
Bulan masih berdiam di lantai balkon sembari menatap langit kelam. Padahal jarum jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Bahkan dua jam lagi matahari akan muncul. Tapi tidak ada niatan baginya untuk masuk ke kamar dan tidur, tak peduli kantung matanya yang sudah lelah minta diistirahatkan. Berita tadi pagi masih menghantuinya. Otaknya ingin menyangkal kabar tersebut. Namun apalah daya, semua itu memang benar adanya.
"Ayah, bunda,"
"Kenapa pergi?"
"Bulan mau peluk."
Bibirnya bergetar menahan isakan.
"Bulan boleh berharap?" Tanyanya kepada langit.
"Bulan pengen dipeluk ayah bunda, cuma itu kok."
"Atau kirim ayah bunda ke mimpi Bulan. Bulan seneng kok walaupun cuma dipeluk dalam mimpi."
"Ayah sama bunda tau nggak? Kak Arghi kambuh tadi. Pasti tau kan. Setiap Bulan liat kak Arghi kesakitan, Bulan merasa bersalah banget. Gara-gara Bulan kak Arghi jadi gini. Coba Bulan gak ada, kak Arghi pasti masih sehat sampai sekarang."
"Ayah, bunda, maaf. Maaf karena Bulan harus lahir ke dunia ini."
"Pasti berat banget kan punya anak kayak Bulan?"
"Di kehidupan selanjutnya, semoga ayah sama bunda gak ketemu lagi sama Bulan. Gak ngelahirin anak pembawa sial, gak berguna, dan bodoh kayak Bulan ini."
"Semoga ayah sama bunda bahagia di sana ya."
Ujarnya sambil mengulas senyum termanisnya. Ditampiknya nyeri di hati dengan senyum yang terulas di bibir. Tapi tetap saja sorot mata tidak akan pernah bisa berbohong. Bahkan anak kecil pun tahu, gadis itu tengah berada di titik terbawah sekarang.
...~~~...
"Maaf tuan Dirga, semua tubuh pesawat benar-benar hancur. Bahkan maaf, polisi telah mengumpulkan berbagai kulit dan daging manusia yang berceceran di laut."
Mata Dirga terpejam erat untuk menahan emosi. Penjelasan Dimas tadi membuatnya tidak habis pikir. Tidak ada angin tidak ada hujan, agak meragukan jet pribadi tiba-tiba meledak di tengah awan. Sebelum jet lepas landas pun semua sistemnya telah dipastikan aman.
"Kalian boleh pergi, kecuali Dimas." Semua yang ada di sana pun mengangguk patuh.
"Maaf tuan, seharusnya saya lebih memperhatikan keamanan jet lebih teliti." Ujar Dimas merasa bersalah.
Dirga menggeleng. "Bukan salah lo, dan tolong jangan terlalu formal. Gak ada lagi orang lain di sini."
Dimas mengangguk paham.
"Setelah ini tolong perketat semua keamanan. Perusahaan, Arghi, dan Bulan."
"Semakin seru."
...~~~...
Usai keluar dari rumah sakit Bintang memutuskan untuk pergi ke kantor. Banyak sekali yang telah dia lewatkan. Padahal tubuhnya masih terasa tidak enak. Perutnya terpadu menjadi dua rasa, yaitu nyeri dan mual. Tapi yang namanya Bintang tidak afdol jika tidak terobos.
Mobilnya menyusuri jalanan yang lenggang. Tumben sekali jalanan ini sepi. Biasanya selalu ramai dengan truk kontruksi yang berlalu lalang.
Kepala Bintang menoleh sekilas ke kanan jalan.
"Anjing!" Umpatnya.
Mata bulan sabitnya menatap penuh heran orang yang tiba-tiba saja telah ada di depan mobilnya membuat dia harus mengerem mendadak.
Orang itu berpakaian seperti ninja. Hanya mata dan telapak tangannya yang terlihat.
Bintang pun membuka kaca mobil. Meyembulkan kepalanya keluar. "Bapak, kakak, adek, atau siapa pun, kenapa berdiri di sini? Ntar ketabrak, amnesia nyesel loh."
Bukannya menjawab, orang tadi malah berlari dan gesit memanjat pohon, melompat lincah melewati atap-atap ruko yang terbengkalai. Bintang sampai melongo melihatnya.
"Buset, ninja beneran dia."
Bintang geleng-geleng kepala lalu melanjutkan perjalanan tanpa berpikir lebih panjang tentang ninja gadungan tadi.
Sesampainya di kantor Bintang langsung masuk ke ruangannya. Melihat-lihat perkembangan serta pemasukan perusahaannya yang tidak dia pantau selama dua minggu.
Fokusnya buyar saat Daffa masuk dan duduk di hadapannya. "Lo udah tau belum?"
Kening Bintang mengkerut. "Tau apaan?"
"Pak Cahyo sama istrinya meninggal."
Bintang menoleh cepat. "Serius lo?" Tanya Bintang tak yakin. Pasalnya Daffa ini mantan lambe turah yang biasanya asal nyomot berita untuk dijadikan bahan gibah.
"Dua rius anjir. Jetnya jatuh."
Bintang langsung bangkit dari duduknya. "Gue pergi dulu."
Berlari ke mobil dan membawanya dengan kecepatan penuh. Tak sampai dua puluh menit Bintang telah berada di kediaman sang sahabat. Kaki jenjang itu melangkah cepat menaiki satu-persatu anak tangga.
"Ar!"
__ADS_1
Yang dipanggil menoleh. Bintang masuk perlahan ke kamar Arghi. Mendekati Arghi yang duduk bersandar di headboard ranjang. Bibir sahabatnya itu sangat amat pucat dengan sorot wajah mendung.
"Udah selesai cuci darah? Gimana keadaan lo?" Suara serak Arghi menyapa Bintang.
"Maaf gue baru dateng."
Arghi tersenyum tipis. "Gak masalah."
"Lo udah minum obat? Mau ke rumah sakit aja?"
Arghi menggeleng pelan. "Gue mau minta tolong,"
"Apa?
"Tolong temenin adek. Gue takut kalo gue ke sana malah bikin dia tambah sedih." Bintang mengangguk mengerti.
"Yaudah. Lo istirahat ya, mau gue bantuin baring?"
Arghi menggeleng.
"Gue pergi ya, istirahat lo."
Bintang pun keluar dari kamar Arghi dan beralih masuk ke kamar Bulan. Kakinya melangkah perlahan, mendekati Bulan yang duduk di lantai bersandarkan pinggiran kasur. Wajahnya tenggelam di kedua lutut.
Bintang mendudukkan bokongnya di samping Bulan. Merangkul bahu Bulan sambil mengusap lengan kurus itu guna memberi kekuatan.
Bulan mengangkat wajahnya, menatap Bintang sendu. "Kak Arghi udah makan belum? Udah minum obat belum?"
Bintang menggeleng. "Gak tahu, mau samperin Arghi?"
Bulan mengangguk pelan. Keduanya pun beranjak pergi ke kamar Arghi. Pemandangan yang mereka lihat begitu pintu terbuka adalah Arghi yang terkapar tak berdaya di lantai.
"KAK!"
...~~~...
Kaki kurusnya terus melangkah menapaki jalanan yang sepi. Angin malam terasa menusuk sampai ke tulang. Namun dirinya tidak memedulikan itu. Meneruskan perjalanan jauh dari rumah sakit ke rumahnya dengan berjalan kaki.
Hingga sampailah dia di kamarnya sendiri. Bulan mengunci pintu.
Langkahnya membawa Bulan ke hadapan nakas. Membuka salah satu laci, lalu mengambil sebuah silet yang masih terbungkus.
"Lo harus mati, pembawa sial harus mati." Racaunya.
Tangan kanannya mulai menggores pergelangan tangan kirinya. Bulan menatap kosong darah yang mulai menetes sampai ke lantai. Raut wajahnya datar, seolah goresan itu hanya sebuah angin lalu yang menerpa. Bahkan tidak ada kerutan tanda kesakitan di wajahnya.
...Bintang...
Lan dimana?
Arghi udah bangun
Dia nyariin lo
Gue jawab lo gue paksa pulang biar istirahat
Gapapa kan
Bulan langsung mematikan ponselnya tanpa membalas pesan Bintang terlebih dahulu. Kembali ke kegiatannya yang tadi sempat terhenti.
Kini telah ada lima goresan dalam yang terlukis di tangan kirinya. Bulan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Pikirannya teracak bagai di guncang hebat.
"PEMBAWA SIAL! MATI AJA SANA!"
"Saya tidak sudi mengganggapmu sebagai anak."
"Kenapa kamu harus terlahir di keluarga ini hah?!"
"Jangan sentuh aku."
"Aku benci memiliki anak sepertimu."
"Aku tidak sudi mendengarmu memanggilku bunda."
"Pergi kau!"
Tangan kanannya menjambak rambutnya sandiri. Berharap suara-suara itu hilang dari kepala. Tapi tidak bisa. Suara itu bahkan semakin menjadi.
"Aku mohon pergi."
Bintang telah mencari Bulan di berbagai sudut rumah sakit. Rooftop, taman, kantin, ruangan Cakra dan Arina, bahkan tempat pembuangan sampah juga sudah dia hampiri.
Bintang mampir ke bawah pohon sebentar, lalu mengeluarkan cairan yang sedari tadi minta dikeluarkan.
Menyeka sisa muntahan di sudut bibirnya. Bintang memutuskan untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Membasuh wajahnya yang pucat pasi.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Bulan beneran pulang?"
Tanpa berlama-lama Bintang pun pergi ke parkiran mobil. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Hatinya tidak tenang sebelum dirinya menemukan Bulan dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Firasatnya tidak enak sedari tadi.
Sampailah Bintang di kediaman Bulan. Kakinya bergerak cepat melangkah ke lantai dua.
Terkunci.
"Bulan lo di dalem? Buka pintunya!" Seru Bintang sambil menggedor pintu kamar Bulan.
"Kunci cadangan kamar Bulan gue taruh di laci lemari. Awas lupa lo."
Suara Arghi terlintas di otaknya. Bintang pun masuk ke kamar Arghi, mengambil kunci yang Arghi simpan di laci.
Setelah mendapatkannya Bintang langsung kembali membuka pintu kamar Bulan. Tubuhnya membeku saat melihat tangan Bulan penuh dengan darah. Bahkan sampai menetes ke lantai.
"Bulan,"
"Jangan mendekat." Langkah Bintang terhenti.
"Jangan deket-deket pembawa sial."
Bulan mencengkeram silet yang dipegangnya dengan kuat hingga darah keluar dari sela-sela jari.
"Bulan, lepas siletnya ya." Pinta Bintang lembut.
Bulan menggeleng sambil menunduk dalam. Bintang dengan gesit mendekati Bulan. Mengambil benda tajam itu dan membuangnya ke sembarang arah.
Membawa Bulan ke dekapannya. Tubuh gadis itu bergetar hebat.
"Ayah, bunda, maaf Bulan lahir ke dunia."
Bintang mempererat pelukan mereka.
"Pembawa sial," umpat Bulan kapada dirinya sendiri sambil menjambak kuat rambutnya.
"Bulan bukan pembawa sial." Lirih Bintang dan dengan perlahan melepaskan tangan Bulan yang setia menjambak rambut. Membelai rambut Bulan yang terjambak lalu mengecup pucuk kepala gadis itu.
Gadis itu menangis dalam diam. Tangannya mencengkeram baju Bintang erat membuat darah ikut mengotori pakaian Bintang.
"Bulan mau peluk, tapi ayah sama bunda udah pergi."
"Ayah, bunda," tangis Bulan semakin kencang.
"Bintang di sini. Bulan bisa peluk Bintang kapan aja."
"Tapi Bulan mau ayah bunda. Bulan baru sekali dipeluk mereka, habis itu gak pernah lagi. Sekali lagi aja, buat yang terakhir, apa gak bisa?"
Bintang diam membisu tanpa bisa menjawab.
"Ayah, bunda, ayo pulang ke rumah. Bulan janji gak akan muncul di depan ayah sama bunda. Bulan janji bakal dapetin juara satu terus di lomba dan di sekolah. Yang penting ayah sama bunda ada di rumah. Kak Arghi sama kak Dirga masih butuh ayah sama bunda."
Bulan melepas paksa dirinya dari rengkuhan Bintang.
"Silet tadi mana? Pembawa sial harus mati." Netranya menelisik ke sekitar hingga menemukan benda yang telah berlumuran darah itu tergeletak di dekat nakas.
Bintang segera menahan pergelangan tangan Bulan.
"Jangan Bulan." Bintang memegang bahu Bulan agar gadis itu tidak ke mana-mana.
"Tapi pembawa sial memang harus mati." Jawab Bulan balik menatap Bintang dengan pandangan kosong.
"Nggak! Bulan bukan pembawa sial!" Bintang menekan setiap perkataannya.
"Kalo Bulan bukan pembawa sial jadi apa?"
"Anugerah. Bulan tau kan artinya? Sesuatu yang sangat berharga yang Tuhan ciptakan."
Bintang tersenyum lembut saat Bulan tak lagi memberontak. "Mau ke rumah sakit? Kita obatin dulu lukanya habis itu ketemu kak Arghi."
Bulan menggeleng cepat.
"Yaudah di rumah aja. Tunggu di sini, Bintang ambil obat ya." Bintang pun bangkit. Mengambil silet yang tadi dia lempar lalu membuangnya.
Setelah mendapatkan kotak obat Bintang kembali duduk di depan Bulan yang masih diam.
Diraihnya tangan kiri Bulan yang penuh dengan darah, lalu mulai mengobati luka-luka itu. Wajahnya meringis saat tahu bahwa luka itu cukup dalam. Namun wajah Bulan sangat datar, tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu kesakitan. Bahkan saat alkohol menyentuh lukanya. Gadis itu seolah mati rasa.
"Udah selesai."
Bintang terkejut saat Bulan tiba-tiba limbung dan terjatuh di pelukannya. Dengan segera Bintang mengangkat Bulan, membaringkannya ke atas kasur.
Menatap Bulan lamat, Bintang pun memutuskan untuk membersihkan darah Bulan yang berceceran di lantai. Setelah itu mengganti bajunya dengan baju milik Arghi.
Setelah selesai Bintang kembali ke kamar Bulan. Duduk bersandar ke headboard ranjang di samping Bulan yang tidak sadarkan diri. Dirinya terlalu takut untuk meninggalkan Bulan setelah kejadian tadi.
__ADS_1
Tangannya bergerak membelai wajah Bulan dengan lembut. "Maaf Ar."