
Di suatu siang yang tidak terlalu terik terdapat seorang gadis yang terlihat berada di sebuah kantin rumah sakit, duduk di pojokan dengan pandangan kosong ke depan. Kejadian tadi membuatnya... ah sudahlah tidak usah dipikirkan. Tapi tetap saja pikirannya melayang ke sana.
.
.
.
Bulan duduk di samping brankar tempat ayahnya berbaring sembari menggenggam erat tangan besar itu. Kapan lagi Bulan bisa sedekat ini dengan ayahnya kecuali di situasi sekarang.
"Ayah sama bunda sehat terus ya, jangan sakit." Bulan mengecup tangan dingin itu. Tangan yang sangat dia harapkan untuk mengelus kepalanya dan memeluknya.
Hening kemudian sampai ujung matanya mendapati pergerakan samar pada jari telunjuk sang ayah.
Bulan sontak menegakkan punggungnya, memandang kelopak mata Cahyo yang bergerak perlahan lalu terbuka.
"Ada yang sakit?" Tanya Bulan. Senyumannya merekah sejak sang ayah membuka mata.
"Ngapain kamu di sini." Suara Cahyo yang masih terdengar lemah praktis membuat Bulan tertegun.
"Pergi." Perintah sang ayah dengan tatapan menusuk.
"T- tapi ay-"
"PERGI DARI SINI!" Teriakan menggelegar dari sang ayah mampu membuat Bulan, Arghi yang baru saja selesai buang air besar, dan Bintang yang berdiri di ambang pintu tersentak kaget.
Bintang dengan segera menghampiri Bulan lalu menarik tangan gadis itu pergi dari sana.
.
.
.
"Ngelamun wae, kesambet baru tau lo!"
Bulan tersentak untuk kedua kalinya karena suara piring yang cukup keras disebabkan oleh tangan tak berakhlak Bintang.
"Gue gampar juga lo."
"Iya ampun neng," Bintang mencebik. "Makan nih."
Bulan menatap lamat Bintang di hadapannya. "Makasih ya."
"Kayak sama siapa aja. Udah cepet makan nanti dingin." Bukannya menurut, Bulan masih terus menatap Bintang tanpa beralih pandangan. Berakhir dengan Bintang yang salah tingkah sendiri dibuatnya.
"Lo sakit? Muka lo merah. Demam ya?" Tanya Bulan sembari memajukan wajahnya untuk melihat Bintang lebih dekat.
Dan Bintang semakin salah tingkah.
"Enggak kok," jawabnya sambil mendorong wajah Bulan menggunakan telapak tangannya yang besar.
"Anjrit, jahat banget muka gue di dorong."
"Udah, cepetan makan." Bintang mencoba untuk mengalihkan perhatian Bulan agar tidak menatapnya terus menerus.
Bulan pun akhirnya menurut, mulai memakan makanan yang tadi telah dipesankan oleh Bintang.
"Yohan tadi nyariin lo."
"Hah? Gue? Kenapa?" Tanya Bulan dengan pengucapan yang kurang jelas karena mulutnya penuh.
"Abisin dulu kali, baru ngomong. Entar muncrat semua ke muka gue kan gak lucu. Kalo kegantengan gue ilang tanggung jawab lo." cerocos Bintang.
Mata Bulan otomatis berotasi mendengarnya. Bintang ini adalah spesies makhluk yang tak kenal dengan yang namanya malu. Jadi harus banyak bersabar jika ingin berteman dengan laki-laki bongsor berlebih otot ini.
Tiba-tiba Bulan berhenti mengunyah. Mata kucingnya membola walau pun tidak terlalu besar. "Kampret! Gue lupa!!! Ini jam berapa?" Tanya Bulan kepada Bintang yang sejak tadi setia memperhatikan.
"Santai aja kali, baru jam satu juga." Jawaban yang keluar dari mulut Bintang membuat Bulan reflek bangkit berdiri.
"Kenapa berdiri? Baru satu suap makan udah selesai aja. Duduk, ab-"
"Bintang anterin gue ke sekolah." Potong Bulan cepat.
"Makanya duduk dulu, dengerin penjelasan gue." Ujar Bintang mendudukkan Bulan dengan paksa.
"Hari ini gak latihan kalo itu yang lo takutin. Yohan sendiri yang bilang sama gue di sekolah tadi. Makanya tadi gue ngomong kalo Yohan nyariin lo." Jelas Bintang panjang lebar.
"Serius kan? Lo gak boong kan?"
"Buset dah, gak percayaan amat. Gue serius!"
"Udah, lanjutin tuh makannya." perintah Bintang yang langsung dituruti oleh Bulan.
"Oh iya, kata kak Yohan apa aja? Kenapa sampe gak jadi latihan?" Tanya Bulan di tengah-tengah keheningan.
"Gak ngasih tau alasannya. Dia cuma nyariin lo, habis itu minta tolong sama gue." Bulan mengangguk paham.
"Udah, ayo pergi." Ajak Bulan setelah menenggak sebotol mineral tanpa jeda.
Melihat makanan Bulan masih tersisa Bintang ingin sekali membuka mulut dan menyuruh Bulan menghabiskan makanannya. Namun belum sempat berucap, Bulan dengan cepat langsung membekap mulut Bintang.
__ADS_1
"Gue kenyang." Bulan menarik pergelangan tangan Bintang dan pergi dari kantin rumah sakit yang terbilang cukup ramai siang itu.
"Kebiasaan dah ni bocah satu," gumam Bintang yang tidak dihiraukan sama sekali oleh Bulan.
"Emang kita mau kemana?" Tanya Bintang di tengah perjalanan.
"Lah, iya juga ya. Kita mau ke mana?" Bulan akhirnya berhenti melangkah.
"Jalan-jalan mau? Gue udah izin sama Arghi. Lagi pula besok kan minggu." Tawar Bintang.
"Serius udah minta izin?" Tanya Bulan memastikan.
"Iya serius, ayolah jangan banyak bacot."
"Kita mau ke mana emang?" Tanya Bulan saat mobil telah keluar dari area rumah sakit.
"Ikut aja, kita seneng-seneng hari ini. Gak usah mikirin apa-apa."
Mobil berjalan mulus di tengah padatnya kota. Bulan baru ingat bahwa sekarang belum waktunya pulang sekolah.
"Lo bolos ya?"
"Gue izin sama satpamnya walaupun dikejer-kejer. Anak berbakti kayak gue gak mungkin melakukan hal yang tidak senonoh seperti bolos yang lo bilang."
Wajah Bulan berubah julid.
"To the point aja kali kalo lo bolos. Belibet bener kata-katanya."
"Dibilang gue gak bolos."
"Serah deh."
Setelahnya hening. Hanya ada suara radio yang berkicau di siang hari yang cerah ini. Hingga tak terasa sampailah mereka di sebuah wahana bermain.
"Udah lama gak ke sini." Bintang dapat melihat binar di netra tajam Bulan.
"Yang ekstrim?" Pertanyaan sekaligus tantangan dari Bulan langsung disetujui oleh Bintang.
"Terserah mau naik yang mana dulu." Ujar Bintang.
"Roller coaster."
Keduanya segera berbaris masuk ke antrian.
"Habis ini kita mau naik apa?" Tanya Bulan di sela menunggu. Bintang mengedarkan pandangannya hingga berhenti ke sebuah wahana yang lumayan jauh dari tempatnya berdiri.
"Hysteria mau?" Tanya Bintang yang langsung dijawab dengan anggukan semangat oleh Bulan.
Setelah menunggu sebentar, akhirnya giliran mereka dan beberapa orang lainnya untuk naik.
Sampai mereka telah berada di bagian paling atas yang artinya mereka akan segera meluncur, "AAAAAAAAAAAAA!" Teriakan Bulan yang menggelegar mengundang Bintang untuk tertawa.
"AAAAAAAAAAAAA!" Bulan.
"AAAAAAAAAAAAAAA!" Bintang.
"AAAAAAAAAAAAAAAAA!" Bulan.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Bintang.
"HEH! LO MAU NANTANGIN GUE HAH?!" Bulan.
"IYE! KENAPE LO?!" Bintang.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Bulan.
"BUSET TELINGA GUE!" Bintang.
"BODO AMAATT!" Bulan.
"Anjir tenggorokan gue sakit." Keluh Bulan setelah tiga wahana mereka naiki.
"Beli minum dulu, tenggorokan gue juga sakit." Bintang menarik Bulan dan mereka pergi ke arah stand yang menjual berbagai macam makanan dan minuman.
"Wah, es krim." Bulan menunjuk ke arah stand es krim yang berada di sebelah kiri mereka.
"Air putih dulu. Kalo suara lo hilang beneran bisa di cincang gue sama Arghi."
"Iya ya. Oke lah, air putih aja."
Mereka membeli air putih dan beberapa snack yang terjual di sana. Lalu duduk di bangku panjang yang berada tepat di bawah pohon beringin.
"Sekarang jam berapa?" Tanya Bulan sambil tetap mengunyah makanannya.
"Tiga lewat." Jawab Bintang singkat.
"Hah?! Perasaan kita baru naik tiga wahana, kok udah mau sore aja."
"Kan kita ke sini dari jam dua kurang, habis itu ngantri, naik ini itu, jajan, dan sekarang kita makan. Wajar kan kalo sekarang udah mau sore." Jelas Bintang.
"Hmm... iya juga," gumam Bulan.
__ADS_1
TING
"Hp siapa tu?" Tanya Bulan.
"Kayaknya gue deh," Bintang mengambil ponsel yang terletak di saku celananya.
...Arghi...
Gue pulng nnti jam 9
Ajak Bulan kemna aja
Pokokny jngn pulang seblm jam 9
Pulangin ke rumah gak usah ke rs
^^^Y^^^
"Kenapa?" Tanya Bulan saat Bintang kembali menaruh ponselnya.
"Orang nyasar."
BUAGH
"Yang bener."
"Hobi banget sih mukul bisep gue. Sakit tauk,"
"Yaudah maaf, lo ngeselin soalnya. Khilaf gue jadinya," ujar Bulan sambil mengelus bisep Bintang yang tadi dia pukul.
"Jangan dielus bisep gue. Nanti... emm, ah udah deh lo makan aja sana." Perintah Bintang lalu menjauhkan lengannya agar tidak lagi disentuh oleh Bulan.
"Gue kenyang."
"Astaga baru juga makan corn dog satu. Cepet dimakan, atau kita gak usah main lagi."
"Gak elite banget pake ngancem." Dan mau tak mau Bulan harus memakan makanannya yang belum tersentuh.
"Habisin dumplingnya aja kalo gitu. Wafflenya simpen aja." Bulan hanya mengangguk.
"Udah nih, yok main lagi."
Mereka mulai beranjak setelah membereskan sampah bekas mereka makan.
"Naik komidi putar dulu aja ya. Kan habis makan, kalo naik yang ekstrim nanti muntah." Ajak Bulan sambil menunjuk komidi putar yang berada tepat di depan mereka.
Bintang tanpa basa-basi langsung menarik tangan Bulan menuju ke wahana yang dimaksud.
"Kita naik kuda atau kereta?" Tanya Bintang.
"Kuda aja."
Setelah menunggu sebentar sampai semua tempat terisi, komidi putar pun mulai bergerak. Bulan tersenyum lebar, mengundang niatan Bintang untuk diam-diam mengabadikan momen tersebut. Bulan tentu saja tidak tahu karena dia sedang fokus ke arah luar. Kalau sampai Bulan tahu, mungkin ponsel Bintang akan hancur detik itu juga karena terlempar.
Kini dua anak manusia itu sedang berada di dalam sebuah bianglala, menikmati pemandangan matahari yang akan segera bersembunyi untuk berganti posisi dengan sang rembulan. Suasana di antara mereka hanya sunyi tanpa ada yang memulai pembicaraan. Dan Bintang lagi-lagi memanfaatkan kesempatan itu untuk menjepret wajah cantik Bulan yang terlihat semakin bercahaya di bawah cahaya senja.
"Bahagia selalu."
...~~~...
Setelah mobil terparkir di garasi rumahnya, Bintang menggendong Bulan dan membawanya ke rumah tetangga depan.
"Orang ganteng masuk." Arghi yang sedang duduk bersilang tangan di sofa ruang tamu langsung memasang tampang jijik. Sahabatnya yang satu ini benar-benar kelewat percaya diri.
"Pede banget lo, masih gantengan gue kali. Ngomong-ngomong lo apain adek gue sampe tepar begini?" Tanya Arghi sambil tetap berjalan mengikuti Bintang yang akan membawa Bulan ke kamar.
"Gak gue apa-apain. Dia sendiri yang minta muter-muter. Yaudah gue nurut aja."
"Jadi karena gue udah nemenin adek lo, dan sekarang gue capek banget mau balik ke rumah, gue nginep ya. Ok thank you." Setelah itu Bintang langsung berbalik pergi dari hadapan Arghi.
"Untung lo sahabat gue," gumam Arghi mengusap dadanya sabar.
Arghi beranjak naik ke kasur Bulan dengan perlahan lalu memasangkan selimut pada tubuh adiknya.
"Tidur yang nyenyak." Bisik Arghi dan mengecup pucuk kepala Bulan singkat. Keluar dari kamar sang adik untuk pergi ke kamarnya sendiri.
"Kenapa?" Tanya Arghi saat melihat Bintang yang masih berdiri di balkon kamarnya. Pakaiannya sudah berganti dengan kaus hitam dan celana pendek milik sang tuan rumah.
"Mau nyari angin doang." Jawab Bintang tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
"Adek gue seneng kan hari ini?" Tanya Arghi yang sekarang ikut bergabung mengamati langit malam.
"Seneng banget kayaknya. Tapi gak tau hatinya." j
Jawaban yang terlontar dari mulut Bintang sangat Arghi pahami.
Adiknya, yang selalu menyimpan semuanya sendirian. Arghi sendiri sering berpikir, kenapa harus Bulan yang menderita, kenapa bukan dia saja? Kenapa takdir Bulan begitu kejam setelah semua yang gadis itu lalui dulu.
Arghi tahu, bukan hanya adiknya saja yang menderita di dunia ini. Tapi rasanya dia tidak rela melihat Bulan selalu seperti itu. Tersenyum amat sangat manis di saat dia baru saja terluka karena orang tuanya sendiri.
"Hoy, malah melamun. Dari tadi gue panggilin gak nyaut. Tidur ayo, angin malem gak baik buat kesehatan." Ajak Bintang sambil merangkul paksa tubuh Arghi.
__ADS_1
"Besok minggu kan?" Tanya Bintang setelah merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk Arghi.
"Iya," jawab Arghi singkat lalu ikut berbaring di samping Bintang setelah menutup pintu balkon dan mematikan lampu. Tak sampai lima menit, keduanya telah berada di alam mimpi masing-masing.