka yang pergi?"


"Tuhan, sakit sekali..." Arghi menepuk kuat dadanya. Sulit sekali untuk menarik oksigen. Seperti tenggelam ke dasaran air, Arghi tak dapat bernafas. 


"Tuhan..." Arghi semakin kalap. Matanya sayu hampir tertutup. Oksigen mungkin memusuhinya sampai tidak mau dia hirup. Namun di tengah sakitnya, dia melihat bayang-bayang Bintang dan Bulan yang tengah bersimpuh di hadapannya. Menatapnya dengan sorot mata khawatir.


"Ayo kak, berjuang sedikit lagi." Bulan menangkup kedua pipi Arghi. Usapan tangan itu terasa sangat nyata. Ingin rasanya dia memeluk keduanya erat sambil berkata bahwa dia sangat rindu. Namun dia takut kalau dia menyentuh mereka, Bintang dan Bulan akan hilang dari pandangan. Iya, dia tahu bahwa itu semua hanya halusinasinya saja.


Arghi pun diam tak bergerak. Seolah tak mempedulikan kondisinya, dia malah tersenyum. Tuhan mengabulkan doanya. Memperlihatkan Bintang dan Bulan di hadapannya walau dia tahu bahwa mereka hanya buatan angannya.


Bayangan Bulan pun bangkit ke kamar Arghi dan kembali dengan masker oksigen di tangannya. Saat masker tersebut terpasang utuh di wajah, bayang-bayang Bulan langsung berubah menjadi wajah Dirga.


"Naik," Dirga membelakangi Arghi. Membantu sang adik untuk naik ke punggungnya. Lalu segera membawa Arghi masuk ke kamar, memasangkan masker oksigen ke hidung adiknya.


Dirga keluar terlebih dahulu, lalu kembali masuk dengan segelas air di tangan. Bergerak gesit menyiapkan obat-obat yang harus Arghi minum.


"Masih sesek? Bisa dilepas sebentar gak?" Arghi mengangguk sekali. Mendudukkan tubuhnya dan meminum obat yang diberikan Dirga. 


Dirga menumpuk dua bantal menjadi satu dan membantu Arghi kembali berbaring. Tangannya terangkat mengusap kening Arghi yang dipenuhi keringat dingin.

__ADS_1


"Masih sakit dadanya?" Arghi mengangguk.


"Gak usah ke rumah sakit." Ucapnya yang mengerti apa yang akan Dirga katakan selanjutnya.


"Maaf ya."


"Maaf apa?"


"Gue gagal jadi kakak." Arghi menggeleng tak setuju.


"Sekarang kita cuma berdua. Gak ada lagi perempuan yang harus kita jaga. Tugas kita sudah diambil alih oleh Tuhan." Dirga menatap kosong tirai balkon Arghi. Tempat yang selalu Bulan datangi meski salju atau bahkan hujan badai sedang lebat-lebatnya.


"Sebelum pergi adek titip salam buat lo. Katanya dia kangen." Hanya dengan begitu saja air mata yang tadinya telah berhenti kembali keluar. Dirga menutup kedua wajahnya dan terisak di sana.


"Gimana gue hidup setelah ini ya?" Tanya Arghi memandang kosong atap kamarnya. Memikirkan hari-hari setelahnya. Tak ada lagi gadis yang bisa dia peluk, dia manjakan, dia lindungi, dan dia perhatikan. Tak ada lagi yang mengingatkannya untuk minum obat dan menemaninya check up. 


Dan setelah ini, tak ada lagi yang bisa mendukungnya seperti yang Bintang selalu lakukan. Seseorang yang selalu berada di sampingnya kini telah kembali ke pangkuan Tuhan. Sahabat kecilnya yang dulu selalu berniat bunuh diri kini telah pergi.


Mereka telah dibebaskan dari permasalahan dunia.


Arghi ingin mengikhlaskan, namun sulit sekali. Apalagi setelah membaca surat dari Bulan. Adiknya itu seperti sudah mempersiapkan itu semua. Seperti tahu apa yang akan terjadi kepadanya sambil menulis surat tersebut. Feelingnya mengatakan ada sesuatu yang belum dia ketahui. Otaknya masih sangat mengingat kata-kata Bulan dan Bintang sebelum pergi. Pamitan mereka tidak seperti biasanya. Bahkan Bintang sampai memeluknya. Laki-laki itu jarang sekali memeluk orang, apalagi yang segender.


Andaikan kemarin dia mengikuti kata hatinya untuk melarang keduanya pergi. 


"Kenapa bukan gue yang mati ya?"


"Gue yang sakit, tapi kenapa mereka yang pergi?"


"Gue pengen nyusul mereka."


Dirga melotot tak percaya. "Lo mau ninggalin gue? Perjuangan lo selama ini sia-sia kalo lo nyerah gitu aja. Mereka juga pasti kecewa kalo tahu lo ngomong gini Ar!"


"Tapi gue gak bisa kak," suara Arghi bergetar. Maniknya kembali berkaca-kaca. "Sakit banget."


Dirga memeluk Arghi erat. Seolah memberi kekuatan lewat pelukan itu. "Kuat Ar, ada gue. Gue memang gak bisa gantiin mereka, tapi tolong biarin gue jadi kakak yang berguna kali ini. Gue gak mau kehilangan lagi Ar," suara Dirga terdengar sangat menyesakkan membuat Arghi seketika dipenuhi rasa bersalah. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu.


"Maaf kak."

__ADS_1


"Tolong, tetap ada di samping gue ya. Gue juga gak mau kehilangan lagi."


__ADS_2