WHY

WHY
Hurts


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah secerah masa depan, telah ada Bulan yang tengah tertidur pulas di bangkunya. Bel masuk belum berbunyi, karena itu Bulan memilih untuk tidur terlebih dahulu guna mengurangi kantuk. Bintang yang baru saja datang sampai terheran-heran melihat pemandangan yang tidak biasanya itu.


"Lan," panggil Bintang sambil mencolek bahu Bulan.


Kepala Bulan terangkat. Bintang dapat melihat jelas lingkaran hitam yang ada di mata sayu Bulan.


"Apa? Udah masuk?" Tanya Bulan seperti orang linglung.


"Eh, nggak. Tidur lagi aja, nanti gue bangunin."


Bulan kembali menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangan lalu kembali tidur.


"Buset, item banget matanya."


Bintang bersandar penuh ke senderan kursi lalu mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Pose yang sangat pas untuknya tidur. Tapi belum sempat matanya tertutup, bunyi bel masuk membuatnya kembali ke posisi awal.


"Lan, bangun udah bel."


Bulan langsung terbangun. Bangkit dari duduknya dan dengan kecepatan penuh berlari keluar kelas. Tidak sampai 30 detik, Bulan telah kembali ke dalam kelas dengan wajah yang basah.


Bulan menghempaskan tubuhnya ke kursi.


"Lo gak tidur semalem?" Tanya Bintang.


"Emm, tadi barusan kan gue tidur." Jawab Bulan.


Bintang memasang wajah datar. "Bukan tadi, semalem."


Bulan menggeleng samar. "Hari ini ada olim mendadak, gue yang disuruh maju."


"Sendiri?" Bulan kembali mengangguk.


"Kan lo dah pinter, ngapain belajar sampe gak tidur sih?" Tanya Bintang greget.


"Materi kelas 12," jawab Bulan singkat.


Baru saja Bintang ingin membuka mulut menyuarakan protes, seseorang masuk ke dalam kelas membuatnya harus menutup mulut.


...~~~...


Malamnya pukul tujuh. Arghi berjalan pelan menuju ke ruang makan, duduk di salah satu kursi kosong di samping Cahyo.


"Kenapa nak? Muka kamu pucet banget?" Tanya Mentari dengan sorot khawatir.


"Gapapa," jawab Arghi tersenyum kecil.


"Yaudah, sekarang makan dulu, habis itu langsung minum obat." Ujar Cahyo yang langsung dituruti oleh Arghi dan Mentari.


Tidak ada lagi yang bersuara. Semuanya fokus dengan makanan masing-masing. Sampai Cahyo dan Mentari selesai makan, mereka kompak menatap Arghi yang masih belum menyelesaikan makannya.


Baru saja Cahyo ingin menegur, dentingan sendok yang terjatuh lebih dulu membungkam. Arghi mencengkeram dada kirinya dengan kuat sambil menggigit bibir pucatnya menahan erangan.


Mentari bangkit menghampiri Arghi. "Kamu gapapa sayang?"


Pertanyaan bodoh, sudah terlihat jelas bahwa Arghi sedang kesakitan.


"Gapapa," jawab Arghi susah payah dengan senyum paksa.


Cahyo pun bangkit membantu Arghi berjalan ke kamar. Sedangkan Mentari sigap menyiapkan obat yang harus Arghi minum.


"Istirahat ya." Ujar Mentari mengelus surai Arghi dengan sayang.


"Sepuluh menit lagi kami akan berangkat. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan lupa minum obatnya." Arghi mengangguk.


"Yaudah, kamu istirahat ya. Kami mau siap-siap." Perintah Cahyo lalu keluar dari kamar Arghi bersama Mentari.


Helaan nafas panjang terhembus guna menetralkan sakit. Tangannya masih sibuk mengurut pelan dadanya yang sangat nyeri.


Di sisi lain Bulan yang sedang mengerjakan latihan soal langsung terjatuh ke lantai karena rambutnya ditarik kuat oleh seseorang. Matanya langsung menangkap sosok Cahyo dengan raut yang menyeramkan.


"Gara-gara kamu Arghi menderita, dasar sialan." Desis Cahyo tepat di telinga Bulan. Hari ini dia sangat lelah dikarenakan pekerjaannya yang tiada henti ditambah Arghi yang baru saja kambuh. Maka seperti biasa, pria itu akan melampiaskannya kepada si bungsu.


PLAK


Wajah Bulan tertoleh ke kanan. Rasa darahnya sendiri menguar di mulut saking kerasnya tamparan itu.


Cahyo menghentikan cengkeramannya pada rambut Bulan, mulai melepaskan ikat pinggang yang bertengger di pinggang.


Bulan pasrah.


Hingga ikat pinggang itu menampar punggungnya pun Bulan tetap diam. Wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun, hanya diam menatap kosong lantai kamarnya.

__ADS_1


Hingga dicambukan ketujuh pun Bulan masih tak bergeming. Dia akui, tubuhnya sakit sekali. Ingin sekali rasanya Bulan melepaskan tubuhnya satu persatu agar sakit itu segera menghilang. Tapi entah kenapa dia tidak bisa menunjukkan raut kesakitannya. Apakah dia telah mati rasa?


Cahyo kembali mencengkeram rambut Bulan. "Saya mau pergi. Awas saja kalau saya pulang Arghi sampai kenapa-napa."


Setelah itu Cahyo melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Kunci pintu!" Lalu keluar dari kamar Bulan.


"Loh Arghi, kamu ngapain keluar?" Cahyo terciduk.


Arghi menatap tajam ayahnya. "Ayah apain adek?" Tanya Arghi tanpa basa-basi.


Cahyo menghampiri Arghi. "Balik ke kamar, kamu harus istirahat."


Arghi menghiraukan perintah ayahnya. Menepis tangan Cahyo yang menahan bahunya lalu perlahan melangkah ke kamar Bulan.


Terkunci.


"Dek, buka pintunya!" Perintah Arghi sambil menggedor pintu kamar Bulan.


"Balik atau lebih dari ini?" Ancam Cahyo menggenggam tangan Arghi.


Inilah alasan kenapa Arghi tidak bisa melakukan apa pun ketika adiknya dilukai. Ancaman Cahyo membuatnya takut untuk bertindak karena dulu saat pertama kalinya dia mengetahui sang adik sering dianiaya, Arghi mengabaikan ancaman ayahnya. Alhasil adiknya masuk rumah sakit dan harus dirawat enam hari lamanya. Silahkan bayangkan sendiri bagaimana Cahyo menyiksa Bulan.


"Kenapa?" Arghi diam sejenak untuk mengatur nafas. "Adek darah daging ayah sendiri, kenapa ayah segitu bencinya sama adek? Semua yang berlalu itu bukan salah adek! Itu takdir! Ayah gak bisa nyalahin adek atas semua itu, sama aja ayah nyalahin Tuhan!"


"Jangan banyak omong. Kembali ke kamar, Arghi." Bukan Cahyo yang berbicara melainkan Mentari.


Cahyo menarik Arghi paksa dan membawanya masuk ke kamar.


"Kami pergi hanya lima hari. Pulang nanti akan ada seseorang yang datang. Kamu jaga diri baik-baik, jangan lupa diminum obatnya." Nasihat Mentari.


"Kami pergi."


Bulan mendengar semua pembicaraan kakak dan kedua orang tuanya. Tubuhnya sakit, tapi hatinya lebih sakit lagi. Air matanya mengalir deras namun rautnya kosong.


"PEMBAWA SIAL!"


"TAK BERGUNA!"


"GARA-GARA KAMU ORANG TUA KAMI MENINGGAL!"


"GARA-GARA KAMU ARGHI MENDERITA!"


"BUAT APA KAMU HIDUP JIKA HANYA MENJADI BENALU!"


Bulan menarik rambutnya dengan kuat sampai beberapa helainya terlepas dari kepala. Kata-kata menusuk itu terus menghantui kepalanya. Seolah-olah mengejeknya sampai dia ingin mencopot kepalanya.


"Sakit,"


"Kakak maaf,"


"Ayah bunda, maaf Bulan gak berguna, tapi ini sakit banget,"


"Maaf,"


"Maaf,"


Cengkeramannya pada rambut terhenti saat suara ketukan pintu terdengar.


"Adek," panggil Arghi lirih.


"Ayah sama bunda udah pergi, adek gak mau bukain pintu?" Tanya Arghi.


"Kakak pengen dengerin cerita adek."


Arghi diam, menunggu respon yang akan diberikan. Namun sepertinya Bulan tetap tidak bergeming.


Arghi menghela nafas, lalu mendudukkan tubuhnya dengan dinding sebagai sandaran, tepat di samping pintu kamar Bulan. Kedua kakinya serasa tak sanggup lagi menopang bobot tubuh.


"Kakak sayang banget sama adek, lebih dari rasa sayang kakak ke diri sendiri. Saat kakak lelah, cukup liat senyum adek aja rasanya beban kakak semuanya terangkat."


"Tapi kakak gak bisa jadi pengobat lelah, malah jadi penyebab lelah itu sendiri. Kakak ngerasa gak berguna. Kakak gak bisa jagain adek, malah buat adek tambah tersiksa."


Setetes air meluruh dari matanya yang sayu.


"Pengen mati aja rasanya," lirih sekali. Bahkan hampir tidak terdengar jika saja suasana saat itu berisik.


Bulan bangkit lalu membuka pintu kamarnya. Matanya menangkap siluet Arghi yang terduduk lemas dengan mata tertutup dan bibir yang teramat pucat.


"Kak," lirih Bulan.


"Kak, buka matanya! Jangan ngomong kayak gitu lagi ya."

__ADS_1


Arghi tersenyum sembari membuka mata. Menatap wajah sang adik yang terlihat sendu dengan lingkaran hitam di bawah mata sipit itu karena kurang tidur.


"Kakak ngapain di sini? Harusnya istirahat aja di kamar, bikin khawatir tau! Jangan ngomong kayak tadi lagi, jangan tinggalin adek, adek gak punya siapa-siapa lagi di sini."


Arghi menatap lamat wajah sang adik. Tangan kanannya terangkat lalu menangkup wajah tirus Bulan. Menarik Bulan ke dekapannya, merengkuh tubuh kurus itu dengan sangat hati-hati. Takut sekali jika pelukannya itu menambah kesakitan sang adik.


"Maaf," bisik Arghi.


Bulan tidak membalas. Terlampau bosan mendengar Arghi melontarkan kata maaf. Padahal kakaknya itu tidak memiliki kesalahan, dialah yang salah seperti yang Cahyo serukan.


Bulan menaruh tangan kanannya ke dada kiri Arghi. "Jangan sakit ya, jangan sakitin kakak."


Arghi tersenyum, mengenggam tangan Bulan erat. "Dengan adanya adek di samping kakak itu udah cukup buat ngilangin rasa sakit."


Arghi melepaskan pelukannya. "Ayo ke kamar."


Setelah mendudukkan Bulan ke tepian kasur Arghi mengambil kotak obat. Lalu mengambil tempat di samping Bulan, mulai mengeluarkan barang yang diperlukan.


Wajah Bulan langsung was-was. Gadis itu tahu apa yang akan sang kakak lakukan setelahnya.


"Tahan baju depannya."


"Tapi-"


"Kakak obatin." Potong Arghi lirih.


"Kakak istirahat aja ya, kakak pucet banget. Adek bisa obatin sendiri kok."


"Tahan bajunya adek." Bulan akhirnya menurut. Tak tega melihat wajah sayu dan suara yang terdengar sangat tak bertenaga itu.


Arghi mengangkat baju Bulan hingga memperlihatkan punggung yang telah dipenuhi dengan luka. Banyak kulit yang terkelupas hingga menampakkan dagingnya. Ada juga luka lebam panjang berwarna ungu kehitaman. Dan yang paling membuatnya lemas adalah luka yang barusan ayahnya ukir. Goresan tak tentu arah dengan sedikit darah di beberapa bagian yang dalam. Membayangkan dia yang berada di posisi Bulan mungkin dia tak akan sekuat itu menahan ringisan.


Arghi tahu kalau ayahnya selalu menggunakan gesper untuk melukai Bulan. Dan Arghi tau, sekeras apa gesper ikat pinggang ayahnya jika mengenai kulit.


Tangannya mengepal kuat. Keningnya berkerut menahan nyeri di dada. Arghi mencoba mengatur pernapasannya sepelan mungkin agar tak terlalu kentara jika dia sedang kesakitan. Kemudian mulai mengobati punggung Bulan.


"Ayo bobok," ajak Arghi setelah pekerjaannya selesai sambil menarik Bulan berbaring ke atas kasur. Lengannya dia ulurkan sebagai bantalan kepala Bulan. Menarik tubuh sang adik yang terbaring lurus agar berubah miring menghadap ke arahnya.


"Adek mau cerita?" Tanya Arghi sambil mengelus kepala Bulan.


Bukannya menjawab Bulan malah maju memeluk Arghi. "Jangan sakit."


Arghi membalas pelukan Bulan, "Iya."


Keduanya diam dalam waktu yang lama. Arghi menunduk untuk melihat adiknya yang ternyata masih melek.


Dirinya tiba-tiba teringat sesuatu.


"Adek belum makan, makan dulu ya." Bulan langsung menggeleng.


"Malem ini aja," pinta Bulan memohon.


"Kak,"


"Hmm?"


Bulan diam sejenak.


"Apa adek pergi aja ya?"


Kening Arghi berkerut. "Maksudnya?"


Bulan melepaskan pelukannya, menatap Arghi dengan tatapan yang sulit untuk didefinisikan.


"Mati."


Tubuh Arghi sontak membeku. Tenggorokannya seperti dihimpit sesuatu tak kasat mata. Tidak menyangka dengan apa yang barusan keluar dari bibir sang adik. Ini pertama kalinya Bulan mengatakan hal yang paling Arghi hindari. Ucapan lirih dengan raut kosong itu membuat dadanya semakin berulah.


"Jangan ngomong sembarangan."


"Adek gak berguna kak. Bahkan ayah sama bunda benci banget sama adek. Adek cuma bisa nyusahin kakak aja, dan kakak jadi sakit kayak gini. A-"


"Stop." Potong Arghi. Dapat Bulan lihat kilatan amarah dari mata indah kakaknya.


Dan tanpa berbicara lagi, Arghi bangkit lalu pergi dari kamar Bulan. Meninggalkan sang adik yang berada di ambang keputusasaan.


"Padahal kalo adek mati, dunia gak akan rugi." Gumamnya lirih.


Bulan menghapus air matanya kasar kemudian bangkit untuk menyusul Arghi. Entah mengapa hatinya menyuruhnya untuk kembali menemui Arghi.


"Kak," Bulan membuka pintu kamar Arghi secara perlahan.

__ADS_1


"KAKAK!"


__ADS_2