
"Kak,"
"Hmm?"
"Kak Dirga kok gak kelihatan ya beberapa hari ini?"
"Kata ayah kak Dirga ada urusan di Aussie." Bulan mengangguk paham.
"Tapi kok gak ada ngabarin sama sekali ya?"
"Udah coba telfon?"
"Udah, nomornya gak aktif."
"Mungkin lagi sibuk banget?"
"Iya kayaknya."
Ting
Arghi mengambil ponselnya di saku celana. Ternyata notifikasi dari sang ayah.
Ayah: Ar tolong wakilkan ayah sama bunda datang ke gedung X-V malem ini ya. Kami masih di Aussie, belum bisa pulang. Ajak Bulan juga. Sebelum pergi jangan lupa minum obat. Jaga diri baik-baik
Arghi mengirimkan balasan pesan kepada Cahyo. Matanya beralih kepada Bulan yang fokus dengan film kartun di depannya.
"Dek,"
"Emm?" Bulan menatap Arghi dengan pandangan bertanya.
"Malem ini kita ke gedung X-V." Bulan mengangguk tanpa bertanya. Sudah terlampau biasa bagi mereka datang ke acara penting sebagai perwakilan jika Cahyo dan Mentari tidak dapat hadir. Bahkan tidak jarang juga mereka dimintai ikut sebagai ajang pamer anak.
"WOIII!"
Kakak beradik itu serempak merotasikan bola mata. "Gak usah teriak dogong!"
Bintang duduk bergabung di ruang keluarga. "Dogong apaan?" Tanya Bintang.
"Bahasa inggris anjing apa?" Tanya Arghi balik.
"Dog."
"Nah, dogong itu bahasa lucunya anjing."
"Tai," maki Bintang.
"Main kuy."
"Main apa?" Tanya Bulan semangat. Merasa bosan sedari tadi menonton kartun yang telah dia hafal alurnya di luar kepala.
"Ayo ikut gue."
Di sinilah ketiganya berada, tepatnya di halaman belakang rumah Bintang.
"Bintang, punya gue udah jadi!" Seru Bulan. Bintang yang tadinya fokus dengan tanah pun menoleh melihat hasil karya Bulan.
"Behh mantap. Bantuin gue dong," Bulan langsung menghampiri Bintang. Dan setelah itu keduanya kembali fokus dengan dunia mereka.
Di mana Arghi?
Dia sedang duduk di gazebo rumah Bintang. Sesekali tersenyum dan tertawa melihat adik dan sahabatnya saling melempar tanah. Persis seperti seorang ayah yang memantau anak-anaknya bermain.
"BINTANG!!!" Teriakan melengking terdengar ke seluruh penjuru halaman saat Bintang dengan tidak berakhlaknya menendang hasil karya Bulan hingga hancur lebur.
"GAK ADA AKHLAK LO YA! UDAH GUE BANTUIN JUGA! SINI LO JANGAN KABUR!" Sebelum Bulan berlari untuk mengejar Bintang, dia meluangkan waktunya untuk menendang istana Bintang terlebih dahulu. Padahal 60% istana Bintang dialah yang membuatnya. Namun dia tidak peduli. Dengan kecepatan angin Bulan berlari mengejar lelaki tak berakhlak itu.
Sedangkan Arghi yang sedari tadi merekam momen tersebut tertawa di tempat. Meredakan tawanya, Arghi ikut menyusul Bintang dan Bulan dengan kamera yang setia dia pegang.
"BERHENTI LO!" Bintang membuka pagar, keluar dari pekarangan rumahnya.
Bulan tidak tinggal diam. Kakinya dengan gesit mengejar Bintang dan jangan lupakan Arghi yang setia mengikuti mereka. Sampai ketiganya masuk ke taman perumahan. Bintang tersudut di antara perosotan dan ayunan.
"Lo gak bisa kabur lagi," desis Bulan menatap Bintang garang.
"Ayo dek, hajar aja." Kompor Arghi.
Bulan mendekat dan menjambak surai legam Bintang dengan ganas.
"WOYY, IYA AMPUNNN. ARGHI TOLONGIN SAHABAT LO INI!!"
Arghi kembali terbahak dengan kamera yang masih setia merekam momen itu. Tawanya tak bisa berhenti melihat wajah sengsara Bintang.
Usai puas Bulan melepaskan jambakannya dengan nafas terengah-engah.
"Hah, capek." Bulan terduduk di rerumputan kemudian mengipasi wajahnya yang memerah. Bintang dan Arghi pun ikut duduk di sana.
Arghi mengeluarkan tisu dari sakunya, lalu mengelap keringat Bulan. "Enak jambakannya Bin?" Tanya Arghi sambil tertawa.
"Enak banget, rasa susu."
"Ngeselin banget si Bintang kak. Pengen adek potelin kepalanya, terus adek gantung di pagar rumah dia."
Bintang meringis, "Anjir pyscho."
Ketiganya pun diam. Sibuk menikmati angin yang berhembus sangat kencang di sore yang cerah ini. Suasana taman sangat sepi, hanya ada mereka bertiga di taman itu.
__ADS_1
"Mau beli es krim?" Tanya Arghi memecah keheningan.
Bulan dan Bintang sontak langsung mengangguk semangat. Arghi terkekeh geli. Dia jadi merasa memiliki dua anak sekarang. Mereka pun bangkit dan berlalu dari taman menuju ke minimarket terdekat. Selesai membeli es krim ketiganya kembali ke taman untuk lanjut bermain.
Seperti tadi, Bulan dan Bintang sibuk dengan dunia mereka. Sedangkan Arghi duduk di bangku panjang sambil merekam kedua anak angkatnya.
Kedua bocil yang terperangkap di tubuh remaja itu mengantri untuk meluncur di perosotan. Setelah itu berganti ke ayunan dengan Bintang yang mendorong Bulan. Tahu sendiri Bintang tenaganya tidak main-main. Alhasil Bulan terayun dengan sangat kencang sampai Arghi di buat cemas melihatnya. Padahal Bulan senang-senang saja.
Lima menit setelahnya Bulan dan Bintang menghampiri Arghi.
"Capek ya?" Keduanya mengangguk. "Pulang yuk, udah siang. Waktunya makan." Lagi-lagi mereka kompak mengangguk.
Arghi pun bangkit, lalu memegang pergelangan tangan Bulan dan Bintang. Membawa mereka pulang ke rumah untuk diberi makan dan tidur siang.
...~~~...
Arghi telah rapi dengan setelan formalnya. Rambut tertata rapi hingga memperlihatkan keningnya menambah ketampanan seorang Arghi Cahya Pratama.
Keluar dari kamarnya, Arghi masuk ke kamar Bulan.
Tampak adiknya itu telah siap dengan dress hitam selutut yang membuatnya lebih feminin. Walaupun wajahnya hanya menggunakan bedak tabur saja, Bulan terlihat sangat cantik. Arghi suka saat Bulan berpenampilan seperti itu. Serasa benar-benar memiliki adik perempuan.
"Ayo pergi tuan putri."
Aula mewah itu telah ramai oleh para petinggi. Tidak sedikit juga remaja sebaya ada di sana. kebanyakan para remaja-remaja itu telah dididik oleh orang tuanya untuk meneruskan perusahaan walau sang anak harus merelakan masa remajanya.
Salah satunya ada Bintang. Lelaki tampan itu mengemban banyak beban untuk umurnya yang masih belia. Dicampakkan, ditinggal, dan kesepian membuatnya harus menjadi dewasa sebelum waktunya.
Atau juga Arghi yang sebenarnya tidak dipaksa, namun dirinya cukup sadar diri dengan harapan orang tuanya yang ingin Arghi segera menangani perusahaan. Apalagi orang tuanya memiliki banyak cabang di beberapa negara membuat Arghi mau tak mau mempelajari dokumen-dokumen yang seharusnya bukan untuk seorang pelajar demi membantu pekerjaan orang tuanya. Cukup sulit tapi jalani saja.
Bintang terlihat keluar dari perbincangan menghampiri Arghi dan Bulan.
"Wihh, ada bidadari." Bulan memasang tampang julidnya agar tidak terlihat jika dia tersipu.
"Sering-sering kayak gini deh Lan, biar kelihatan kalo lo cewek."
Bulan melotot. "Maksud lo gue cewek jadi-jadian hah?!"
"Gue gak ngomong gitu ya, lo sendiri yang bilang." Ingin rasanya Bulan mencakar wajah tampan Bintang kalau tidak ingat dia sedang berada di mana.
"Oh iya, gue mau ngasih tau sesuatu." Wajah Bintang berubah 180 derajat menjadi serius.
Mendekatkan wajahnya di antara telinga Arghi dan Bulan. "Jangan makan atau minum apa pun yang ada di sini."
Arghi dan Bulan saling pandang kemudian mengangguk tanpa bertanya lebih kepada Bintang.
"Satu lagi, hati-hati."
Arghi mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Bulan. Menarik adiknya itu untuk lebih dekat kepadanya.
"Gue balik dulu." Ujar Bintang lalu kembali bergabung dengan para petinggi tadi.
Makan malam pun dimulai. Para orang tua mulai memakan makanan mereka, sedangkan para remaja kebanyakan masih berdiri sambil mengobrol dengan teman sebaya.
"ASTAGA!" Teriak seorang wanita saat lelaki di sampingnya tiba-tiba jatuh dari kursi. Tubuh lelaki itu mulai kejang-kejang dengan mulut yang mengeluarkan cairan merah pekat.
DUAR
Arghi dengan sigap berdiri di depan Bulan, membuat temeng untuk adiknya. Ledakan yang cukup besar membuat beberapa orang yang berada di sekitar panggung tewas seketika.
Orang-orang mulai berlarian ke sana kemari. Teriakan histeris memenuhi aula besar itu.
"PINTUNYA TERKUNCI!" Seru seseorang sambil tetap berusaha membuka pintu utama. Beberapa remaja langsung mendekat mencoba mendobrak pintu tersebut namun nihil. Seperti ada yang menahannya dari luar.
Mengontrol deru nafasnya, Arghi semakin mengeratkan genggamannya pada sang adik. Matanya mengedar ke segala ruangan mencoba mencari jalan keluar.
"Arghi!"
"Lo bawa alat?" Tanya Bintang.
"Ya kagaklah njir! Gue gak tau kalo bakal gini!"
DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR
Suara tembakan bersahut-sahutan membuat bolong atap gedung. Sepuluh orang yang memegang senapan telah berdiri di tengah aula sambil menyeringai. Mereka yang dekat dengan pemegang senapan pun berangsur mundur.
"Wahhh, bau uang." Ucap salah satu dari mereka.
"Kalian mau uang?" Tanya seorang lelaki paruh baya.
Kesepuluh orang itu menyeringai. "Tidak, kami sudah punya banyak uang."
"Lalu kalian mau apa?!"
"Kami ingin kalian, para orang-orang kaya."
Arghi mengernyitkan dahinya. Menginginkan orang-orang kaya? Maksudnya apa?
Arghi terkejut saat punggungnya terasa disentuh oleh seseorang. Ternyata Bintang yang memberikannya sebuah pistol. Dengan segera Arghi mengambil alih benda tersebut. Melepaskan tangannya dari Bulan lalu memposisikan tubuhnya di depan Bulan diikuti Bintang setelahnya.
"Tunggu aba-aba gue." Bisik Bintang.
"1,"
"2,"
__ADS_1
"3."
"NUNDUK!"
DOR DOR DOR DOR DOR DOR
Enam orang dari mereka telah tumbang akibat tembakan gesit dari Arghi dan Bintang. Empat orang yang tersisa menatap Arghi dan Bintang tajam.
DOR
Arghi dengan sigap menangkis peluru yang terlempar ke arahnya dengan pistol di tangan. Bulan yang sedari tadi terdiam di balik punggung dua laki-laki itu merasa was-was. Takut jika peluru tersebut masuk ke tubuh Arghi.
DOR DOR
Dua orang lagi tumbang. Sedangkan duanya lagi mulai berpencar. Berlari mengitari aula membuat teriakan ketakutan semakin menjadi.
DUAR
Ledakan kembali memekakkan telinga. Kali ini korban lebih banyak.
"Sial," desis Arghi.
DOR
Bintang berhasil menembak satu. Tersisa satu orang lagi.
Arghi mengamati orang yang tersisa. Orang itu diam di tempat setelah temannya ditembak oleh Bintang, yang artinya hanya tersisa dia sendiri. Menatap Arghi dan Bintang dengan datar. Tanpa menunggu lama Bintang segera menembak lelaki tersebut. Membuat orang-orang yang semula tegang kini bernafas lega. Banyak juga yang menangis karena keluarganya tewas oleh ledakan.
"PINTUNYA BISA DIBUKA!" Teriak seseorang.
Semuanya langsung berhamburan keluar. Takut jika penjahat datang kembali.
Arghi, Bintang, dan Bulan pun ikut keluar. Masuk ke mobil masing-masing meninggalkan gedung mewah tersebut.
Sesampainya di rumah Arghi langsung menyuruh Bulan berganti baju, lalu menemani Bulan hingga gadis itu tertidur. Sedari tadi Bulan hanya diam membisu. Mungkin syok dengan kejadian tadi.
Setelah memastikan Bulan benar-benar tertidur Arghi mengganti bajunya dan turun ke ruang keluarga. Di sana sudah ada Bintang yang duduk santai sambil memakan camilan bertemankan film action di layar televisi. Barasa rumah sendiri dia.
"Bulan tidur?" Arghi mengangguk.
Tangannya ikut mengambil camilan yang berada di pelukan Bintang. "Menurut lo aneh gak?"
Bintang menoleh. "Apa yang aneh?"
Arghi berdecak. "Yang tadi."
Bintang diam sebentar lalu mengangguk. "Menurut lo apa yang aneh?"
"Semuanya."
"Mereka masang peledak cuma ke sekumpulan orang tua. Mereka gak nembak orang-orang padahal megang senapan. Dan lo ngerasa gak kalo yang tadi terlalu mudah dihadapi?"
"Terlalu mudah?" Beo Bintang.
Arghi mengangguk. "Kita dengan mudahnya ngalahin mereka. Padahal mereka bisa aja nembak semua orang yang ada di aula tadi, atau nyandra satu orang buat jadi ancaman. Dan tadi, orang terakhir yang lo tembak. Dia diem aja, seolah-olah nyuruh kita buat nembak dia."
Bintang terdiam. Otaknya sedang mencerna penjelasan Arghi.
"Lo sendiri, kenapa tadi nyuruh gue sama adek buat gak makan makanan di sana? Lo juga nyuruh kita hati-hati."
Bintang menatap Arghi lamat.
"Gue dapet surat," suaranya terdengar sangat pelan.
"Mana suratnya?" Bintang menggeleng.
"Suratnya hilang ditelen bumi."
"Serius anjing." Arghi menoyor kepala Bintang.
"Gue serius kampret!"
"Hilang beneran?"
"Iye, padahal gue taruh di bawah bantal. Gue tinggal mandi sebentar, habis itu udah gak ada lagi. Bener-bener lenyap gitu aja. Padahal semua asisten gue udah pada pulang ke rumahnya."
Keduanya diam memikirkan berbagai kemungkinan yang sekiranya masuk di akal.
Arghi dan Bintang kompak beralih ke depan saat televisi menyiarkan berita.
"...Sembilan belas orang tewas akibat dari ledakan dan sepuluh orang yang menjadi biang dari masalah juga telah tewas dengan luka tembak di kepalanya jika menurut banyaknya saksi mata. Akan tetapi, polisi tidak menemukan jasad kesepuluh orang tersebut..."
Arghi dan Bintang saling pandang. Bagaimana bisa? Sedangkan polisi datang tepat saat pintu aula bisa dibuka. Entah siapa yang menelepon mereka.
"Jasadnya di neraka keknya." Ujar Bintang asal.
"Hmm, kayaknya iya." Arghi ikut menanggapi.
"Dih, si goblok percaya aja."
Arghi berdecih. "Mending gue goblok, dari pada lo kagak punya otak."
Arghi bangkit lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air.
"Nitip minum!"
__ADS_1
"Gue gak punya waktu buat orang yang gak ada otak."
"Kampret."