
"BINTANGGGGGG!" Bulan duduk di kursinya lalu memutar tubuh ke belakang berhadapan dengan Bintang.
"Apa?"
"Emm... nggak, cuma manggil doang." Bintang mendesah berat. Segabut itukah gadis ini?
"Emm... Bin?"
"Kenapa lagi, Rembulan Cahaya Purnama yang cantik jelita?"
Bulan tersenyum malu. "Iya gue tau gue cantik."
"Bin," Bintang Menghela nafas lagi.
"Apaaaa?" Tanyanya mulai jengah.
"Lo sakit?"
"Nggak tuh."
Bulan menatap lamat wajah pucat Bintang. "Kalo sakit bilang ya."
Bintang memasang senyum tipis. "Iya."
Setelah itu Bulan memutar tubuhnya kembali menghadap ke depan dengan helaan nafas berat. Pikirannya sedang melayang kemana-mana.
Pertama Dirga yang belum diketahui kabarnya sampai sekarang. Yang kedua mengenai kejadian di gedung X-V satu minggu yang lalu. Dan terakhir Bintang. Dia tentu tidak percaya dengan perkataan Bintang tadi. Sepucat itu dibilang tidak apa-apa? Hey, Bulan bukan anak kecil yang dapat dengan mudah dibohongi.
Bintang menatap Bulan dalam diam. Bahkan dari belakang saja perempuan itu begitu cantik.
Mendesah berat, Bintang mencengkeram perutnya kuat. Sedari dia bangun tadi perutnya terasa sangat nyeri. Padahal dia sudah meminum semua obat yang diberikan oleh dokter tanpa satu pun yang terlewat. Bersandar ke punggung kursi, melirik jam dinding di kelas. Masih ada lima menit lagi sebelum bel masuk. Bintang memutuskan untuk memejamkan matanya sampai bel masuk berbunyi.
"Bin."
Bintang yang tengah memakan makanannya dengan lempeng pun menoleh. "Hm?
"Kalo kayak gini gue jadi sungkan mau minta tolong." Ujar Arghi pelan. "Lo sakit ya?"
"Dih, kek sama siapa aja lo. Gue gak sakit." Arghi menatap Bintang ragu.
"Ngomong aja."
"Minta tolong, anterin Bulan pulang."
Tawa remeh Bintang layangkan untuk Arghi. "Itu doang? Ngapain sungkan segala?"
"Liat lo pucet banget gitu. Serius nanya, lo sakit?"
"Gak." Entah untuk keberapa kali Bintang ditanyai oleh teman-temannya hari ini mengenai wajah pucatnya. Tapi Bintang selalu menjawab tidak apa-apa. Padahal faktanya dia memang sedang sakit. Perutnya nyeri berkepanjangan.
"Yaudah, tolong ya anterin Bulan. Habis itu lo langsung istirahat." Bintang mengangguk.
"Lo mau ke mana?" Tanya Bintang.
"Habis ini mau ke kantor bokap. Soalnya gak ada yang handle, mereka masih di Aussie."
"Lama banget mereka di sana."
"Iya, udah hampir sebulanan."
KRINGGG
"Gue cabut dulu, titip Bulan." Arghi menepuk pundak Bintang lalu berlalu pergi diikuti oleh Bintang setelahnya.
...~~~...
Bulan mengamati Bintang dari samping. Gelagat lelaki itu aneh. Ditambah dengan keringat dingin yang membasahi pelipis sedangkan suhu di mobil sangat sejuk.
"Lo sakit kan?" Bintang menggeleng.
"Tapi lo-"
Bintang mengerem mobilnya secara mendadak membuat kepala Bulan terantuk dashbor mobil.
"Lo gapapa?" Tanya Bintang cemas sambil mengelus dahi Bulan yang terantuk.
"Gapapa santai."
Keduanya menoleh ke depan. Satu mobil menghadang di tengah jalan dan dua mobil lagi di sisi kanan dan belakang.
Tunggu, kenapa jalanan di sini mendadak sepi?
__ADS_1
"Sial," desis Bintang. "Lan, lo jangan keluar ya. Tunggu di mobil."
Bulan menggeleng kuat. "Gak akan biarin lo hadepin mereka sendirian."
"Plis Lan, gue-"
Perkataan Bintang terhenti oleh suara keras yang berasal dari kaca mobilnya yang dipukul. Cowok itu segera keluar dari mobil, menatap ke sekumpulan orang berbaju hitam dengan masker yang menutup seluruh bagian wajah kecuali mata.
"Mau apa? Duit? Nanti gue transfer. Murahan banget ngeroyok orang cuma buat minta duit."
Salah satu dari mereka maju mendekati Bintang. "Gue mau cewek yang di dalem." Ujarnya sambil menunjuk mobil Bintang.
"Dih, enak aja lo."
Suara pintu mobil yang tertutup membuat Bintang menoleh dan menghela gusar melihat Bulan turun dari mobil menghampirinya. Bintang segera menyembunyikan Bulan di balik punggungnya, menatap tajam gerombolan di depannya.
"HAJAR!"
Perkelahian itu tidak bisa dihindarkan. Mereka mengepung Bintang yang kondisinya memang sedang tidak baik. Sedangkan lima orang lainnya berpencar mendekati Bulan.
Tak butuh waktu lama untuk membuat Bintang kalah telak. Bahkan sekarang dia telah terduduk lemas di jalanan bersandarkan tembok semen. Tangannya menekan perutnya yang semakin menjadi-jadi ditambah pukulan yang dia dapat.
Bintang menatap Bulan nanar.
Satu persatu mulai mengepung gadis itu. Dengan cekatan Bulan menendang aset berharga mereka dengan sangat kuat guna mempersingkat waktu.
Bintang sedikit tidak percaya bahwa perempuan yang tengah bertarung itu adalah Bulan. Sejak kapan gadis itu bisa bela diri? Bahkan gerakan Bulan sangat cekatan seperti orang yang telah sering berlatih. Pukulannya pun terlihat kuat.
Bugh
Bulan terdorong ke depan hingga dirinya berada tepat di hadapan Bintang akibat tendangan di punggung.
"Lan, cepet lari." Lirih Bintang hampir tak terdengar.
Bulan menggeleng kuat.
Kembali menghadap ke depan, Bulan meladeni lima orang yang masih berdiri tegap.
Bintang berusaha bangun. Kakinya bahkan bergetar hanya untuk berdiri. "Ayo Bintang," gumamnya menguatkan diri.
Kakinya berjalan lemas mendekati arena, membantu Bulan mengalahkan laki-laki bertubuh besar itu. Tenaganya terkuras habis membuat pukulannya tidak sekuat biasanya. Bintang kembali terdorong ke belakang hingga punggungnya membentur tembok. Sungguh, perutnya sangat-sangat sakit. Kakinya bahkan tidak lagi mampu menopang tubuhnya hingga dia terjatuh kembali ke tanah. Pandangannya mulai menggelap.
Duakh
Duakh
Pukulan yang kedua kali membuatnya telak terjatuh.
"Bulan," panggil Bintang lirih.
Mereka membawa Bulan masuk ke dalam mobil meninggalkan Bintang yang hanya bisa terbaring tak berdaya.
...~~~...
Arghi berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan raut panik. Berbagai macam kemungkinan buruk memenuhi otaknya sedari perjalanan.
Tepat sekali saat Arghi datang dokter yang menangani Bintang pun keluar.
"Loh, tante Arin?"
"Arghi, kok kamu di sini?"
"Bintang di dalem kan?"
Arina mengangguk. "Bintang temen kamu?
"Iya, gimana kondisi dia sekarang?" Tanya Arghi cepat.
"Tubuhnya lemah karena kondisi ginjalnya yang semakin memburuk-"
"Tunggu, ginjal?"
Arina menatap Arghi dengan tatapan yang sulit Arghi artikan. "Kamu... belum tau?"
Arghi menggeleng. "Bintang sakit apa tante?"
"Ginjal kronis."
"Sejak kapan?"
"Mungkin sekitar tiga bulan yang lalu."
__ADS_1
Bagai tersambar petir di sore hari. Arghi terhenyak mendengar informasi yang barusan Arina katakan.
"Arghi, tante bisa minta tolong?"
"Apa tante?"
"Tolong bujuk Bintang supaya mau cuci darah lagi ya. Waktu itu dia pernah sempat cuci darah sekali, tapi habis itu dia gak mau lagi. Pengobatan itu harus segera dilakukan untuk meminimalisir kerja ginjalnya."
"Pasti, kalo Bintang gak mau nanti aku bunuh dia."
Arina tertawa. "Ngomong-ngomong kamu habis dari mana pake jas gini? Gak sekolah?" Tanya Arina.
"Dari kantor tan."
Arina mengangguk paham. "Yaudah tante pergi dulu ya. Ada pasien lain."
Arghi masuk ke ruangan Bintang. Mengamati sahabatnya yang masih tertidur tenang. Menghela nafas, Arghi duduk di samping brankar.
Pikirannya campur aduk bagai es campur. Apa yang terjadi sampai Bintang masuk ke rumah sakit tanpa keberadaan Bulan. Bahkan ponsel gadis itu pun tidak dapat dihubungi sama sekali.
Lama terdiam, Arghi tersentak saat Bintang tiba-tiba saja terduduk. Entah kapan lelaki itu bangun.
"Heh! Mau apa lo?!" Sergah Arghi sambil mendorong Bintang kembali berbaring.
"Bulan diculik, kita harus selamatin dia Ar!"
Arghi mendesah berat. "Iya, tapi nanti. Lo istirahat dulu."
Suasana hening sejenak. Arghi mencoba untuk tetap tenang di hadapan Bintang walaupun hatinya sudah cemas tak karuan. Merogoh ponselnya, Arghi mengetik sesuatu di sana.
"Ar, maaf."
Tatapan Arghi beralih ke Bintang.
"Gue gak bisa jagain Bulan."
Arghi tersenyum miring. "Ada untungnya Bulan diculik."
Bintang terperangah. Apakah orang di sampingnya itu benar-benar Arghi?
"Gue tahu apa yang selama ini lo sembunyiin."
"Maksud lo?" Tanya Bintang gugup.
"Ginjal kronis. Wahhh, hebat banget lo bisa nyembunyiin penyakit separah itu tiga bulan lamanya."
Tok tok tok
Ketukan di pintu membuat Arghi bangkit, menghampiri seseorang yang menunggu di luar dan kembali dengan tangan yang memegang sebuah tas. Mengeluarkan isi di dalamnya setelah itu mulai fokus dengan laptopnya.
"Gue udah dapet lokasinya." Ujar Arghi setengah menit kemudian.
"Gerak sekarang?"
"Dih, gue gak ngajak lo."
Mata Bintang membola. "Kenapa?"
"Pake nanya kenapa? Kondisi lo kayak gini, dan lo mau ikut? Yang ada lo bisa mati di sana."
"Gue udah gapapa kok, sumpah demi alek. Beneran deh, jujur gue."
"Kagak, gue masih marah sama lo."
"Dih, marah kok bilang-bilang."
"Serah gue lah."
Bintang bangkit lalu memencet tombol darurat.
"Dok, udah boleh pulang kan?" Tanya Bintang langsung setelah Arina datang.
Arghi menggeleng tak terima. "Apa-apaan sih lo. Tan, gak usah didengerin."
"Dokter, plis. Belahan jiwa saya belum makan siang, dan sekarang udah sore." Arghi menoyor kapala Bintang kesal. Arina yang sedari tadi menyaksikan keduanya pun tertawa geli.
"Bintang udah bisa pulang kok Ar."
"Noh, denger sendiri." Bintang tersenyum penuh kemenangan.
"Asalkan dia istirahat."
__ADS_1
"Noh, denger sendiri." Kali ini Arghi yang menyahut.
Tak peduli, Bintang langsung turun dari ranjangnya dengan cekatan. Arina pun dengan sigap langsung melepaskan infusan yang tertancap di tangan kiri Bintang.