WHY

WHY
Blood


__ADS_3

"Kita apain nih bocah?" Tanya lelaki bertumbuh kerempeng.


"Buat dia mati secara bertahap." Jawab teman di sebelahnya.


"Ya caranya gimana? Gue belum pernah bunuh orang."


"Kalian gak ada yang mau nyentuh dia?" Suasana hening sejenak. Gerombolan yang memiliki jumlah lima belas orang itu menatap Bulan lamat.


"Males ah. Dia kurus, tepos, tetenya juga kecil, gak kelihatan. Mending sama ayang bebeb gue, mantep."


Kepala lelaki tadi ditoyor dari belakang. "Otak lo nganu teros."


Bulan hanya diam mendengar celotehan para manusia binatang itu. Kepalanya tertoleh ke belakang tempat dia bersandar. Sudah dia duga, kepalanya pasti berdarah. Bahkan dia mungkin bisa mati lebih cepat karena kehabisan darah.


PRANG PRANG PRANG BUGH


Dalam sekejap mata semua kaca-kaca jendela hancur bersamaan dengan robohnya pintu depan. Jantung Bulan berdegup kencang lantaran kaget. Lebih kaget lagi saat melihat Arghi dan Bintang berdiri di atas pintu yang telah roboh. Aura keduanya sangat mencekam.


Arghi menatap nanar ke arah Bulan yang terduduk di sudut ruangan. Darahnya terasa mendidih saat melihat tembok yang dijadikan sandaran Bulan berdarah.


"Bangsat kalian," desis Arghi. Tanpa basa-basi Arghi langsung maju diikuti oleh Bintang serta beberapa bawahan yang Arghi bawa. Salah satu dari mereka mendekati Bulan untuk melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Bulan.


"Makasih," ujar Bulan singkat lalu membantu Arghi yang tengah terkepung. Karena belum sepenuhnya siap Bulan mendapat tendangan di perut. Dan belum sempat mengambil nafas, Bulan kembali mendapat tinjuan keras di rahangnya. Arghi yang geram langsung menendang kuat punggung pria setengah baya tersebut.


Tak selesai di situ, datang pria lainnya dari belakang Bulan sambil mengangkat sebuah kayu. Itu pria yang sama dengan yang memukul kepala Bulan dua kali tadi siang. Karena tak lagi sempat menghindar Arghi langsung menarik Bulan ke pelukannya. Menggigit bibir menahan ringisan saat kayu tersebut mendarat keras di tengkuknya.


"Kak," Bulan melepas pelukan Arghi. Menatap sang pelaku dengan penuh amarah. Kakinya terangkat, menendang dada pria tersebut dengan seluruh tenaganya. Detik itu juga yang ditendang langsung tak sadarkan diri.


Jleb


Arghi yang tadinya sibuk menghalau pening dibuat terdiam.


"Arghhh,"


Erangan mengudara saat pisau itu dicabut kasar dari perutnya. Tangannya bergetar memegang perutnya yang tertusuk untuk mengurangi pendarahan. Mendongak, Arghi menatap sengit si pelaku pembolongan perutnya.


"Babi lo anjing," dengan sisa tenaganya Arghi menyikut dada orang yang menusuknya lalu menendang perut buncit itu. Nafas Arghi mulai tercekat. Tangannya sibuk menekan perut kirinya, dan sialnya lagi dadanya pun ikut-ikutan nyeri.


Seketika orang-orang yang menculik Bulan berlari kabur dari pintu belakang dalam sekejap tanpa ada satu orang pun yang tertangkap.


Bulan berlari tergesa-gesa menghampiri Arghi yang masih berdiri tegap.


Arghi tersenyum sendu saat Bulan telah berada di hadapannya. Tangan kirinya yang bebas dia gunakan untuk mengusap rambut Bulan. Lalu menatap nanar tangannya yang berdarah karena memegang kepala Bulan.


"Maaf kakak terlambat."


"KAKAK!"


...~~~...


Bulan masih setia berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD. Mengundang Bintang untuk mendekat lalu menghentikan pergerakan Bulan.


"Duduk dulu, tenangin pikiran lo."


Bulan menggeleng "Gak bisa, kak Arghi..." Bulan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Air mata seolah menjadi pengganti kalimatnya yang terpotong membuat Bintang langsung memeluk tubuh kurus itu hati-hati. Membiarkan Bulan menangis dalam diam di dekapannya.


"Nangis aja gapapa." Bahu gadis itu bergetar karena menahan tangis.


"Obatin dulu ya kepalanya. Nanti Arghi sedih liat lo kayak gini." Bulan menggeleng ribut di dada Bintang.


"Bintang," Bintang menoleh ke asal suara.


"Dokter denger Ar- astaga ini kepalanya berdarah loh!" Pekik Arina saat melihat seorang perempuan yang terkungkung di pelukan Bintang.


"Hei, nak, obatin dulu kepalanya." Bulan melepaskan pelukan Bintang, sedikit menoleh karena merasa tidak asing dengan suara tersebut.


"Ya ampun Bulan?!" Seru Arina.


Bintang terbelalak kaget karena ternyata Arina mengenal Bulan.


"Astaga, ikut tante ya. Kita obatin dulu kepalanya."


Bulan menggeleng. "Kakak tan."


"Tenang aja, gue yang jagain Arghi. Lo ikut dokter Arin dulu ya." Titah Bintang meyakinkan.


Bulan mendesah barat dan akhirnya mengangguk. Arina tersenyum lalu memegang pergelangan tangan Bulan lembut.


"Dokter pergi dulu."


"Bin,"


"Eh, dah bangun lo. Gue panggilin dokter dulu."


Arghi menggeleng pelan. "Gak usah."


"Adek mana?"


"Lagi diobatin dokter Arin."


Arghi mengangguk paham sambil melepas maker oksigennya.


"Kenapa dilepas?"


"Ganggu."


"Gak sesek?"


"Sedikit."


Ruangan itu hening sepuluh menit lamanya hingga Arghi membuka sebuah topik percakapan.


"Bin,"


"Em?"


Arghi menatap Bintang dengan pandangan yang sulit diartikan. "Mau ya, cuci darah?"


Bintang membisu.

__ADS_1


"Itu buat lo juga Bin. Ginjal kronis itu bisa bikin lo mati kalo gak diobatin." Ujar Arghi saat Bintang masih diam membisu seperti enggan menjawab.


"Kalo emang ajalnya mau gimana lagi?"


Arghi menggeleng. "Setidaknya lo harus mencoba. Gue bakal selalu nemenin lo."


Bintang diam-diam terharu. Beruntung sekali dia memiliki Arghi sebagai sahabatnya.


"Nanti gue pikirin, lo istirahat aja."


Arghi tersenyum kecil. "Gue harap lo mau."


Bulan mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan Arghi. Kakinya melangkah gontai menaiki setiap anakan tangga yang sialnya terasa seperti ribuan, jauh sekali.


Angin dingin langsung menyapa sesampainya dia di rooftop. Menyandarkan punggungnya ke dinding, tubuhnya pun merosot ke dinginnya lantai dengan nafas yang terhembus berat. Seolah ada beban berat menimpanya.


Bulan menelungkupkan kepalanya di antara kedua lutut.


"Dasar pembawa sial."


Suara Cahyo kembali muncul di otak. Tapi dalam hati dia membenarkan ucapan ayahnya itu.


Andaikan dia tidak lahir, kakek neneknya tidak akan terlibat ke dalam kecelakaan itu hanya untuk menanti kelahirannya dulu. Andaikan dia tidak pulang ke rumah, Arghi pasti masih bisa beraktivitas dengan bebas tanpa perlu kelelahan akan nyeri dadanya. Andaikan Arghi tidak menolong Bulan, kakaknya itu pasti masih baik-baik saja sekarang. Dan sekarang Bintang sakit parah. Apakah itu karena berada di dekat Bulan, si pembawa sial?


Kepalanya terangkat, menatap ke depan dengan pandangan kosong. Salahkah jika Bulan ingin melompat ke bawah sekarang?


Tolong beri dia jawaban.


"Ini gak ada yang mau bunuh gue apa ya?" Bulan tertawa hambar.


Air matanya meluruh deras dengan raut kosong. Bulir bening itu semakin deras. Tangannya sibuk memukul dada, berharap sesak itu berkurang.


"Ayah, bunda, anak kalian yang cewek lagi sakit hati. Boleh peluk? Sekali aja, sebentar aja, boleh gak?"


"Kami tidak sudi memiliki anak sepertimu." Perkataan Cahyo dan Mentari kembali muncul di otak seolah-olah menjawab pertanyaannya tadi.


"Ohh, gak boleh ya." Bulan tersenyum sendu di tengah linangan air matanya.


Tak lama senyuman itu memudar. Menghela nafas berat, Bulan menggeleng kuat. "Bodoh lo anjir. Banyak kali yang menderita di luar sana. Bahkan lebih dari yang lo alami. Lemah banget sih," Bulan memaki dirinya sendiri sembari terus memukul kuat kepalanya.


Namun tak lama kemudian air matanya kembali mengalir. "Ayah, bunda." Berharap seseorang yang dia sebut datang dan memberikannya pelukan hangat. Sekuat apa pun Bulan menahan, dia tetaplah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang orang tuanya.


"Ayah, bunda, kalo Bulan pergi kalian seneng? Kalo Bulan gak lahir kalian seneng? Kalo Bulan mati kalian seneng? Bulan mau kasih jantung Bulan buat kakak. Pasti kalian seneng kan? Tapi kak Arghi gak mau. Kakak pernah bilang kakak bakal bunuh diri kalo sampe Bulan lakuin itu. Jadi gimana? Apa Bulan lompat aja sekarang? Tapi nanti kak Arghi sedih. Kalo kak Arghi sedih nanti lama-lama drop. Jadi Bulan harus apa?"


Bintang benar-benar dibuat bungkam. Dia mendengar semua celotehan gadis itu dari awal hingga akhir. Melihat seberapa kerasnya Bulan menahan diri untuk tidak menangis walaupun dia sedang sendirian.


"Ginjal kronis bisa sembuh lewat transpaltasi kan ya? Wah, bisa double manfaat berarti kalo gue mati. Jantung buat kakak, ginjal buat Bintang."


Jantung Bintang berdegup kencang. Kenapa Bulan bisa tahu tentang penyakitnya?


Bulan mendesah berat. "Capek Tuhan."


Kemudian menggeleng lagi. "Apaan sih, sok capek lo. Banyak yang lebih capek dari lo, lebay banget."


Hati Bintang serasa diremas kuat melihat sisi lain dari Rembulan. Gadis yang biasanya selalu tersenyum lebar itu terlihat sangat rapuh malam ini. Kakinya perlahan menghampiri Bulan saat dirasa gadis itu tidak lagi bersuara.


Bisa Bintang lihat Bulan tersentak begitu kaget saat dirinya mendekat. Gadis itu dengan cepat menghapus air matanya lalu memasang senyum termanisnya.


"Jangan senyum kalo lo gak baik-baik aja, nangis aja gapapa."


Bulan tertawa hambar. "Apaan sih, ngapain juga gue nangis."


Bintang duduk, menarik Bulan ke pelukannya. Membenamkan wajah gadis itu ke dadanya.


"Gapapa nangis aja," bisiknya.


Awalnya Bulan ingin menahan. Namun entah mengapa, malam ini terasa sangat menyakitkan untuknya. Benteng pertahanan itu pun hancur. Gadis itu melanggar janjinya untuk tidak terlihat lemah di depan orang lain.


Bintang meletakkan dagunya di pucuk kepala Bulan, mempererat pelukan mereka.


"Capek kan? Istirahat selama yang lo butuh sampai lo merasa lebih baik. Nangis sekeras mungkin sampai semua yang lo pendem keluar. Gue selalu ada buat lo Bulan."


Bulan semakin terisak mendengar perkataan Bintang. Tanpa sadar tangannya terkepal kuat, bermaksud melampiaskan sakit di dada. Bintang yang melihat itu pun segera menggenggam tangan Bulan.


"Pegang tangan gue Lan, remat sekuat yang lo bisa." Bulan tentu tak melakukan itu. Memilih untuk semakin mengeraskan tangisnya.


"Bagus, nangis sekeras yang lo mau."


"Lo jahat, lo gak ngasih tau gue kalo lo sakit. Lo jahat banget Bintang. Selama ini lo selalu ada buat gue, tapi gue malah gak ada di saat lo kesakitan." Bulan pukul dada lelaki itu tanpa tenaga.


"Gue gak guna," Bintang menggeleng kuat.


"Lo lebih dari berguna buat gue, lo berharga."


Bulan menggeleng ribut. "Gue gak guna, mau mati!" Bulan menggeleng kuat sembari menguatkan tangisannya.


Sungguh, ini pertama kalinya Bulan menangis sekencang itu di depan Bintang.


"Jangan ngomong gitu. Arghi gak pernah kan ngajarin lo ngomong gitu."


"Capek Bintang," lirihnya teramat dalam.


"Lo punya gue, lo bisa bersandar ke gue. Jangan berpikiran kayak tadi ya, gak baik."


"Lo jahat."


"Iya gue jahat, maaf ya."


"Demi Tuhan lo jahat banget Bintang."


Perasaan bersalah semakin menguasai. Bukan


Bintang bermaksud untuk merahasiakan, hanya saja Bulan sudah terlalu banyak dipikuli beban. Dia tidak ingin menambah beban gadis itu.


"Maafin gue."


"Beban lo udah terlalu banyak, gue gak mau nambahin lagi."


"Lo gak nganggep gue ya?"

__ADS_1


"Bukan Bulan, nggak kayak gitu."


"Gue terlalu sayang sama lo, sampe gue gak mau terlihat lemah di depan lo." Tangis Bulan terhenti seketika.


Bulan menggeser kepalanya hingga tidak lagi terbenam di dada lelaki itu. Wajahnya yang penuh dengar air mata pun seketika dingin oleh terpaan angin malam.


"Maaf, baju lo basah karena gue."


"Gak masalah," Bintang mengelus surai halus Bulan. Menarik kepala Bulan kembali bersandar ke dadanya.


"Lain kali jangan nangis sendirian ya." Ujar Bintang lembut.


Bulan tidak menjawab. Usapan halus Bintang di kepalanya membuat Bulan perlahan-lahan tenang. Telinganya terfokus ke ritme detak jantung Bintang yang terdengar jelas di telinga.


"Jantung lo harus terus berdetak. Jadi, mau ya cuci darah?" Bulan mendongak membuat Bintang menunduk. Pandangan keduanya bertemu.


"Mau ya?" Tanya Bulan sekali lagi.


Bintang tersenyum tipis, "Iya."


Bintang kembali ke ruang rawat Arghi dengan Bulan di gendongannya.


Membaringkan Bulan di sebuah sofa panjang kemudian duduk di ujungnya. Bintang angkat kepala Bulan ke pahanya sebagai bantalan gadis itu tidur. Membelai lembut kepala Bulan sampai matanya pun ikut memejam.


...~~~...


Kelopak Arghi terbuka perlahan menyesuaikan netranya dari cahaya lampu. Ternyata hari sudah pagi, bahkan menjelang siang.


Matanya kini bergulir ke samping. Tersenyum tipis saat melihat Bintang yang tertidur dengan posisi duduk. Sedangkan Bulan berbaring dengan paha Bintang sebagai bantalnya. Arghi yakin Bintang pasti akan mengeluh pegal-pegal saat bangun nanti.


Bangkit dari ranjangnya Arghi mendekati sofa. Keningnya berkerut saat melihat mata Bulan yang terlampau sembab. Apakah adiknya itu menangis semalaman?


Arghi menegakkan tubuhnya saat gadis yang dia perhatikan terbangun.


Bulan duduk sambil menatap Arghi nanar. Kejadian semalam masih terekam jelas di otaknya.


"Kak," lirihnya. Matanya mulai berkaca-kaca.


Arghi tersenyum lembut. Maju kemudian memeluk Bulan dengan sangat erat, mengelus punggung Bulan saat dirasa baju bagian perutnya basah. Adiknya menangis.


"Maaf," lirihnya.


"Adek gak salah, kakak yang salah karena terlambat jemput adek. Maafin kakak ya. Kepalanya masih sakit?" Tanya Arghi sembari mengelus kepala belakang Bulan yang diperban.


Bulan menggeleng kuat. Memisahkan kepalanya yang menempel di perut Arghi, lalu mendongak. Senyum lembut sang kakak seakan menenangkan hati.


"Gara-gara adek, kakak-" Arghi menempelkan jari telunjuknya di bibir Bulan guna menghentikan ucapan sang adik.


"Bukan salah adek," Arghi menghapus air mata Bulan. Mengelus lembut bagian bawah mata sang adik yang bengkak karena terlalu banyak menangis.


"Adek nangis berapa lama semalem? Sembab banget gini."


Bukannya menjawab Bulan malah kembali menangis. Arghi tertawa. Dipeluknya lagi Bulan dengan penuh kasih sayang.


"Utututu... bayi besar nangis. Udah ya nangisnya, nanti kakak beliin es krim."


"P."


Arghi menggeser netranya menatap Bintang malas. "Ganggu ae lu."


Bintang beralih ke Bulan yang tengah bersandar ke perut Arghi. Dia tidak bisa melihat wajah Bulan yang menghadap ke sebelah kanan.


"Lan," panggil Bintang.


Bulan tak menjawab.


Arghi pun sedikit menunduk untuk melihat wajah adiknya. Tapi Bulan malah semakin menyembunyikan wajahnya ke perut Arghi.


"Jangan liat, malu." Cicit Bulan.


Arghi terkekeh geli. Gemas melihat sang adik yang malu-malu.


Bintang pun menarik Bulan hingga terlepas dari pelukan Arghi.


"Ishh, apa sih!" Bulan menunduk dalam. Sungguh, dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya di depan Bintang. Dirinya kembali mengingat kebodohannya semalam yang menangis begitu kencang.


"Apa yang lo maluin?"


"Mata gue bengkak, malu diliat."


Arghi dan Bintang kompak menoleh saat pintu ruangan terbuka.


Arina menatap Bulan aneh. "Bulan kenapa?"


"Malu, matanya bengkak."


"Bengkak?" Beo Cakra.


"Habis nangis semaleman."


Bulan mencubit paha Bintang. "Cepu banget sih anjir."


Arina mendekati Bulan. "Bulan ikut tante yuk."


"Ke mana? Ngapain?"


"Kita kompres mata kamu. Abian juga katanya kangen banget sama kamu."


Raut Arghi langsung berubah masam. "Jangan lupa dibalikin ya tan, kak Bian suka lupa diri."


Cakra tertawa. "Kamu cemburu Ar?"


"Iyalah."


Dua pasang suami istri itu tergelak. "Tolong dimaklumi ya Ar, biasa anak tunggal kurang belaian."


Arina mencubit perut Cakra membuat sang suami mengaduh. "Anak sendiri dibilang kurang belaian." Semua yang ada di ruangan sontak langsung terbahak.


"Dahlah, ayo Bulan ikut tante."

__ADS_1


"Kok telinga gue panas yak," gumam Abian sambil menggosok-gosok telinganya.


__ADS_2